
"Shan! ... Shania! ...
"Shania Lo kenapa! ..."
"Apa yang Lo lakuin sih!." pekik Beby dengan tubuh gemetar karena mendapati tubuh Shania yang tergeletak di dalam kamarnya. Sementara darah bersimbah di lantai dekat pergelangan tangannya.
Tangan Beby refleks melepas kantong plastik yang di bawanya dan berhambur ke tubuh Shania yang tergeletak lalu mengangkat bagian kepalanya
"Shan! ... Shania!... bangun dong."
"Lo ngga papa kan? ... kenapa sih Lo ngga denger omongan Gue!. Jangan mati dong Shan, takut nih Gue." celoteh Beby sambil sedikit mengguncang tubuh Shania yang tetap terkulai tak berdaya.
Dengan tangan yang gemetar, Beby merana leher Shania dan urat nadinya yang masih mengeluarkan darah. " Ini lagi segala ngirih tangan." gumamnya.
Beby sedikit lega, karena masih ada denyut nadi Shania yang terdeteksi olehnya. Dengan perlahan dan hati-hati, Beby meletakkan kembali kepala Shania ke lantai lalu segera berlari keluar untuk meminta bantuan orang di sekitar kompleks kost nya.
Beberapa orang membopong tubuh Shania membawanya kerumah sakit terdekat. Yang kebetulan ada dekat kost Beby. dan Beby mengikutinya dengan sedikit berlari.
"Gimana keadaan teman saya Dokter?." tanya Beby setelah sekian lama menunggu di depan ruangan di mana Shania di tangani.
" Kamu siapanya pasien ini?." tanya balik Dokter yang baru keluar dari ruangan itu.
"Saya temannya Dok, saya yang bertanggung jawab." jawab Beby tanpa ragu.
Pasien belum sadarkan diri, dan akan segera di pindahkan keruang inap."
" Tapi dia ngga papa kan Dok?." tanya Beby lagi
" Sebaiknya kamu ikut ke ruangan saya." pinta Dokter itu.
Beby segera mengikuti langkah Dokter itu menuju ruang kerjanya dengan perasaan khawatir, takut Shania kenapa-kenapa.
"Kondisi luka teman kamu tidak terlalu mengkhawatirkan. Karena bukan urat nadinya yang putus, lukanya juga ngga dalam. Justru ...."
"Justru kenapa Dokter?." potong Beby semakin khawatir.
" Justru yang harus di khawatirkan bayi yang ada dalam kandungan teman kamu itu, kondisinya sangat lemah dan itu bisa membahayakan bayi juga ibunya." ujar dokter
"Maksud Dokter?."
"Sebenarnya kamu tahu kalau teman kamu sedang hamil kan?." tanya balik Dokter itu lagi.
"Tahu Dok, tapi tidak tahu udah berapa bulan." jawab Beby sejujurnya.
"Usia kandungannya 6 bulan, kondisi bayinya sangat lemah dan itu butuh penanganan serius kalau mau bayinya selamat."
__ADS_1
"Kenapa bisa seperti itu Dok?."
"Penyebabnya ada beberapa faktor. Bisa jadi karena Ibunya terlalu tertekan, pola makan yang kurang baik, kurang asupan gizi."
"Apa yang harus saya lakukan Dok?."
"Selain harus mendapat perawatan di sini, usahain Ibunya jangan tertekan, pola makan harus di perhatikan. Saya tidak tahu permasalahan apa yang terjadi sama teman kamu , tapi tolong buat dia senang dengan cara apapun, usahain ibunya jangan sampai tertekan. takutnya nanti keguguran atau lahir prematur, buat ibunya senyaman mungkin itu aja." ujar Dokter menerangkan panjang lebar tentang kondisi Shania dan bayinya.
"Baik Dokter, akan saya usahakan."
"Sekarang kamu boleh kembali."
"Baik Dokter, terima kasih."
Beby keluar dari ruangan kerja Dokter itu, dan menuju ruangan di mana Shania di rawat, setelah sebelumnya bertanya pada salah seorang suster yang berpapasan dengannya.
…
Dengan sabar Beby menunggui Shania yang masih belum sadarkan diri.
Di pandangi nya wajah pucat gadis itu yang masih terbujur kaku. "Sadar dong Shan, jangan bikin gue khawatir" gumam Beby. tangannya perlahan menyelipkan anak rambut Shania yang terurai.
