
Semua orang menatap Nita yang baru saja datang, kali ini gadis jelek itu secara tiba tiba menggunakan masker yang menutupi setengah wajah nya.
Ga peduli sama hirauan orang, Nita berjalan santai menghampiri bangku nya sendiri.
"Ngapain lo pake masker segala?." cerca Indri si ratu julid.
"Malu mungkin." sahut Ulfa besti nya Indri.
Masih mencoba bersikap biasa dengan cemohan orang orang di sekitar nya, dalam hati Nita merutuki sikapnya yang sama sekali tak berani melawan.
Padahal udah sering banget dapet ejekan, namun tetap saja ga ada keberanian bahkan untuk membalas mulut mulut sampah yang selalu menghina nya.
Tapi dia berjanji pada dirinya sendiri untuk membalas ucapan tak bermoral itu dengan versi elegan, bukan menggonggong seperti anjing kelaparan atau dalam artian haus perhatian.
"Ohh, sekarang selain jelek lo juga tuli?!." tukas Nevi kedua sahabat Indri dan Ulfa.
"Apasih caper banget, segitu pengen nya dapet pujian? Sampe sampe bikin mental orang jatuh?." sindir Safira atau biasa lebih di kenal sebagai Fira.
Mendengar sindiran halus, seketika Indri and the geng langsung menoleh ke sumber suara. "Lo apa apaan? Nyindir gue lo?." tanya nya nyolot.
"Oh kesindir? Bagus deh kalo sadar diri, kirain bakal pura pura bego. Bye the way gue ga nyindir lo, kalo merasa ya ga masalah juga emang kenyataan nya gitu kan?." Safira mengadikan kedua bahunya dengan raut mengejek.
"Lo!." geram Indri menunjuk Safira.
"Apa? Apa gw apa? Hah? Kalo berani nya main keroyokan ga usah belagu!." balas Safira dengan nada santai.
"Awas lo! Gw tandai muka lo b1tch!."
"Ya udah kalo awas ya awas, pergi sono! Muak gue liat anjing haus perhatian." ucap Safira semakin meneruskan aksi julid nya.
"Cabut guys." ajak Nevi pada kedua temannya, tentu saja mereka ingin bolos sekolah mumpung guru belum dateng.
"Digituin doang udah cabut? Cih," cibir Safira menatap kepergian ketiga pick me kelas.
"Fir, makasih ya udah bantuin aku." ungkap Nita tulus.
Ya benar! Safira adalah satu satunya teman yang dia miliki, meskipun kadang tidak peduli tapi kalo bukan karna Safira tidak ada lagi orang yang akan membela nya.
"Sans aja kali Ta, omong omong lo napa pake masker sekarang?." ucapnya penasaran.
"Gapapa, cuman pengen nutup diri aja."
"Gue boleh pinjem buku catetan lo ga? Kemaren lupa nyatet."
"Yang mana?." tanya Nita, karna memang dia kemaren hanya bersekolah setengah hari doang, jadi ga sempet nyatet pelajaran akhir.
"Mtk."
"Ada ini, tapi belum lengkap sih soalnya kemaren aku pulang duluan."
"Gapapa, lagian gue males juga mau nyatet."
"Mau aku tulisin? Kebetulan ga ada kerjaan, anggep aja sebagai terima kasih aku karna udah belain aku tadi." kata Nita menawarkan diri.
"Kalo ga keberatan ya gapapa sih kalo gw, hehe."
"Ya udah sini buku kamu, mumpung guru belum masuk." pinta Nita.
"Nih." ujar Safira memberikan buku tulisnya.
Suasana yang baru saja berisik udah kek pasar, seketika hening saat guru datang.
"Selamat pagi bu." ucap sang ketua kelas yang diikuti oleh murid lainnya.
"Pagi." balas bu Ihma yang menjadi wali kelas di situ.
__ADS_1
"Anak anak, hari ini kita kedatangan murid baru yang ikut belajar disini sekaligus akan menjadi teman kalian nanti nya." tutur ibu Ihma.
"Murid baru??" semua orang langsung ribut kecuali Nita yang merasa biasa saja, toh ga ada yang bakalan mau temenan sama dia.
"Ok tenang semuanya! Ibu akan perkenalkan murid baru itu pada kalian, ayo masuk!." pinta ibu Ihma memanggil.
Remaja laki laki itu langsung melangkah memasuki kelas, tanpa sepatah kata pun.
Tampan! Itu yang berada di pikiran para gadis, terkecuali Nita dan Safira yang biasa saja seolah olah tidak ada yang menarik.
"Ehm, silahkan perkenalkan nama mu." bisik bu Ihma namun tak mendapat sahutan.
Guru wanita itu menghela nafas panjang, sebelum pada akhirnya dia berucap. "Oke dengar semuanya! Namanya Atha Ziniqi Lucas, dia pindahan dari SMAN bangsa. Ibu harap kalian bisa akrab dengan nya, mengerti?." kata bu Ihma menjelaskan.
"Mengerti bu."
"Atha kamu bisa duduk di bangku yang kosong itu." ucap ibu Ihma.
"Di belakang bu?." tanya Atha yang akhirnya mengeluarkan suara.
Langkah lelaki itu mengarah ke salah satu bangku yang pemiliknya tengah menulis, entah tengah mengerjakan apa pagi pagi begini.
Gubrak! Kesambet setan apa dia sampe menggebrak meja orang lain, ckckck.
Cewek yang sedari tadi diam fokus pada pekerjaan nya, tentu saja langsung terlonjak kaget saat ga ada angin ga ada ombak malah mejanya di tendang sembarangan.
"Minggir!" tukasnya tapi lebih terdengar seperti perintah, kemudian pandangan nya beralih menatap cewek di depannya yang ternyata adalah Nita.
