
Mily melepas kepergian dad Daniel, Mom Irene, nenek, dan Michael malam itu. Mereka segera berangkat saat semuanya sudah siap. Dad Daniel tidak ingin menunda sedikitpun untuk segera tiba di negara I. Dia ingin ibu dan istrinya kembali sehat seperti semula. Setelah itu baru mengurusi Max.
Setelah melepas kepergian mereka, Mily segera kembali ke kamarnya. Dia merasa gerah. Dia ingin mendinginkan tubuhnya. Ketika dia memasuki kamarnya, Ana masih belum berada di sana. Dia tidak ingin menyalahkan Ana. Bagaimanapun mereka hanyalah bayi, dan saat ini sangat butuh perhatian.
Mily melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Dia mengisi sendiri air bath tub nya dan mengatur suhunya. Setelah dirasa cukup, dia melepaskan gaun yang tadi sore dikenakannya.
Tubuhnya terasa sedikit rileks setelah masuk ke dalam bath tub. Dia membasuh mukanya, kemudian menenggelamkan seluruh tubuhnya. Cahaya lampu terlihat samar dari bawah air. Rasa sesak mulai melingkupinya. Dia segera mengangkat kepalanya ke permukaan dan menarik oksigen sebanyak-banyaknya.
Rasa sesak saat tenggelam masih tidak begitu terasa sakitnya ketimbang perasaannya. Dia segera merampungkan ritual mandinya.
"Nyonya, bagaimana keadaanmu?" tanya Ana.
Ana sudah selesai mengurusi si kembar. Kini giliran maid Linda yang mengurusi mereka. Dia segera bergegas turun menuju kamar nyonya mudanya. Sejujurnya dia sangat mengkhawatirkannya.
Ketika memasuki kamar nyonya nya, dia tidak mendapati nyonya mudanya itu. Hatinya mulai gelisah. Untung saja suara air seperti air tumpah tertangkap oleh telinganya. Dia bisa bernapas lega, nyonya mudanya sedang berada di kamar mandi saat ini.
"Aku sudah cukup baik. Terima kasih Ana sudah bertanya," ucap Mily sambil tersenyum.
"Biar aku bantu mengeringkan rambutmu, nyonya," tawar Ana sambil berjalan mendekati Mily dan meraih handuknya.
"Auw! Kenapa anda mencubit ku, nyonya" erang Ana.
"Kau itu, sudah berapa kali kukatakan panggil saja aku Mily atau nona jika kau masih belum terbiasa," ucap Mily kesal.
"Tapi tuan muda ..."
"Dia tidak ada disini Ana."
"Maaf nyonya," ucap Ana tulus.
Mily langsung membulatkan matanya pada Ana.
"Eh, nona."
"Begini lebih baik, Ana."
Ana tersenyum dan segera mengeringkan rambut nona Mily. Nona nya ini memiliki hati yang sangat tulus dan baik. Dia sangat heran, mengapa tuan Max bisa melakukan hal seperti itu. Perasaan nona mudanya saat ini pasti sangat terluka. Jika saja dia yang berada di posisi nona Mily, jangan harap suaminya itu bisa melihat mentari besok hari. Untung saja dia belum menikah. Dengan melihat keadaan nona Mily membuatnya semakin takut untuk menjalani suatu hubungan.
Selesai mengurusi nona nya, Ana undur diri untuk membersihkan diri sebelum kembali ke kamar nona Mily untuk menemaninya tidur.
__ADS_1
Jendela kamar yang langsung mengarah ke balkon terbuka sedikit. Udara malam yang dingin berhasil menembus ke dalam kamarnya hingga menyentuh kulit halusnya.
Mily berjalan ke arah balkon. Dibukanya jendela dengan sangat lebar. langit malam ini sangat cerah. Hampir sama dengan tadi pagi. Dia duduk di pinggiran balkon sambil memeluk kedua kakinya. Jika saja ada Max, pasti dia sudah diomeli habis-habisan. Karena yang di lakukan ya sangat berbahaya.
Dia berusaha mengingat kembali dari awal dia bertemu Max sampai mereka memutuskan menikah.
Flash back on
Saat itu Mily sedang duduk di sebuah cafe dengan kedua sahabat karibnya, Kyla dan Winda. Mereka sudah tidak lama nongkrong di cafe selama kurang lebih enam bulan terakhir. Kemarin adalah hari terakhir ujian sekolah. Selama ujian sekolah, mom dan dad mereka melarang untuk bermain. Mereka hanya boleh berkomunikasi melalui chat atau video call. Kalaupun mereka bertemu disaat mereka belajar bersama. Mereka adalah anak-anak yang penurut.
