Beauty Privilege

Beauty Privilege
Di taman


__ADS_3

"Nita!." panggil seseorang dengan suara lantang yang membuat perhatian Nita teralihkan.


Cewek yang dipanggil itu segera menoleh ke arah sumber suara. "Atha?." gumam nya karna lama tak bertemu.


Eits tunggu.... Nita mengernyit heran saat baru saja sadar jika Atha memanggil namanya, bagaimana lelaki itu tau? Bahkan mereka saja tidak pernah berkenalan sejak pertama bertemu, lebih tepatnya bukan pertemuan melainkan memang cowok tengil itu teman satu kelas nya jadi wajar saja jika hanya sekedar berpapasan.


"Eh kebetulan ada lo, ya udah bareng yuk." ajak Atha yang seolah tak mengetahui keberadaan Safira dan ibunya.


"Ah?." tanya nya ulang yang terlihat seperti orang o'on.


Nita tidak pernah yakin pada dirinya sendiri, setiap seseorang mengajak nya berteman dia selalu ragu untuk menjalin pertemanan yang dekat terkecuali dengan Safira.


Karna dia tau bahwa mereka tidak benar benar mau berteman dengan dirinya, entah apa alasan nya tapi yang pasti Nita tidak bisa mempercayai seseorang dengan mudah.


"Em ok, sekalian aja sama Safira yuk." jawab Nita canggung.


"Sama nih orang?." tanya Safira menatap sinis pada Atha.


"Kenapa lo? Ga suka?." pertanyaan tersebut berhasil membuat Safira kesal menggerutu, sayangnya dia tidak bisa melawan karna keberadaan sang ibu.


Susah paya dia menahan emosinya yang ingin meledak ledak, agar tidak membuat onar pada saat pengambilan raport nanti.


"Sabar Fir, sabar..." Safira menghembus kan nafas pelan.


"Fir, tadi kamu liat kak Zay ga? Perasaan tadi masih ada didepan." bisik Nita seraya berjalan mengikuti Atha dan ibu Safira.


"Gatau juga, tiba tiba ngilang dia."


"Eh, tadi lo manggil mamah? Mamah siapa? Gara gara di kutu kupret jadi ga merhatiin gw." lanjut Safira bertanya.


"Entahlah, kayaknya tadi aku neghayal hehe." jawab Nita diiringi tawa garing.


****


Kelar dengan urusan rapat orang tua dan guru, kini suasana semakin rusuh akibat para siswa yang bergerombol menatap papan peringkat.


Nita dan Safira juga ikut andil bergerumun melihat papan peringkat, meskipun banyak tatap mata yang tak menyukai kehadiran mereka.


Safira menatap binar papan peringkat, dia di posisi kedua dalam kejuaraan bola voli. "Ta, ta liat!." ucapnya girang.


"Liat, gue juara dua main voli." tak dapat dijelaskan lagi bagaimana perasaan nya, meskipun tidak pintar dalam bidang akademik tapi setidaknya dia memiliki stamina yang kuat sehingga dapat mengikuti berbagai ekskul olahraga disekolah nya.


"Wah selamat ya, aku ikut seneng. Semoga nanti bisa tanding sama anak sekolah lain, biar bawa nama baik sekolah kita kalo kamu menang." puji Nita tersenyum.


Ingat! Kegiatan olahraga yang diikuti Safira hanya tanding dengan sesama murid kelas 10, karna masih terlalu awal untuk tanding antara sekolah.


Jadi disini Safira tidak mengikuti lomba apapun, dia mendapat juara karna kestabilan nya dalam bermain bola voli.


"Orang tua gw pasti bangga coyy," kata Safira tertawa keras seperti orang gila yang baru saja mendapatkan keinginan nya, membuat orang di sekitar nya melirik tajam.


"Masuk kelas yuk, rame banget disini." ajak Nita yang tak memang tak menyukai keramaian.

__ADS_1


****


Sekolah mulai sepi, hanya tersisa beberapa siswa yang berada di sekolah, itupun hanya siswa yang bertugas piket.


Dua gadis tengah berjalan menyusuri koridor yang hanya ada beberapa orang, mereka bercengkrama saat sebelum seorang laki laki menghampiri. "Nita." panggil lelaki itu.


Safira dan Nita berbalik, melihat orang yang baru saja memanggil salah satu diantara mereka. "Atha?." gumam Nita yang masih heran dengan sikap teman baru nya itu.


"Baru mau pulang?." pandangan nya beralih pada Zayyan yang mendekat.


"Iya." balasnya mengangguk.


"Gw anter." ajak Zayyan tak menghiraukan tatapan Safira dan Atha.


"Kenapa diam?." ucap Zayyan yang melihat Nita terdiam.


"Umm, aku mau pulang bareng Safira." ucapnya ragu.


"Bener Fir?." tanya Zayyan menatap Fira yang kebingungan.


Mendapat kode dari Nita, Safira yang mengerti langsung mengangguk. "Iya kak, mau jalan bareng soalnya." balas Safira mencari alasan.


"Ya udah kalo gitu, hati hati.... Jangan pulang kemaleman." tukas Zayyan melangkah pergi meninggalkan ketiga orang yang melongo.


