Be My Honey

Be My Honey
Tejoh


__ADS_3

Pagi yang cerah untuk semua orang, tapi tidak bagi Kanz. Pagi-pagi dia sudah mendapat kekacauan besar, Kayla tanpa sengaja menjatuhkan kamera miliknya yang seharusnya dia pakai untuk kegiatan fotografi nanti. Kalau di sekolah ada ekskul, di kampus ada yang namanya UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa). Dari sini kalian sudah bisa menebak bukan? UKM apa yang diikuti Kanz?


Bagaimana tidak marah kalau yang jatuh adalah kamera berharga? terlebih lagi kamera itu Kanz peroleh dari papanya sebagai hadiah karena dia bisa menghasilkan uang untuk menambah uang jajannya dari hobbynya berfoto, sehingga dia bisa mengurangi beban sang papa. Bukan harga yang menjadi pokok permasalahannya, melainkan perjuangan sang papa yang pada waktu itu rela bekerja walaupun sedang sakit demi membeli kamera untuknya dengan alasan agar Kanz lebih bersemangat dalam mendalami hobbynya, tidak perlu lagi meminjam kamera milik Nabil.


"Kanz, maafin gue ya. Sumpah, gue gak sengaja." Entah sudah berapa kali Kayla meminta maaf pada Kanz pagi ini. Namun, Kanz tetap diam tak bersuara sedikit pun. Kanz buru-buru pergi setelah memungut kameranya yang sempat jatuh.


"Kanz, maafin gue. Pliss jangan marah. Gue bakal ganti kamera lo."


Kanz masih tak peduli, dia tetap berjalan dengan santai walaupun hatinya sedang panas karena emosi. Kayla tetap mengekor dan mengucapkan kata maaf.


"Kanz, lo jangan diem aja dong. Jawab gue pliss. Sumpah, gue gak sengaja."


Namun, tetap saja tidak ada respon dari Kanz. Dia tetap fokus berjalan, sepertinya dia akan pergi ke kelas. Mengabaikan kedua sahabatnya yang ingin menghampirinya. Dimas dan Nabil menghentikan langkah Kayla. Tumben sekali Kayla mengejar Kanz, apa jangan-jangan Kayla suka sama Kanz? Emang ya kalau orang tampan itu cepet banget dapat cewek, pikir Dimas yang mungkin juga dipikirkan oleh Nabil.


"Kenapa?" tanya Dimas to the point.


"Gue gak sengaja jatuhin kameranya si Kanz, soalnya tadi gue buru-buru, trus pas lari gue sempat nengok ke belakang karena gue kayak denger ada yang manggil nama gue gitu. Pas gue udah nengok ke depan lagi, gue nabrak si Kanz. Gue beneran gak sengaja, gue gak liat dia ada di depan gue dan gue gak sempat ngerem. Gue juga gak tau kalau dia ternyata lagi pegang kamera." ungkap Kayla dengan lirih sembari menundukkan kepala, merutuki dirinya yang ceroboh. Kayla merasa sangat bersalah.


Sontak hal itu membuat Nabil dan Dimas terkejut, karena mereka tau cerita dibalik kamera tersebut. Nabil yang tersadar dari kagetnya kemudian menatap sosok Kayla yang berada di depannya dengan raut wajah sedih, kemudian mencoba memberi pengertian ke Kayla.


"Itu kamera sangat berharga banget buat Kanz. Ada cerita dibalik kamera itu. Dan cerita itulah yang buat Kanz jadi sayang banget sama kameranya." seru Nabil lembut sembari menepuk pelan bahu Kayla. Merasa kasihan dengan Kayla. Lebih kasihan lagi dengan Kanz pastinya.


"Gue harus gimana dong? gue beneran gak sengaja." seru Kayla lirih. Merasa sangat-sangat bersalah setelah mendengar ucapan Nabil barusan. Kayla memang bar-bar, tapi dia tetap punya hati ketika posisinya bersalah. Ya, ketika dirinya merasa bersalah saja, selebihnya ya sudah pasti bar-bar.


"Lo pasti tau apa yang harus lo lakuin Kay. Gue percaya sama lo. Dia lagi butuh waktu aja. Lo bisa manfaatin itu untuk cari cara supaya Kanz bisa maafin lo lagi." seru Dimas yang kemudian pergi meninggalkan Kayla yang masih berdiri mematung.


"Lo pasti bisa Kay. Gue dan Dimas bakal tetap bantuin lo buat kasih pengertian ke Kanz." tambah Nabil, menepuk pelan bahu Kayla untuk memberinya semangat. Kemudian pergi menyusul Dimas yang sudah lebih dulu pergi meninggalkannya.


Sepeninggalan Dimas dan Nabil, Kayla masih tetap berdiri mematung di tempatnya. Menatap lurus ke depan. "Maafin gue Kanz, gue beneran gak sengaja. Maafin gue, gue bakal tanggung jawab kok." ucapnya lirih, benar-benar merasa bersalah kepada Kanz.

__ADS_1


Untung saja suasana taman saat itu sedang tidak ramai. Yahh, masih bisa dibilang agak sepi lah. Jadi, tidak ada yang tau kalau Kanz dan Kayla sedang ada masalah.


"Ini salah gue. Gue harus tanggung jawab." ungkapnya dengan mantap. Kemudian pergi.


