
"Ahkk, stop!" pekik seorang gadis yang mendapat bully an dari teman temannya.
"Rasain ini." geram salah satu cewek yang semakin gencar menjambak rambut gadis dibawah nya.
"Lo udah gw bilang jangan deket deket sama Zayyan, ngerti ga sih lo?!." bentak Hani cewek cantik yang menyukai primadona sekolah paling tampan.
Cewek itu sudah lama suka sama Zayyan, tapi sayang cinta nya bertepuk sebelah tangan.
Dan kebetulan saat jam istirahat ngeliat Nita Talia ~gadis yang baru saja di bully oleh dia dan geng nya ketauan lagi berduaan sama Zayyan cowok yang udah lama diincar tapi selalu dicuekin.
"Aku ga deket deket sama kak Zay, tapi tadi dia sendiri yang nolongin aku pas jatuh." katanya mencoba menjelaskan kejadian yang sebenarnya.
"Alesan lo!." ujar Citra ~salah satu anggota geng dari Hani.
Keempat orang itu terus menendang tubuh Hani yang tergeletak lemah tak berdaya, bahkan sampai membuat kaki nya memerah karna benturan yang terus menerus terulang.
"To-tolong." lirih nya tak kuat menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya.
Deg.
Seketika bola mata keempat manusia itu melebar saat melihat Nita pingsan, karna ulahnya.
"Woy guys gimana ini? Dia pingsan anjir, gara gara lo semua nendang nya terlalu keras!."
"Lo anjir! Lo duluan yang ngajak kita buat bully dia karna kecemburuan lo, gue gatau apa apa." elak Lidia saling menyalahkan.
"Apa apan sih lo? Ini juga karna persetujuan kalian dukung gw buat bully dia setan! Kenapa jadi mojokin gw semua? Hah?!" umpat Hana tak mau kalah.
"Cukup! Kalian kenapa jadi saling menyalahkan sih? Disini kita semua yang salah, kalian juga dalam keadaan sadar ngeroyok Nita bego! Lebih baik kabur aja mumpung belum ada yang liat, bukannya malah saling mojokin." tutur Naya panjang lebar.
Perkataan Naya membuat ketiga temannya bingung tak mengerti, tumben sekali dia bisa dewasa seperti ini.
Tak menghiraukan itu semua, keempat manusia itu segera berlari saat mendengar suara langkah kaki seseorang mendekat di gudang sekolah.
****
Diruang an yang gelap tergeletak barang barang bekas, seseorang berjalan sangat pelan bahkan nyaris tak terdengar langkah nya saat memasuki gudang sekolah.
Langkah nya tertahan saat melihat perempuan tergeletak pingsan di bawahnya. "E-eh? Siapa?." panggil nya pelan mengguncang tubuh gadis itu dengan kakinya.
"Kek nya dia pingsan, bagus lah." ucapnya merasa aman.
Setelah memastikan cewek itu benar benar pingsan, cowok itu segera melangkah pelan untuk bersembunyi.
Ceklek.
Pintu terbuka, segerombolan guru pengawas memasuki gudang seperti sedang mencari seseorang.
"Dimana dia? Berani sekali membolos di jam pelajaran."
"Eh pak, itu siapa? Ada yang pingsan disini." cemas salah satu guru wanita yang mengajar pelajaran bahasa Inggris.
"Cepat bawa ke UKS." pinta pak satpam yang juga ikut berada disana.
Setelah memanggil anak PMR untuk membawa perempuan itu ke UKS, para guru segera keluar dari gudang untuk melanjutkan pencarian murid yang bolos kelas.
Dirasa keadaan telah aman, lelaki itu mengintip keluar. "Untung lah." ujarnya bernafas lega.
"Oh iya, cewek tadi itu siapa ya? Kenapa bisa pingsan di gudang? Kek nya di korban pembullyan, tapi siapa dia? Kok gue ngerasa ga asing." gumam nya berpikir.
__ADS_1
"Bodoh amat sih, mau dia siapa juga bukan urusan gue." ucapnya mengedikan kedua bahunya seraya berjalan dengan gaya sok cool nya.
"Eh dia senyum in lu Ris." bisik Vany pada Riska, teman satu kelas Hana and the geng.
'Kepedean banget anjir, siapa juga yang senyum in lu bego!.' batin Vero ~nama cowok itu.
"Hai Ver." sapa Riska malu malu.
"Oh, hai juga." jawab Vero singkat kemudian meninggalkan dua orang yang salting brutal karna sapaan nya dibalas.
"Ga nyangka gw Vero bakal nyapa balik ke gw, aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa." sahut Riska kegirangan.
"Lo suka sama dia?." tanya Manda memancing kejujuran Riska.
Karna disaat seperti ini, otaknya sableng dan sering kali berkata jujur kalo udah kesemsem sama cowok.
"Iy.... Ga juga, cuman tertarik dikit lah." elak Riska menutupi perasaan nya.
"Yakin tertarik dikit? Kok gue ragu ya? Lo beneran ga suka sama Vero?." lagi dan lagi Manda bertanya hal yang sama.
"Mana ada, gw udah ada Lucas ga mungkin juga gw selingkuh in dia kan?." balas Riska bertanya balik.
"Ehm, gue harap ucapan lo bener sesuai isi hati lo."
