
"Sayang, apa mom tidak salah dengar?" Sofie tidak percaya pada ucapan Mily.
Mily masih setia dengan kebisuannya. Dia menatap lekat baby G yang masih tertidur di dalam dekapannya.
"Nyonya, nona muda baik-baik saja kan?" Bisik Ana pada Sofie.
"Entahlah!" Sofie menaikturunkan kedua bahunya sepintas. Dia sendiri bingung apa ucapan putrinya itu benar atau hanya ingin menyenangkan mereka saja. Akan tetapi, Carmen menyadari sesuatu, tidak mungkin Mily bercanda dengan ucapannya barusan.
"No, mom (tidak ma)." Mily menjawab tanpa memalingkan wajahnya dari si kecil.
"Oh, syukurlah sayang!" Sofie langsung menghambur memeluk putrinya yang sedang menggendong bayi mungil.
"Aku senang kau akhirnya bisa menerima mereka," ucap Sofie sambil mengecup puncak kepala putrinya dari belakang. "Mereka hanya bayi sayang. Mereka tidak tahu apa-apa. I'm so proud of you." (aku sangat bangga padamu).
__ADS_1
Ana meneteskan air mata saat mendengar pengakuan nona mudanya. Sebagai seorang wanita, dia mengerti akan situasi dan kondisi yang sedang dihadapi seluruh keluarga Anthony. Terutama nona Mily. Perasaannya jauh lebih sakit dari yang lainnya.
Akan tetapi, Ana bangga pada sang nona karena pada akhirnya mau menerima kedua anak kembar tuan mudanya. Setelah satu Minggu, Mily bersedia memberi mereka nama.
"Akan kau beri mereka nama apa sayang?" Sofie bertanya sambil meminta Ana untuk menyerahkan baby B padanya.
Mily sempat terdiam sambil menatap wajah mungil baby G. "Aku akan memberinya nama Amity. Artinya persahabatan. Aku harap kelak dia akan menjadi sahabatku meski aku sudah lanjut usia."
"Nama yang bagus." Sofie menatap baby Amity dan mengusap pelan wajah bayi itu dengan telunjuk kanannya. "Hai Amity!" sapa Sofie pada baby Amity. Baby Amity langsung menggeliat seolah mengerti.
Mily menikah ke samping. Menatap lekat wajah baby B. Baru kali ini dia menatap wajah baby B karena tanpa Mily sadari dia selalu memperhatikan baby Amity daripada baby B.
Wajah bayi selalu berubah-ubah. Tapi, Mily dapat pastikan bahwa wajah baby B terlihat tampan. Dia sangat mirip dengan Max. Perasaan Mily sudah tidak sesakit seperti dulu saat mengingat suaminya yang kabur entah ke mana.
__ADS_1
"Arden. Aku memberinya nama Arden." Mily mengusap pelan wajah mungil baby Arden dengan telunjuknya sambil tersenyum.
"Nama yang sangat bagus nona. Aku yakin dia akan menjadi seorang pria yang tampan saat dewasa nanti." Ana bersorak riang setelah mendengar nama untuk baby B. Sebenarnya, di lubuk hatinya dia sangat senang dan lega setelah nona mudanya memberi nama kedua bayi kembar.
"Nama yang bagus sayang. Apa artinya?" Sofie berkata dengan lembut.
"Pemberani, mom." Telunjuk tangan Mily tidak berhenti mengusap wajah mungil baby Arden. "Aku ingin dia tumbuh menjadi seorang pria yang pemberani."
Sofie tersenyum mendengar ucapan putrinya. Ternyata tugasnya menjadi seorang ibu untuk ketiga buah hatinya sangat tidak mudah. Tugas yang dia emban sebagai seorang ibu mengharuskan dia untuk selalu mendukung dan mengarahkan kembali ketiga buah hatinya untuk selalu berada di jalan yang benar dalam menghadapi hidup.
Terutama untuk putri tercintanya, Mily. Tidak dipungkiri hatinya sakit, saat mendengar penderitaan yang diterima putrinya. Namun, sebagai seorang ibu, dia harus memberi dukungan pada sang putri. Mengajarinya lagi mana yang benar dan salah.
"Mom, aku ingin menyematkan nama keluarga kita saja. Apa boleh?" Mily bertanya sambil menatap wajah ibunya.
__ADS_1
Sofie terdiam mendengar permintaan putrinya. Bagaimana pun kedua bayi kembar itu adalah milik Max. Sudah tentu harus menyandang nama Anthony dibelakangnya.