
Kalau ada yang bilang ku tak setia ... Jangan, kau dengar.
Kalau ada yang bilang ku tak cinta ... Jangan, kau dengar.
Banyak cinta yang datang menghadang, ku ... menolak. Semua karena ku cinta kau ...
"Beb?, cobain deh kue buatan aku. Enak apa ngga?." pinta Shania yang pada Beby yang sedang membersihkan motornya.
Beby menghentikan syair lagu yang sedang di nyanyikannya lalu menatap gadis itu.
" Cobain." pinta gadis itu lagi
Tanpa bicara, Beby memperlihatkan lap dan tangannya yang penuh dengan busa sabun.
"Kue apaan?" tanyanya.
"Kue cupcake." jawab Shania
"Suapin."
"Ogah! Emang masih kecil di suapin?." tolak Shania
"Ya kan, tangan gue penuh busa sabun!."
"Ya kan, bisa di cuci dulu." timpal gadis itu lagi.
"Ya udah. Taro aja dulu, ntar Gue makan kalau udah beres nyuci motornya." cuek Beby.
"Kalau udah dingin mah ga enak Beb."
"Ya makanya suapin!"
"Dasar bocil!. Sini aku suapin!. Gimana enak ngga?" tanya Shania sedikit kesal. Setelah menyuapi Beby sepotong cupcake buatannya.
Lama Beby meresapi rasa cupcake yang ada di mulutnya. Membuat gadis itu terlihat semakin kesal.
"Biasa aja." ujar Beby datar setelahnya.
"Ck!. Udah nunggu lama, responnya biasa aja!" kesal Shania.
"Enak ko Shan, pake banget malah enaknya. Yaah ... marah deh orangnya. Shan! lagi dong suapinnya."
"Bodo!. Makan aja sendiri!"
Beby terkekeh melihat Shania marah yang pergi meninggalkannya. Begitulah cara Beby membuat Shania tidak bosan.
Akan selalu ada cara untuk membuat gadis itu tersenyum dan marah. Karena Beby tahu kalau Shania tidak bisa benar-benar marah pada dirinya.
...----------------...
"Bagi lagi dong!."
"Astagfirullah!. Iihk! ... Beby!, kaget tahu!"
Bugk! ... Bugk ... Shania refleks memukul bahu Beby berkali-kali karena kaget. Beby datang tiba-tiba di belakangnya dan mencomot cupcake yang baru di lepas dari cetakannya tanpa permisi.
__ADS_1
"Apaan sih, Shan. Cuma gitu doang juga, sampe kaget?. Sakit tahu main pukul aja." gerutu Beby sambil mengusap bahunya yang di pukul Shania
"Ya kaget lah. Datang tiba-tiba. Orang tuh apa dulu kek, pamit dulu gitu!. Main comot aja." timpal Shania sambil mengusap dadanya yang masih berdebar.
"Ya maaf. hehe ... ngga tahu Lo bakal sekaget itu."
"Lagian jorok Beb. Pasti tangannya kotor? Dih keringatan lagi!." ujar Shania ketika berbalik dan melihat hampir sekujur tubuh Beby berkeringat. Bahkan rambut Beby sampe lepek seperti habis keramas.
"Iya nih, di luar panas banget. Jadi pengen yang seger-seger." timpal Beby yang bermaksud mengusap keringat di dahinya tapi cepat di tahan Shania.
"Jangan pake tangan dong Beb, kotor iihk. Nanti ngambil kue?, kan jorok!. Sini aku lap dulu!."
Shania mengambil handuk kecil dan mengelap keringat di lengan Beby, leher dan di wajahnya dengan lembut dan telaten.
Di perlakukan seperti anak kecil, Beby hanya bisa pasrah. Dalam diamnya Beby mengagumi wajah cantik Shania, apalagi dengan jarak yang sedekat ini.
Merasa di perhatikan, Shania mengangkat wajahnya dan menatap wajah gadis tomboy di hadapannya ini. Dan saat itu pula pandangan keduanya saling bertemu. Seperti ada magnet yang menahan keduanya untuk tetap saling memandang.
Sama-sama saling mengagumi. Shania mengagumi mata elang Beby yang tajam tapi meneduhkan. Begitu pula Beby yang mengagumi kecantikan Shania apalagi dengan jarak sedekat ini.
PRAANG! ... Sebuah benda terjatuh yang Shania sentuh tanpa sadar dan membuyarkan semuanya.
"Ka _ kamu, ba_ bawa aja kuenya ke meja depan, nanti aku buatin minuman dingin." ujar Shania dengan gugup sambil menurunkan tangannya dari wajah Beby.
"I_ iya ... " jawab Beby singkat yang tak kalah gugupnya sambil berlalu membawa kue yang sudah Shania persiapkan ke meja depan TV.
