
“Carol, bisa bantu nenek disini?”
Aku menghentikan kegiatanku yang sedang memindahkan kardus-kardus berisi barang kami dan menghampiri nenekku yang tengah menyusun letak rak di sudut ruangan. Kami baru tiba disini beberapa jam dan langsung
membongkar barang-barang. Aku bersyukur tidak ada kejadian apa pun yang menghambat kami untuk pindah. Ayah tiriku tidak terlihat dan itu membuatku lega. Kami memang berniat untuk menghindarinya.
“Aku sudah mengatakan tinggalkan pekerjaan itu dan berisirahat saja, Nek. Aku bisa melakukannya sendiri.”
“Aku tidak mungkin hanya melihat dan membiarkanmu melakukan semuanya sendiri. Aku memang sudah tua, tapi aku ingin tetap berguna. Apalagi untukmu.”
Aku menghembuskan napas pelan dan tersenyum, kemudian kami bersama-sama membenarkan letak rak yang nantinya akan digunakan untuk menyusun beberapa buku koleksiku dan piringan hitam peninggalan kakekku.
Setelahnya aku kembali membongkar barang-barang di dalam kardus dan menatanya dengan rapi. Nenek –dengan paksaan dariku, akhirnya hanya membantu pekerjaan kecil seperti menata gelas dan piring di dapur. Kami akan menghadapi hari yang sibuk beberapa hari ke depan atau mungkin hanya aku karena aku harus mengurus
kepindahanku dari universitas yang lama ke universitas yang baru. Ada beberapa surat yang harus kuurus dan tidak mungkin aku merepotkan nenek untuk urusan kecil ini.
“Apa kau sudah menemukan universitas yang baru dan mendaftar disana?” Nenek bertanya ketika kami sudah selesai menata semua barang di ruang tamu dan ruang tengah. Kami tidak memiliki banyak untuk dibawa kemari
dan itu sebuah keuntungan tentu saja.
“Ya, aku sudah dan besok aku berencana pergi kesana untuk mengurus sisanya. Nenek tidak keberatan jika aku tinggal dalam beberapa jam?”
“Tidak, tentu saja tidak. Aku senang kau sudah mendapatkan tempat yang baru. Kau tidak boleh sampai ketinggalan.”
“Tentu, Nek.” Aku menarik sudut bibirku sedikit ke atas. “Apa kita punya bahan untuk makan malam?” tanyaku setelahnya.
“Oh, ya, tentu biar kulihat.” Nenek memeriksa isi di dalam kulkas sementara aku membungkus plastik berisi sampah yang harus kubuang ke luar. “Kita punya telur dan beberapa sayuran tapi aku rasa ini tidak cukup untuk makan malam. Kau bahkan belum mengisi perutmu dengan benar seharian ini.”
“Apa kau menginginkan sesuatu, Nek? Seperti makanan cepat saji misalnya.” Aku mencoba peruntunganku dengan bertanya karena biasanya nenek akan melarang jika aku makan-makanan yang mengandung banyak minyak jahat
seperti itu.
“Baiklah. Untuk kali ini sepertinya kita bisa melewatkannya. Tapi kau harus ingat bahwa makanan seperti itu tidak baik untuk kesehatanmu, Carol.”
“Aku sudah mengingatnya di luar kepala.” Aku memberikan senyumanku padanya sebelum aku pamit untuk membuang sampah ke luar rumah dan saat aku menutup pintu, aku melihat nenekku sedang menghubungi layanan delivery.
Aku melangkah keluar dengan plastik besar di tanganku dan sedikit menyeretnya. Langit sudah semakin gelap dan aku melihat lingkungan rumah baruku yang sepi. Ada beberapa rumah di blok ini, tapi jaraknya lumayan berjauhan dan yahh..disini rasanya cukup aman. Baru saja aku ingin berbalik masuk ke dalam ketika aku menangkap sosok orang lain yang baru saja keluar dari dalam rumah di sebelah kanan rumahku. Jarak kami sekitar lima belas meter.
Aku tidak tahu kenapa aku menghentikan langkahku sebelumnya dan malah terpaku di tempat dengan mata yang hanya tertuju padanya. Dan dia juga melakukan hal yang sama. Dia berhenti menuruni tangga di depan pintu
rumahnya dan menatapku beberapa saat. Maksudku, dia benar-benar menatapku dari atas sampai bawah lalu naik ke atas lagi dan tatapan kami bertemu. Wajahnya datar dan membuatku sedikit merinding. Pakaiannya serba hitam dengan model rambut fringe yang menutupi sebagian lebih dari keningnya.
“Sean, kau tidak bisa pergi begitu saja setelah semua
kekacauan yang kau lakukan kemarin serta hari ini.”
Aku tersentak dan melihat seorang wanita yang kurasa berusia sekitar tiga puluhan keluar dengan suara keras dari dalam rumah yang mana Sean –begitu wanita itu menyebut pria itu, keluar. Sean juga mengalihkan tatapannya dariku dan aku akhirnya bisa bernapas lagi. Entah kenapa aku merasa begitu terintimidasi olehnya, yah walaupun aku memang selalu merasa tidak percaya diri di hadapan siapa pun kecuali buku.
