
“Jadi, kurasa kau berhutang sebuah penjelasan kepada kami.”
Aku baru saja keluar dari kamar dan menghampiri Marrie serta nenekku yang sedang berkutat di dapur, lalu Marrie langsung menodongku disertai senyum penuh arti. Nenek melirikku dengan senyuman dan aku tahu dia juga butuh penjelasan tentang bagaimana bisa Sean menjemputku pagi tadi dan juga mengantarku pulang setelahnya.
“Apa yang harus aku katakan?” tanyaku setelah mengambil tempat duduk di sebelah Marrie.
“Apa kalian memutuskan untuk menjalin sebuah hubungan? Beritahu aku karena Sean tidak akan mau melakukannya.” Marrie membujukku.
“Kami hanya sedang memperbaiki hubungan kami.”
“Jawabanmu tidak menarik. Apa Sean yang menyuruhmu untuk tidak memberitahu kami? Aku melihatnya tadi. Sean mencium keningmu saat mengantarmu pulang.” Marrie tertawa dan aku merasakan aliran darahku berkumpul di kedua pipiku.
Ini semua salah Sean. Dia selalu seenaknya menciumku tanpa lihat tempat dan waktu. Maksudku, bukannya aku tidak suka, yah aku suka dia menciumku. Ketika dia mencium keningku, aku merasa begitu disayangi dan aku merasa berarti. Itu seperti sebuah perasaan yang baru sekarang aku rasakan.
“Kau baik-baik saja, Carol?” Nenekku akhirnya bersuara. Dari tatapannya, aku bisa menangkap bahwa dia mencemaskanku. Aku yakin dia terkejut mendengar ucapan Marrie. Nenek paling tahu bahwa aku tidak bisa bersentuhan secara intim dengan lawan jenis.
“Aku baik-baik saja, Nek.” Aku tersenyum, mencoba menenangkannya.
“Apa kau menyukai Sean?” Nenekku kembali bertanya. Dia menghampiri meja counter dengan dua mangkuk salad buah. Satu untukku dan satu untuk Marrie.
“Aku rasa Sean lebih menyukaimu.” Marrie menyahut. “Kau tahu? Aku tidak pernah melihatnya begitu peduli pada gadis mana pun. Dia juga tidak pernah mendengar ucapan siapa pun, tapi itu tidak berlaku saat bersamamu. Sean mendengarkanmu dan dia sangat peduli padamu. Saat-saat kalian bertengkar dan memilih menjauh, dia seperti orang yang bingung.”
Aku mendengar ucapan Marrie dan memikirkannya. Aku tidak percaya bisa mendengar kenyataan seperti ini. Kepalaku masih menimbang apakah aku harus mempercayai ini atau tidak. Biar bagaimana pun, aku masih belum bisa menyangka bahwa Sean menyukaiku walaupun aku sudah menjadi pacarnya sekarang.
“Kalau kau juga menyukainya, aku akan mendukungmu.” Nenek menggenggam satu tanganku dan tersenyum.
“Yah, dia cukup baik dan menyenangkan.” Aku ikut tersenyum dan Marrie tersenyum semakin lebar.
“Aku benar-benar senang kalian pindah ke tempat ini dan Sean bisa bertemu denganmu, Carol. Sungguh.” Matanya berkaca-kaca dan aku hanya tersenyum melihat Marrie.
Setelah itu kami mengobrol panjang lebar. Marrie berkunjung ke rumah kami karena merasa kesepian di rumahnya. James tidak ada dan Sean juga pergi. Dia memang memberitahuku bahwa dirinya akan berkumpul dengan anggota band untuk membahas tawaran yang diberikan Julie. Aku harap Sean menerima tawaran bagus itu. Aku yakin anggota yang lain juga antusias menerimanya.
Ponselku bergetar di atas meja marmer dan saat kulihat, ada sebuah pesan masuk dari Sean. Dia hanya memintaku untuk keluar, jadi aku berdiri dan mengatakan pada nenek dan Marrie kalau aku akan menemui Sean di luar.
“Tanyakan apa dia sudah makan malam atau belum.” Nenekku menyahut dan aku hanya mengangguk sebelum bergegas keluar rumah.
Disana, Sean berdiri dengan punggung bersandar pada bagian samping mobil. Kedua lengannya terlipat ke depan dan dia tersenyum saat melihatku, jadi aku pun ikut tersenyum dan menghampirinya.
“Hai.” Dia menyapaku, kemudian membenarkan posisinya. Dia berdiri tegak di depanku.
“Hai.”
“Marrie pasti ada di dalam rumahmu.”
“Ya, kami sedang menikmati salad. Apa kau mau bergabung?” Aku menawarkan, tapi Sean menggeleng.
