BEBY (Cinta Yang Hilang)

BEBY (Cinta Yang Hilang)
Bab 3 . Ada apa dengan Shania!


__ADS_3

"Hai Boy? ..."


"Hai juga Abin."


"Ck! ... Namaku Anin bukan Abin!."


" Nama Gue juga Beby bukan Boy." timpal Beby acuh.


" Terserah kamu deh Beb!."


" Nah gitu dong pasrah. Kan enak." timpal Beby lagi.


" Tumben pagi-pagi sudah kesini?, hari libur lagi. Biasanya jam segini kamu masih tidur." ujar Anin yang membiarkan gadis tomboy itu menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur miliknya.


"Serba salah deh. Dateng pagi di tumbenin, Dateng siang di ceramahin!."


" Gitu aja marah Beb, ngga pantas tahu!. Ya ngga biasanya aja kamu datang sepagi ini." balas Anin yang heran karena tidak biasanya sahabatnya itu datang kerumahnya sepagi ini, pas hari libur kerja juga.


" Gue mau minta tolong sama Lo Nin."


"Boleh. Apa sih yang ngga buat kamu Beb." jawab Anin yang sudah duduk di tepi tempat tidurnya. Di mana ada Beby yang sedang rebahan.


"Anter Gue ke mini Market."


"Ya elah ke mini market doang minta di anter. Mau ngapain?."


"Mau berenang." jawab Beby ngasal.


" Berenang?." beo Anin heran.


" Lo heran apa noob sih Nin?. Ya mau belanja lah. Ya kali Gue berenang di Mini market!." jawab Beby sedikit kesal.


"Ini yang lebih tumben lagi. Biasanya juga pergi sendiri. Ngga minta di anter."


"Masalahnya Gue mau beli susu formula buat yang lagi hamil, dan Gue ngga tahu harus beli yang kaya gimana!." timpal Beby sedikit penekanan.


" Ya elah Beb cuma mau beli susu ham ...?. Hah!... susu hamil!, kamu hamil?, ko bisa?. " kaget Anin tanpa sadar sampai memukul perut Beby.


" Astagfirullah! ... Bisa ngga sih Nin kagetnya biasa aja!. Sakit perut Gue, main geplak aja Lo!." gerutu Beby sambil mengusap perutnya yang terkena pukulan Anin.


"Lebay!." cibir Anin.


"Orang sakit di bilang lebay!."


" Serius Beb ko bisa kamu hamil" keukeuh Anin


"Dih amit-amit!, jauh-jauhin dari hidup Gue" balas Beby sambil mengetuk-ngetuk dahi dengan jari tangannya.


"Ngga kasian tuh jidat di ketuk-ketuk?. Ntar nambah jenong Beb."


"Bodo!. sekali lagi ngatain jidat Gue!, Gue cium nih!."


"Dih ogah!." sergah Anin sambil menjauhkan wajah Beby yang sudah duduk di sebelahnya itu. "Tapi ... kalau kamu cowok sih mau."


"Emang cewek ngga boleh?."


" Serius Beb, siapa yang hamil?."

__ADS_1


"Temen Gue Shan ..." Beby menggantung ucapannya. Beby berfikir belum saatnya ia menceritakan tentang Shania yang kini tinggal bersama di kost nya. Meski terhadap sahabat dekatnya ini sekalipun.


"Ng ... Itu temen Gue yang lagi hamil, iya temen Gue!, susunya abis jadi minta tolong Gue buat beliin." ujar Beby sedikit gagap.


"Ooh... kirain kamu hamil, kan bisa nanya merek apa yang biasa temen kamu minum Beb."


"Nah itu, masalahnya Gue lupa nanya merek apa."


"Kan bisa telpon, tanyain!."


" Nah itu dia masalahnya lagi, Gue lupa ngga bawa hp, nih liat Gue ga bawa hp, kan?." ujar Beby sambil meraba-raba saku celananya. "Ngga ada, kan?."


" Hadeuuuh!... Percuma jidat jenong!, lebar!, bukannya pintar malah pikunan." gerutu Anin sambil mengusap pelipisnya yang terkadang pusing dengan tingkah sahabatnya itu.


"Udaah ... buruan anter Gue beli susu!." ajak Beby sambil menarik paksa lengan Anin.


"Sabar Beby, ihk! ... " maki Anin yang dengan terpaksa mengikuti Beby karena lengannya terus saja di tariknya.


......................


"Maaf mba, mau nanya. Susu hamil yang bagus merek apa yah?."


"Susu hamil?." tanya balik pelayanan mini market itu sambil mengernyitkan dahinya.


" Ng ... maksud saya, susu formula buat orang hamil yang bagus merek apa?." ralat Anin


"Ooh ... hamil muda, apa hamil tua mba?." tanya pelayanan itu lagi.


" Beb hamil muda apa hamil tua?." bisik Anin ke Beby yang berdiri di sebelahnya.


" Loh, ko malah saling bisik gitu?."