“Aku tidak melakukan apa pun yang salah dan obrolan ini selesai. Aku tidak mau berurusan dengan Si Brengsek itu lagi.” Sean menjawab dengan nada tegas dan keras.
“Si Brengsek itu adalah ayahmu, Sean.”
“Aku tidak peduli.” Sean menyentak dan melangkah dengan cepat menuju mobil hitam yang terparkir di seberang, lalu melesat begitu saja dengan menimbulkan bunyi berdecit karena gesekan aspal dan ban mobil. Mobilnya melewatiku dengan begitu cepat.
Wanita yang tadi bertengkar dengan Sean akhirnya menyadari keberadaanku dan sedikit terkejut kurasa. Dia berdeham sebelum menunjukkan senyum ramahnya padaku. “Maaf kau harus mendengar yang barusan.”
“Tidak. Aku minta maaf. Aku berada diwaktu yang salah.” Aku tersenyum canggung.
“Kau tetangga baru kami?” tanyanya sedikit mendekat kearah pagar pembatas diantara halaman rumah kami.
“Yah, aku dan nenekku baru pindah pagi tadi.”
“Namaku Marrie dan yang tadi kau lihat adalah Sean. Dia keponakanku.”
“Aku Carolyn. Tapi panggil saja aku Carol.”
“Senang melihatmu disini, Carol. Sejujurnya, disini cukup sepi dan kekurangan anak perempuan seusiamu. Aku bosan melihat teman-teman Sean berkeliaran di sekitar sini.”
“Oh, ya, aku juga senang pindah kesini.” Aku memberinya sebuah senyuman.
“Baiklah sudah waktunya untuk makan malam. Aku harap bisa bertemu dengan nenekmu nanti.” Marrie mengakhiri obrolan singkat kami dan aku hanya mengangguk. Dia kembali ke rumahnya begitu pun denganku. Saat aku masuk ke dalam, nenek sedang menonton televisi di ruang tengah dan aku segera menghampirinya.
“Kenapa lama sekali?”
“Aku berkenalan dengan seorang tetangga di sebelah rumah kita.” Jawabku.
“Oh ya?”
“Ya, dan kurasa dia seusia dengan ibu.” Aku terkesiap dan segera menyadari kebodohanku karena mengungkit ibuku –putrinya, yang sudah tiada.
“Sepertinya aku akan senang jika bertemu dengannya.” Nenekku hanya tersenyum samar. Aku ingin sekali meminta
maaf, tapi sebelum kata-kata itu keluar dari mulutku, bunyi bel membuat kami sama-sama menoleh ke arah pintu.
“Itu pasti makanannya.” Nenekku menyahut.
“Biar aku yang menerimanya.” Aku dengan cepat bergegas menuju pintu dan seorang pria berseragam restoran cepat saji menyapaku.
“Selamat malam, Nona. Ini pesananmu dan ini total yang harus dibayar.” Pria kurus dengan hidung mancung yang
bengkok itu memberiku sebuah kotak berukuran cukup besar dan selembar kertas bertuliskan nominal yang harus kubayar. Aku memberinya beberapa lembar uang dan memintanya untuk menyimpan kembalian. Dia tersenyum cerah padaku sebelum pergi dan aku kembali ke dalam setelah menutup pintu.
“Nenek memesan paket komplit?” tanyaku setelah bergabung dengan nenek yang sudah menunggu di ruang makan kecil yang terletak diantara dapur dan ruang tengah.
“Hanya untuk malam ini, kan? Itutidak masalah.” Nenek tersenyum dan aku tidak bisa menyembunyikan cengiranku. Aku benar-benar menyukai ini. Di dalam box ada seloyang pizza, beberapa potong ayam goreng renyah, kentang goreng dan roti garlic kesukaanku.
“Selamat makan.”
Dan sisa malam itu aku habiskan dengan mengisi perutku serta berbincang beberapa saat dengan nenek sebelum kami masuk ke kamar masing-masing dan tertidur karena telah melalui hari yang panjang. Aku juga sudah menyetel alarm untuk besok pagi supaya aku tidak terlambat bangun. Aku kembali memikirkan keadaan kami sekitar seminggu yang lalu. Disaat ayah tiriku lagi-lagi menyakiti hati nenekku dan memanfaatkan kami untuk mendapatkan uang demi kesenangannya sendiri. Aku yang tidak tahan lagi akhirnya memohon kepada nenek agar kami pindah rumah dan pergi sejauh mungkin dari ayah tiriku yang menyebalkan dan aku tidak menyangka bahwa
nenek akan menuruti keinginanku.
***
Disini aku berdiri. Setelah mendapatkan alamat, aku menaiki bus untuk bisa sampai ke sini. Ini adalah universitas terbaik yang bisa aku dapatnya yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumahku. Setelah menghembuskan napas untuk kesekian kali, aku memeriksa kembali keadaan pakaianku. Semuanya rapi dan aku siap untuk ini. Orang-orang disini tidak terlalu berbeda dengan orang-orang di universitasku yang dulu. Ada banyak jenis mahasiswa disini. Berpakaian layaknya kutu buku seperti diriku, biasa saja, pakaian yang mewah atau modis dan…berantakan. Aku menangkap sekumpulan manusia berpakaian dasar berwarna hitam. Tidak hanya ada laki-laki, tapi ada beberapa wanita di dalamnya dan aku mengenal salah satu wajah disana. Itu adalah Sean. Keponakan dari tetangga baruku.
