Bayi Kembar Milik Suamiku

Bayi Kembar Milik Suamiku
Bab 7. Baby B and Baby G


__ADS_3

Daniel menghela panjang napasnya. Dia tidak habis pikir dengan perbuatan Max. Bagaimana dia bisa seperti itu. Istrinya saja sampai pingsan tanpa melihat isi pesan dan surat hasil tes. Apalagi Mily yang sempat menggendong dan membaca isi surat itu.


"Mark bantu dad mengurus keperluan untuk ke negara I. Nenek dan mommy mu harus mendapat penanganan yang serius di rumah sakit," jelas Daniel.


"Separah itu dad?" tanya Mark.


"Ya, separah itu. Dan Ana tolong kau jaga Mily serta kedua bayi itu. Aku akan meminta maid Linda untuk membantumu menjaga bayi itu. Tugas utamamu tetap Mily."


"Baik tuan."


"Siapa nama mereka?" tanya Daniel.


"Mereka belum diberi nama, tuan. Tuan muda Max meminta nyonya muda Mily yang memberi mereka nama," jelas Ana.


"Apa? Keterlaluan sekali dia. Dimana dia sekarang?" tanya tuan besarnya dengan nada sedikit emosi.


"Max menghilang, dad. Aku sudah berkali-kali mencoba menghubunginya tapi hasilnya nihil. Dia seperti di telan bumi," jelas Mark.


Brak ...


Tuan Daniel meninju pintu kamar Mark. Dia sangat kesal, marah, dan sedih. Semuanya bercampur menjadi satu.


Bayi yang berada di dalam gendongan Ana kembali menangis lagi diikuti dengan tangisan kembarannya. Bunyi pukulan itu membuat kedua bayi terkejut dan menangis.


"Dad, aku tahu kau murka. Tapi masalahnya sekarang perlengkapan bayi masih belum ada hingga saat ini. Setidaknya tahan dulu sampai semua perlengkapan bayi tiba. Kami agak kerepotan dengan keterbatasan ini," ucap Mark.


Tuan Daniel terdiam dan mencerna dengan baik ucapan Mark. Ada angin apa sampai putranya itu bisa berbicara dengan baik.


"Mark kau tetap tinggal di mansion. Aku dan Michael yang akan pergi ke negara I dan merawat nenek dan ibumu. Mengerti!"


"Yes dad," jawab Mark sambil memberi tanda hormat.


"Heh kau itu. Tidak bisa di puji sedikit langsung kembali ke sikap aslimu," tukas Daddy nya.


"Memangnya dad tadi memujiku?"


"Tidak ada. Lupakan! Apa kalian bisa mendiamkan mereka lagi? Kepalaku sudah hampir pecah mendengarnya," keluh Daniel.


"Mereka cucumu dad."


"Sampai mommy dan nenekmu menerima mereka. Terutama Mily. Aku pergi sekarang. Ingat beri aku laporan terus mengenai keadaan disini. Aku akan menyuruh beberapa orang untuk mencari keberadaan Max dan menambah pengawal untuk mansion. Aku juga melarang orang lain keluar masuk mansion dengan leluasa."

__ADS_1


Tuan Daniel memberi perintah yang sangat panjang sebelum dia pergi keluar dari kamar tuan mudanya. Ana hampir tidak mendengar semua ucapannya. Si kembar sudah terlelap kembali. Ana merasa kasihan dengan mereka. Belum berumur satu hari sudah mengalami banyak hal yang tidak mengenakkan.


"Kasihan sekali kalian," lirih Ana.


"Ya, mereka kasihan sekali. Lahir di tempat yang salah," timpal Mark.


Ana melirik sekilas tuan mudanya itu dan tersenyum.


"Baby B dan baby G," ucap Mark sambil menunjuk ke arah bayi kembar bergiliran.


"Maksud tuan?"


"Aku akan memanggil mereka baby Boy untuk bayi laki-laki dan baby Girl untuk bayi perempuan," jelas Mark.


"Eh tuan, bukannya tadi anda mengatakan memanggil mereka baby B dan baby G?" tanya Ana.


"Kau itu. Aku kan cuma menjelaskan. Supaya kau tidak tanya-tanya lagi," tukas Mark.


"Ya ampun tuan, jika hanya itu aku juga tahu.. B itu Boy, G itu Girl," kesal Ana.


"Oh aku pikir otakmu cetek," timpal Mark pada Ana dengan santai.


"Setidaknya, kita bisa memanggil mereka begitu saat ini, sampai Mily mau menerima mereka dan memberi mereka nama," jelas Mark.


"Hai baby G," sapa Ana pada bayi perempuan di gendongannya.