Sementara itu. Dengan perasaan yang tidak menentu, Shania mencuci tangannya, lalu mengambil es batu di dalam kulkas dan memasukannya kedalam gelas yang berukuran lebih besar. Shania terdiam sesaat memikirkan apa yang baru saja terjadi.
Saat menuangkan sirup perasa buah jeruk ke dalam gelas, Shania kembali menghembuskan nafasnya yang terasa menyesakan dada.
Lain halnya dengan Beby. Untuk menetralkan degub jantungnya yang berdetak lebih keras dari biasanya, Beby memilih acak Chanel TV di depannya itu
"Oh iya." jawab Beby singkat sambil sedikit menggeser duduknya memberi tempat buat shania.
"Maaf!." ucap keduanya secara bersamaan
Kembali keduanya salah tingkah. Beby lebih ke menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Kuenya enak banget Shan." ujar Beby mencairkan suasana.
"Makasih." timpal Shania sambil memperhatikan judul novel yang ada di tangannya.
"Ngga nyangka, kamu bisa bikin kue se enak ini Shan." puji Beby
"Mama aku yang ngajarin."
Setelah mengucapkan itu, terlihat wajah gadis itu berubah menjadi murung.
"Dulu aku sering bikin kue bareng Mama. Dia juga yang ngajarin aku sampe bisa. Sekarang ... "
Mata Shania terlihat mulai berkaca-kaca. Dia berusaha menahannya supaya tidak jatuh.
Beby menyentuh tangan gadis itu. "Are you ok?." tanya Beby khawatir.
"Ngga apa-apa ko Beb. Sekarang aku udah terbiasa dengan rasa sakit. Cuma, kadang kangen Mama aja.
__ADS_1
"Aku juga kangen Bunda aku Shan, kamu ngga tahu se kangen apa aku sama Bunda aku." batin Beby
"Beb?"
"Hm?." jawab Beby
"Kalau kue aku enak? Aku mau buat yang banyak, mau aku titipin di warung depan. Supaya bisa bantu kamu nyari duit."
"Ngga shan! Gue ngga mau Lo kenapa-napa. Perut Lo udah gede! Biar Gue aja yang nyari duit." larang Beby
"Beb ..."
"Ngga shan! Gue ngga setuju!."
"Beb, Dengerin aku dulu!"
"Gue ngga mau Lo kenapa-napa Shan!"
"Beb, Aku tuh bosen ngga ngapa-ngapain, Nungguin kamu, pulangnya suka malam. Nunggu lahiran, yang ada, Aku suka tegang sendiri Beb. Lagian masih lama ko, baru juga masuk delapan bulan."
Melihat Beby terdiam, Shania melanjutkan ucapannya.
"Aku bakal tahu batasannya ko Beb. kamu ngga usah khawatir. Biar aku punya kesibukan, biar ngga tegang nunggu lahiran. Kalau mau jujur, Aku takut banget Beb. Boleh yah?." mohon Shania. Membuat gadis tomboy itu menghela napas pasrah.
"Terserah deh! Tapi janji!, berhenti kalau kamu rasa kenapa-napa."
"Ok siap!. Makasih ya." jawab Shania mantap.
"Tapi Shan ... harus punya alatnya kalau mau jualan?. Ini kamu pake punya siapa?."
"Pinjam punya Bu Mela, tetangga kos kamu yang baik hati itu."
"Terus gimana dong? masa mau pinjam terus? Mau beli juga gue belum gajian."
Mendengar itu, Shania beranjak dan pergi ke kamarnyatak lama ia sudah kembali.
"Ini Beb, jual aja" ujar Shania sambil mengasongkan sebuah hp kehadapan Beby.
"Wedeeeh hp mahal nih? Ngapain di jual?" ujar Beby yang sekilas pun dia tahu kalau hp yang ada di tangan gadis itu hp mahal.
"Udah ngga di pake. hp kosong ngga ada apa-apanya, cuma ngingetin aja." jawab Shania yang kembali terlihat murung.
"Sorry, Gue ga maksud." ucap Beby pelan yang sadar pertanyaannya sudah mengingatkan Shania kembali sama mantannya.
"Ngga apa-apa Beb."
Beby mengambil hp yang Shania letakan di meja lalu menimangnya.
"Ini sih ngga usah bikin kue juga, udah cukup Shan buat biaya Lo lahiran. Lebih malah kayanya."
"Kan udah di bilang, biar aku ada kerjaan beb!" timpal Shania sedikit penekanan.
"Hehe ... lupa."
"Jual aja Beb, Aku beliin alat sama bahannya aja. Sisanya kamu simpan aja buat nanti."
__ADS_1
"Beli lagi aja ya Shan, biar kalau ada apa-apa, kamu bisa hubungin aku."
"Terserah kamu Beb."