
Pukul 16.30 Mansion Anthony.
Hampir seluruh keluarga besar Anthony sudah datang berkumpul. Mereka tiba lebih awal karena ingin melihat langsung mansion yang sudah diubah menjadi sebuah negeri dongeng. Beberapa nyonya datang untuk membuktikan apakah benar apa yang dikatakan para maid yang disuruh mereka mengantarkan kado ulang tahun untuk Mily kemarin.
"Hmm ... cuma segini saja, aku bisa memberikan yang lebih baik untuk putriku," ucap nyonya Cindy sombong. Dia adalah kakak sepupu dari dad Daniel.
"Ulang tahun putriku nanti dekorasinya pasti lebih baik dari ini," jawab nyonya Linda yang merupakan kakak dari nyonya Cindy.
Kedua kakak sepupu tuan Daniel sangat terkenal akan keangkuhannya. Mereka selalu ingin berada di atas. Bahkan banyak maid yang sudah keluar masuk mansion mereka karena tidak tahan atas kelakuan nyonya mereka. Ana salah satunya. Untung saja dia memiliki kesempatan datang berkunjung kemari saat tuan Daniel memerlukan banyak maid untuk mempersiapkan pesta pernikahan tuan muda Max dan nyonya muda Mily. Tanpa berpikir panjang dia langsung menghadap tuan Daniel untuk dijadikan maid di mansion nya.
Keluarga tuan Daniel sangat baik. Mereka memperlakukan semua pekerjanya dengan sangat baik. Mereka juga sangat ramah. Hanya tuan muda Max saja yang terlihat lebih dingin dari mereka.
Berbagai pendapat tentang dekorasi pesta beterbangan ke mana-mana hingga terdengar ke telinga Nyonya Samantha. Yang tak lain adalah ibunya tuan Daniel. Wanita tua itu sangat disiplin dan teliti dalam hal apapun.
Seperti halnya saat ini, ucapan kesombongan dua keponakannya itu terdengar hingga ke telinganya yang dari tadi berada di taman belakang. Seorang maid pribadinya menyampaikan pesan itu apa adanya. Dia hanya menghela napas panjang saat mendengarnya.
"Pastikan tidak terjadi apa-apa pada perayaan nanti! Aku tidak ingin ucapan mereka membuat Mily ku bersedih," perintah nyonya Samantha pada maid nya.
"Baik nyonya," jawab maid sambil menundukkan kepalanya dan pergi meninggalkan nyonya Samantha.
Disisi lain di kamar Mily.
Mily hampir selesai dengan dandanannya. Rambutnya ditata lebih anggun dan diberi bunga di sekitar rambutnya. Penampilannya kini terlihat bagaikan seorang putri. Kulit putihnya sangat senada dengan warna gaun yang dipilihnya.
"Ana, mengapa Max dari tadi tidak menjawab telpon ku?" tanya Mily dengan wajah sendu.
"Mungkin tuan sedang di perjalanan nyonya," jawab Ana sambil menyelesaikan tatanan rambut nyonya nya.
Mily mulai merasa gelisah. Waktu saat ini sudah menunjukkan pukul lima sore. Tidak biasanya Max setelat ini jika akan mengadakan sebuah pesta ataupun pergi ke pesta orang lain.
"Perasaanku tidak enak Ana," keluh Mily sambil memainkan ponsel di tangannya.
"Anda jangan berpikiran yang aneh-aneh, nyonya. Tuan muda sebentar lagi pasti akan tiba di mansion. Mungkin tuan muda singgah ke suatu tempat untuk membelikan nyonya kado."
Ana berusaha menenangkan nyonya mudanya itu. Sebenarnya dia juga sedikit khawatir pada tuan mudanya yang tidak biasa telat seperti ini. Apalagi kurang dari satu jam acaranya akan segera di mulai. Dia tidak mungkin menunjukkan ke khawatirannya pada nyonya mudanya. Bisa-bisa dia bertambah panik.
Mily mencoba menelpon Max. Tapi kali ini ponsel Max tidak aktif. Dia semakin dibuat khawatir dan gelisah. Dia berdiri dari kursi riasnya dan berjalan mondar-mandir sambil mengoceh yang tidak jelas.