"Jadi, apa kita besok jadi menginap di rumah Winda?" tanya Kyla.
Mereka sering melakukan kegiatan menginap bersama di rumah mereka.
"Ah, aku lupa," ucap Mily sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Ada apa Mily?" tanya Winda.
"Aku lupa jika besok dad memintaku menemaninya menyambut seorang tamu yang akan berkunjung ke rumah."
"Jadi?" tanya Kyla.
"Ooh ... Bagaimana jika kita tunda saja hingga Sabtu depan?" usul Kyla.
"Ok, Sabtu depan aku pasti bisa," jawab Mily.
"Ok Sabtu," jawab Winda.
Merekapun menghabiskan waktu sore mereka dengan gembira seperti baru terbebas dari belenggu.
...✳️✳️✳️...
"Sayang, kemari lah!" panggil mommy Sofie.
Mily yang merasa dipanggil segera menghampiri mommy nya.
"Mom, ingin kau memakai gaun ini nanti malam," ucap mommy nya sambil melekatkan gaun di tangannya ke tubuh Mily.
Mily melihat pantulan dirinya di depan cermin.
__ADS_1
"Mom, apa ini tidak terlalu sexy?" tanya Mily.
"Sayang kau sudah dewasa. Umurmu sudah tujuh belas tahun beberapa hari yang lalu. Lagipula kau memakainya di rumah. Ada mom dan dad yang menjagamu. Tidak akan ada yang berani menggoda mu."
Mily menatap kembali ke cermin.
"Baiklah," jawabnya.
Mommy nya tersenyum dan kemudian memberikan gaun itu padanya. Setelah mommy nya pergi keluar dari kamarnya, dia melihat kembali gaun itu. Gaun yang berwarna navy. Gaun yang sangat cantik dan elegan. Tapi karena bagian punggungnya agak terbuka, Mily kurang menyukainya. Dia tidak suka memakai pakaian dengan punggung yang agak terbuka. Terlalu sexy pikirnya.
Tepat pukul delapan malam, tamu yang ditunggu-tunggu keluarga Carter telah tiba. Mereka menyambutnya dengan senang hati. Mily yang masih berada di kamarnya segera dipanggil turun oleh seorang maid atas perintah mommy nya.
"Apa tamu dad sudah tiba?" tanya Mily pada maid.
"Sudah nona muda," jawab maid dengan menundukkan kepalanya.
"Ada berapa orang?" tanyanya lagi.
"Ada enam orang nona," jawab maid.
"Kenapa ramai sekali? Seperti akan melamar saja. Pantas saja mommy menyuruh para maid menyiapkan hidangan yang banyak dan berkualitas," oceh Mily.
Maid itu hanya diam saja. Memang benar, tamu malam ini datang untuk melakukan perjodohan dengan nona mudanya. Semua orang mengetahuinya, kecuali nona muda nya.
Mily sudah tiba di lantai satu. Dia melihat ada beberapa orang pria yang berada di sana. Seorang pria yang menurutnya adalah ayah dari mereka, dan dua orang pria lagi menurutnya adalah anak dari pria itu.
"Lepaskan gelungan rambutku!" perintah Mily pada maid yang masih berdiri di belakangnya.
Maid itu hendak melepaskan gelungan rambut nona mudanya, tapi gerakan tangannya di hentikan oleh sebuah tangan yang sangat kekar. Pria itu menggeleng kepada maid untuk tidak melakukan yang di perintahkan oleh nona mudanya. Dia juga memberi kode pada maid untuk tetap tenang.
"Maid Susi, kenapa belum dilepaskan?" tanya Mily tanpa menoleh ke arah maid.
"Anda cantik dengan tatanan rambut seperti ini nona," jawab maid yang disuruh oleh pria di sebelahnya.
"Tapi aku tidak ingin mengekspos punggungku!" seru Mily.
Melihat maid yang mulai ketakutan, pria itu segera bersuara.
"Nona cantik seperti mu sangat cantik memakai gaun ini dan dengan tatanan rambut seperti ini, sungguh sangat sempurna."
__ADS_1
Mily yang mendengar suara seorang pria tepat di belakangnya segera menoleh. Tatapan mata mereka saling bertemu. Tubuh mereka sangat dekat sehingga aroma parfum dari tubuh pria itu tepat mengenai indra penciumannya.