BEBY (Cinta Yang Hilang)

BEBY (Cinta Yang Hilang)
Bab 5 . Lu suka Beby ya?


__ADS_3

"Mau makan apa Shan?, nanti gue bawain."


"Ngga mau apa-apa Beb, yang ada aja udah cukup." jawab Shania yang tidak mau merepotkan Beby.


Sudah dua Minggu Shania pulang dari rumah sakit dan menetap di kontrakan Beby. Kondisinya sudah membaik, hanya saja wajahnya yang masih terlihat pucat.


Beby benar-benar menepati janjinya untuk menjaga dan merawat Shania dan bayi yang masih ada dalam kandungannya. Berusaha membuat Shania senyaman mungkin, menghiburnya, juga memperhatikan pola makan gadis itu.


"Ya udah, nanti Gue beli deh sepulang kerja."


"Ngga usah Beb, ngga perlu." keukeuh Shania yang tidak ingin merepotkan orang lain.


"Ok. Kalau gitu gue berangkat kerja dulu." pamit Beby lalu menyambar tas selempang yang setia menemani hari-harinya..


"Iya, hati-hati bawa motornya."


"Iya, hadeuuh berasa punya istri ada yang ngingetin, hehe ... Gue bakal kerja lebih giat lagi buat persiapan Lo lahiran. Gue juga seneng Lo udah berubah Shan,"


"Iya, tapi jangan terlalu di paksain Beb."


"Ngga papa. Cepet sehat yah supaya debay nya ngga kenapa-napa." ujar Beby sambil melirik ke arah perut Shania.


"Iya makasih ya Beb. Lo udah baik sama Gue, nolongin Gue, ngingetin Gue juga, maaf juga udah ngerepotin Lo."


"Udah. Gue berangkat ya." pamit Beby


"Iya, hati-hati." ucap Shania lagi, mengingatkan.


Shania berjalan mengikuti Beby, mengantarnya sampai depan pintu.


"Beb?." panggil Shania.


"Iya Shan, ada apa?." jawab Beby


"Ini pake dulu jaketnya, takut masuk angin." ucap Shania sambil mengasongkan jaket yang lupa Beby bawa.


" hehe ... kirain mau Salim. Hati-hati ya di rumah." ujar Beby sambil terkekeh, membuat gadis itu mengulum senyumnya. Selalu ada saja ulah gadis tomboy itu yang mampu membuatnya tersenyum.


Sebelum benar-benar pergi, Beby kembali menoleh ke arah Shania mungkin maksud hatinya hendak pamitan lagi. Tapi tidak tahu harus ngomong apa yang ada Beby hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Senyum Shania semakin lebar melihat sikap Beby yang salah tingkah. Dan dia segera melambaikan tangannya sebagai tanda kalau dia peka apa yang ada di benak Beby.


Gadis tomboy itu segera pergi meninggalkan Shania yang sedang memamerkan mata bulan sabitnya karena terus-menerus tersenyum menertawai dirinya.


...----------------...

__ADS_1


"Pagi Beb." sapa seorang gadis dengan senyum manisnya.


"Pagi juga Nin, ngga bosan nunggu tiap pagi?."


"Pagi ini udah dingin Beb. Jangan kamu tambah sama sikap kamu yang juga dingin, lagian ngapain bosan nunggu sahabat sendiri?."


"Ooh ..." timpal Beby datar. Lalu pergi meninggalkan Anin yang berdecak kesal.


"Ck! ... Kebiasaan!, orang nungguin malah di tinggal!." gerutu gadis itu.


"Siapa juga yang nyuruh nungguin?."


BUGKH!. Sebuah benda mengenai bahu Beby.


"Sakit ihk!. main pukul aja."


"Bodo!. Salah sendiri bikin orang kesal." timpal Anin ketus sambil berlalu meninggalkan gadis tomboy itu yang masih mengusap-usap bahunya.


Beby tersenyum memandangi punggung sahabatnya itu. Ada kepuasan tersendiri tiap kali membuat gadis itu kesal.


