
Dua Minggu berlalu~
Hari menjelang ujian akan diadakan, dimana semua siswa fokus belajar untuk menghadapi soal sulit ketika ulangan nantinya.
Tidak ada yang menarik, para murid hanya akan sekolah lalu ujian dan lulus.
Mereka mengejar pendidikan bertahun tahun, tapi terkadang usaha itu berkhianat tanpa ada hasil.
Ada yang menjalani hidup dengan mudah, ada juga yang harus melewati jalanan penuh lubang.
Manusia diciptakan dengan kelebihan serta kekurangan yang berbeda, ada yang baik dalam bentuk fisik ada juga yang baik dalam hal akademik maupun non akademik.
Jika merasa dirimu tidak sempurna maka jadilah orang yang cerdas, entah itu dalam pelajaran ataupun dalam menghargai orang lain.
Cerdas adalah ketika seseorang bisa berpikir saat melakukan tindakan, sedangkan orang pintar adalah dia yang mengetahui banyak hal yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan.
Setidaknya jika fisik mu buruk, jadilah orang pandai agar kamu lebih dihargai meskipun terkadang seseorang lebih memandang rupa daripada perilaku.
Seperti Nita yang jarang belajar, namun herannya dia selalu menjadi juara kelas saat ujian.
Hanya saja nilai bagus tidak membuat gadis itu senang, tidak ada yang mengharapkan nya.... Di abaikan adalah hal biasa.
Bagi anak lain tuntutan orang tua mungkin menyiksa, berbeda dengan Nita yang menganggap itu sebuah tantangan.
Orang tua nya memang tidak pernah menuntut apapun, tapi itu jelas membuktikan bahwa keluarga nya tidak berharap apa apa.
"Huh." Nita terus menghela nafas panjang berulang kali.
"Kenapa soal ini sangat sulit sih, aku tidak ingin hanya pintar dalam pelajaran bahasa dan sejarah." gerutunya karna tak dapat menebak jawaban yang dipelajari nya.
"Rasanya aku ingin pergi berlibur sama mamah, tapi dia selalu sibuk."
"Besok sudah ujian, berarti dua minggu lagi sekolah libur semester."
****
Usai satu Minggu telah berlalu~
Ujian di nyatakan selesai, tinggal menunggu pengumuman nilai yang nantinya sekalian mengambil raport.
Guru telah memberi tahu tadi siang, bahwa Senin depan orang tua murid di suruh datang sebagai wali untuk mengambil raport.
Nita yang sejak kecil tak pernah diambil kan raport oleh orang tua nya, hanya berdecih pelan sembari menggerutu dalam hati.
Dia benci pertemuan orang tua dan guru, karna mau dipanggil sebanyak apa orang tuanya tidak akan mau datang dengan alasan sibuk bekerja.
Tapi dia tidak terlalu memikirkan hal itu, karna melihat murid lain yang memiliki nasib sama seperti nya bahkan bisa saja mereka lebih sulit.
"Ta nanti orang tua lo bakal dateng pas suruh ngambil raport?." tanya Safira yang tengah duduk.
"Gatau juga." jawabnya seraya menyandarkan tubuhnya kebelakang.
Meskipun sekarang waktu istirahat tapi kedua manusia itu tidak ingin pergi dari kelas, hanya berdiam diri di bangkunya masing masing.
Bangku Nita berada di belakang bangku Safira, sedang kan di depan bangku Safira di tempati oleh Indri dan Ulfa, sedang kan disamping nya ada Nevi yang berada di sebelah Ulfa dan Atha yang berada di pojok depan menghadap dinding.
__ADS_1
Di kelas itu ada empat puluh dua siswa, setengah laki laki dan setengah nya lagi perempuan.
"Mau keluar?." tanya Nita yang ingin mengajak Safira ke kantin.
"Ga, males banget mau gerak."
"Terus raport lo gimana ntar? Kalo bukan ortu kan ga boleh ngambil." tanya Safira heran.
"Ga tau liat nanti aja."
"Atau gue nyuruh orang tua gue sekalian ambil rapot lu aja ya? Kalo lu ngijinin tapi." sahut Safira memberi ide.
"Boleh? Takut nya nanti orang tua kamu ga mau." ucap nya tak enak hati.
"Santai aja kali, emak gue orang nya baik kok."
"Atha udah tiga hari ga masuk ada apa ya? Aku jadi kepikiran sama dia, padahal kan sekarang lagi ujian." tukas Nita berpikir.