Dia bersandar pada dinding bata dan sepertinya sedang terlibat dalam obrolan serius karena aku bisa melihat sedikit kerutan di keningnya saat berbicara dengan lawan mainnya yang berdiri memunggungi tempatku. Yang jelas itu adalah seorang wanita berambut pirang panjang dan bergelombang. Aku merasa tertangkap basah ketika pandangannya mengarah padaku dan aku terkesiap. Mengalihkan pandanganku ke arah lain dan bergegas memasuki bangunan, tapi aku bisa merasakan tatapannya mengikutiku sampai aku tiba di dalam dan dia tidak bisa menjangkau diriku lagi melalui tatapannya.
Aku selesai mengurus segala administrasi saat tengah hari dan perutku mulai lapar, tapi aku harus memeriksa
beberapa ruang kelas yang akan mulai aku ikuti besok. Suasana disini begitu ramai dan rasanya aku akan tersesat. Aku membutuhkan waktu sekitar sepuluh menit untuk menemukan satu ruang kelas. Hanya tiga orang yang masih ada di dalam sana. Dua wanita dan satu pria berambut coklat terang. Aku menghela napas berdiri di depan pintu ruangan yang terbuka. Pria berambut coklat itu mengambil tasnya dan berjalan ke luar, lalu menyadari keberadaanku.
“Hei, wajahmu asing..” Dia menggantung nada bicaranya dan menatapku dengan satu alis terangkat.
“Oh, ya, aku baru saja pindah dan selesai mengurus administrasinya. Mulai besok aku akan mulai mengikuti
pelajaran.” Aku mengatakannya dengan sekali tarikan napas dan aku tahu itu sangat memalukan. Pria itu menahan senyumnya.
“Aku Adam.” Adam memperkenalkan diri dan mengulurkan satu tangan dan aku menyambutnya dengan senang hati.
“Carol.”
“Nama yang bagus, Carol.”
“Thanks.” Aku tersenyum lagi.
“Jadi apa yang kau lakukan setelah ini?” tanyanya lagi dan aku tidak tahu kenapa aku mengikuti langkahnya menjauhi ruang kelas.
“Yah, aku ingin berkeliling dan semoga saja aku tidak tersesat.” Aku terkekeh.
“Kalau begitu aku bisa dengan senang hati menemanimu.”
“Kau mau?” Aku sedikit terkejut. “Kau tidak harus melakukannya jika tidak bisa. Aku akan baik-baik saja.”
“Tidak, aku tidak keberatan sama sekali. Tapi bukankah ini waktunya makan siang? Aku bisa membawamu ke sebuah kedai yang menjual makanan enak di sekitar sini. Tentu kalau kau mau.”
“Tentu. Sejujurnya aku memang mulai lapar.” Aku mengangguk antusias dan dia menunjukkan senyumannya lagi sebelum membawaku keluar dari area kampus.
Aku tidak menyangka bisa mengobrol dengan orang asing semudah ini tapi Adam benar-benar menyenangkan untuk dijadikan teman bicara. Dia sopan, baik dan terlihat sepertiku. Kami sampai di sebuah kedai kecil yang keren dalam waktu kurang dari sepuluh menit berjalan kaki. Aku memesan chicken steak dan kentang
goreng dan mengatakan kepada pelayan sementara Adam memesan burger dan soda.
“Jadi, dimana kau tinggal sebelumnya?”
“Um, aku tinggal di Phoenix sebelumnya dan memutuskan pindah setelah ibuku meninggal tiga bulan yang lalu.”
“Aku turut berduka atas ibumu.” Adam memasang wajah prihatin dan aku hanya menggeleng. “Kau pindah kesini sendiri?”
“Tidak. Aku tinggal dengan nenekku.”
__ADS_1
“Wow, itu cukup jauh dari sini, Carol. Apa yang membuatmu akhirnya memilih Portland?”
“Aku tidak tahu. Hanya mencari rumah di iklan koran dan aku merasa cocok dengan rumah yang kutempati sekarang.”
“Aku jamin kau akan menyukai tempat ini.” Adam tersenyum dan pelayan datang membawakan pesanan kami berdua. Adam menceritakan banyak hal sepanjang kami menikmati makan siang. Beruntung sekali aku bisa bertemu dengannya disini dan aku rasa kami bisa berteman baik. Dia sedikit banyak bercerita tentang kehidupan keluarganya yang harmonis dan kurasa itu juga mempengaruhi bagaimana sikapnya yang terlihat penuh perhatian dan tenang.
“Kau ingin kemana dulu?” tanyanya setelah makanan kami habis.
“Kau yakin punya waktu luang untuk menemaniku berkeliling?” Aku masih sungkan menerima kebaikannya.
