
Sudah Minggu kedua liburan, orang orang menyibukkan diri untuk persiapan tahun baru yang akan di rayakan besok malam.
Kebanyakan dari mereka yang memiliki keluarga lebih memilih merayakan tahun baru di rumah, seperti membakar berbagai makanan yang enak, mulai dari seafood, jagung, ataupun sosis.
Orang orang di perantauan biasanya merayakan bersama kekasih, teman, atau bahkan tidak merayakan sama sekali.
Tahun baru tidak sepenuhnya akan di sambut, menurut beberapa orang itu hanyalah hari biasa.
Terlihat seorang laki laki yang terduduk di balkon sembari menghirup asap rokok, matanya menatap jalan dibawah sana menikmati keindahan malam.
Beberapa kali lelaki itu menghela nafas panjang, entah apa yang dipikirkan namun terlihat jelas bagaimana raut wajah nya yang seolah mengatakan 'aku tidak baik baik saja'.
Nada dering telepon memecah keheningan malam itu, dia beranjak dari duduknya menuju kamar mengambil ponsel milik nya.
"Papa?." gumamnya menatap nama yang tertera di layar ponsel.
Segera lelaki itu menggeser icon berwarna hijau. "Halo"
"Dimana?." sahut pria paruh baya lewat sambungan telpon.
"Di rumah, kenapa?." balas lelaki itu.
"Ga ada apa apa, papa cuman mau bilang kalo tahun baru kali ini ga bisa nemenin kamu. Brusan pihak rumah sakit nelfon papa kalo ada yang mau operasi jantung, jadi papa suruh kesana karna dokter yang menangani di rumah sakit itu ga bisa dateng. Kamu ngerayain tahun baru sama temen temen kamu aja, nanti papa kirimin uang lebih. Udah segitu dulu, papa harus berangkat sekarang. Keburu telat ntar."
"Terus mama dimana pa? Atha bener bener ngerayain sendiri disini? Sampe kapan gini terus pa? Atha..." ucapan nya terpotong karna lelaki itu tak mampu melanjutkan nya.
Pekerjaan orang tua Atha adalah dokter, papa nya menangani bagian operasi jantung, dan ibunya sebagai ahli bedah.
Terhitung berapa banyak orang tuanya selalu berkata tidak bisa merayakan ulang tahun maupun tahun baru bersama, apakah kesehatan orang lain begitu penting bagi mereka? Tentu saja penting, Atha tau itu.
Dia hanya berharap sekali saja merayakan hari istimewa bersama, mungkin fisiknya baik baik saja tapi belum tentu mental nya tenang menghadapi kesendirian tanpa siapapun.
Bukan keinginan nya berbuat onar seperti di sekolah lamanya, hanya saja dia menginginkan sedikit perhatian.
Namun naas nya, malah dia harus di pindahkan ke sekolah yang tidak dia inginkan.
Mungkin itu telah menjadi takdir nya, Atha terus meyakinkan diri bahwa semuanya baik baik saja, biarkan hari hari berlalu mengikuti alurnya.
Papa Atha memilih diam namun tak mematikan sambungan telpon. "Mama mau nemenin papa keluar kota, jadi sementara kamu sendiri dulu. Kan udah gede masa masih takut kayak anak kecil? Nanti kalo urusan papa sama mama disini udah selesai, kita liburan bareng." tutur pria paruh baya tersebut kemudian.
"Udah dulu ya, jaga diri baik baik." lanjut nya mematikan telfon.
Lagi dan lagi lelaki itu menghembuskan nafas kasar, sambil meratapi hidupnya yang tidak sesuai ekspektasi.
"Ya uda sih, kalo emang gini mau gimana lagi?." gumam nya mencoba tersenyum di malam yang tenang itu.
****
Matahari bersinar terang menembus jendela kamar seorang gadis yang tengah tertidur pulas, menikmati hari libur nya.
Tok tok tok.
__ADS_1
"Saf, bangun dulu." panggil sang ibu yang tengah mengetuk pintu berulang kali.
Setelah cukup lama menunggu, pintu terbuka melihat kan Safira yang baru saja bangun dengan rambut acak acakan.
"Em." balasnya sambil mengangguk layaknya orang yang tengah mabuk.
"Sarapan dulu, anak gadis ga boleh bangun siang terus. Apalagi udah besar, nanti kalo nikah gimana?." cerca sang ibu yang hanya di angguki oleh Safira.
"Em, Fira mandi dulu." jawab Safira seraya menutup pintu.
"Astaga.... Anak itu..." ibu Safira hanya bisa menggeleng geleng kan kepalanya melihat tingkah sang anak yang masih seperti anak kecil.
