Bayi Dalam Pelukan Suamiku

Bayi Dalam Pelukan Suamiku
Kaku


__ADS_3

Aku masih tidak puas pada jawaban Mas Arsen yang mengatakan dengan penuh kepercayaan diri bahwa dia seolah-olah berhak berbuat sesuka hatinya. Tidak ada jawaban darinya yang memuaskan diriku atau minimal menjernihkan kegundahaan hati bahwa dia punya itikad baik untuk membenahi pernikahan ini dan memperbaiki keadaan, lalu memberi klarifikasi bahwa ungkapannya barusan hanya ketidak sengajaan karena emosi dengan cecaran pertanyaanku.


Sepanjang malam aku tak mampu memejamkamn mata , dada ini sakit, air mata in tak heti-hentinya menetes, bahkan aku sudah lelah dan ingin terlena di peraduan namun tak kunjung pikiran tentang pennghianatannya hilang dari kepalaku. Kumandang ayat suci Al-Quran di kejauhan sana terdengar menyejukkan sekaligus menyayat hati, ia bahkan tak mampu menghibur hati yang terluka berkeping-keping karena perbuatan ayah Liliana.


Matahari berangsur menunjukkan diri, sembari menghela napas pelan aku beranjak dan membuka jendela, melangkah ke kamar Liliana dan memeriksa keadaan anak-anak, putriku masih tertidur dengan cantiknya begitu pun si bayi yang masih tergolek di boksnya, kudaratkan sebuah kecupan di kening anakku dan iba rasanya karena ternyata diam-diam ayahnya membawakan seorang adik bayi yang akan jadi saingan posisi dalam hati Mas Arsen, miris rasanya membayangkan bahwa Harry akan jadi lebih penting dibandingkan anak kami. Aku yakin dengan keyakinan besar bahwa Mas Arsen akan mementingkan anak gelapnya yang kini berstatus anak yatim dibandingan Liliana yang masih puya sosok ibu untuk mendapinginya. Perlahan dalam dadaku timbul dendam kesumat dan sebuah kebencian pada balita yang tertidur di depanku itu. Aku benci padanya dan entah kenapa dia bisa terdmpar di rumah ini di dalam pengasuhanu, padahal aku tak menginginkan dia.


Aku juga benci pada suamiku yang tidak pernah mau terbuka dari awal bahwa … ah, apapun alasanya harusnya dia beritahu istrinya!


Mungkin teralihkan atau merasakan energy dan keberdaaanku tak jauh darinya bayi itu menggeliat dan mulai merengek, ia terlihat takut dan gelisah terlebih ketika bersitatap dengan sorot mataku yang sedang marah.


Aku duduk di ddepan ranjang Liliana berencana mengabaikan tangisannya, menikmati penderitaan dari rasa takutnya, dan membiarkan bayi itu menangis sekeras yang dia bisa hingga mati kehausan, hatiku membeku! Aku ingin bayi iyu segera meregang nyawa dan enyah dari keluarga kami!

__ADS_1


Namun kemudia ak u sadar, bahwa bayi ini hanya anak kecil yang baru dilahirkan, dia tak bisa memilih diahirkan dari siapa dan latar belakang hubungan seperti apa. Jika dia sampai meninggal karena perbuatanku, maka aku juga tak bisa memaafkan diri ini. Kesadaranku mendadak kembali dan sesegera mungkin kuangkat bayi takut itu dan memeluknya dengan erat, ajaib, bayi itu langsug berhenti menangis dalam pelukan, sehingga hati ini menjadi terenyuh dan iba. terkikis rasanya benci dan dendam menyisakan sesak dan rasa berdosa, aku lantas menangis sejadi-jadinya, meraung, merintih dan meratap sambil memeluk bayi itu. Kenapa takdirku dan takdirnya bisa sedemikian rupa?


Kuganti popok bayi itu dan memberinya sebotol susu hangat untu menghilangkan lapar, lalu tak lama kemudian bayi itu kembali tertidur. Ketika kumasukkan dia ke dalam tempat tidurnya, Mas Arsen masuk ke kamar Liliana dan mendapatiku di sana. Dia tertegun untuk beberapa saat , lalu bertanya di mana kemeja kerja miliknya.


“Ya, baiklah akan kuambilkan,” jawabku sambil melangkah dengan wajah dingin melewatinya.


“Kamu baik-baik aja, kan?” tanyanya menyentuh lenganku.


“Anggap saja aku berpura-pura baik saja, jadi pedulikan aku,” jawabku acuh, tanpa menatapnya sama sekali, menunggu dia akan minta maaf dan mengakui kesalahannya. Namun hatinya belun tergerak untuk memulai pembicaraan.


“Kamu masih marah padaku?”

__ADS_1


Konyol sekali pertanyaannya. Tentu saja aku masih marah selama dia belum memberi kejelasan akan masalah ini. Pernyataannya semalam masih ambigu, apa dan kenapa, semuanya belu jernih, sehigga aku tak bisa membuka hati, bahkan menatap matanya saja aku sudah jijik.


“Aku akan menjelaskan segalanya jika aku sudah siap, tolong beri waktu, selagi itu, tolong tetaplah jadi istriu yang pengertian dan penuh kasih saying,” pintanya sambil menghela naps pelan.


Enak saja dia terus memintaku untuk memaklumi kesalahanya, sementara aku harus tetap menjaga sikap dan menjaga kesabaranku di depannya, serta tetap melayani dia dan keturunannya bagai pembantu yang tidak berhak protes pada tuannya? Alangkah mudahnya!


“Ya, aku menunggu penjelasanmu, tetap menunggu dengan sabar hingga kesabaran itu habis dengan sendirinya,” balasku dingin.


"Kamu kok jawabnya gitu, sih?"


"Aku tak tahu harus bagaimana lagi menghadapi dirimu, Aku ingin pergi Tapi aku sangat mencintaimu Liliana, bahwa yang terjadi kemarin-kemarin hanya mimpi, Tapi tetap saja itu adalah kenyataan." tak sanggup lagi tangis yang kembali meluncur di pipi.

__ADS_1


"Aku minta maaf," ujarnya mendekat memelukku namun aku menepisnya.


"Jika kita masih harus bersama, tolong berikan aku jawaban ceritakan semuanya dari awal sampai akhir, jadi aku akan paham putuskan Apakah kita akan tetap bersama atau berpisah," balasku sembari mengusap air mata


__ADS_2