“Tentu. Yang tadi itu kelas terakhirku untuk hari ini. Bukankah kebetulan?” Adam tersenyum lebar dan aku
menghela napas.
“Okay, tunjukkan aku semua sisi yang ada di kampus, please?”
“Dengan senang hati, Nona.” Aku terkekeh mendengar jawabannya dan kami berjalan kembali menuju kampus.
Adam benar-benar menjadi tour guide yang sempurna. Dia tidak melewatkan setiap detail yang ia ketahui dan aku senang mendengar penjelasan panjangnya. Saat kami berbelok ke kiri, mataku kembali menangkan segerombolan
baju hitam yang tadi pagi kulihat dan Sean ada disana juga. Dia tampak lebih menonjol di bawah sinar matahari karena kulitnya yang ternyata cukup terlihat pucat di bawah sinar dan rambut ikalnya berwarna coklat gelap.
“Oh, aku tidak yakin harus menjelaskan mereka padamu tapi aku rasa kau perlu tahu, untuk berjaga-jaga.”
Adam berbicara setelah tahu kemana pandanganku tertuju.
“Apa maksudnya?” tanyaku tidak paham.
“Mereka adalah sekumpulan anak band kampus ini. Dan mereka hampir selalu berkeliaran secara berkelompok.”
“Oh, jadi mereka bermusik?”
“Ya, musik yang sangat keras.”
Aku mendengus geli melihat ekspresi Adam yang terlihat ngeri. Entah apa yang dia bayangkan. Aku kembali mengarahkan pandanganku kepada sekelompok anak band itu saat mataku bertemu dengan tatapan Sean yang tajam. Dia bahkan tidak berkedip sama sekali dan aku tahu dia menatapku. Tapi kenapa dia harus menatapku seperti itu? Dengan mulut yang terkatup rapat seolah dia sedang menahan emosinya.
“Carol, kau mau melanjutkan tur kita atau berhenti sebentar?” pertanyaan Adam menyelamatkanku dari tatapan membunuh yang Sean berikan padaku dan aku bernapas lega.
“Sepertinya aku butuh duduk.” Aku menjawab kecil.
“Oke, duduk disini. Aku akan segera kembali dan membawakan minuman dingin untukmu.” Adam membawaku ke sebuah bangku panjang dari batu yang tersebar di halaman kampus ini dan dia pergi dengan begitu cepat sebelum aku mencegahnya. Sambil menghela napas, aku duduk dan menunggunya.
“Hai.” Suara asing menyapaku dan saat menoleh, aku menemukan Sean sudah berdiri di sampingku. Kapan dia datang? Aku bahkan tidak mendengar suara langkah kakinya.
“Oh, hai.” Aku menjawab canggung. Aku melihat ke belakang punggungnya dan tidak menemukan anggota kelompoknya yang lain. Bukankah Adam bilang mereka selalu berkeliaran secara berkelompok?
“Aku tidak tahu kalau kau mendaftar disini.” Katanya, menatapku begitu lekat dan aku menjadi gelisah.
“Yah, hanya ini tempat yang cukup dekat dengan rumahku.”
“Aku harap kita tidak akan sering bertemu. Baik di sekitar rumah atau di sini.”
Aku mengernyit mendengar ucapannya. Kenapa dia bisa begitu tidak sopan padaku? Kami bahkan belum berkenalan dengan benar dan dia sudah mengatakan hal seperti itu. Itu terdengar seperti ‘jangan mendekat atau
berurusan denganku karena aku tidak suka padamu’.
“Permisi? Aku juga tidak punya niat untuk sering bertemu denganmu.” Aku mendengus dan membuang pandangan ke arah lain.
“Bagus. Bye.”
Dia pergi begitu saja dan aku sama sekali tidak mengerti. Apa-apaan dia? Tidak ada yang memintanya untuk menghampiriku hanya untuk berlaku tidak sopan seperti itu. Dia benar-benar menyebalkan.
“Carol, maaf membuatmu menunggu, ini minumanmu.” Adam datang dengan dua botol jus jeruk di tangannya dan menyodorkan salah satunya untukku. “Hei, apa yang terjadi? Kenapa wajahmu ditekuk?”
“Orang asing baru saja bersikap menyebalkan.” Aku bergumam kesal dan mengambil jus jeruk dari tangan Adam.
Meneguknya dalam sekali tegukan panjang hingga tersisa setengah.
“Orang asing?” Adam mengerutkan keningnya.
“Tolong jangan membahasnya sekarang. Aku masih kesal.” Aku meminta pengertiannya dan untungnya dia paham.
“Jadi, kau ingin pulang sekarang atau bagaimana, Carol?”
“Um, aku rasa aku akan pulang dan melihat keadaan nenekku di rumah.”
“Perlu tumpangan?” Dia menawarkan tapi aku menolaknya dengan halus.
dengan jalanan disini.” Aku beralasan dan Adam tidak keberatan dengan hal itu.