****
Selesai mandi, Safira segera turun menuju ke ruang makan.
Gadis itu tersenyum canggung menatap keluarga nya yang telah menunggu sedari tadi, apalagi di tambah tatapan sinis dari sang ibu membuat nya tak enak hati.
"Maaf, tadi sekalian keramas jadi agak lama." ucap Safira berjalan menuju tempat duduk.
"Bukan 'agak' tapi memang lama." ketus adik Safira yang berusia 9 tahun.
Safira memilih diam tanpa membalas sindiran adiknya, dia memaklumi itu karna memang dirinya yang salah.
"Ya udah makan dulu, gelud nya di lanjut nanti." ucap sang ibu menengahi.
Mereka semua makan dengan tenang, suara garpu dan sendok bercengkrama di ruangan itu.
"Ngga ada sih yah, kenapa?."
"Ayah sama ibu rencana mau ke rumah nenek nanti siang, kamu ikut?."
Sejenak Safira terdiam. "Kayaknya Fira ga ikut dulu yah, aku disini aja gapapa. Nanti titip oleh oleh aja kalo pulang, oh iya salam buat nenek dari Fira." ujar Safira yang seperti merencanakan sesuatu.
"Naufal gimana? Mau disini juga sama kak Fira, atau mau ikut?." kali ini bukan ayahnya yang bertanya, melainkan ibunya.
"Aku ikut," sahut Naufal, dia merasa bersemangat saat ingin pergi ke desa karna disana dia akan bertemu banyak sepupu yang seumuran dengan nya.
"Kamu gapapa sendirian disini Saf?" tanya ibunya.
"Udah gapapa, ibu jangan khawatir." balas Safira sembari meneguk minuman nya.
"Kalo mau ngerayain bareng temen, jangan aneh aneh. Sekarang banyak pergaulan bebas, inget mahkota perempuan itu ada di harga dirinya."
"Iya bu." sahut Safira singkat.
***
Siang setelah keberangkatan orang tuanya, Safira tengah rebahan santai di sofa yang berada di ruan TV.
Dia tengah memikirkan tentang perayaan tahun baru nanti. "Apa ngajak Nita aja ya?" gumam nya sok ngide.
__ADS_1
Setelah lama berpikir, dia memilih mencoba terlebih dahulu, siapa tau mau kan? Pikirnya meskipun berprasangka jika Nita akan menolak ajakannya.
"Halo, Ta." sapa nya menghubungkan sambungan telpon.
"Kena Fir? Tumben nelpon?"
"Em, jadi gini..... Lo mau ga, kalo gw ajak? Plis mau ya?? Sekali ini aja,"
"Mau kemana? Emang nya?"
"Bilang mau dulu, baru gw kasih kasih tau."
"Loh, kok gitu? Kamu aja belum ngasih tau, tiba tiba di suruh setuju." elak Nita yang sebenarnya juga penasaran sama ajakan Safira.
"Lo mau ngerayain tahun baru dimana?." tanya Safira mengulur waktu agar tak kehabisan topik.
"Di rumah aja, ga kemana mana."
"Sama siapa?." tanya nya lagi, untuk memastikan agar rencana nya kali ini berhasil.
"Sendiri, mamah belum pulang ada pekerjaan soalnya." tutur Nita.
"Gimana kalo kita ngerayain tahun baru bersama? Pas seru kan.... Plis kali ini jangan nolak gw," ucapnya memohon.
"Em gimana ya... Aku lagi ga mood mau keluar Fir."
"Tuh kan, udah gw duga sih." jawab Safira penuh kecewa.
"Atau gini, kamu aja yang ke rumah aku gimana? Kamu kan pengen kesini dari dulu, jadi sekalian biar tau. Tapi kamu naik taksi ya? Nanti aku ganti uang nya."
"Eh beneran? Kesambet apa lo? Tumben banget."
"Ya udah kalo ga mau."
"Eh mau dong... Siapa yang ga mau," jawab Safira merasa gembira.
"Liat chat nya, aku share lokasi di situ. Nanti kalo udah sampe telfon aku, biar aku jemput biar ga nyasar."
"Ok ok, gue boleh nginep ga? Kalo boleh gue sekalian bawa baju ganti."
"Boleh, mumpung lagi sendiri disini."
"Ok, otw." ujar Safira menutup panggilan telfon.
Safira tersenyum penuh kemenangan, dia tidak akan membiarkan Nita dalam kesepian di kesempatan kali ini.
****
Bersambung.
Yang lagi baca, boleh dong ninggalin jejak di komen meskipun hanya titik.
__ADS_1