“Aku sudah makan bersama yang lain.”
“Oh, benar. Bagaimana hasilnya?” tanyaku lagi.
“Kami memutuskan untuk menerima tawaran itu.” Sean tersenyum lagi. “Nic sudah menghubungi Julie dan kami akan memulainya minggu ini.”
“Benarkah? Itu bagus. Aku yakin kalian bisa melakukannya dengan baik.”
“Kau harus menepati ucapanmu untuk datang setiap kali kami tampil.”
“Yah, aku akan mencari waktu luang untuk itu.”
Sean mendengus. “Kau bahkan hanya menghabiskan akhir pekan di dalam kamar.”
Aku tertawa mendengar ucapannya. “Kau kesini hanya untuk memberitahuku itu?”
“Tidak. Aku hanya sedang mencari alasan. Untuk bertemu denganmu.”
Sean menatapku dan aku juga tidak bisa mengalihkan pandanganku darinya. Dia mengulurkan satu tangannya, menyentuh helaian rambutku dan membawanya ke belakang telingaku hingga membuatku tanpa sadar menahan napas.
“Marrie bertanya padaku mengenai kita, jadi aku memberitahunya. Apa kau tidak keberatan?” Aku bertanya lagi padanya.
“Aku tahu dia akan menuntut penjelasan darimu.” Sean mendengus. “Bagaimana dengan nenekmu?”
“Nenekku juga sudah mendengarnya.”
“Baiklah, itu bagus. Lagipula tidak ada yang perlu disembunyikan.” Sean tersenyum lagi.
Aku bernapas lega. Kukira, Sean akan memintaku untuk menutupi hubungan kami dan kami akan menjalaninya diam-diam mengingat Sean adalah Sean. Pria yang tidak pernah berkencan ditambah dengan Tina yang selalu menjaganya. Namun aku lega hal itu tidak terjadi. Aku lega tidak harus menyembunyikan hubungan kami dari siapa pun.
“Kau memikirkan apa lagi?” Sean bertanya.
“Apa?”
Ujung telunjuknya menyentuh tepat di tengah diantara kedua alis mataku. “Disini selalu berkerut saat kau memikirkan sesuatu. Ada apa?”
“Aku…hanya tidak menyangka kalau kau akan terbuka tentang hubungan kita. Maksudku, kau benar-benar tidak keberatan jika orang lain mengetahui hubungan kita.”
“Memangnya kenapa harus disembunyikan? Ini bukan sesuatu yang memalukan, benar?”
“Kau benar.” Aku tersenyum mendengar jawaban Sean yang begitu baik.
“Sudah malam, masuklah. Aku juga akan kembali ke rumah. Tolong katakan pada Marrie untuk pulang juga. Dia terlalu sering berada di rumahmu.”
“Itu tidak masalah, kau tahu.” Aku membela dan Sean hanya mendengus menahan senyum. “Kalau begitu, selamat malam.”
“Tunggu!” Sean menahan satu tanganku ketika aku akan berbalik menuju pintu. Dia mencondongkan tubuhnya dan mengetuk pipi kanannya dengan jari telunjuk. “Apa aku boleh meminta ciuman selamat malam?”
Pipiku kembali memanas dan Sean masih tetap pada posisinya, menungguku. “Seseorang mungkin akan melihat.”
“Tidak ada siapa pun disini.” Sean mencondongkan tubuhnya lebih dekat lagi hingga jarak pipinya dengan wajahku hanya tersisa sedikit.
Aku menatap sekeliling yang memang sepi, lalu mengecup pipinya cepat sebelum mengambil satu langkah mundur untuk memberikan jarak. Wajahku sudah sangat panas dan aku hanya menunduk. Kalau Sean menyadari wajahku yang berubah menjadi kepiting rebus, dia pasti akan semakin menggodaku.
“Selamat malam.” Sean mengusap puncak kepalaku dan berjalan menuju mobilnya dengan senyum, lalu dia pergi.
Aku tidak bisa menahan senyumanku, kemudian memutuskan untuk segera kembali ke dalam rumah. Disana, Marrie dan nenekku sedang duduk bersama di atas sofa di ruang santai. Marrie menatapku penuh minat seolah dia menungguku bercerita.
“Kenapa Sean tidak ikut masuk?” Nenekku bertanya.
“Dia langsung kembali ke rumah. Sean juga memintamu untuk cepat pulang.” Aku memberitahu Marrie.
“Apa yang kalian berdua bicarakan?” Marrie bertanya, mengabaikan ucapanku tadi.
“Hanya…Sean mendapat tawaran untuk menjadi pemain tetap di sebuah café mewah yang baru dibuka bersama grup musiknya dan dia menerima tawaran itu. Sean datang untuk memberitahuku bahwa mereka akan mulai akhir pekan ini.”
