BEBY (Cinta Yang Hilang)

BEBY (Cinta Yang Hilang)
bab 8.


__ADS_3

Sedang pokus menyiapkan cup buat kuenya, lagi-lagi Shania di buat kaget oleh Beby yang tiba-tiba muncul di belakangnya.


"Sibuk?" tanya Beby sambil iseng mencolek tengkuk Shania yang ter ekpos karena Shania mengikat rambutnya.


Alih-alih menjawab, Shania malah diam seribu bahasa dengan wajah kesalnya.


"Di tanya, malah diam."


"Bisa ngga sih Beb, ngga bikin aku kaget terus! kalau aku sampe jantungan gimana!" kesal Shania berusaha menetralkan jantungnya yang berdebar.


"Maaf deh ..."


"Gitu aja terus! salam dulu, kebiasaan!." gerutu Shania.


"Dih! Gue salam dulu ko. Dua kali malah. Lo nya aja ngelamun jadi ga denger salam Gue!" bela Beby karena merasa tidak bersalah.


"Aku ngga ngelamun ya! Lagi pokus nyiapin cetakan!"


"Sini. Ada yang bisa Gue bantu?." tanya Beby sambil mengulung lengan baju flanel nya hingga siku.


"Emang ngga cape?" tanya balik Shania


"Ngga lah." Jawab Beby yang sudah selesai melipat lengan bajunya.


"Itu, tinggal kamu masukin adonan yang di plastik ke cup yang udah aku siapin"


"Gimana caranya?." tanya Beby yang masih belum paham.


"Di pencet aja, kan udah ada bolongnya."


"Gini?"


"Iya"


"Penuh?"


"Ngga, tiga perempat nya aja Beb, kalau penuh nanti matengnya luber."


"Ooh ... Ok."


Dengan serius, Beby mulai menuangkan adonan yang ada di dalam plastik ke dalam cup yang terbaris rapi di atas meja, yang sudah Shania siapkan.


Shania yang berniat membereskan alat dan sisa bahan, malah pokus memperhatikan wajah serius Beby yang sedang mengisi cup dengan adonan kue. Seulas senyum terukir di bibir gadis itu, yang menjadikan matanya seperti bulan sabit.


Merasa ada yang memperhatikan, Beby menoleh ke arah Shania yang sedang memandanginya.


"Kenapa?. Salah ya? " tanya Beby


"Ngga ko. Emang gitu, cuma kurang penuh aja dikit lagi." jawab Shania sedikit salah tingkah, karena kepergok orang yang sedang di perhatikan nya itu.


"Ooh jadi ini salah?, Ok " ujar Beby menjawab pertanyaannya sendiri. dan kembali pokus mengisi cup.


"Lo bikin kue bukan karena butuh duit ya Shan!, jadi jangan maksain!. Gue ngga mau Lo kecapean terus kenapa-napa!."


"Ngga ko, ngga cape. Malah seneng." jawab Shania yang sedang merapikan sisa bahan dan peralatan yang masih berserakan di atas meja.

__ADS_1


"Tapi kue Lo tuh emang enak sih. Kantin di kantor aja minta tambah, katanya banyak yang minta di sisain buat di bawa pulang."


"Terus? " tanya Shania penasaran


"Ya gue bilang aja ngga bisa. kuenya limited edition."


"Dih! mana ada kue limited edition Beb?"


"Gue ngga mau Lo cape Shan"


Shania hanya bisa diam. Yang Beby katakan ada benarnya juga. Baru seminggu tapi kadang terasa lelah.


"Tumben masih siang udah pulang Beb? Biasanya malam terus."


"Iya, lagi senggang makanya pulang cepet." jawab Beby sambil sesekali menggerakkan kepala seperti merasakan sesuatu di kepalanya.


Shania mendekati Beby. Ber inisiatif untuk mengikat rambut Beby yang sedikit berkeringat sambil melepas karet gelang di pergelangan tangannya.


"Jangan sampe keringatnya netes di kue, nanti jadi lain rasanya." ujarnya sambil mengikat rambut wolf cut gadis tomboy itu.


Setelah selesai. Beby menoleh ke arah Shania lalu tersenyum simpul. "thanks"


"Iya ... "


"Udah selesai. Kita jalan yuk, bosen di rumah terus." ajak Beby.


"Jalan kemana? Lagian juga belum beres Beb."


"Tunda aja dulu. Ntar malam di open nya, Aku deh yang nungguin. Sekarang kita jalan dulu."


"Udah hayuu ... " paksa Beby sambil merangkul bahu Shania dan mengajaknya keluar dari tempat pembuatan kue.


