BEBY (Cinta Yang Hilang)

BEBY (Cinta Yang Hilang)
Bab 2 hamil di luar nikah


__ADS_3

"Lo nangis atau pilek sih?." tanya Beby sambil melirik bahunya yang basah "Ini mah bukan cuma airmata, tapi ingus Lo juga nempel di baju gue!. Ya elah! ... "


"Masabodo!. Awas!, Lo jangan halangin gue lagi!." jawab gadis itu dengan ketus.


"Lo mau kemana lagi sih?."


" Ya ... Gue mau mati lah!." jawab gadis itu lagi sambil menepis tangan Beby yang kembali menahannya.


"Ya elah, mati lagi, mati lagi!, Lo pikir mati itu enak?. Apalagi matinya bunuh diri, sampe kiamat juga dosa Lo ga bakal di ampuni sama Tuhan."


"Itu urusan Gue, bukan urusan Lo." timpal gadis itu dengan ketus.


"Ck! ... Beneran batu ya!, ga bisa di bilangin. Lo beneran mau mati?" tanya Beby akhirnya yang terdengar frustasi.


"Iyaa ... Gue mau mati!." jawab gadis itu sambil berusaha melepaskan tangannya yang masih di pegangi oleh gadis tomboy itu.


"Ok, Lo tunggu di sini!, jangan berdiri, jangan kemana-mana!, gue mau ngambil racun." ujar Beby lalu berdiri dan berjalan menuju motornya yang terparkir tidak jauh.


"Nih minum racunnya, katanya mau mati!." titah Beby sambil mengasongkan sebotol minuman kehadapan gadis itu setelah kembali.


Dengan tatapan ragu gadis itu pun menerima minuman yang di berikan Beby.


"Yakin ini racun?." tanyanya tidak yakin.


"Iya racun." jawab Beby santai.


" Ngapain bawa racun?." tanya gadis itu lagi


"Firasat kali. Karena mau ketemu orang yang mau bunuh diri. Tapi Lo tenang aja racunnya ga bau ga ada rasa, malah kek ada manis-manisnya gitu."


"Itu sih iklan." cibir gadis itu.


"Daripada Lo terjun, pala Lo ancur! badan Lo pada patah di lindes mobil!, gue pobia darah soalnya. Mending Lo minum racun, ampuh, matinya cepet!."


" Emang udah nyoba?.' potong gadis itu


"Udah. Tikus sama Kecoa di kost gue pada mati sebelum titip wasiat"

__ADS_1


"Ga jelas!."


"Cepet minum racunnya!, katanya mau mati?. Atau Lo sebenarnya takut mati?biar ntar mayatnya tinggal gue buang!."


"Ck!... iya gue minum, bawel!."


"Dih!. Orang mah mau mati titip wasiat, bukannya marah-marah."


Sekali lagi gadis itu memperlihatkan botol minum di tangannya, lalu meminumnya meski dengan perasaan ragu.


Dan beberapa saat menunggu tapi tak ada reaksi apapun. Dan kembali gadis itu meneliti botol minuman di tangannya untuk kedua kalinya.


"Yakin ini racun?. Ko gue ngga mati?, yang ada malah tenggorokan gue seger." gumam gadis itu sambil memandangi botol minuman di tangannya.


"Bego di piara." gumam Beby.


"Ya kali gue bawa-bawa racun, itu tuh bukan racun, tapi air mineral yang ada manis-manisnya gitu. Lagian bunuh diri itu perbuatan yang di larang agama manapun, dosa besar!."


"Sebaiknya Lo selesaikan masalah Lo baik-baik sama suami Lo. Bukan malah milih jalan pintas kaya tadi." nasehat Beby.


"Gue harus gimana lagi?," gumam gadis itu sendu sambil memeluk kedua lututnya.


"Gue ngga punya suami, Gue juga belum nikah, makanya gue mau mati aja. Gue malu, hiks ... hiks ... Gue juga benci dia hiks ... gue ngga tahu harus gimana lagi hiks ..." tutur gadis itu yang kembali terisak.


Mendengar penuturan gadis itu, Beby hanya bisa terdiam. Ia tidak tahu harus berkata apa setelah tahu kalau gadis di sebelahnya ini hamil di luar nikah.


"Sorry."


"Ga papa." jawab gadis itu sambil menghapus kasar airmatanya.


"Udah sore, gue anter Lo pulang." ujar Beby menawarkan diri. Sementara gadis itu kembali memeluk kedua lututnya.


"Lo pulang aja, Gue ngga punya tempat tinggal" jawab gadis itu dengan mata sembab dan tatapan kosongnya.


"Terus sekarang Lo mau kemana?" tanya Beby


" Gue ngga tahu, Gue masih mau di sini." jawab gadis itu tanpa merubah posisinya.

__ADS_1


"Ya udah Gue pulang. Tapi Lo jangan ngelakuin hal kaya tadi ya." pamit Beby sambil beranjak dan menepuk celana bagian belakangnya yang kotor oleh debu jalanan.


Beby menaiki motornya dan sebelum memakai helmnya, kembali dia menatap gadis yang masih memeluk lututnya itu dengan tatapan sedikit khawatir. sampai akhirnya dia pergi meninggalkan gadis yang baru di kenalnya itu.


Belum begitu jauh, Beby kembali menghentikan laju motornya lalu menoleh kebelakang, dan terlihat gadis itu masih seperti tadi. Dengan helaan nafas berat, Beby memutar motornya dan kembali ke tempat di mana gadis itu masih duduk memeluk lututnya.


"Sebaiknya Lo ikut gue. Di sini udaranya dingin, ngga baik buat kesehatan apalagi Lo lagi hamil." ujar Beby setelah motornya berhenti tepat di depan gadis itu.


Gadis itu sedikit kaget, lalu mendongakkan kepalanya menatap Beby yang berada di atas motornya.


"Naik lah!." ajak Beby


"Ngapain ngajak gue?." tanya gadis itu dengan nada dingin


" Nanya nya ntar aja. Sekarang Lo ikut ketempat gue." ajak Beby lagi yang sudah berdiri di samping gadis itu sambil mengulurkan tangannya.


Dengan sedikit ragu, gadis itu menerima uluran tangan Beby dan beranjak dari duduknya.


Beby membuka jaket denim yang di pakainya lalu memakaikan nya pada gadis itu.


"Gue Beby. Lengkapnya Beby chesara." ujar Beby memperkenalkan dirinya. "Sorry kalau jaketnya bau, nama Lo siapa" tanyanya.


"Shania." jawab gadis itu singkat


"Nama yang bagus." puji Beby


" Thanks."


"Ayo naik." ajak Beby yang lebih dulu naik, setelah sebelumnya mengambil tas kecil milik Shania.


Tanpa sepatah katapun gadis itu naik ke atas motor Beby.


" Kalau Lo dingin, Lo boleh meluk Gue asal jangan tidur."


Lagi-lagi gadis menuruti perintah Beby tanpa sepatah katapun keluar dari mulutnya.


Beby melajukan motornya meninggalkan tempat yang hampir saja nyawa orang yang kini duduk di belakangnya.

__ADS_1


Punggung Beby terasa hangat ketika gadis itu menyandarkan kepala di punggungnya. 12


__ADS_2