Bayi Kembar Milik Suamiku

Bayi Kembar Milik Suamiku
Bab 6. Kamar Untuk Si Kembar


__ADS_3

"Kenapa?" tanya Mark.


Disaat seperti ini, Ana bersyukur dengan pikiran lemot tuan mudanya ini. Michael juga berpikiran sama dengannya. Tanpa memberi kode. Mereka berdua langsung menaiki anak tangga satu persatu.


Sebelum menaiki anak tangga itu, Michael mengambil keranjang bayi dari tangan Mark. Dia segera menyusul Ana dan berada di depan. Mereka tiba di depan pintu kamar yang berwarna cokelat seperti warna kayu. Michael langsung membuka pintu kamar itu.


Ana mengikuti Michael dari belakang. Kamar ini cukup besar. Selain itu tidak banyak perabotan yang terdapat di dalamnya. Tata letaknya juga cukup rapi. Jendela di dalam kamar ini juga lebih banyak dari kamar lainnya sehingga pertukaran udara sangat baik di kamar ini.


Ana meletakkan bayi itu diatas kasur. Setelah bayi itu nyaman di kasur, Ana segera mengeluarkan kembarannya dari keranjang dan menaruhnya di samping kembarannya.


"Aku tidak percaya sudah menjadi paman," ucap Michael.


"Semua orang disini juga tidak percaya tuan termasuk aku," timpal Ana.


"Aku rasa kita membutuhkan tempat tidur bayi."


"Anda benar tuan. Sangat berbahaya jika mereka tidur di kasur besar ini."


"Siapa yang tidur di kasurku?" tanya Mark.


Dia segera berlari menaiki anak tangga saat dia baru sadar jika Ana dan Michael ke atas menuju kamarnya. Benar saja, dua bayi mungil itu sekarang berada di atas kasurnya.


"Tidak, tidak, tidak! Mereka tidak bisa tidur disini!" perintah Mark.


"Oh ayolah bro, masa kau tega dengan keponakanmu!" seru Michael.


"Kenapa tidak di kamarmu saja?" Mark kembali bertanya dengan sengit.


"Aku sih tidak masalah. Tapi aku kasihan pada mereka dengan kondisi kamarku yang sempit. Lagipula aku ini perokok, sangat tidak baik untuk bayi."


Mark kalah telak dengan ucapan Michael. Yang diucapkannya seratus persen benar.


"Hah... s**l. Beruntung sekali kau dengan gaya hidupmu!" teriak Mark frustasi.


Teriakannya berhasil membuat salah satu dari si kembar bangun dan menangis. Ana segera menggendong dan berjalan agak menjauh. Dia tidak ingin kembarannya ikut-ikutan bangun dan menangis.


"Tuan, kita harus segera membeli perlengkapan bayi! Aku rasa popoknya sudah penuh," tutur Ana sambil berusaha menenangkan si bayi.


Pernyataan Ana sontak membuat kedua pria itu langsung menatapnya. Michael langsung menghampiri Ana, dan Mark hanya terdiam mematung.


Di dalam pikiran Mark "Bayi sama dengan popok. Minum susu sama dengan popok penuh. Popok penuh sama dengan harus diganti." Dia langsung menatap si kembar bergantian. Dalam benaknya dia masih berpikir ada dua bayi disini. Di dalam kamarnya. Berarti jika popoknya penuh ada dua popok yang harus diganti.

__ADS_1


"Argh ... tidak, tidak. Aku tidak mau mengganti popoknya!" teriak Mark.


Belum lagi si bayi diam, mereka justru mendengar teriakan Mark lagi. Alhasil bayi yang berada di atas kasur menangis. Mark yang berada di dekatnya justru diam tidak melakukan apapun. Michael sampai di buat kesal olehnya.


Dia segera menghampiri bayi itu dan menenangkannya dengan menepuk pelan kakinya. Dia menarik selimut bayi itu dan mengecek popoknya. Dia dapat bernapas lega karena popok bayi yang ini tidak penuh seperti bayi satunya.


"Tuan, siapa yang menyuruhmu mengganti popok bayi? Aku hanya bilang jika kalian harus segera membeli keperluan bayi. Bukan mengganti popok bayi," tukas Ana.


"Ooh," si pelaku utama pembuat keributan si kembar bangun dengan santainya hanya ber-oho saja.


Pintu kamar Mark terbuka, sosok tuan Daniel memasuki kamar itu dengan wajah frustasi. Melihat kesibukan di kamar anaknya membuatnya semakin bingung. Ditambah melihat bayi-bayi tadi masih berada disini.


