Beauty Privilege

Beauty Privilege
Siapa Atha?


__ADS_3

Nita menatap orang orang yang berlalu lalang di bawah sana, pemandangan yang indah di tatapnya lewat jendela kelas yang berada di lantai tiga.


Suasana ramai selalu terjadi ketika jam istirahat, namun keramaian itu tak dapat mengobati rasa kesepian yang dialaminya.


Terkadang Nita membayangkan bagaimana rasanya memiliki banyak teman? Bagaimana rasanya memiliki keluarga? Kedua orang tua nya masih hidup, namun gadis itu merasa tidak memiliki siapa siapa di dunia ini.


Dia tahu Tuhan itu ada, dia percaya keajaiban itu ada tapi keyakinan itu sirna disaat semesta tidak berpihak padanya.


Selalu dirundung kemalangan hanya karna rupa, keadilan hanya sebuah kebohongan publik yang pernah ada.


Seseorang akan berpihak kepada mu ketika kamu memiliki wajah dan tubuh yang sempurna, apalagi jika di tambah kekuasaan.


Terlihat bagaimana seseorang memamerkan barang barang mewah yang tidak seharusnya dia miliki, itu semua membuat Nita memandang jijik.


'Mereka tidak seharusnya menggunakan sesuatu yang tidak bisa mereka miliki,' 


"Ta." panggil Safira yang melihat Nita melamun.


"Eh iya, kenapa?." jawabnya gelagapan.


"Lo mau ke kantin ga?."


"Iya habis ini, laper juga." balas Nita.


"Ya udah yuk sama." kata Safira menggandeng tangan Nita.


"Kamu udah bawa anak baru itu keliling?." tanya Nita kepo.


"Udah, kenapa emang nya? Lo kenal dia?."


"Enggak," Nita menggeleng.


"Tapi dia kayaknya kenal elo, tadi aja sampe nanya nama lo beberapa kali. Masa sih ga kenal, lo ga lagi bohong kan?."


"Beneran, aku ga bohong." ucap Nita sungguh sungguh.


"Oh ya udah sih,"


Tiba nya di kantin, mereka berdua memilih duduk di meja paling belakang agar tak jadi pusat perhatian, lebih tepatnya menghindari cemohan orang orang.


"Kamu mau pesen apa? Biar aku yang pesenin." tanya Nita menawarkan diri.


"Gue lagi ga capek, bareng aja deh, ntar lo kena bully lagi. Sorry ya, kemaren gw ga tau kalo lo lagi di bully sama kakak kelas." balas Safira merasa bersalah.


"Gapapa, kamu juga ga salah kok."


"Emang ya, kekuasaan segalanya, kalo ga punya kuasa ga bakalan bisa kayak mereka." tutur Safira merasa iri pada anak yang terlahir dari keluarga kaya raya.


"Udah jangan gitu, ada saatnya seseorang berada di titik tertinggi juga di titik terendah dimana mereka tidak memiliki apapun." ucap Nita memotivasi diri.


"Bi pesen mie ayam satu sama bakso satu ya," ucap Safira memesan makanan.


"Oh iya minuman nya lo mau apa?."


"Es coklat aja." jawab Nita yang di angguki oleh Safira.


"Es coklat satu, sama es teh satu, anter di meja paling belakang ya bi." setelah membayar pesanan nya, Safira dan Nita berlalu pergi ke meja makan yang berada di ujung.


"Buka ih maskernya, masa mau makan pake masker." tutur Safira.


"Malu." lirihnya pelan.

__ADS_1


"Malu kenapa? Bukan nya lo selama ini juga ga pake masker?."


"Ehm." Nita menyerah memilih membuka maskernya.


"Lo kenapa sih? Gue setiap lagi sama lu ngerasa ada yang aneh, kek banyak rahasia di diri lo." ucap Safira berkata apa adanya.


Jujur saja Safira merasa aneh dengan Nita bukan karna fisik, melainkan sesuatu yang seperti nya dia tidak sadari tapi dia sendiri tidak mengerti.


Bahkan selama sudah hampir satu tahun mereka berteman, Nita sama sekali tidak pernah mengajak Safira ke rumahnya atau paling tidak bercerita tentang sesuatu seperti masalah keluarga atau hal lain.


Kadang Safira sendiri bertanya tanya, apa mereka berteman? Sebenarnya Safira juga sama gadis pendiam, tapi dia berusaha banyak bicara agar temannya tidak merasa bosan.


Sedangkan orang yang di tanya hanya diam tak menjawab, seolah olah memalingkan topik pembicaraan. "Aneh gimana? Udah ah, itu makanan nya dateng."


"Makasih bi." ucap Nita pada ibu kantin.