Setelah berpamitan padanya, aku memutuskan untuk melangkahkan kaki menuju jalanan. Sepertinya aku menyesal sudah membuang tawaran Adam, tapi aku tidak yakin membiarkannya mengetahui rumahku padahal kami baru saja berkenalan hari ini. Dan, ya ampun, jalanan ini panjang sekali! Aku datang dengan bus tadi pagi dan aku lupa bertanya jadwal keberangkatan bus setiap harinya. Mungkin aku bisa beruntung hari ini dan akan ada bus yang
melintas sambil aku berjalan. Sinar matahari cukup terang hari ini walaupun udaranya sejuk dan aku bersyukur tidak harus berkeringat banyak.
Sepertinya dewi keberuntungan sedang tidak bersamakuhari ini. Bukannya bus yang melintas, tapi justru mobil hitam milik orang yang sangat ingin aku hindari. Ia melesat dengan cepat seperti sebelumnya ketika
melewatiku, tapi entah kenapa mobilnya berjalan mundur sedetik kemudian dan menghampiriku. Berusaha mengabaikan keberadaannya, aku terus berjalan ke depan dan dia tetap mengikutiku dengan menjalankan mobilnya perlahan. Lagipula dia tidak mengatakan apa-apa, jadi aku tebak dia hanya ingin menggangguku.
“Kau tidak akan mendapatkan bus dalam satu jam ke depan.” Suaranya terdengar tapi aku masih mengabaikannya dan terus melangkah tanpa menoleh. “Kau seharusnya menjawab ketika seseorang berbicara denganmu.”
“Excuse me, kau bicara padaku?” tanyaku pura-pura tidak tahu.
“Oke, nikmati waktumu berjalan kaki.” Dia memainkan pedal gas dan rem dengan kakinya hingga suara mesin merongrong kencang dan itu cukup membuatku terkejut.
“Apa masalahmu?” Aku bersuara keras karena tidak tahan dengannya. Dia menghentikan kelakukannya yang menyebalkan itu dan suasana diantara kami kembali tenang. Tidak ada lagi suara deru mesin yang berisik. “Kau berharap tidak bertemu denganku dan aku pun juga begitu tapi sepertinya kau yang selalu menggangguku. Bahkan ini baru hari pertamaku.”
Dia menatapku tajam dan aku tersadar dengan apa yang baru saja aku ucapkan. Ini pertama kalinya aku mengutarakan kekesalanku pada orang lain dan dia memang pantas mendapatkannya. Dia sudah menyinggungku sejak pertama kali dan aku tidak akan melupakan itu.
“Aku sudah mengatakannya padamu. Kau tidak akan mendapatkan bus dalam satu jam ke depan.” Dia mengulangi ucapannya beberapa menit yang lalu dan aku tidak mengerti kenapa dia harus memberitahuku hal itu. Nada bicaranya menggantung, tapi dia tidak mengatakan apa pun lagi setelahnya.
“Oke, terima kasih. Kau bisa pergi sekarang.” Aku menjawab setelah beberapa detik.
“Kakimu akan lecet kalau berjalan kaki sampai ke rumah.” Dia melirik ke bawah, ke arah kakiku dan aku mengikuti
arah pandangnya. “Apalagi kau mengenakan sepatu seperti itu.”
“Well, terima kasih atas perhatianmu tapi aku akan baik-baik saja. Jadi kau bisa pergi
sekarang dan kita tidak akan saling mengganggu.”
“Apa itu yang kau inginkan?” tanyanya dan aku sama sekali tidak mengerti arah pembicaraannya yang random.
“Apa maksudnya itu?”
“Aku bisa memberimu tumpangan jika kau memintanya.”
Jawabannya membuatku pusing. Kenapa aku harus meminta padanya? Dia yang menghampiriku lebih dulu tapi kenapa aku yang harus meminta padanya? Kalau dia tidak ingin menawarkan tumpangan, seharusnya dia pergi saja dan mengabaikanku.
“Kau berpikir terlalu lama, Carolyn.”
“Bagaimana kau bisa tahu namaku?” tanyaku benar-benar terkejut sekarang.
“Sedikit informasi.” Dia menjawab acuh. “Jadi, kau hanya akan terus berdiri disana atau masuk ke dalam mobilku?
Lagipula kita searah.”
Aku menghela napas dan melihat ke sekeliling jalan yang sepi. Aku tidak yakin apakah aku akan baik-baik saja setelah masuk ke dalam mobilnya, tapi aku rasa ide itu cukup baik daripada aku benar-benar harus berjalan kaki. Aku melihat sudut bibirnya sedikit terangkat ketika aku mengambil posisi duduk di sebelahnya dan aku memasang sabuk pengaman dengan ketat di tubuhku. Hanya berjaga-jaga karena dua kali aku melihatnya menyetir dan dia seperti orang gila yang menginjak pedal gas begitu dalam.
Lima menit pertama –yang terasa berjam-jam, dia hanya diam dan aku juga tidak punya topik untuk dibahas
dengannya. Aku sudah berpikir hanya akan mengucapkan terima kasih setelah kami tiba dan aku akan berusaha untuk tidak lagi bertemu dengannya setelah ini. Aku menggenggam botol jus jeruk di tanganku dan memainkannya sambil melihat ke arah lain. Kemana pun, yang penting tidak melihatnya.