Tak lama Beby melihat ada pergerakan di jari gadis itu. Dan mata yang sedari tadi terpejam mulai bergerak terbuka.
"Shan? ... Lo udah sadar?." tanya Beby pelan
Shania mencoba membuka matanya. tak lama gadis itu meringis menahan sakit sepertinya.
"Beby?. "
"Iya gue Beby. Syukur Lo udah sadar."
" Gue di mana Beb?."
"Lo di rumah sakit. Haus?, mau minum?." tawar Beby yang di angguki oleh Shania.
Dengan sigap, Beby mengambil air putih yang memang sudah tersedia di meja kecil dekat ranjang Shania. Dan dengan telaten membantu gadis itu untuk minum.
"Beb?."
"Iya Shan, ada apa?."
"Sakit banget Beb, perih bangeeet!."
"Apanya yang sakit?, tangannya?." tanya Beby khawatir.
__ADS_1
"Iya Beb, tangan Gue sakit banget."
"Sabar ya ... " ujar Beby sambil mengusap-usap pergelangan tangan gadis itu yang sudah di perban. LM
Shania kembali merintih, merasakan perih di pergelangan tangannya.
"Jangan gini lagi ya Shan, Gue takut, takut banget malahan, takut Lo kenapa-napa."
"Kenapa sih Gue ngga jadi terus matinya?, Gue kan mau mati."
"Ssst! ... Lo ga boleh ngomong gitu, harusnya Lo bersyukur masih di beri kehidupan buat menebus kesalahan Lo."
Shania hanya terdiam mendengar ucapan Beby.
"Sebenci apapun Lo sama lelaki itu, tapi jangan Lo hakimin juga anak Lo yang ngga bersalah, yang ngga tahu apa-apa. Cukup Lo aja yang menderita, anak Lo jangan ikut menanggungnya. please jangan pernah Lo lakuin ini lagi Shan." nasehat Beby panjang lebar.
"Gue bingung Beb, Gue ngga tahu harus gimana lagi, hiks ..., Gue putus asa, hiks ... hiks ... " gadis kembali terisak membuat Beby terenyuh.
Beby menarik kursi yang di dudukinya agar lebih dekat lagi dengan Shania
"Sabar yah, Lo harus kuat ngejalanin ini semua. Se enggak nya sampai bayi Lo lahir." ujar Beby tapi gadis masih saja terisak.
"Kalau Lo ngga mau ngurus anak Lo, biar Gue yang urus, ngga bakal Gue biarin anak Lo menderita." ujar Beby lagi menyakinkan gadis itu.
"Gue ngga mau ngerepotin Lo." timpal Shania di sela Isak tangisnya.
"Ya udah kita sama-sama urus anak Lo, Gue bakal bantu Lo. Dan Lo boleh tinggal di tempat Gue sampai kapanpun Lo mau. Asal Lo janji ngga bakal kaya gini lagi ya."
"Makasih Beb, Lo udah baik banget sama Gue, Gue janji ngga bakal kaya gini lagi. Gue bakal berusaha menerima semua ini sebagai takdir yang harus gue jalanin. Maaf yah Gue udah khilaf."
Beby kembali mengusap lengan Shania sambil tersenyum "Gue seneng Lo udah sadar, Shan."
"Kapan gue pulang?."
"Kata Dokter Lo harus di rawat dulu, bayi Lo sangat lemah. Kata Dokter lagi Lo ngga boleh banyak pikiran, apalagi sampai stres, itu ngaruh banget sama kesehatan anak Lo Shan, pola makan juga harus di jaga, harus makan yang bergizi, biar bayi Lo sehat lagi."
"Banyak banget ngomongnya Beb?." potong Shania.
"Hehe ... kan demi kebaikan Lo sama anak Lo." lanjut Beby sambil terkekeh
"Makasih ya, Lo udah baik sama Gue, ngga tahu kalau ngga ketemu Lo, Beb."
"Iya ... Sebenarnya Gue takut Lo mati di kamar kost Gue, terus jadi hantu gentayangan, kan gue takut ya. Tapi jujur, Gue seneng Lo udah sadar. Kita berjuang bersama-sama ya buat lalui semua ini."
Shania mengangguk meng iyakan ajakan Beby. Bibirnya mengukir senyum, membuat matanya menyipit menyerupai bulan sabit.
__ADS_1