"Ganti baju dulu!"


"Iya, jangan lupa pake jaket ya Shan, Gue tunggu di motor."


...--------------...


"Anin ... Please Nin, jangan marah terus dong." Bujuk Beby, yang merasa Anin mendiamkannya.


"Siapa yang marah? Aku ngga." jawab Anin cuek sambil meng gidikan kedua bahunya.


"Beb? Mampus lo!. Anin marahnya serem Lo Beb." ledek Sisca sambil berlalu.


Beby tidak menggubris ledekan temennya itu. Dia hanya mengacungkan kepalan tangannya ke arah gadis itu.


"Bohong! buktinya Lo masih diemin gue?Iya Gue salah, Gue minta maaf karena ngga ngasih tahu Lo soal Shania." ujar Beby setelah Sisca menjauh.


"Ya udah! kelar kan?."


"Nin ... Gue ngga mau Shania malu, tertekan, kalau kalian tahu soal dia. Gue ngga mau dia kenapa-napa. Makanya Gue diam aja ngga ngasih tahu Lo atau yang lainnya "


"Kamu udah bener, ngga cerita ke aku atau yang lainnya soal temen kamu itu Beb. Karena kita tuh bocil yang bakal ledekin temen kamu itu, sambil teriak hamil di luar nikah! hamil di luar nikah!." timpal Anin dengan nada kesal.


" Ya ... ngga gitu juga Nin."

__ADS_1


"Terus kamu anggap apa sih persahabatan kita selama ini Beb?. Sampe aku harus tahu dari orang lain!."


"Gue cuma ngga mau Shania tertekan. Terus dia kenapa-napa sama bayinya. kalau aku cerita."


BRAKH!! Anin membanting novelnya


"Bulshit!. Kamu emang udah berubah Beb! bukan Beby yang aku kenal dulu! udah makin ngga punya waktu buat aku!" maki Anin. setelah itu berlalu meninggalkan Beby yang sedikit shok karena kaget.


Beberapa teman Beby yang menyaksikan keributan itu hanya tersenyum melihat bagaimana cewe tomboy itu di buat tak berkutik oleh Anin.


Seseorang mengusap bahu Beby seraya berkata, "Sabar ya Beb, ini ujian."


"Anin kalau lagi marah, serem juga ya Beb?" celetuk cewek berpostur tinggi.


"Kenapa si Beby?" tanya Sisca yang pura-pura tidak tahu.


"Biasa!, kalau kebanyakan bini emang gitu. Yang satu lagi hamil tua, yang satu lagi ngambek karena kurang perhatian." ujar Desi yang langsung mendapat toyoran dari Beby.


"Apaan sih Lo tiang listrik!, buna bini?." maki Beby.


"Malah diem!, kejar woy bini Lo noh!. Ntar beneran marah aja, Lo sendiri yang repot!"


"Ck! ... Udah Sis. Anin udah marah sama Gue." timpal Beby


"Kejar dodol! Bukannya diem. Cewe tuh emang gitu. Pergi tapi berharap di tahan." tambah Desi.


"Ah, elah ... Repot amat sih? Gue juga cewek ngga gitu!" timpal Beby lagi.


"Ya siapa juga yang mau ngejar Lo? Lagian juga, Lo mah cewek jejadian."


Beby menyambar tas selempang nya bermaksud mengejar Anin. Tapi lebih dulu di panggil seseorang dengan suaranya yang lembut.


"Beb?, kamu di panggil Bu Jessica keruangannya." ujarnya menghentikan langkah Beby.


"Shani?, kapan Shan?"


"Ngga tahu!, Minggu depan kali!, Ya sekarang lah Beb!" jawab gadis itu dengan dengan lesung pipinya karena tersenyum.


"Kirain iya Minggu depan Shan."


"Ya kali atuh Beb Minggu depan. Ada-ada aja kamu mah."


"Sengaja ko, biar kamu banyak ngomongnya. Soalnya enak, merdu banget."


"Inget Beb! Bini lu udah dua. Jangan nambah lagi!. Shan jangan ke goda gombalan Beby ya."


"Apaan sih kalian ini, Bye, aku pergi ya." pamit gadis itu.


"Adem banget ya suara Shani?. Heran Gue, kenapa bidadari betah di bumi yang panas ini ya?." celetuk Desi yang di iyakan oleh sahabatnya Sisca.


"Kalian halu aja terus! Gue juga pamit mau ke ruangan Bu Jessica!"


"Anin?"


"Nanti juga baik lagi diamah." ujar Beby. Yang kemudian pergi meninggalkan kedua sahabatnya itu.

__ADS_1


"


__ADS_2