Bayi Kembar Milik Suamiku

Bayi Kembar Milik Suamiku
Bab 5. Tuan Muda vs Maid (Mark vs Ana)


__ADS_3

Yang dikatakan tuan Mark sangat benar. Bayi-bayi ini tidak bersalah. Yang salah hanya keadaan dan tempat mereka dilahirkan. Baru kali ini Ana merasa tuannya itu benar dalam berpikir.


"Siapa nama mereka?" tanya Mark sambil mengusap pipi bayi laki-laki.


"Tuan, bukannya tadi anda sudah membaca isinya dan sudah ku jelaskan juga. Tuan Max meminta Nyonya Mily yang menamai mereka," tutur Ana dengan kesal. Baru saja dia memuji sikap tuan muda Mark. Hanya beda beberapa menit kebodohannya muncul lagi.


"Oh iya, Aku lupa." Mark menjawab asal. "Apa kau tidak merasa kebas menggendong dua bayi sekaligus?" tanya Mark dengan polosnya.


"Sangat tuan. Tapi apa tuan muda bersedia membantuku?" tanya Ana menahan rasa kesalnya.


"Kenapa tidak bilang dari tadi kalau kau perlu bantuan ku!" oceh Mark.


Ana hanya bisa menahan emosinya lagi dan lagi.


"Eh tapi, aku tidak tahu cara menggendong bayi."


"TUAN PANGGIL SAJA SEORANG MAID KESINI."


Pertahanan Ana ambruk. Dia sudah tidak bisa menahan rasa kesalnya. Lagipula dia bekerja untuk nyonya Mily bukan padanya. Dia hanya harus patuh pada setiap tuan muda yang lain. Untung saja kedua bayi itu hanya menggeliat. Kalau mereka bangun dan menangis, bisa-bisa emosi Ana pada tuannya berada di level seribu mengalahkan makanan berlevel pedas.


"Kau marah padaku ya?"


Astaga, tuannya itu benar-benar menguji batas kesabarannya.


"Tidak tuan muda Mark yang tampan. Mana mungkin aku berani." tutur Ana dengan senyum yang dibuat-buat.


"Kenapa senyum mu jelek sekali?"


Ana hanya mengembangkan senyumnya dan menampilkan deretan giginya yang rapi.


"Tuan duduk yang benar di sampingku!" perintah Ana.


"Untuk apa? Bukannya aku sudah duduk di sampingmu!"


"Sabar-sabar, orang sabar di sayang Tuhan, banyak rezekinya, Amin." Ana menggerutu di dalam hati.


Karena tidak ingin berdebat lagi dengan tuannya itu. Ana segera berdiri. Dia langsung menaruh bayi laki-laki ke atas pangkuan Mark.


Mark yang belum siap langsung terkejut dan tangannya langsung memeluk tubuh mungilnya.


"Eh Ana, kenapa tidak memberiku aba-aba dulu?"


"Tuan muda, kan tadi aku sudah meminta tuan untuk duduk yang benar. Tuannya saja yang tidak mau menurut."


"Kau marah lagi padaku?"

__ADS_1


"Tau ah gelap, tuan!"


"Iya sekarang memang sudah gelap. Tidak baik untuk mereka berada sangat lama di luar. Sebaiknya kita membawa mereka masuk kedalam!"


"Untung saja kau itu tuan muda. Coba kalo bukan, sudah ku tendang kau dari planet ini," oceh Ana dalam hati.


"Kau pasti mengomeli ku didalam hati."


"Wah tuan, kau hebat sekali bisa membaca isi hati orang lain. Coba baca isi hatiku yang sekarang?" Ana berkata sambil menahan geram akan tingkah tuan muda kedua keluarga Anthony.


"ish kau itu, mana ada orang yang senang hatinya terbaca oleh orang lain," oceh Mark.


Ana mengambil keranjang dengan sebelah tangannya. Dia merapikan isi dalamnya sehingga nyaman untuk ditiduri. Setelah rapi, dia meletakkan bayi perempuan ke dalam keranjang. Dia menepuk pelan kaki bayi itu agar tenang kembali. Setelah bayi itu tenang, dia mengambil bayi yang berada di pangkuan tuan mudanya.


"Tuan, bantu aku membawa keranjang bayi ini. Kau pasti bisa kan?"


"Tentu saja aku bisa. Kan cuma keranjang bayi," tutur Mark sambil mengambil keranjang bayi. Dia memegangnya dengan hati-hati karena ada seorang bayi yang tidak lain adalah keponakannya.


"Eh Ana, berarti mereka ini keponakanku ya?" pertanyaan konyol itu berhasil lolos dari mulut Mark.


Ana tidak ingin menjawab pertanyaan yang konyol itu. Dia memilih diam dan mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam mansion.


"Ana, aku ini serius."