...----------------...


"Kanz." seru Kayla, menatap lelaki yang berada di depannya.


Kanz diam tak bergeming dengan wajah tanpa ekspresi, datar dan dingin seperti biasanya. Kanz fokus pada ponselnya, tak menghiraukan Kayla yang berada di depannya.


"Kanz jawab gue dong pliss." tambahnya dengan wajah memelas.


Kini mereka berada di sebuah cafe yang berada tak jauh dari kampusnya. Dengan bantuan Dimas dan Nabil, akhirnya Kanz berhasil menuruti kemauan kedua sahabatnya itu untuk menemui Kayla. Yahh, walaupun butuh perjuangan untuk bisa membujuk Kanz, karena pria itu susah sekali untuk dibujuk.


Ini memang rencana Kayla untuk mengajak Kanz bertemu. Dimas dan Nabil hanya bertugas untuk membujuknya supaya dia mau datang dan bertemu dengan Kayla. Entah apa yang dikatakan Dimas dan Nabil sampai akhirnya Kanz luluh dan mau menemuinya.


"Gue gak maksa lo buat maafin gue, gue tau gue salah. Gue cuman mau ngasih lo ini." lanjutnya sembari menyodorkan sebuah buku kepada Kanz.


Hal itu tentu saja menarik atensi Kanz yang semula fokus berkutat dengan ponselnya. Melihat buku yang ada di depannya kemudian melirik tajam ke arah Kayla.


"Apa?" bingung Kanz


"Ini buku harian gue."


"So? "


"Buku ini sangat berharga buat gue karena isinya curahan hati gue buat papa, yang kemudian tanpa sepengetahuan gue dibalas sama beliau. Gue baru tau kalau papa gue selalu baca buku ini, papa juga mencurahkan isi hatinya tentang gue di buku ini sebelum beliau dipanggil. Dan gue baru sadar ada tulisan beliau seminggu yang lalu sewaktu gue rindu papa dan gue baca semua yang ada di buku itu. Papa gue pergi udah hampir satu tahun lamanya. Jadi, buku itu sangat-sangat berharga buat gue." ungkap Kayla dengan lirih sembari menatap buku yang kini berada di depan Kanz dengan mata yang berkaca-kaca. Namun berusaha tetap tenang dan mempertahankan air matanya agar tidak jatuh. Dia tidak ingin Kanz melihatnya sedang menangis. Terlalu malu.


"Gue tau kamera itu sangat berarti buat lo, gue gak tau ada cerita apa dibalik kamera itu. Tapi gue yakin, itu yang buat lo kecewa dan sangat marah ke gue. Semua orang pasti punya kenangan yang berharga di hidupnya, begitu juga dengan lo dan gue. Gue ganti kamera lo dengan buku ini karena keduanya sama-sama punya kenangan tersendiri yang amat sangat berharga. Gue tau kok, yang lo sesali dari jatuhnya kamera itu bukan karna barangnya, karena gue yakin lo pasti bisa beli lagi yang baru dengan mudah. Tapi kenangan yang ada di kamera itu gak bisa di dapatkan dengan mudah." tambahnya lagi, mendongakkan kepala menatap raut wajah Kanz. Pria itu tampak mendengarkan dengan baik apa yang sedari tadi dia ucapkan. Walaupun memang pria itu masih berkutat dengan ponselnya. Entah apa yang sedang pria itu pikirkan, raut wajahnya tak terbaca.

__ADS_1


"Makanya gue ganti barang lo yang berharga dengan barang gue yang berharga." lanjutnya, memberikan senyum termanisnya. Berharap pria itu luluh hatinya dan mau memaafkannya. Namun, Kayla sadar diri. Dia tidak ingin terlalu memaksakan pria itu untuk memaafkannya. Pria itu mau mendengarkannya saja sudah cukup bagi Kayla.


"Hm" seru Kanz dengan santai. Sungguh, kalimat yang singkat padat dan nggak jelas. Benar-benar tidak punya hati.


"Tugas gue udah selesai. Gue cuman mau ngasih lo itu aja, kalau gitu gue balik dulu." seru Kayla yang kemudian beranjak dari tempat duduknya ingin segera pergi namun urung.


"Gue gak nyuruh lo pergi." potong Kanz cepat


"Tugas gue udah selesai Kanz." ucap Kayla, menatap pria yang masih terduduk dengan tetap berkutat dengan ponselnya. Entah apa yang diinginkan makhluk ini, Kayla benar-benar tidak mengerti.


"Duduk!" suruh Kanz


Kayla menurut dengan pasrah. Berharap bahwa pria itu sudah terketuk hatinya setelah mendengar ucapan Kayla tadi.


"Gue maafin lo."


"Serius?"


"Hm."


"Lo udah gak marah?"


"Gak!"


"Syukur deh kalau gitu, gue lega dengernya. Maafin gue ya, gue beneran gak sengaja tadi."


"Buku lo gue bawa buat ganti kamera gue. Gue balik." seru Kanz, beranjak pergi dari tempat duduknya menuju parkiran dan segera pulang.


"Itu anak kayaknya waktu pembagian akhlak salah ngantri di jalur setan. Heran gue." gumamnya pelan. Beranjak pergi meninggalkan cafe.

__ADS_1


__ADS_2