“Aku yakin kau sudah tahu namaku mengingat Bibi Marrie meneriakannya semalam.” Dia mulai bersuara dan aku
membenarkan posisiku.
“Yah, aku memang mengetahui namamu tadi malam.” Aku menjawab seadanya.
“Jangan bicarakan hal itu kepada orang lain. Oke?”
Aku mengerutkan kening. “Tidak. Aku tidak akan melakukannya.” Lagipula untuk apa aku melakukannya? Dan memangnya aku bisa membicarakan hal itu dengan siapa? Aku hanya mengenal Adam sejauh ini. Sean tidak dihitung karena aku tidak berniat untuk mengenalnya lebih jauh.
“Kita sudah sepakat kalau begitu.” Katanya dan aku kembali dibuat tidak paham dengan alur pembicaraan ini, tapi
aku tidak ingin menanggapinya dan memilih untuk melihat ke jalanan yang kami
lewati.
Lima belas menit kemudian kami tiba di lingkungan rumah dan dia menghentikan mobilnya tepat di depan pekarangan rumahku. Aku melepas sabuk pengamanku dan bersyukur dia mengemudikan mobilnya dengan benar kali ini.
__ADS_1
“Terima kasih untuk tumpangannya.” Kataku saat akan membuka pintu.
“Tidak setiap hari aku akan
menawarkan tumpangan, jadi, ya, tidak perlu berterima kasih.” Aku menemukan sinar jenaka dalam tatapannya dan juga sudut bibirnya yang berkedut samar. Aku tahu dia menyebalkan dan akan terus seperti itu.
“Selamat tinggal.” Setelah itu akubenar-benar keluar dari dalam mobil dan langsung berjalan cepat menuju pintu
rumahku.
Di dalam rumah, aku menemukan nenek sedang menghias rangkaian bunga dan memasukkannya ke beberapa vas cantik koleksinya. Dia menyadari keberadaanku ketika pintu tertutup di belakangku dan tersenyum seraya menyambutku pulang.
“Apa harimu berjalan dengan lancar?” Dia bertanya dan aku mengangguk, lalu meletakan tas ranselku diatas meja counter.
“Aku rasa aku sudah menemukan teman baru di sini.” Aku tersenyum padanya.
“Itu bagus. Bagaimana dengan universitasnya?” Nenek kembali melanjutkan kegiatannya yang sempat terhenti dan
aku menghampirinya setelah mengambil segelas air dingin.
“Baik. Sebenarnya itu sangat bagus.” Aku meralatnya dengan cepat. “Tempatnya menakjubkan dan aku sudah berkeliling hari ini. Teman yang aku bicarakan tadi yang menemaniku.”
“Dia pasti orang yang baik?” Nenekku menduga.
“Yah, dia ramah dan baik.” Aku meneguk air di dalam gelasku. “Aku akan mandi dulu, tidak apa-apa, kan?”
“Tentu.”
Aku tersenyum dan menuju kamarku setelahnya. Mandi dengan air dingin yang sejukpasti menyenangkan setelah aku sempat berpanas-panasan tadi. Aku membuka semua pakaianku sebelum menuju ke bawah air pancuran dan mulai memejamkan mata. Menikmati setiap tetes air yang turun membasahi kulit kepala sampai kakiku
dengan cara yang begitu menyegarkan. Namun acara mandiku terganggu saat bayangan mengerikan itu kembali datang dan menghantui di dalam kepalaku. Aku tersentak dan sulit bernapas untuk beberapa saat sebelum kesadaran kembali mengambil alih.
Ya ampun, apa itu tadi? Aku sudah lama tidak lagi memikirkan itu dan tiba-tiba saja mereka kembali dan membuatku menggigil. Rencanaku untuk berendam sudah sirna dan aku menyelesaikan acara mandiku dalam waktu lima belas menit. Setelah melilitkan handuk besar di sekitar tubuhku, aku keluar dari kamar mandi yang berada di dalam kamarku.
“Oh My! Apa yang kau lakukan di dalam kamarku?” Aku memekik dengan suara yang tidak pernah aku tahu kalau aku mempunyainya saat melihat sosok asing di dalam kamarku. Dia melihat ke arahku dengan wajah datar dan tatapan yang juga biasa saja tapi aku benar-benar gugup disini. Bagaimana bisa dia berada di kamarku?
Apa dia menerobos lewat jendela? Itu mungkin saja mengingat jendela kamarku tidak terlalu tinggi dan tubuhnya yang menjulang bisa saja melompat melewatinya dengan mudah.
“Kau tidak harus berteriak, kau tahu.” Dia berkata dengan begitu tenang seolah berada di dalam kamar seorang
gadis yang hanya mengenakan selembar handuk hanyalah masalah sepele.
“Aku bertanya, apa yang kau lakukan di kamarku? Kapan kau masuk dan bagaimana? Apa kau menyusup kesini?” tanyaku dengan nada menuntut.