"Mungkin lagi sakit, kalo ngga ya ada masalah keluarga. Ga mungkin juga dia sengaja ninggalin ujian gitu aja, apalagi baru pindah beberapa hari disini." Ada benarnya juga perkataan Safira.
"Tumben lo ngomongin orang lain? Biasanya bodoh amat."
"Gapapa sih, cuman kepikiran aja." balas Nita seadanya.
"Waktu cepet banget ya, padahal baru kemaren udah mau tamat semester satu aja." omong nya yang hanya didengar kan sama Nita.
"Namanya juga kehidupan Fir."
"Lo bisa deket sama kak Zayyan gimana ceritanya? Penasaran gue."
"Kok bisa? Coba lo inget inget sebelum nya pernah ketemu kak Zay atau apa lah..."
"Ga tau, cuman dia itu sering aja nemuin aku buat nanya kabar. Terus semenjak itu aku sering di labrak kakak kelas gara gara dikira kita pacaran, padahal aku udah sering ngejauhin kak Zay tapi kak Zay selalu nyamperin." curhat Nita menceritakan semuanya.
Safira mendengar kan, meskipun mula nya dia agak kaget karna baru kali ini Nita mau bercerita tentang dirinya sendiri.
"Mungkin dia suka sama lo." begitulah tanggapan Safira.
"Ga mungkin sih, aku aja disini baru beberapa bulan masa tiba tiba kak Zay suka sama aku. Kalo pun semisal pandangan pertama kayaknya aku sadar diri deh Fir,"
"Lo ngapain sih insicure gitu? Lo itu cantik, cuman emang perlu di rawat dikit aja." ucap Safira tulus.
"Mana ada," jawab Nita tersipu malu.
"Tapi sekarang kayaknya kak Zay jarang keliatan ya?." ucap Safira.
"Iya,"
"Lo ga pernah denger dia ngomong sesuatu ke lo?"
"Engga." Nita menggeleng.
****
Hari Senin pun tiba, para orang tua wali berdatangan untuk pertemuan orang tua dan guru.
__ADS_1
Pukul 09.00 pagi, para siswa menghampiri orang tuanya masing masing.
"Hai Ta." sapa Zayyan saat melihat Nita berdiri di gerbang sekolah.
"Pagi kak, mau ambil rapot juga ya?."
"Iya, lu lagi nunggu siapa disini?." tanya Zayyan seperti mengetahui sesuatu.
"Lagi nungguin temen,"
"Safira?." Nita mengangguk, tatapan nya masih sama terfokus pada halaman depan sekolah.
"Siapa yang mau ngambil raport lu?."
"Ada," jawab Nita singkat.
"Beneran? Kalo ga ada biar gw bantuin."
"Ga usah kak, ada pokoknya." elak Nita tak ingin orang lain mencampuri urusan nya.
"Orang tua kakak mana? Ga dateng juga ya?." tanya Nita yang heran karna tak melihat Zayyan melakukan apapun, padahal murid lain menyusul orang tua nya yang baru saja datang ke sekolah.
"Palingan bentar lagi juga sampe." Nita mengangguk seolah mengerti dan tak ingin bertanya lagi.
Melihat Safira yang datang bersama wanita paruh baya, Nita langsung tau jika itu adalah ibu Safira.
Terlihat cantik meskipun sedikit berumur, pantas saja Safira juga memiliki paras yang sempurna mengikuti gen keluarga nya.
"Ta, ini nyokap gue." sapa Safira kemudian menunjuk ibunya.
"Hay tante,"
"Kamu temen nya Fira? Nita kan? Dia sering cerita tentang kamu ke tante." kata mama Fira tersenyum kecil.
"Iya tante, tant aku...." dia memotong ucapan nya seperti ragu untuk melanjutkan.
"Udah gapapa ga usah sungkan gitu, Fira juga udah ngomong ke tante katanya sekalian suruh ambilin raport temennya. Ternyata itu kamu," balas mama nya Safira yang seolah mengerti dengan topik pembicaraan Nita.
"Makasih banyak tant." ucap Nita lalu membungkuk an tubuh nya memberi hormat.
"Zayyan!" panggil seorang wanita paruh baya.
"Mama." sahut Zayyan menghampiri sang ibunda yang saat ini berada di luar gerbang sekolah.
"Maaf mama telat ya?."
"Ga kok ma, belum di mulai juga."
Suara yang cukup nyaring itu mengundang perhatian Nita dan Safira yang berada tak jauh dari tempat Zayyan.
Nita menoleh, lalu. "Mamah?." ucapnya melotot ke arah wanita paruh baya yang bersama kakak kelas nya tersebut.
Deg.
****
__ADS_1
Bersambung.