Untung saja berdirinya Mily bertepatan dengan selesainya tatanan rambutnya.
"Ana, ponselnya sudah tidak aktif. Kemana dia?" tanya Mily semakin gelisah.
"Nyonya, anda tenanglah," bujuk Ana.
"Bagaimana aku bisa tenang. Max tidak pernah seperti ini."
Ana yang melihat kedua mata indah nyonya nya berkaca-kaca segera mencari ide agar air matanya tidak tumpah.
"Nyonya, sebaiknya anda duduk dulu. Tuan pasti membuat kejutan untuk anda. Tuan mungkin sengaja untuk membuat nyonya gelisah dulu agar kejutannya berhasil."
Perkataan Ana membuat Mily berhenti dari kegiatan mondar-mandirnya. Senyuman mulai terlihat di wajahnya.
__ADS_1
"Aku harap kau benar Ana," ucap Mily pasrah.
Ana merasa sedikit lega karena alasannya bisa diterima oleh nyonya Mily. Akan tetapi kekhawatirannya justru bertambah. Nyonya nya benar. Mungkin ada sesuatu yang terjadi pada tuannya. Perasaan tidak enak juga melingkupi relung hatinya.
Ana sudah paham dan mengerti kondisi nyonya mudanya karena dari awal nyonya nya masuk ke dalam keluarga ini, dia segera di beri tugas oleh tuan dan nyonya Anthony untuk selalu berada disisinya dan melayaninya dengan baik.
Tok ... tok ...
"Ana buka pintunya!" perintah Mily yang langsung membuat Ana tersadar dari lamunannya.
"Baik nyonya," ucapnya sambil menundukkan kepalanya.
Ana bergegas ke arah pintu dan membukanya. Kepala pelayan Lim memberitahukan bahwa nyonya mudanya diminta turun karena kurang lebih empat puluh lima menit lagi acara akan segera di mulai. Ana mengangguk mengerti akan perintah itu. Dia segera menutup kembali pintu kamar dan berjalan ke arah nyonya nya.
"Nyonya, kita harus segera turun. Para tetua sudah berkumpul di bawah," ucap Ana. Dia membantu Mily berdiri dan merapikan gaunnya.
"Aku sebenarnya masih ingin menunggu Max."
"Nyonya, tuan muda pasti segera tiba. Sebaiknya kita turun sekarang dan menunggunya di bawah," tutur Ana.
"Baiklah. Kita turun sekarang!" perintah Mily.
Perasaannya saat ini bercampur aduk, antara sedih, khawatir, dan takut. Akan tetapi dia tetap harus turun ke bawah karena sudah di tunggu oleh keluarga besar. Dengan langkah gontai dan perasaan yang tidak enak, dia turun ke bawah di dampingi Ana.
Tamu-tamu masih belum hadir. Kebanyakan dari orang yang berada di mansion adalah keluarga besar. Saat Mily turun, banyak yang kagum melihat kecantikan dan keanggunannya. Tidak banyak juga yang iri melihatnya.
"Kemari lah cucu menantuku!" perintah nyonya Samantha.
"Selamat ulang tahun sayang. Kau sangat cantik hari ini," kagum nyonya besar itu.
"Nenek juga cantik hari ini. Terlihat lebih muda," tutur Mily.
"Kau bisa saja. Oh iya, di mana Max? Kenapa dia dari tadi tidak kelihatan?" tanya nyonya besar padanya.
"Max kemarin pergi ke Amerika karena ada urusan kantor yang sangat penting dan tidak bisa di tunda, nek," jelas Mily.
"Heh, bocah itu. Selalu saja begitu. Sudah tahu hari ini adalah perayaan ulang tahun istri dan satu tahun pernikahan kalian masih saja mengurusi pekerjaan," keluh nyonya besar.
"Sebentar lagi dia akan tiba, nek." tutur Mily.
Sebenarnya dia sendiri ragu apakah Max akan hadir tepat waktu atau tidak. Karena dia tidak bisa menghubungi Max sama sekali.
"Nenek yakin dia sebentar lagi akan sampai. Kau duduklah disini. Nenek akan menyambut keluarga lain yang datang."
"Baik nek."