"Masih marah?." tanya Beby tanpa dosa sambil duduk di atas meja kerja Anin.


Anin memilih memalingkan wajahnya, mengacuhkan pertanyaan gadis yang duduk di atas meja kerjanya itu.


Anin masih mengacuhkan gadis tomboy itu. tak lama gadis itu melirik tangan Beby lalu mendongak menatap wajah gadis itu yang langsung mengerlingkan sebelah matanya.


"Genit." desis Anin sambil menepis lengan gadis tomboy itu.


"Hehe ..." kekeh Beby


"Se ngga bisa itu, aku marah sama kamu Beb."


"Jangan dong. kalau Lo marah, siapa lagi yang sayang sama Gue?." timpal Beby.


"Sarapan yuk ke kantin!." ajak Anin, yang memang tidak bisa marah beneran sama Beby.


"Lo aja deh. Gue udah di rumah. Lagian ada yang harus Gue kerjain nih sebelum pemotretan."


"Perasaan akhir-akhir ini kamu sarapan di rumah terus deh? Kerja juga lebih rajin."


"Masa sih? Perasaan biasa aja. kalau soal sarapan emang lagi seneng masak aja. Lebih santai sarapan di rumah." jawab Beby yang terkesan hati-hati.


Sebenarnya Beby bukan seneng masak. Tapi ada yang harus dia perhatikan makannya yaitu Shania dan ngga mungkin dia cerita soal Shania ke Anin.


"Seneng masak? Yakin?... Seorang Beby sempat masak sebelum berangkat kerja?." tanya Anin kurang yakin.

__ADS_1


"Kenapa ngga. Buktinya Gue bisa." jawab Beby meyakinkan.


"Gue tetep nggak yakin. Iya sih bisa masak, tapi sempet?. Pasti beli? kalau nggak, beli?." tebak Anin dengan ketidak yakinan nya kalau Beby sempat masak.


"Bebyyy! ..." teriak seorang gadis dari kejauhan.


"Eh buset Sisca! Bisa nggak Lo ga teriak." maki Beby setelah gadis itu mendekat.


"Lu di suruh ke ruangan Bu Jessica noh, Beb." ujar gadis satunya yang postur tubuhnya lebih tinggi dari Sisca.


"Sekarang?." tanya Beby


"Tahun depan sih kayanya. Ya sekarang lah Beb. Ya kali tahun depan?." timpal Sisca


"Biasa aja ngomongnya!" balas Beby sambil mengusap wajah gadis itu yang nada bicaranya menyolot.


"Maksud Gue, kan ini belum masuk jam kerja." ucap Beby lagi sedikit penekanan.


"Daripada Lu kaya perangko, nempel mulu sama Anin." kali ini gadis jangkung yang menimpali.


"Ngaca Lo Des. Tuh kaca gede banget siapa yang kaya perangko? Lo berdua!." balas Beby yang juga sedikit menyolot.


Sementara Anin memilih menutup kedua telinganya. Walaupun sudah terbiasa, tapi tetap saja merasa risih dengan perdebatan ketiga orang ini kalau sudah bertemu.


"Lah kita mah kerjanya satu bagian ya Sis! Jadi bareng terus. Sono Lu pergi, keburu Bu Jessica marah." timpal Desi yang juga sedikit nyolot.


"Iya Gue pergi. Ngapak!." ujar Beby yang sempat-sempatnya menyibak rambut Desi sebelum pergi.


"Yee ... si Dodol! rambut cetar Gue acak-acakan!." gerutu Desi. Sementara pelakunya sudah berlari meninggalkannya.


"Lu cape ya Nin?" tanya Sisca


"Iyaaa ..." jawab Anin sambil melepaskan tangannya.


"Sarapan yuk." ajak Sisca.


"Tadinya juga aku mau sarapan. Tapi kalian malah ribut!"


"Beby tuh yang ngajak ribut." timpal Sisca tidak mau di salahkan.


"Samaan nya! tiap ketemu juga kalian pasti ribut." balas Anin


"Lu suka Beby ya Nin?"


"Hah! ..."

__ADS_1


__ADS_2