Suasana di dalam mansion saat ini sangat sepi. Hanya ada beberapa karyawan EO dan maid yang terlihat sedang membersihkan dan merapikan dekorasi ruangan. Pesta yang seharusnya memberikan kebahagiaan dan kesenangan justru menjadi sebuah pesta yang menyakitkan. Ana tidak habis pikir dengan keadaan saat ini. Dia dapat membayangkan perasaan nyonya mudanya saat ini. Pasti sangat terluka.


Mereka menaiki anak tangga perlahan. Mereka tidak ingin orang lain tahu tentang keadaan yang menimpa keluarga ini, dan juga tentang kedua bayi ini. Mark bersyukur Mily memiliki seorang maid yang setia dan paham dengan keadaannya.


Mark dan Ana berhasil melewati karyawan EO dan para maid. Beruntung kedua bayi saat ini tertidur lelap sehingga mereka semua tidak mengetahui apa yang Mark dan Ana bawa. Para maid tetap akan di beritahu tentang bayi-bayi ini. Hanya saja belum waktunya. Mereka harus menunggu keputusan dari tuan Daniel.


Mereka sekarang berada di depan pintu kamar Mily. Terlihat keraguan Ana untuk memasuki kamar itu. Dia teringat ucapan nyonya Mily sebelum pergi dari sana dan pingsan. Dia tidak ingin melihat bayi-bayi itu. Dia ingin dijauhkan dari mereka.


Mark melihat Ana yang mematung didepan pintu, langsung melewatinya dan ingin membuka pintu kamar. Ana yang melihatnya segera menarik lengan baju tuan mudanya. Ana menggelengkan kepalanya.


"Tidak bisa tuan. Kita tidak bisa masuk. Nona Mily memintaku menjauhkan si kembar darinya," pinta Ana.


"Jadi kita harus meletakkan mereka dimana?"


"Tidak mungkin juga di kamarku, tuan. Itu bukan kamar pribadi. Aku tidur berdua dengan salah seorang maid," jelas Ana.


Disaat situasi seperti ini, Mark merasa harus memberitahu ayahnya agar setiap maid diberi kamar pribadi. Dia juga tampak berpikir harus di taruh dimana si kembar.


"Wah ... wah ... kau hebat sekali kak! Disaat nenek dan ibu pingsan kau malah datang membawa seorang bayi," ucap Michael yang baru saja keluar dari kamar ayahnya.


"Kau salah! Ini bukan seorang tapi dua," jelas Mark sambil mengangkat keranjang yang berada di tangannya ke depan wajah Michael.

__ADS_1


"Apa? Mereka kembar? Wah, hebat sekali kau kak!" Michael bertanya sambil memuji kakaknya.


"Bukan milikku. Tapi milik Max," ucap Mark santai.


"APA?"


Michael sangat terkejut mendengarnya. Dia tidak percaya dengan yang didengarnya. Bagaimana mungkin kakaknya yang notabenenya sangat mencintai Mily bisa memiliki anak di luar sana.


"Kau serius?" tanya Michael lagi.


"Kau mau berapa rius? Aku beri semua untukmu!" tutur Mark.


"Tuan-tuan muda yang saya hormati dan saya cintai," ucap Ana yang langsung di potong oleh Mark.


"Siapa yang kau cintai diantara kami?"


Pletak


Michael sangat senang bisa menjitak kening kakak keduanya ini. Dia juga kesal dengan pertanyaan yang super konyol itu. Kenapa bisa ibunya melahirkan seorang anak laki-laki yang pikirannya sepolos anak perempuan.


Mark langsung mengusap keningnya dengan sebelah tangan.


"Kau itu, hobi sekali menjitak keningku," rintih Mark.


"Ah, sudahlah. Kau tahu, Ana itu sedang kesal padamu."


Mark menatap Ana yang memberinya sebuah senyuman yang di buat-buat.


"Kesal darimana? Dia tersenyum begitu padaku."


Ana langsung menepuk jidat tuan mudanya.


"Eh, kau sudah berani menepuk jidatku ya?" oceh Mark.


Michael menambahkan sekali lagi menepuk jidat kakaknya.


"Kau!"


"Tuan muda Mark, aku mohon. Kita harus meletakkan si kembar dimana?" tanya Ana.


Akhirnya mereka terdiam dengan pikiran mereka masing-masing. Tapi anehnya, seperti ada kontak batin diantara mereka bertiga, mereka kompak menatap pintu kamar Mily dan langsung menggeleng. Tatapan mereka beralih ke pintu kamar di ujung kanan yang merupakan kamar tuan Daniel, kemudian mereka menggeleng bersama.


Terakhir, mereka menatap pintu kamar di ujung kiri. Kamar milik nyonya Samantha. Lagi-lagi mereka menggeleng. Harapan mereka tinggal dua kamar di lantai tiga. Ana menatap Mark. Hal yang sama juga dilakukan oleh Michael. Merasa ditatap oleh dua pasang mata, Mark justru bertanya dengan santai


"Kenapa?"

__ADS_1


__ADS_2