
Cuaca pagi ini sangat bersahabat. Mentari bersinar lebih cerah. Pancaran hangatnya mulai menggelitik kulit lembut Mily. Kedua mata itu masih tertutup rapat. Selimut yang menghangatkan tubuhnya dari dinginnya malam mulai turun perlahan.
"Nyonya muda, nyonya muda," panggil seorang maid. Dia berusaha membangunkan nyonya mudanya dari tadi. Akhirnya setelah beberapa lama, dia menyerah. Dia memutuskan untuk berdiri kembali di sudut kamar nyonya mudanya.
Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Nyonya mudanya sudah berpesan padanya untuk membangunkannya pukul enam lebih tiga puluh menit. Akan tetapi yang memberi pesan justru yang melanggar. Maid pun hanya bisa menghela napas panjangnya.
Maid itu membuka gorden lebih lebar lagi agar nyonya mudanya dapat merasakan kehangatan mentari pagi. Pagi ini sangat cerah. Secerah perasaan nyonya mudanya yang sudah dari seminggu yang lalu sangat tidak sabar menantikan hari ini. Dibukanya jendela sehingga hangatnya mentari lebih terasa di wajah Mily.
Kelopak mata indah itu mulai bergerak dan terbuka perlahan. Tangannya otomatis menutup mata indahnya yang terasa silau karena pancaran sinar mentari.
"Jam berapa sekarang?" tanya Mily sambil menguap.
"Jam tujuh lebih lima belas menit nyonya," jawab maid sambil membungkukkan badannya sedikit.
"Hah! Bukannya aku menyuruhmu untuk membangunkan ku setengah jam lebih awal!"
"Maaf nyonya, saya sudah membangunkan anda sesuai dengan waktu yang ada minta," maid menjelaskan dengan sopan.
Melihat wajah maid yang sedikit ketakutan, membuat Mily menjadi tidak tega. Dia pun segera bangkit dari kasurnya.
"Maaf Ana, apa aku menyakitimu? apa aku berkata terlalu keras?" tanya Mily dengan lembut.
"Tidak nyonya, anda tidak menyakiti saya. Anda juga tidak berbicara terlalu keras," jawab Ana
"Kau itu, bukannya sudah ku bilang jika ada yang tidak berkenan di hatimu, kau harus bicara terus terang padaku," oceh Mily.
Ana tersenyum melihat nyonya mudanya. Nyonya mudanya sangat jauh berbeda dengan nyonya-nyonya di keluarga ini. Dia sangat baik dan sopan dengan semua maid. Bahkan semua maid dianggapnya teman. Kecuali dengan maid yang lebih tua. Dia sangat sopan dan menghormati orang yang lebih tua tanpa memandang status.
Kedua orang tuanya adalah salah satu keluarga bangsawan di kota ini. Meskipun begitu, orang tua nyonya mudanya sangat berhasil mendidik putri mereka. Sangat terbukti dengan perilaku dan tutur katanya. Wajar saja jika tuannya sangat mencintai nyonya muda.
"Apa Max sudah kembali?" tanya Mily sambil melangkahkan kakinya ke kamar mandi.
"Tuan tadi pagi menelpon, dia mengatakan bahwa dia akan datang tepat waktu nanti malam," jawab Ana sopan.
"Huh, dia selalu seperti itu," gerutu Mily.
"Ana aku ingin mandi sekarang. Apa wewangiannya sudah siap?"
"Sudah nyonya. Bunga mawar tiga warna yang anda pinta sudah saya siapkan di dalam bath tub. Anda bisa berendam sekarang," jelas Ana sambil membungkukkan sedikit badannya.
"Ish, kau itu. Kan sudah ku bilang jika hanya kita berdua saja jangan terlalu sopan," oceh Mily pada Ana.
"Maaf nyonya, saya hanya merasa sudah terbiasa."
"Terserah kau sajalah. Tapi jika lehermu keseleo aku tidak ada obatnya." Mily berkata sambil terkekeh sambil menutup pintu kamar mandi.
Ana yang melihat nyonya muda nya akan berendam, segera melangkahkan kakinya ke kamar mandi.
"Eits, stop sampai di situ! Aku bisa melakukannya sendiri!" perintah Mily.
__ADS_1
Mau tidak mau Ana menghentikan langkahnya dan membiarkan nyonya mudanya berendam sendiri.
Tiga puluh menit kemudian, Mily telah selesai dari ritual mandinya. Pagi ini dia hanya ingin mengenakan dress selutut tanpa lengan dengan warna putih tulang. Dia juga berdandan seadanya. Meskipun berdandan seadanya tetap tidak mengurangi paras cantiknya. Rambut cokelatnya yang panjang di ikat sedikit ke belakang. Dia terlihat sangat cantik dan anggun seperti seorang putri kerajaan.
Ana tersenyum puas dengan hasil karyanya pagi ini. Pagi ini nyonya mudanya terlambat bangun dan sarapan pagi bersama keluarga lainnya. Setelah selesai berbenah, Mily segera mengajak Ana untuk turun ke bawah.
Mily membuka pintu kamarnya dengan takjub. Pemandangan di depan matanya sangat indah. Bahkan dia berpikir sedang tidak berada di mansion nya.
Bunga-bunga yang didominasi oleh warna pink, putih, dan peach berjejer indah di sepanjang tiang tangga. Mily menuruni anak tangga satu persatu dengan anggunnya. Dia masih terpesona dengan keindahan yang di lihatnya. Ana yang mengikutinya dari belakang hanya bisa tersenyum senang melihat nyonya nya bahagia.
"Bagaimana mereka semua melakukan ini dalam semalam?" tanya Mily dengan takjub.
"Semuanya sudah di urus WO nyonya," jawab Ana.