"Udah lah ga usah dibahas, mending cepetan balik ke kelas, pasti bakal kena omelan lagi habis ini." ucap Riska mengalihkan topik.
"Lo sih lama banget ke kamar mandi, kan gue kena imbasnya anjir."
"Ya gimana lagi, makeup gw longsor kan malu kalo ga dibenerin."
****
Nita mengerjab pelan membuka mata nya, dia meringis saat merasakan sakit di kepalanya.
"Sshh." lirihnya menahan rasa sakit yang menjalar.
"Eh, udah bangun." ucap seseorang yang membuat Nita menoleh.
Nita mendapati dokter yang biasa berjaga di UKS, dia tersenyum kecil menatap tatapan hangat yang diberikan dokter wanita disampingnya itu.
"Dokter." ucapnya pelan.
"Tadi kamu pingsan di gudang, kamu gapapa? Kenapa bisa sampe pingsan disitu? Terus kaki mu juga lebam semua, kamu dapet kekerasan dari seseorang atau siapa kamu mungkin?." tanya dokter Puspa yang lebih terlihat kek orang lagi mengintrogasi.
"Siapa yang bawa saya kesini dok?." bukannya menjawab, Nita justru bertanya hal lain.
"Tadi anak PMR dipanggil ibu Ihma pas ngeliat kamu di gudang sendirian."
Ibu Ihma adalah guru bahasa Inggris yang menjadi wali kelasnya Nita, oleh karna itu saat melihat muridnya tidak baik baik saja dia adalah orang paling cemas di antara guru lain.
"Kamu masih lemas, lebih baik istirahat dulu disini atau kamu mau pulang aja? Bu Ihma juga udah ngasih ijin." tutur dokter Puspa.
"Saya pulang saja dok, mau istirahat di rumah."
Ya udah gapapa kalo kamu maksa pulang, mau sekalian di pesenin taksi?."
"Boleh dok, maaf merepotkan."
"Sebelum pulang minum obat dulu ya... Biar lebih bertenaga di perjalanan, takut tiba tiba pingsan lagi. Nanti kalo sampe rumah langsung makan ya, kamu kayaknya sering telat makan. Itu ga baik buat kesehatan tubuh kamu, tubuh juga perlu nutrisi."
__ADS_1
"Iya dok." balas Nita mengambil obat yang diberikan dokter Puspa.
****
"Buruan naik." pungkas seorang pria.
Nita menatap cowok didepan nya, rupanya dia adalah seorang kakak kelas.
"Aku?." tanya nya menunjuk pada dirinya sendiri.
"Lo ngeliat ada orang lain selain kita berdua?." Nita menggeleng pelan.
"Ya udah cepetan naik, mumpung ga ada yang liat." sahut nya.
"Kakak malu ya kalo sama aku? Kalo malu gapapa pergi sendiri aja, aku juga ga minta di tolong." ucap Nita merasa insicure karna wajahnya yang jelek, di tambah lagi sama jerawat yang tak kunjung sembuh.
"Bukan, bukan gitu. Kan lo tau sendiri kalo ini belum waktu pulang, nanti kalo ketauan orang bisa bisa di laporin gw." ujar Zayyan ~cowok yang selalu nolongin Nita diam diam.
"Buruan gih, lo kayaknya kurang fit hari ini, gw denger denger sih katanya lo habis pingsan?."
"Iya, agak ga enak badan." sahut Nita kemudian naik ke motor Zayyan.
"Kakak ga malu bonceng aku?." tanya Nita sedikit mengeraskan suara nya.
"Lo ngomong apa? Gue ga denger, kerasin." sahut Zayyan tak mendengar jelas ucapan Nita.
"Ga jadi, nanti aja."
"Pegangan yang erat, ini gue nganter lo ke rumah atau apartemen lo?."
"Apartemen aja, dirumah juga ga ada orang." teriak Nita disebabkan Zayyan yang semakin laju mengendarai motor nya.
Zayyan telah lama mengenal Nita, dia juga sering kali mengantar cewek ini ke rumah ataupun apartemen nya.
Awalnya Nita emang agak malu dan merasa insicure karna bisa dapet perhatian dari kakak kelasnya yang di gemari para cewek di sekolah, namun Zayyan bersih keras selalu nolongin dia meskipun secara diam diam.
Kenapa bisa malu? Ya karna wajah Nita yang jerawatan, dekil dan kulitnya yang hitam membuat nya selalu mendapat bully an dari senior di sekolah nya.
Bahkan dia hanya memiliki satu teman saja, itupun temannya tidak terlalu memperdulikan dirinya meskipun di bully oleh orang lain.
Jujur saja Nita ingin sekali pindah sekolah, karna udah ga betah lama lama disana.
Sekolah yang seperti neraka untuk nya, hari harinya selalu mendapat cemohan dan body shaming dari teman temannya.
Saat ini Nita masih kelas satu SMK, dia mengikuti jurusan tata busana sedangkan Zayyan mengikuti jurusan teknik kelautan.
Drrt...drrtt...
Baru saja Nita turun dari motor Zayyan, ponselnya yang berada di saku seragam berdering cukup nyaring.
Nita meneguk ludah saat melihat nama mama dilayar depan. "Ehm," gumam nya ragu.
"Siapa?." tanya Zayyan yang sangat peka.
"Mama." balasnya.
"Kenapa ga diangkat?."
****
__ADS_1
Bersambung.