Bayi Kembar Milik Suamiku

Bayi Kembar Milik Suamiku
Bab 3. Secarik Kertas


__ADS_3

Mily menatap keranjang yang berada di atas pangkuannya. Kedua matanya membulat sempurna karena terkejut. Dua sosok bayi mungil sedang menggeliat satu sama lain. Dia menatap lekat kedua bayi itu. Jika dia tidak salah menebak umur mereka belum genap satu hari.


Mily menyibak selimut yang menutupi tubuh mereka. Badan mereka sangat sehat. Dua botol susu berisi penuh bertengger di sudut keranjang.


"Ana, mereka ini bayi siapa?" tanya Mily terkejut.


"Maaf nyonya, aku juga tidak tahu," jawab Ana.


Pengawal yang tadinya menemani Mily segera kembali ke ruang tengah dan melaporkan kejadian barusan pada nyonya besar.


"Kurir tadi tidak mengatakan dari siapa, nyonya. Coba nyonya lihat di sekitar bayi-bayi itu, siapa tahu ada pesan atau info lain yang bisa kita dapat," usul Ana.


"Kau benar. Bantu aku agar tidak membuat mereka terbangun!" perintah Mily.


"Baik nyonya."


Mereka perlahan memindah kan seorang bayi ke pangkuan Mily. Seorang bayi lagi di dalam gendongan Ana. Mereka mulai membuka keranjang bayi itu. Mengeluarkan isinya satu persatu.


Nyonya besar, tuan Daniel, dan nyonya Irene segera berjalan ke belakang mansion saat mendengar kabar itu dari pengawal. Mereka meminta Michael dan Mark untuk menggantikan mereka melayani para tamu dan keluarga. Saat ini tamu-tamu undangan mulai berdatangan ke mansion. Mereka juga memerintahkan beberapa pengawal untuk menjaga di sekitar pintu belakang mansion. Mereka tidak ingin ada hal yang tidak diinginkan terjadi.


Setibanya mereka di belakang, mereka melihat Mily dan maid nya sedang sibuk membongkar isi keranjang. Mereka juga terkejut melihat Mily yang mendekap seorang bayi di pangkuannya dan seorang bayi lagi didalam gendongan Ana.


"Bayi siapa mereka?" tanya nyonya besar terkejut.


"Entahlah nek. Aku juga tidak tahu mereka bayi siapa," jawab Mily tanpa memperhatikan nyonya besar. Dia sibuk menenangkan bayi yang berada di dalam dekapannya. Bayi itu terlihat menggeliat dan akan menangis.


Oek ... oek ...


Benar saja bayi di gendongan Mily bangun dan menangis. Mily bingung karena ini adalah pertama kalinya dia menggendong bayi.


"Ana, dia menangis. Bagaimana ini?"

__ADS_1


Mily sangat kalut sehingga mom Irene segera menghampirinya. Mom Irene dapat melihat wajah bayi itu dengan sangat jelas. Dia yang tadinya ingin membantu Mily justru terkena serangan jantung mendadak. Dia merasakan nyeri di dadanya. Padahal dia sama sekali tidak memiliki riwayat penyakit jantung.


Dad Daniel segera memapah istrinya sebelum terjatuh ke tanah. Lain halnya dengan nyonya Samantha, dia masih belum mengerti apa yang terjadi.


Mily semakin kalut melihat mom Irene yang pingsan. Dad Daniel segera mengangkat tubuh istrinya ke dalam. Dia menyuruh pengawal untuk memanggil dokter pribadi ke mansion.


"Ini nyonya, mungkin dia haus."


Ana memberikan sebotol susu pada Mily. Dia segera memasukkan ujung dot ke dalam mulut bayi mungil itu perlahan. Bayi itu perlahan mengenali dot dan mulai menyesap isinya perlahan.


"Dia lapar Ana," ucap Mily penuh takjub melihat bayi itu menyesap botol susunya dengan cepat.


Kini giliran bayi mungil yang berada di dalam gendongan Ana. Bayi itu mulai menggeliat. Ana segera mengambil botol susu lainnya dan melakukan hal yang sama dengan nyonya mudanya.