"Apa yang kalian lakukan disini?" tanya tuan Daniel.


"Kami sedang mengurus bayi dad," jawan Michael tanpa melihat ke arah Daddy nya.


"Itu Daddy juga bisa lihat. Hanya saja kenapa di kamar Mark?" tanya nya lagi.


"Tidak ada kamar lain selain disini dad," jawab Michael lagi.


Tuan Daniel terdiam. Dia tampak mencerna apa yang dikatakan putra bungsunya.


"Kenapa kalian harus repot? Berikan saja kepada keluarganya disini!" perintah tuan Daniel.


"Dad, keluarga mereka itu adalah kita," terang Michael.


Tuan Daniel menatap Mark tajam. Jadi yang menyebabkan ibu dan istrinya pingsan adalah dia.


"Mengapa dad menatapku seperti itu?" tanya Mark dengan polos.


"Kau itu. Jadi mereka milikmu?" tanya Daddy nya.


"What? Dad! Mereka bukan milikku!" protes Mark.


"Jika bukan milikmu jadi milik siapa?" tanya Daddy nya penuh selidik.


"Maaf tuan, mereka bayi tuan Max," jelas Ana.


Ucapan Ana berhasil membuat tuan Daniel terkejut bahkan kedua matanya tampak membulat.


"Bukan hanya mom dan nenek saja yang pingsan, dad. Tapi Mily juga ikutan pingsan," terang Michael.

__ADS_1


Keempat orang dewasa itu diam. Suasana menjadi sedikit hening kecuali rengekan bayi yang berada di gendongan Ana. Mereka tahu tuan Daniel atau dad kedua tuannya masih terkejut dan bingung.


"Ehem ... maaf tuan besar. Bukannya aku tidak sopan. Tapi saat ini aku sangat membutuhkan perlengkapan bayi."


"Ah ... iya. Benar dad. Kami perlu perlengkapan bayi. Itulah yang membuat kami sibuk dari tadi." Mark akhirnya bersuara.


Tuan Daniel menatap kedua bayi itu bergantian. Mau tidak mau, suka tidak suka, dia harus mengurus bayi-bayi itu dulu baru mengurus ibu dan istrinya bahkan menantunya.


"Michael suruh maid Linda mengurus perlengkapan bayi. Lengkapi semuanya! Ingat harus dia, jangan maid yang lain!" perintah Daddy nya.


"Karena dia paling lama disini, dan sudah pernah mengurus kalian," tambah tuan Daniel. Dia melihat Mark yang akan protes dengan pertanyaan yang konyol. Jadi dia langsung menjawab tanpa harus mendengar pertanyaan yang akan terlontar dari mulut Mark.


Michael segera memenuhi perintah Daddy nya. Dia menitipkan bayi yang di kasur pada Mark.


"Tuan muda!" panggil Ana.


"Ya."


"Jangan lupa bilang mereka kembar sepasang."


Daniel yang mendengarnya langsung menaikkan sebelah alisnya. Dalam hatinya dia sedikit memuji putra sulungnya yang bisa memberinya cucu sekaligus dua. Tapi perbuatan Max tetap salah. Dia harus memberinya perhitungan. Dia baru teringat dengan Mily saat mengingat Max.


"Bagaimana kondisi Mily saat ini?" tanya tuan Daniel.


"Maaf tuan besar. Aku tidak tahu." jawab Ana.


"Dia baik-baik saja, dad. Ada maid Ina yang menemaninya.


"Kenapa bukan Ana yang menemaninya?" tanya Daddy nya.


"Daddy kan bisa lihat sendiri kenapa Ana masih disini."


"Ya ampun, ternyata lemotnya tuan muda Mark keturunan dari ayahnya," ucap Ana dalam hati.


"Nyonya muda tidak ingin melihat mereka, tuan. Dia memintaku menjauhkan mereka darinya," tutur Ana.


"Aku mengerti keadaannya. Dia membutuhkan waktu untuk semua ini. Mily adalah gadis yang baik. Aku percaya dia pasti bisa menerima mereka," tutur tuan Daniel.


"Ini dad," ucap Mark sambil menyerahkan dua kertas yang berbeda ukuran.


"Yang kecil itu isi pesan Max, dan yang satunya adalah hasil DNA," jelas Mark.

__ADS_1


Daniel mengambil kedua kertas itu. Dia membacanya perlahan agar dapat mengerti situasi saat ini. Surat hasil DNA di tatapnya berulang kali. Dia ingin mengecek keaslian surat itu dan berharap menemukan jejak palsu disana. Namun nihil.


__ADS_2