"Atha." panggil ibu Ihma yang hendak memarahi namun mengurungkan niatnya.
Tentu saja dia takut memarahi murid baru nya itu yang tak lain karna orang tua nya adalah donatur terbesar di sekolah, meskipun terbilang sekolah menengah kejuruan tapi kebanyakan yang masuk disana hanyalah orang orang yang mampu atau dengan kata lain di kasta elit.
Dengan wajah pasrah Nita berpindah ke bangku belakang yang kosong seraya membawa tas juga buku yang ada dimeja, mau marah tapi dia ingat jika berada di sana saja hidupnya seperti neraka apalagi kalo sampe berurusan dengan cowok beranda seperti Atha.
"Setelah saya keluar, ada yang bisa ngajak Atha berkeliling?." tanya ibu Ihma.
"Saya bu!."
"Saya aja bu!."
"Saya aja bu."
Sahutan demi sahutan, para gadis berebut untuk mendapatkan perhatian siswa baru tersebut.
Guru wanita itu memijit pelipisnya, pusing dengan tingkah centil para muridnya.
"Gini aja, biar Atha yang nunjuk sendiri."
"Atha, bagaimana?." Tanya bu Ihma meminta pendapat.
Atha menatap seluruh murid di kelas itu, ada tiga bangku yang kosong disana, sepertinya sang pemilik sedang tidak masuk kelas.
Saat meneliti satu persatu, tangannya terangkat menunjuk gadis yang menggunakan earphone sedang asik mendengar kan musik.
"Itu aja bu." tunjuk nya pada Safira yang sedari tadi asik sendiri.
"Safira?." panggil ibu Ihma.
"Safira? Fir?." panggil nya lagi.
"Eh iya bu, ada apa?." balas Fira menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Dari tadi dipanggil juga, ckckck." ibu Ihma menggeleng kepalanya tak habis pikir dengan muridnya yang malah asik mendengarkan musik saat jam masuk.
"Kamu bisa nemenin Atha keliling sekolah nanti?." pinta guru tersebut.
__ADS_1
Safira mengernyit heran kemudian menoleh kanan kiri, nampak beda tapi apa? Cewek itu menyipitkan matanya melihat apakah ada perbedaan, karna sedari tadi dia tak mendengar kan guru sama sekali.
Siswa baru! Ah ya..... Dia sudah menemukan perbedaan itu. "Oh itu, ok deh bu." pungkas Safira, mengangkat tangan nya membentuk 'ok' seraya mengedipkan matanya.
Setelah perkenalan yang cukup panjang, seperti biasa pelajaran di mulai dengan tenang.
Skip dulu ga sih pelajaran nya? Wkwkwk.
****
Safira berjalan santai menyusuri gedung sekolah sembari memberi tau beberapa ruangan disana, di sebelah ada Atha yang celingak celinguk an pada lingkungan barunya.
"Gimana? Lo paham?." tanya Fira menoleh pada Atha yang lebih tinggi dari nya.
"Hm." jawab cowok itu singkat.
Rumor tentang siswa baru telah menyebar di grup sekolah, para murid menatap tak suka pada Safira yang menemani Atha berkeliling.
"Ngapain tuh berandalan sama dia?."
"Yang gue denger sih katanya tuh cowok ganteng mau nya di temenin sama Fira, padahal selama ini ga ada yang mau deket deket sama dia kecuali si dekil Nita."
"Udah ganteng, tinggi, denger denger sih katanya bapaknya juga jadi donatur disini, uhhh sempurna banget ciptaan Tuhan yang satu ini."
Atha bisa mendengar jelas bisikan kebencian yang diarahkan pada Safira oleh seluruh murid disana, itu membuat nya menatap Safira lebih lekat.
"Ternyata lu punya image buruk ya disini?." tanya Atha mulai bersuara.
"Apa urusan nya sama lo? Ga usah ikut campur urusan gw?." tekan nya sedikit meninggi kan suara, dia benci rasa simpati yang penuh kemunafikan.
"Sok banget tuh cewek, minimal kalo caper yang elegan dikit lah." begitulah cercaan para siswi disana, dan masih banyak lagi sebenarnya.
Safira berhenti melangkah ketika mendengar kalimat terakhir, dia langsung menoleh ke arah gadis yang berkata seperti itu.
"Gw songong? Kalo iya kenapa? Urusan nya sama elo apa? Kita kenal? Enggak kan? Kita temenan? Enggak juga kan? Gw ngerugiin lo? Enggak juga bukan? Sebenarnya yang sok disini itu, lo atau gw hah?." balas Safira koar koar menyindir para mulut sampah di sekitarnya.
Lalu tatapan nya tertuju pada Atha yang hanya terdiam. "Lo udah paham kan? Berarti tugas gw selesai." katanya lalu berlalu meninggalkan cowok itu.
"Eh Saf, tunggu." ucap Atha mengejar Safira.
"Ck, apalagi?." jerah Safira memutar bola matanya.
"Lo emang ga punya temen disini?."
"Punya." jawab Safira.
"Oh iya, yang tadi duduk di bangku gw sebelum nya dia siapa? Kek nya dia juga ga punya temen ya?."
"Punya, gw temennya." jawab Fira singkat.
"Jadi dia temen lo? Btw namanya siapa?." tanya Atha lagi.
"Nita."
"Nita?."
"kalo ga ada sesuatu yang penting gw mau balik ke kelas." ujar Fira malas.
"Eh tunggu, nama panjangnya siapa anjir?." tanya Atha seraya mengejar Safira yang lumaya lumayan jauh darinya.
"Nita Talia, lo kenapa sih kayaknya penasaran banget sama temen gw?."
****
Bersambung.
__ADS_1