"Mm ... Anu mba, kita ngga tahu hamil muda atau hamil tua, kira-kira segini deh perutnya." ujar Beby memperagakan besarnya perut Shania saat ini dengan menautkan kedua jari tangan di depan perutnya.


"Ooh ... itu sekitar 6 bulan sepertinya. Merek ini bagus." ujar pelayan itu sambil menunjukan salah satu merek susu formula yang di anggapnya bagus.


"Hebat mbanya langsung tahu." puji Beby


''Merek itu yang saya minum waktu saya hamil."


"Jadi mbanya udah punya anak?." sebuah pertanyaan bodoh yang Beby lontarkan dan mampu membuat sang pelayan itu tersenyum.


"Ngga perlu di jawab, kan?."


"Hehe ... iya ngga perlu." balas Beby sedikit salah tingkah.


" Saya udah punya anak dua, saya juga bukan karyawan di sini, tapi saya pemilik mini market ini." ujarnya dengan bijak.


"Ooh... pantesan mba nya beda dari yang lain, lebih berkharisma dan berwibawa." puji Beby


Anin yang sedari tadi mendengarkan, dengan sedikit kesal menyikut perut Beby lalu menariknya pergi


" Maaf ya Mba, temen saya emang rada-rada nora, suka malu-maluin." ujar Anin sedikit membungkukkan badannya. Lalu menarik lengan Beby menuju kasir


Sementara pemilik mini market itu hanya tersenyum melihat tingkah kedua gadis itu.


"Lepasin! ... Ngapain narik-narik?, emang gue bocil?." gerutu Beby sambil menepis tangan Anin sedikit kasar.

__ADS_1


"Genit kamu tuh udah ngga ada obat Beb. Sama emak-emak aja caper!."


"Siapa yang caper!, orang Gue nanya beneran!." timpal Beby yang terdengar kesal


"Pertanyaan kamu tuh ngga berbobot tahu!, udah jelas-jelas hamil masih nanya punya anak."


"Ya siapa tahu anaknya keguguran, atau meninggal. Siapa tahu, kan?."


"Maaf mba, ini struk belanjaan nya." ujar petugas kasir menghentikan perdebatan dua gadis di depannya yang berbeda penampilannya itu.


"Bayar!."pop


"Ck! ... Iya ..." jawab Beby, lalu mengeluarkan sejumlah uang dari dalam dompetnya. dan setelah itu bergegas menyusul Anin yang sudah lebih dulu meninggalkan mini market.


"Gue langsung pulang yah. Thanks udah nganter Gue." ujar Beby setelah sampai di depan rumah Anin.


"Ngga mampir lagi?."


"Ngga deh, buru-buru nih."


"Padahal aku masih kangen Beb."


"Lebay!. Padahal tiap hari juga ketemu di tempat kerja." cibir Beby yang mendapat pukulan dari Anin.


"Duh sakit!. Tapi emang sih Gue se ngangenin itu."


"Dih!. pede sekali ya anda!." cibir Anin.


" Kenapa sih ngga jadi cowo aja Beb, biar bisa jadi pacar aku?."


"Iya yah, kenapa Gue ngga jadi cowok aja, kasian nih cewek depan gue ngga laku-laku. Jomblo akut dianya."


Ngomong sama tembok!." maki Anin dan sebelah sendalnya melayang tepat mengenai dada gadis tomboy itu.


Beby menunduk mengambil sendal itu lalu mendekati Anin dan memakaikan nya lagi "Jangan marah, Gue juga kangen ko sama Lo." ujar Beby lembut lalu menarik tubuh gadis itu kedalam pelukannya.


"Gue pulang yah, kasian temen Gue nungguin susunya" pamit Beby lagi


Dengan perasaan berat. Perlahan Anin melepaskan tangannya yang melingkar di pinggang Beby.


"Besok ketemu di kantor." ujar Beby lagi sambil menyelipkan rambut Anin ke telinganya.


Anin hanya mengangguk dan membiarkan sahabatnya itu pergi.


Sepanjang perjalanan pulang, entah mengapa perasaan Beby jadi tidak enak, seperti akan terjadi sesuatu. Sebenarnya dia masih khawatir meninggalkan Shania seorang diri di tempat kost nya. Takut gadis itu berbuat nekat lagi.


Ke khawatiran nya semakin menjadi setelah beberapa kali memanggil Shania tapi tidak ada jawaban. Dan benar saja, setelah Beby masuk dan melihat pintu kamarnya yang sedikit terbuka.


Lutut Beby gemetar ketika melihat ada bercak darah yang di balik pintu kamarnya. Beby sangat takut dengan perasaan tidak enaknya selama ini.


"Shan? ... Shania? ..."


"Shania! ... Ya Allah! ... "


"Darah! ... Shania! ..."


"Apa yang Lo lakuin Shan?! ..." pekik Beby dengan tubuh gemetar.

__ADS_1


__ADS_2