"Ta, menurut lu kenapa orang orang rela beli sepatu mahal padahal cuma buat ke sekolah?." tanya Safira seraya menyuapkan bakso pada mulutnya.


"Ada yang bilang, sepatu bagus akan membawa mu ke jalan yang bagus. Tapi balik lagi, itu semua hanya omong kosong seseorang biar bisa pamer sih kayaknya."


"Bener juga omongan lo." Safira mengangguk sambil menelan pentol.


"Lo kapan sih mau ngajak gue ke rumah lo, Ta?."


"Em gimana ya?."


"Gapapa ga usah malu Ta, gue juga orang miskin yang beruntung bisa sekolah disini. Lo juga pernah ke rumah gue, dan liat sendiri kan rumah gw juga jelek." jelas Safira meyakinkan Nita.


"Bukan karna itu sih sebenernya, nanti aja aku ajak kamu kapan kapan ya?."


"Hm." jawab Safira kecewa.


Saat asik mengobrol, notifikasi masuk pada ponsel milik Nita.


Kak Zay :


Lo dimana? Gw mau ngasih sesuatu.


Nita :


Di kantin lagi makan sama Safira, kenapa kak?.


Kak Zay :


Sini bentar ke halaman belakang.


Nita :


Harus sekarang banget ya kak? Aku lagi makan loh ini, ga enak ninggalin Safira sendiri.


Kak Zay :


Ok kalo gitu, biar gue aja yang nyamperin lo.


Nita :


Eh jangan! Iya iya ini aku kesana, tunggu!


Nita yang tak ingin mendapatkan bully an lagi dari kakak kelasnya karna berduaan dengan Zayyan, terpaksa dia harus mengikuti permintaan cowok itu buat nyamperin di halaman belakang sekolah.


"Umm, Saf." panggil nya ragu.

__ADS_1


"Kenapa?."


"Aku mau ke toilet bentar, kebelet banget nih." pamitnya berbohong.


"Oh ya udah cepetan, nanti lo ngompol lagi."


"Aku tinggal dulu ya!." ucap Nita berlari pergi.


Setelah berjalan sebentar, kini dia telah sampai di taman belakang sekolah.


"Nih, makan." kata Zayyan memberi tepak makan entah apa isinya.


"Buat aku? Ini kakak sendiri yang bikin?."


"Bukan, mama gue yang masak tapi gue ga suka jadi buat lo aja." ujar Zayyan seadanya.


"Oh gitu, makasih ya kak. Kalo gitu aku pergi dulu ya, ditunggu in Safira soalnya."


"Ya udah, hati hati."


Selesai mengambil pemberian Zayyan, segera Nita kembali ke kantin untuk melanjutkan makan nya yang tertunda.


"Fir." panggil Nita.


"Eh lo udh dateng, apa itu?." balas Safira melihat sesuatu di tangan Nita.


"Ini.... Ini tadi," Nita bingung ingin menjawab apa.


"Ini apa? Pasti si kasih seseorang ya...." goda Safira menyipitkan matanya julid.


"Hehe."


"Udah gapapa kalo lo ga mau ngasih tau orang nya, btw boleh bagi ga? Masih laper nih gw."


"Oh iya, makan aja." pungkas Nita menyodorkan tepak makan yang ternyata berisi cumi cumi hitam.


Melihat cumi cumi hitam itu membuat Nita mengingat masakan ibunya, apalagi pas dia nyoba makanan nya yang ternyata mirip banget sama masakan ibunya.


'Rasanya mirip masakan mama.' batin Nita termenung.


"Kenapa Ta?." tanya Safira yang melihat perubahan sikap Nita.


"Gapapa, lanjut makan aja."


"Ini enak banget masakan nya, nyokap gue aja jarang jarang masak cumi, kayaknya hampir satu tahun sekali makan cumi." curhat nya.


"Kalo kamu suka, makan aja yang banyak."


****


Seusai istirahat pelajaran tetap berlanjut, tapi dengan mata pelajaran yang berbeda, jika tadi bahasa Inggris maka sekarang adalah pelajaran IPS.


Di tengah sibuknya siswa lain mengerjakan tugas, berbeda dengan Atha yang malah asik memperhatikan Nita dari jauh.


Nita Talia! Nama lengkap cewek itu terus berputar putar dalam benak nya, entah siapa dia hanya Atha yang tau.


Padahal kedua orang itu tidak saling mengenal, bahkan bertemu diwaktu sebelumnya tapi kehadiran Atha membuat Nita sedikit risih.


Apalagi saat pandangan Atha terus tertuju padanya, walaupun tidak terlalu jelas karena lelaki itu memilih tidur tiduran di meja, memiringkan kepalanya menghadap Nita.


'Sebenar nya siapa lo?.' batin Atha bertanya.

__ADS_1


****


Bersambung.


__ADS_2