Be My Honey

Be My Honey
Delapen


__ADS_3

"Bang, lo ngapain disitu?" tanya Eta dengan penasaran karena sedari tadi Kanz hanya berdiri mematung di depan pintu menuju halaman belakang rumah. Entah apa yang dilihatnya.


"Nyemen." balas Kanz enteng


"Nyemen apaan?" heran Eta. Menatap sekelilingnya mencari semen, namun tidak ada semen dimana-mana.


"Nyemen mulut lo biar gak berisik." jawabnya sewot. Masih menatap halaman indahnya.


"Kesamber baru tau rasa lo." balas Eta sengit. Beranjak pergi dari tempatnya berdiri namun urung saat dia mengingat sesuatu, kemudian menempelkan sebelah tangannya ke jidat.


"Eh iya lupa, kan lo setannya. Mana bisa kesamber kan? Yakali setan masuk ke setan."


"Mulut lo perlu dikucek pakai rinso biar bersih."


"Percuma, ntar juga balik kotor lagi. Kan dirumah masih ada dua setan."


"Siapa?"


"Elo sama bang TJ."


"Yang tanya."


"Sialan lo bang-ke!!"


Perlu kalian ketahui, tidak ada kata 'akur' dalam kamus kakak beradik di keluarga Mr. Udin. Jadi harap maklum bila mereka sering cek-cok.


"Bang!"


"Hm?"


"Bang bang bang. Bang abang abang bang. Bang bang bang." goda Eta yang kemudian langsung pergi dari tempatnya dengan senyum sumringah.


"Sialan!"


...----------------...


"Matamu melemahkanku, saat pertama kali ku lihatmu. Dan jujur, ku tak pernah merasa... Ku tak pernah merasa begini...," seru Nabil bersenandung mengikuti alunan musik yang berjudul Dari Mata-Jaz.


"Suara lo bagus Bil, tapi lebih bagus lagi kalau lo diem." seru Dimas yang sedang asik berduel PS dengan Kanz.


"Bodoamat!" pekik Nabil, melanjutkan bersenandung ria. Terlebih lagi saat akan memasuki reff.


"Dari matamu, matamu, matamu. Di pinggir kali, matamu, matamu," seru Nabil yang tetap bersenandung.


"Itu tek kotek Bambankk!!" sela Dimas cepat. Meletakkan stik PS, kemudian berjalan menghampiri Nabil dan menjitaknya sedikit kasar.


"Gelo sia! " pekik Nabil sembari mengusap lembut kepalanya.


[Gila kamu!]


"Opo'o?! Gak terimo?! " balas Dimas sengit dengan logat jawanya. Menatap tajam ke arah Nabil.


[Kenapa?! Gak terima?!]


"Modar sia! " balas Nabil tak mau kalah dengan logat sundanya. Melempar bantal sofa tepat di wajah Dimas.


[Mati lo!]


"Ginjalmu njaluk tak sleding aa? " balas Dimas lagi. Melemparkan kembali bantal sofa tepat di wajah Nabil.


[Ginjal lo minta gue sleding hah?]


"Berasa lagi ujian bahasa jawa gue." gumam Kanz. Melanjutkan bermain game Pes 2020 di Playstation.

__ADS_1


Nabil dan Dimas memang blasteran. Dimas blasteran Malang dan Jakarta. Sedangkan Nabil blasteran Jakarta dan Cibinong.


Kalau kalian blasteran juga ngak? Kalau ada yang sama kayak Dimas atau Nabil, sana jadian biar ngak jomblo.


...----------------...


Kanz mencoba memejamkan mata, untuk berusaha tertidur. Namun, tetap saja tidak bisa, dia kembali membuka matanya menatap langit-langit kamar kemudian menghembuskan nafas panjang. Pikirannya berkelana, mengingat kejadian kemarin dimana Kayla tidak sengaja menabraknya sampai akhirnya memberikan buku diare kepadanya. Eh, buku diary maksutnya.


"Apa gue terlalu berlebihan ke dia? Gue memang terlalu sayang sama kamera itu. Apa itu berlebihan?" monolog Kanz sembari menatap langit-langit kamarnya. Kanz mulai memejamkan kedua matanya dan tanpa disadarinya, dia sudah mulai terbuai mimpi.


Tiba-tiba terdengar seseorang sedang mengetuk pintu kamarnya.


Tok Tok Tok


"BANG-KE!!!" teriak Eta dari luar pintu sembari mengetuk pintu kamar Kanz dengan sedikit keras, tidak seperti tadi yang masih lembut.


Tidak ada jawaban dari dalam ruangan, akhirnya Eta memutuskan untuk masuk saja. Dilihatnya, sang abang sedang asik tertidur.


"Bang!" teriak Eta sembari mengguncangkan tubuh Kanz untuk membuatnya terbangun.


"Apaan sih? ganggu aja lo." seru Kanz dengan wajah bantalnya. Masih berusaha untuk kembali tertidur.


"Anterin gue ke toko buku." pinta Eta dengan lembut


"Lo bisa kesana sendiri." seru Kanz dengan kedua mata yang masih terpejam. Membalikkan tubuh membelakangi sang adik.