"Hai baby B," sapa Mark pada bayi laki-laki di atas kasur.


Dua puluh menit kemudian, kamar Mark yang tadinya maskulin kini berubah drastis menjadi kamar yang sangat menggemaskan. Dua box bayi di tempatkan di samping tempat tidurnya. Ada dua lemari bayi lengkap dengan pakaian. Perlengkapan bayi dari susu hingga popok. Mark terlihat sangat shock sekali melihatnya.


"Wow ... wow ... tunggu-tunggu. Aku pikir perlengkapan bayi tidak seperti ini," oceh Mark sambil menahan beberapa maid yang dari tadi hilir mudik memasukkan dan merapikan segala perabotan bayi.


"Tuan, apa anda pikir bayi itu seperti anda?" tanya Ana.


"Tapi, lihatlah Ana! Kamarku yang besar ini menjadi sangat sempit."


"Anggap saja anda belajar dari sekarang. Jadi jika nanti anda memiliki bayi, anda sudah tahu perlengkapan bayi itu seperti apa," jelas Ana sambil mengganti popok dan pakaian baby G.


Mark menghela napasnya panjang dan menghempaskan kedua tangannya di udara.


"Awas saja kau, Max. Sebaiknya kau bersembunyi di tempat yang tepat agar aku tidak menemukanmu. Kau berhutang banyak padaku," oceh Mark di dalam hatinya.

__ADS_1


Sepasang mata indah melihat di balik pintu kamar Mark. Dia menyuruh para maid untuk tidak memberi hormat padanya. Dia tidak ingin ketahuan Ana dan Mark jika dia berada disini.


Mily sudah sadar dari pingsannya. Dia berjalan keluar kamarnya untuk mencari Ana. Saat dia keluar kamar, dia melihat beberapa maid hilir mudik membawa barang-barang yang seperti perlengkapan untuk bayi ke lantai tiga. Hanya ada dua kamar yang digunakan disana. Kamar milik Mark dan Michael.


Dia berjalan menaiki anak tangga satu persatu. Benar saja dengan dugaannya. Diantara dua kamar itu, kamar Mark yang diisi oleh perlengkapan bayi.


Pada dasarnya Mily adalah seorang wanita yang baik dan penyayang. Dia tahu bayi kembar itu tidak bersalah, mereka hanya bayi. Bukannya dia tidak ingin menerimanya. Tapi perlakuan Max padanya membuat dia tidak ingin menerima mereka dengan mudah.


"Tidak semudah itu Max. Kau hanya memberi pesan tanpa berusaha menjelaskan padaku. Kau sudah melakukan pengkhianatan," ucap Mily di dalam hati.


Air mata kembali jatuh di kedua pipi mulusnya. Dia menahan isak tangisnya agar tidak terdengar oleh siapapun.


"Apa salahku Max? Mengapa kau melakukan ini padaku?", kesalnya dalam hati.


Mily mengusap kedua matanya. Dia membalikkan tubuhnya dan melangkahkan kakinya turun ke bawah kembali ke kamarnya. Dia hampir mencapai pintu kamarnya, dan terhenti karena panggilan dari seseorang yang dikenalnya.


"Mily," panggil suara itu.


"Dad."


Daniel segera menghampiri menantunya itu. Dia memeluk Mily dengan erat. Memberinya dukungan bahwa dia tidak sendiri.


"Dad harap kau baik-baik saja," ucap Daniel.


"Aku akan berusaha dad," jawab Mily sendu. Air mata kembali menetes lagi di pipinya.


"Stop! Berhenti menangis. Kau tidak pantas mengeluarkan banyak air mata," ucap Daniel memberinya dukungan.


"Dad janji padamu akan menyelesaikan semuanya. Dad sudah menambah beberapa pengawal di mansion untuk menjaga kalian. Maafkan Dad tidak bisa mendampingi mu saat ini karena Dad harus membawa nenek dan mommy mu ke negara I."


"Nenek dan mommy kenapa Dad?" tanya Mily terkejut.


"Mereka terkena serangan jantung mendadak," jelas Daniel sendu.


Mily sangat terkejut mendengarnya. Ternyata bukan hanya dia yang terluka dengan masalah ini. Nenek dan mommy nya mendapat dampak yang lebih parah darinya.


"Apa aku boleh melihat mereka sebelum pergi, dad?" pinta Mily.


Daniel mengangguk. Dia membawa Mily berjalan ke arah kamarnya.


Mily sangat merasa sangat sedih saat melihat dua wanita yang sangat dia sayangi terbaring lemah diatas ranjang dengan bantuan alat pernapasan.

__ADS_1


__ADS_2