Dia mendengus mendengar pertanyaanku. “Yang benar saja. Aku tidak punya banyak waktu luang hanya untuk
menyusup kemari. Lagipula tidak ada yang bisa dilihat.” Tatapannya menatapku dari atas sampai bawah dan kembali menatap wajahku. Dia benar-benar tidak sopan. Aku tahu diri. Tubuhku tidak seperti wanita seusiaku yang memiliki tubuh ramping dan seksi, tapi dia tidak boleh mengatakan itu di depanku, bukan? Itu
tidak sopan.
“Kau belum menjawab pertanyaanku sejak tadi, kau tahu?”
“Bibi Marrie menyeretku kemari untuk menemaninya memberikan makanan selamat datang untuk nenekmu dan secara tidak langsung kau juga terlibat karena membuatku pulang lebih awal dari jadwal seharusnya.”
“Tapi kenapa kau berada di kamarku?” tanyaku tidak sabar.
“Aku mencari toilet. Tidak tahu kalau ini adalah kamarmu.” Dia menjawab acuh. “Boleh aku meminjam kamar mandi milikmu kalau begitu?”
Aku tidak habis pikir dengan apa yang dia lakukan dan apa yang baru saja dia katakan. Apa menyerbu masuk ke dalam kamar seseorang sudah menjadi kebiasaannya?
“Aku anggap kau mengijinkanku.” Putusnya langsung dan bergegas melewatiku menuju kamar mandi di belakangku.
“Tolong jangan keluar sebelum aku memberitahumu.” Kataku akhirnya setelah mendapatkan kembali suaraku.
“Tentu.” Senyuman tercetak di wajahnya sebelum dia menutup pintu dan aku bergerak secepat mungkin untuk
berpakaian sambil sesekali melirik pintu kamar mandi yang masih tertutup.
Setelah memastikan bahwa aku sudah berpakaian lengkap dan cukup siap untuk menerima kehadirannya lagi, aku memberitahunya bahwa dia bisa keluar dari kamar mandi. Ajaib dia menuruti kata-kataku untuk menunggu di dalam selama aku berpakaian.
“Oh astaga! Disini kau rupanya!” Marrie masuk tanpa mengetuk pintu. Apa di keluarga mereka tidak ada kebiasaan
itu? Aku dan Sean sama-sama menoleh dan aku bisa melihat keterkejutan dari tatapan Marrie. “Apa yang kau lakukan di dalam kamar gadis tetangga baru kita, Sean?!”
“Aku sudah memberitahumu bahwa aku mencari toilet dan itu ada disini.” Sean menjawab santai, lalu melangkah keluar dengan santai.
“Aku benar-benar minta maaf, Carol.” Marrie berbicara setelah Sean pergi. “Anak itu memang kurang sopan. Sebenarnya, tidak sopan sama sekali.”
“Yah, aku hanya terkejut kenapa dia bisa sampai di kamarku.” Aku tidak mau melanjutkan ini dan berjalan
mendekatinya.
“Aku sudah bertemu dengan nenekmu dan menawarkan makan malam di rumah kami malam ini. Dia setuju dan aku harap kau juga mau bergabung.” Marrie menjelaskan dengan senyum riang yang tidak hilang dari wajahnya. Aku rasa dia benar-benar senang sudah mendapatkan tetangga baru seperti kami.
“Well, kalau begitu, aku akan siap dalam beberapa menit.” Aku mengatakan padanya.
“Kami akan menunggumu di ruang depan.” Marrie tersenyum sebelum meninggalkanku sendiri dan menutup pintu.
Aku menghela napas dan melangkah ke depan cermin. Jumpsuit yang kukenakan sepertinya cukup baik untuk makan malam nanti. Warnanya hitam dengan motif bunga-bunga kecil dan tali simpul di pundak. Aku hanya perlu menata rambutku yang masih setengah kering dan memakai liptint di bibirku. Sekitar sepuluh menit kemudian aku sudah siap dan menghampiri semua yang sudah berada di ruang depan. Semakin dekat, aku mendengar suara Sean dan Marrie yang masih berargumen.
“Kau tahu aku tidak bisa ikut acara seperti itu. Aku punya urusan.”
“Hanya sebentar, Sean. Dan aku akan membiarkanmu pergi setelahnya.”
“Menyebalkan!” Sean menyentak dan tatapan kami tidak sengaja bertemu.
“Oh, kau sudah selesai?” Nenek menyambutku dan aku segera menempatkan diri berdiri di sebelahnya. “Ini cucuku, Carol.” Ia memperkenalkanku kepada Marrie dan Sean.
“Ya, kami sudah lebih dulu berkenalan kemarin.” Marrie tersenyum sementara Sean hanya menatapku dengan
cara yang membuatku tidak nyaman. “Ayo ke rumahku dan kita bisa bersiap untuk makan malam.”
Sepanjang jalan menuju rumahnya, Marrie dan nenekku berjalan di depan sambil mengobrol sementara aku selangkah di belakang mereka dan Sean berada dua langkah di belakangku. Punggungku terasa panas dan aku tahu dia sedang menatapku walaupun aku tidak melihatnya.