Sampai di anak tangga terakhir, kedua mata Mily berhasil menangkap pemandangan yang luar biasa indahnya. Kedua tangannya menutup mulutnya yang ternganga karena terkejut.
"Mereka benar-benar membawa sakura kesini," ucap Mily penuh kekaguman.
"Hihihi, Nyonya ini pohon sakura palsu. Hanya untuk dekorasi ruangan," jelas Ana. Nyonya mudanya ini memang murni seorang nyonya muda karena selain sebagai cucu menantu, umurnya juga terbilang sangat muda. Dia menikah dengan tuan Max saat usianya tujuh belas tahun. Hari ini adalah anniversary satu tahun pernikahan mereka sekaligus perayaan ulang tahunnya yang ke delapan belas.
"Ish, kau itu. Sesekali berbohong lah sedikit padaku biar hatiku senang," oceh Mily.
"Tidak bisa nyonya. Aku tidak berani. Nanti aku dimarahi oleh tuan jika mengajarimu berbohong."
"Mily!" suara seorang wanita memanggilnya.
"Mom," jawab Mily.
"Kau lamban sekali kakak kecil," ucap Michael yang merupakan adik Max yang paling bungsu.
"Jangan ganggu kakak ipar mu, biarkan dia menjadi putri sehari hari ini!" perintah tuan Daniel, ayah mertua Mily.
"Oh, jadi setelah hari ini kakak ipar ku yang cantik ini akan kembali jadi pembantu ya, dad?" goda Mark.
Pletak
Tangan mommy nya berhasil mendarat di keningnya. Mark mengaduh kesakitan sambil mengusap keningnya.
"Mom, ini sakit!" keluh Mark.
"Siapa suruh punya mulut tidak ada filter nya," cibir mommy Irene.
Mily terkekeh melihat tingkah Mark yang mengaduh kesakitan.
"Mily sayang selamat ulang tahun," ucap mom Irene penuh kasih padanya.
"Terima kasih Mom," jawab Mily sambil membalas pelukan sayang dari mom Irene.
"Selamat ulang tahun sayang," seru dad Daniel dari seberang meja.
__ADS_1
"Terima kasih dad," balas Mily sopan sambil menundukkan kepalanya sedikit.
"Selamat ulang tahun kakak ipar kecil," Michael tidak mau ketinggalan mengucapkan selamat pada Mily.
"Ish, kau itu. Mentang-mentang tubuhmu besar. Terima kasih adik besar," gerutu Mily sambil membalas ucapan Michael.
"Selamat ulangan kakak ipar," ucap Mark asal.
Pletak
Sekali lagi Mark mendapat sentuhan lembut dari mommy nya di kening lagi.
"Lama-lama bisa tipis keningku jika duduk di sebelah mommy," gerutu Mark sambil beranjak dari kursinya dan pindah duduk di samping Michael.
"Kau itu sudah tahu salah masih saja menghindar," oceh mommy Irene.
"Memang salahnya dimana, mom?" tanya Michael dengan wajah polosnya.
"Kau itu," geram mommy Irene. Dia hendak menjitak kening Mark lagi. Tapi sayangnya Mark sudah pindah ke seberang meja makan.
"Hahaha, Selamat keningku. Untung aku lekas pindah," ucap Mark sambil tertawa dan memegang keningnya.
Mom Irene memberi kode pada pada Michael untuk melanjutkan niatnya.
Plak
Pukulan di lengan Mark mendarat sempurna oleh tangan Michael.
"Kau? Aku lupa ada kaki tangan Mom. Bodohnya aku justru pindah di sampingnya," ucap Mark mengusap lengan kanannya yang di pukul Michael.
"Daddy," rengek Mark dengan nada yang di buat-buat pada dad Daniel.
"Berani kau kesini, aku yang akan menambahkan pukulan di lengan kiri mu biar seimbang," ancam dad Daniel. Karena yang sudah-sudah, jika sudah merasa terintimidasi Mark akan segera duduk di pangkuan Daddy nya.
Mily terkekeh melihat kelucuan tingkah Mark. Padahal Mark sudah dewasa, bahkan usianya sudah sangat cukup untuk memiliki seorang kekasih.
Mily pernah menanyakan padanya kenapa dia tidak memiliki seorang kekasih. Jawabannya sangat singkat yaitu hanya karena masih ingin bermanja dengan mom dan dad nya. Sungguh jawaban yang aneh bagi Mily untuk seorang pria dewasa. Selain itu, dia juga masih ingin menjahili Mily. Kakak ipar sekaligus adik perempuan. Karena usia Mily yang sangat muda diantara mereka. Bahkan dengan Michael saja usianya masih berbeda lima tahun.
Sarapan pagi Mily hari ini sangat berkesan. Di temani oleh seluruh keluarga inti. Meskipun mereka rela menunggu Mily yang bangun kesiangan, akan tetapi tidak seorang pun yang meninggalkan meja makan pagi itu sampai Mily selesai sarapan.
Setelah Mily selesai sarapan, satu persatu anggota keluarga inti itu mulai meninggalkan meja makan. Mereka masih harus merampungkan beberapa hal sebelum acara nanti malam di gelar.
"Mom, aku akan berkeliling mansion melihat keindahan dekorasinya," ucap Mily.
"Pergilah sayang. Mom masih akan mengurus beberapa hal disini."
Mily segera pergi meninggalkan meja makan setelah mengecup pipi ibu mertuanya. Ana yang merupakan maid kepercayaannya selalu mengikutinya kemana pun dia pergi.
Mansion nya terlihat seperti bukan mansion saja. Dalam semalam semuanya di sulap bagaikan negeri dongeng dimana tokoh utamanya akan di jamin betah tinggal di sana.
__ADS_1