"Anterin ihh." rengek Eta


"Berangkat sendiri sono, gue ngantuk!"


"Lagi males sendirian. Bang TJ lagi gak bisa nemenin, lagi sibuk dia. Cuman lo doang bang yang bisa."


"Amputasi ajalah itu tangan sama kaki. Gak guna!"


"Lo abang gue, jadi lo harus turutin mau gue."


"Bang-ke buruan kok!"


"Berisik lo!"


"Gue aduin lo ke papa bang."


"Ck! Nyusahin aja lo kalau hidup."


Kanz terduduk, kemudian berdiri dan beranjak pergi ke kamar mandi sembari bercedak kesal, bisa-bisanya dia jadi babu adiknya ini.


"Keluar lo!" usir Kanz


"Nah gitu dong, gue tunggu di bawah abangku sayang, Muuaacchhh." Eta beranjak pergi dari kamar Kanz.


"Jijik!"


...----------------...


Setelah selesai membeli beberapa buku. Kanz ingin sekali berjalan menuju parkiran. Namun, urung ketika tangannya ditarik sang adik masuk ke area skincare dan sebangsanya.


"Bang, gue mau itu!" pinta Eta sembari menunjuk ke salah satu paket skincare bermerk Wardah.


"Lo masih ada duit." sahutnya dengan enteng


"Sekali ini aja. Pliss! " rengeknya dengan mata berninar-binar penuh harap.


"Gak!" balas Kanz cepat

__ADS_1


"Skincare yang lo beli kapan hari kemana?" tanya Kanz penasaran. Pasalnya, beberapa hari yang lalu, adik ter-lucknut nya ini sudah membeli skincare. Waktu itu Kanz yang menerima paketnya.


"Masih ada kok." sahut Eta cepat dengan santainya. Seperti tak ada dosa.


"Yaudah!"


"Ck! gini amat punya abang."


"Eta terangkanlah." panggil Kanz sembari berjalan menuju parkiran.


"Apa?" tanya Eta, mendongakkan kepala ke arah Kanz yang berdiri di sebelahnya.


"Lo aneh." balas pria itu tanpa menatap adiknya.


"Aneh kenapa?"


"Sok miskin di depan abang sendiri."


"Bodoamat!"


"Adik kayak lo harusnya di timbun aja."


"Abang kayak lo harusnya di bakar aja."


"Nyesel gue punya adik kayak lo."


"Sama, gue juga nyesel punya abang kayak lo."


"Yaudah lo pulang sendiri sana!" sewot Kanz kemudian memakai helm fullface nya.


"Yaudah gue pulang sendiri!" balas Eta tak mau kalah. Mengambil helm miliknya, berjalan sedikit menjauh untuk memberi ruang agar si goldie bisa keluar dari tempatnya terparkir.


"Oke." seru Kanz, menyalakan mesin motor kemudian memundurkannya keluar dan bersiap untuk melaju pergi. Namun, urung saat tiba-tiba sang adik berteriak memanggilnya. Kanz menoleh ke belakang dimana sang adik sedang berjalan mendekatinya.


"Apa?" tanya Kanz, masih menggunakan helm fullface nya.


"Kok gue ditinggal?"


"Kan lo pulang sendiri."


"Gajadi!" balasnya sewot kemudian memakai helm bogo berwarna maroon miliknya.


"Ck! Nyusahin aja lo kalau hidup. Kenapa gak mati aja sih?"


"Biarin!"


"Yaudah cepet naik! gue tinggal nih." titah Kanz


Eta menurut, menaiki motor dengan perasaan dongkol. Abangnya yang satu ini memang super nyebelin. Selalu saja membuat tensinya naik. Kayaknya waktu hamil dia, mama ngidam boncabe sama mercon. Pikir Eta.


...----------------...


Kalian pingin tau, skincare jenis apa yang di sempat dipesan Mauretta (Eta) ?


Sebelum melihat, tabahkan hati kalian terlebih dahulu, kuatkan mental. Jangan sampai jiwa kalian para ladies meronta-ronta.


Oh iya, sebelum itu aku mau nanya nih ke kalian. Kira-kira perlu aku kasih visual gak sih? Niatku sih gak perlu aku kasih visual, karena aku pingin kalian bebas berimajinasi sendiri tentang sosok Kanz, Kayla, Hani, Dimas, Angga, dan Nabil.


Tapi kalau memang perlu, aku bakal kasih visualnya. Jadi aku pingin tau pendapat kalian semua. Suara mana yang terbanyak, itulah yang bakal jadi jawabannya.


Btw, sejauh ini gimana menurut kalian dengan ceritanya? Kalian suka gak? Aku harap sih kalian suka dengan ceritanya.


Jangan lupa untuk komen, vote, rate, dan like ya 😇 Lebih bagus lagi kalau kalian tambahkan ke favorit. Terimakasih yang udah dukung karyaku ini. Salam Hangat dari Author 😘

__ADS_1


Ini adalah skincare yang sempat dipesan sama Mauretta.👇👇👇



__ADS_2