Mereka menghentikan pencarian sementara waktu. Mereka sibuk memberi kedua bayi itu minum susu. Nyonya Samantha yang melihat Mily sangat telaten mengurus bayi merasa sangat senang. Dia berharap anak dan menantunya melupakan peraturan yang melarang Mily hamil hingga berumur dua puluh tahun. Di matanya saat ini, Mily sudah sangat cocok mengurus bayi.


Mily menimang bayi itu dengan lembut. Sempat terbesit di hatinya bagaimana rasanya memiliki anak sendiri. Bayi dalam gendongannya sangat lucu. Semakin lama dia menatap bayi itu semakin mengingatkannya dengan seseorang. Raut wajahnya mirip dengan suaminya, Max. Mily tersentak, dia segera mengabaikan pikiran itu.


Kedua bayi itu kembali tertidur dalam buaian Mily dan Ana. Mereka pun melanjutkan kembali pencarian di dalam keranjang. Hampir semua isi keranjang itu merek keluarkan, tapi tidak menemukan apapun.


Mily berusaha menutup telinga bayi yang berada di gendongannya. Dia takut bayi itu akan menangis jika mendengar suara kembarannya. Akan tetapi, apa yang di khawatirkan nya tidak terjadi. Bayi yang berada di dalam dekapannya tidur nyenyak tanpa merasa terganggu.


Ana kemudian membuka selimut yang menutupi tubuh mungil bayi itu. Diantara celana dan bajunya terselip secarik kertas. Dia mengambil kertas itu dan memberikannya pada Mily.


"Nyonya, aku menemukan ini diantara pakaian bayi mungil ini," tuturnya sambil memberikan secarik kertas itu pada Mily.


Anehnya setelah Ana memberikan kertas itu pada Mily, tangisan bayi itu langsung mereda bahkan perlahan dia tertidur lagi. Ana menatap wajahnya penuh kasih.


"Nyonya lihatlah dia tidur kembali. Sepertinya tadi dia menangis karena merasa tidak enak dengan kertas yang terselip diantara bajunya," tutur Ana lembut.


Mily menatap bayi yang ada di gendongan Ana. Secepat itu dia tertidur. Mily hanya tersenyum melihatnya. Secarik kertas itu masih berada di dalam genggamannya. Dia seakan terhipnotis dengan bayi-bayi itu.

__ADS_1


"Mily sayang. Apa isi kertas itu?" pertanyaan nyonya Samantha berhasil membuatnya sadar. Dia melupakan kertas yang bisa jadi berisi informasi tentang bayi-bayi itu. Dia membenahi posisi bayi yang berada di dalam dekapannya. Setelah bayi itu terlihat nyaman, dia membuka lipatan kertas itu secara perlahan.


Dear Mily sayang,


Mereka adalah sepasang bayi kembar.


Usia mereka masih belum sampai satu hari.


Mereka juga belum ku beri nama.


Hanya kau yang pantas memberi mereka nama.


Aku harus pergi untuk sementara.


Banyak hal yang harus segera aku selesaikan.


Jangan berikan mereka pada siapapun yang ingin datang mengambil mereka.


karena mereka seratus persen milikku.


Di dalam selimut bayi perempuan terdapat hasil tes DNA kami.


Mily sayang,


Aku titipkan mereka padamu.


Maafkan aku.


Suamimu, Max.


Mily berusaha mencerna setiap kata. Dia bahkan membacanya sampai tiga kali. Setelah membaca yang terakhir kali. Dia baru menyadari arti dari pesan itu.

__ADS_1


Air matanya tumpah, bayi yang berada di dalam dekapannya hampir terlepas. Ana memang seorang maid yang sigap, dia segera menahan bayi yang berada di dalam dekapan Mily. Bayi itu kini berada di dalam dekapannya.


Merasa sebelah tangannya bebas, dia menangkupkan kedua tangan ke mulutnya. Dia ingin menahan suara tangisnya. Tapi rasa sakit itu begitu besar. Berteriak adalah jalan terakhir. Dia berteriak histeris, tidak peduli dengan keadaan di sekitarnya. Hatinya sangat sakit.


__ADS_2