Mily duduk sendiri di ruang tengah. Dia memang masih belum terlalu dekat dengan sepupu suami nya sehingga dia malas untuk bergabung dengan mereka. Lagipula setahu Mily, mereka yang tidak ingin bergaul dengannya. Sedangkan Ana tadi ijin ke belakang sebentar karena ada yang memanggilnya.
"Permisi nyonya, maid Ina mengatakan bahwa ada seseorang yang mencari anda," ucap Ana sopan. Dia baru saja kembali dari belakang.
"Suruh saja orang itu masuk Ana!" perintah Mily.
__ADS_1
"Sudah nyonya, tapi dia bersikeras tidak ingin masuk ke dalam. Dia menunggu anda di taman belakang mansion," jawab Ana.
"Baiklah. Aku akan ijin dulu dengan nenek."
Mily beranjak dari sofa empuknya dan menghampiri sang nenek yang masih sibuk bercengkrama dengan para tetua lainnya.
"Nenek, aku ijin ke belakang sebentar. Ada seseorang yang ingin bertemu denganku," lapor Mily.
"Siapa?"
"Aku juga tidak tahu nek."
"Kau boleh pergi tapi bawa seorang pengawal untuk menemanimu," perintah nyonya besar.
"Tapi nek, jika orang itu bisa masuk kemari bukankah berarti dia aman?" tanya Mily.
"Kau benar sayang. Tapi setidaknya bawalah satu pengawal untuk berjaga-jaga. Suasana cukup ramai saat ini," perintah nyonya besar.
Mily hanya mengangguk pelan. Dia berjalan ke arah belakang mansion bersama Ana. Dia juga membawa seorang pengawal yang diperintahkan sang nenek untuk menjaganya.
Seorang pria dengan postur tubuh yang sedang berdiri di dekat kolam ikan. Pria itu mengenakan topi dan jaket berwarna navy. Dia langsung menoleh ketika mendengar beberapa langkah kaki mendekatinya. Dia membuka topinya dan memberi hormat pada nyonya muda itu.
"Selamat sore nyonya, maaf sudah mengganggu ketenangan anda," ucapnya sopan.
"Tidak apa-apa. Apa aku mengenalmu?" tanya Mily.
"Tidak nyonya. Anda tidak mengenal saya. Saya hanya seorang kurir yang diutus untuk mengantarkan sesuatu untuk nyonya." tutur nya sopan.
"Ana, kau benar! Max terlambat karena mempersiapkan hadiah untukku." seru Mily.
Dia menoleh ke belakang melihat Ana dan tersenyum padanya. Ana melihat dari kejauhan sebuah keranjang yang di taruh kurir itu di atas kursi dekat kolam ikan. Meskipun tidak cahaya lampu tidak terlalu terang, dia dapat melihat sesuatu yang bergerak-gerak di dalam keranjang.
"Nyonya sepertinya tuan memberi anda seekor anak kucing Persia," tutur Ana sambil mendongakkan kepalanya.
"Wah, aku sudah lama menginginkannya. Max ternyata masih ingat."
Mily sangat senang dengan hadiah yang dikiranya adalah seekor anak kucing Persia.
Wajah kurir itu terlihat seperti tidak enak karena sebenarnya mereka salah menebak isi keranjang yang dibawanya.
"Maaf nyonya. Aku akan segera memberikan keranjang ini pada anda."
Setelah menyerahkan keranjang pada maid nya, kurir itu segera mengundurkan diri dari sana. Dia tidak ingin tahu apa yang akan terjadi nanti. Dia sendiri heran mengapa ada orang yang memberikan kado seperti itu.
Ana mengambil keranjang itu. Dia merasa keranjang ini sangat berat untuk ukuran seekor anak kucing Persia. Di lihatnya baik-baik ke dalam keranjang. Betapa terkejutnya dia saat melihat ke dalam keranjang.
"Nyo-nya i-ni bu-kan a-nak ku-cing," ucapnya terbata-bata.
Mily mengernyitkan alisnya. Dia bergegas mendekati Ana. Di ambilnya keranjang itu dari tangan Ana kemudian di taruh nya di atas pangkuannya. Dia sangat terkejut melihat sesuatu di dalam keranjang.
__ADS_1
Mily Carter