“Baju yang bagus.” Suaranya terdengar pelan dan rendah. Aku sedikit menoleh ke belakang dan melihat tatapan
serta senyumnya seolah mengatakan hal yang sebaliknya. Dia sedang mengejekku.
“Aku tahu.” Aku membalasnya dengan tepat dan dia sedikit terkejut mendengarnya. Dalam hati aku senang karena aku bisa membalas ucapannya.
Kami menaiki beberapa undakan tangga sebelum mencapai pintu dan rumah mereka jauh berbeda dengan rumahku. Barang-barang disini sangat banyak –kebanyakan hiasan-hiasan kecil, dan membuat tempat ini terlihat sempit tapi terasa nyaman dengan lampu kuning yang terang.
“Sean, aku butuh bantuanmu untuk mengurus pemanggangnya. Kita akan makan di halaman belakang dan aku harap kalian tidak keberatan.” Marrie kembali berbicara.
“Tentu tidak. Kami berterima kasih karena kau sudah mengundang kami untuk berada disini.” Nenekku membalas dengan sopan dan aku hanya mengangguk sementara Sean mendengus kesal dan berjalan
menuju pintu yang aku yakini akan membawanya ke halaman belakang.
“Carol, bisa bantu aku dengan sayuran ini? Kita tidak boleh ketinggalan salad.” Aku bergegas mendekati Marrie
yang sudah berdiri di depan beberapa sayuran yang harus dipotong.
“Serahkan ini padaku.” Aku tersenyum dan mengambil pisau yang sudah tersedia disana. Memulai pekerjaanku dengan memotong beberapa sayuran, aku melihat Marrie sibuk dengan daging, sosis dan kentang untuk dipanggang. Melumuri itu semua dengan bumbu yang terlihat lezat. Nenek berusaha membantu tapi aku dan Marrie sepakat untuk membuatnya duduk dan memperhatikan saja.
“Apinya sudah siap jika kalian ingin mulai memanggang.” Sahutan dari Sean membuatku menoleh. Dia melepas jaket hitamnya dan sekarang hanya mengenakan T-Shirt longgar berwarna abu-abu gelap dan celana hitam dengan sayatan-sayatan di beberapa bagian.
“Bagus! Carol, bisa bantu aku lagi bawakan wadah ini ke halaman belakang? Saladmu sudah hampir selesai bukan?” Marrie berbicara lagi padaku.
“Oh ya, tentu. Aku hanya perlu menambahkan sedikit minyak dan mayo.” Bergegas aku menyelesaikan salad sayuran yang kubuat dan setelahnya, mengambil wadah berisi daging sapi segar yang sudah
dibumbui menuju ke halaman belakang. Sean berdiri menungguku di ambang pintu dan setelahnya berjalan di belakangku tanpa bicara.
“Apa kau pernah melakukan ini sebelumnya?” Dia bertanya padaku dengan ekspresi wajah yang tidak yakin.
“Tentu. Kau meragukanku?” Aku kembali bertanya.
“Tidak, tentu tidak. Aku tidak akan berani.” Dia tersenyum samar lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain.
“Jurusan apa yang kau ambil?”
“Kalau aku tidak salah ingat, siang tadi kau mengatakan agar kita menjaga jarak. Dan sekarang rasanya kau yang
terus-menerus berusaha bicara denganku.”
“Jangan terlalu percaya diri, Nona. Aku hanya berusaha menunjukkan sopan santun karena bibiku dan nenekmu ada disini.”
“Oh, aku menyesal membuatmu harus berpura sopan di depanku, tapi aku tidak butuh itu. Kau bisa mengabaikanku saja sampai acara makan malam ini selesai.” Aku bersungut dan berbalik membelakanginya. Memilih untuk mulai meletakan daging diatas pemanggang dan membiarkan api mulai menyambarnya. Sean benar-benar pria yang menyebalkan. Aku tidak meminta sopan santun darinya dan dia berbicara seolah aku yang membutuhkan itu semua.
Sepanjang acara makan malam, aku menekan perasaanku mati-matian karena sejujurnya aku benar-benar ingin cepat pulang dan meringkuk di atas tempat tidurku. Aku tidak ingin lebih lama bertemu dan berdekatan dengan Sean karena dia sudah membuat suasana hatiku hancur seharian ini. Aku tidak tahu bagaimana caranya aku bisa begitu membenci seseorang secepat ini, tapi itu yang terjadi sekarang. Aku terluka karena dia mengucapkan hal-hal yang menyakiti hatiku padahal dia hanyalah orang asing.
__ADS_1
Marrie benar-benar menyukai berbincang dengan nenekku, kurasa. Dan aku punya firasat bahwa mereka akan menjadi teman ngobrol yang baik ke depannya. Pemikiran itu membuatku senang, karena setidaknya nenek tidak akan sendirian ketika aku mulai sibuk dengan kuliahku nanti. Kami selesai sekitar pukul delapan tiga puluh malam dan Sean langsung pergi tanpa pamit setelahnya. Aku tidak ingin tahu dia pergi ke mana, tapi mengingat yang diucapkan Adam siang tadi, kurasa dia akan pergi berkumpul dengan anggota band lainnya. Dan aku tidak harus peduli.
***