"Aneh banget tuh orang, sok gentle banget." cibir Atha.


"Yang aneh itu lo bagong," jawab Safira memutar bola matanya malas.


"Bagong? Anjir, enak aja lo manggil nama orang sembarangan." sahut Atha tak terima.


"Father u!."


"My father lagi kerja, kenapa? Nge fans lo?." pungkas Safira santai.


Perdebatan kedua manusia itu membuat kepala Nita pusing, sehingga berjalan meninggalkan Safira dan Atha yang terus berceloteh mencibir satu sama lain.


****


Malam harinya, Nita dan Zayyan saat ini sedang berada di taman yang lumayan jauh dari rumah.


Cewek itu terpaksa keluar karna paksaan dari kakak kelasnya tersebut, meskipun begitu menurut nya tidak terlalu buruk berada di taman malam malam, apalagi sedikit pengunjung membuat nya cukup santai.


Perempuan itu menghela napas pelan sebelum dia pergi mencari sebuah warung untuk membeli minuman, karna telah kehausan sejak tadi. "Kak, aku kesana dulu." pamitnya langsung ngeloyor pergi tanpa menunggu jawaban.


Dia memegang lehernya, tenggorokan nya benar benar kering saat ini. "Haus banget." gumamnya terus berjalan mencari warung terdekat di taman itu.


Sampai akhirnya dia menemukan warung kecil yang menjual berbagai macam makanan ringan, dan minuman lainnya.


Tapi di warung itu terlihat segerombol laki laki sedang nongkrong, Nita menelan saliva nya ragu, harus lanjut berjalan menuju warung itu atau mencari warung lain.


"Banyak banget cowok nya, kalo aku cari warung lain kejauhan, apalagi malem malem gini. Tapi udh haus banget dari tadi, gimana ya?" gumam nya bimbang.

__ADS_1


"Apa terobos aja ya?" Nita menggigit bibir bawahnya, memilin jari jemari gugup untuk melalui banyak nya laki laki yang sedang nongkrong.


Sampai setelah lama Nita berpikir, dia memilih menerobos saja, karna dia sudah benar benar haus.


Ingin meminta bantuan kepada Zayyan, tapi takutnya cowok itu berpikir yang tidak tidak.


Untung saja pemilik warung nya adalah seorang wanita, Nita sedikit lega saat melihat nya dari jarak yang agak jauh.


Baru saja ingin masuk ke warung, sudah banyak gombalan tak bermutu yang dia dengar.


Mulai dari menanyakan nama, nomor telepon, umur, hingga ada pertanyaan dewasa yang tentunya Nita tau karna dia bukan gadis polos.


"Neng, melu akang yuk. Sawengi weh, pinten teh?." teriak salah satu dari para laki laki itu, membuat semua orang yang mendengar nya tertawa tapi tidak dengan ibu pemilik warung dan dirinya.


Nita memang tidak mengerti apa yang cowok itu katakan, tapi dia sangat yakin bahwa ucapan lelaki barusan bermakna buruk.


"Biarin aja neng, ga usah dengerin mereka." kata ibu itu.


Nita mengangguk paham, lalu dia meminta dua minuman dingin memberikan uang nya tanpa menunggu kembalian karna sudah merasa sangat risih berada disitu.


"Kembalian nya neng?" panggil ibu pemilik warung menghentikan langkah Nita.


"Enggak usah bu, ambil aja." jawab Nita melanjutkan langkahnya terburu buru.


Nita menghela napas lega setelah keluar dari warung tadi, lalu kembali berjalan menuju tempat dimana Zayyan berada.


Saat Nita hendak melangkah, terlihat seorang laki laki menatap nya sambil bersedekap dada.


Nita menatap Zayyan dengan tatapan kesal, dari tadi ternyata cowok itu memperhatikan nya.


"Kak Zay, dari tadi disini?" tanya nya pelan menyembunyikan rasa kesal, cowok itu hanya memberi anggukan kepala.


"Ini minuman buat kakak, tadi aku beli dua sekalian." ucap Nita menyodorkan botol minum.


"Kak Zay kenapa? Ada masalah ya?."


"Enggak," jawab Zayyan singkat.


"Ta, gw habis ini magang keluar kota." Nita mengangguk mengerti.


Zayyan saat ini sudah kelas12, biasanya memang di wajibkan magang sesuai jurusan masing masing dari pihak sekolah, tapi tidak sampai keluar kota.


Nita yang masih kelas10 belum pernah magang, karna dia masih siswa awal.


"Em iya, jaga diri baik baik kak." jawab Nita seadanya, karna dia tidak tau harus merespon bagaimana.


"Lo, lo ga mau tanya tanya apa gitu?." tanya Zayyan membuat Nita mengernyit heran.


"Emang aku harus nanya apa?."


"Ya apa aja, misal tentang nyokap gue??"

__ADS_1


Bersambung.


Note: Hallo, buat kalian yang baca cerita ku. Makasih banyak udah mau mampir kesini, jangan lupa komentar dan ulasan nya sebagai penyemangat buat penulis, hehe. Ga ada paksaan ya...


__ADS_2