“Apa? Kau serius?” Marrie terkejut dan antusias sekaligus. “Aku harus segera memberitahu kakakku. Ini bagus sekali, Carol. Astaga, kau benar-benar membawa keberuntungan untuk keluarga kami.” Dia memelukku erat beberapa saat sebelum melepaskannya kembali. Matanya kembali berkaca-kaca. “Terima kasih, Sweetheart. Kau tidak tahu betapa berartinya kau dalam hidup kami.”
Aku tersenyum, melirik ke arah nenekku yang juga tersenyum haru. Sampai disini, aku merasa hidupku sudah mulai terasa sempurna dan aku berharap seterusnya akan terus seperti ini. Aku memulai hidupku disini dengan kegembiraan dan nenekku ada disini bersamaku, lalu Sean. Aku bersyukur akan hal itu.
***
“Disini kau rupanya.”
Aku mengangkat wajahku dan melihat Sean sudah berdiri di hadapanku. Dia mengenakan jaket kulit berwarna hitam, celana jeans, sepatu hitam dan rambut yang tidak rapi seperti biasa. Jika aku memikirkannya sekarang, pakaian Sean selalu serba gelap. Maksudku, dia tidak pernah terlihat mengenakan pakaian dengan warna cerah. Awalnya kukira ini karena anggota grup, tapi aku melihat Nic, Leo, Brandon dan bahkan Steve pernah mengenakan pakaian dengan warna yang lebih cerah yang artinya ini hanya Sean yang selalu mengenakan warna gelap.
“Aku mencarimu kemana-mana. Kau bahkan tidak mengangkat telepon dariku.”
“Oh, maaf, aku sedang membaca jadi aku meletakan ponselku di dalam tas.” Aku mengeluarkan ponselku dan mengeceknya. Ada lima belas panggilan tak terjawab dan semuanya dari Sean. Aku meliriknya lagi sebelum menunduk. “Aku benar-benar minta maaf. Ada apa mencariku?”
“Carol, aku mendapatkan bukunya.”
Aku dan Sean sama-sama menoleh saat mendengar suara Adam. Dia mendekat dengan sebuah buku tebal di tangannya.
“Jadi kau mengabaikan panggilanku karena sedang menghabiskan waktu dengannya disini?” Sean menatapku tajam dan aku bisa merasakan aura kemarahan darinya.
“Santai saja, Bung. Kami hanya sedang mengerjakan tugas bersama.” Adam berbicara dengan nada ketus dan bersikap berani.
“Ini tidak ada urusannya denganmu!” Sean dengan suara rendah adalah pertanda masalah, jadi sebelum semuanya terlambat aku memilih untuk membereskan semua buku milikku yang berserakan di atas meja, memasukkannya ke dalam tas dan memegang satu tangan Sean.
“Adam, maafkan aku, kita bisa mengerjakannya setelah ini.” Aku berpamitan pada Adam yang terlihat kesal, kemudian menarik Sean keluar dari tempat itu.
“Kau tidak akan mengerjakan tugasmu dengannya.”
Percayalah itu bukan sebuah saran, tapi sebuah perintah. Sean selalu bersikap berlebihan jika menyangkut Adam, tidak peduli berapa kali aku menjelaskan padanya bahwa kami hanya berteman.
“Kau tidak bisa memutuskan itu. Aku berada di kelompok yang sama dengan Adam. Kami adalah rekan.”
__ADS_1
“Rekan?” Sean mendengus. “Apa di kelas itu hanya dihuni oleh kalian berdua?”
“Sean, kau berlebihan lagi. Aku sudah memberitahumu berulang kali bahwa kami hanya berteman. Adam adalah sahabatku, kau harus mengerti.”
“Yah, terserah padamu.” Sean berbalik dan berjalan menjauhiku.
“Kau mau pergi kemana?” tanyaku saat Sean hendak masuk ke dalam mobilnya.
“Tadinya aku ingin mengajakmu ke café milik ayah Julie mengingat kami akan tampil untuk pertama kalinya nanti malam, tapi aku rasa itu tidak perlu. Kau pasti lebih suka berada disini dan menghabiskan waktu dengan pria itu.”
“Apa? Sean, tunggu!” Aku mendekatinya, tapi Sean masuk ke dalam mobil dan menutup pintunya lebih dulu. Dia bahkan menguncinya agar aku tidak bisa masuk. Aku benar-benar tidak terbiasa dengan perubahan suasana hatinya yang tidak terduga.
Sean meninggalkanku begitu saja. Mobilnya berlalu dengan cepat dan aku hanya bisa menghela napas sambil memijat keningku. Kenapa ini terasa semakin sulit? Bahkan kami belum melewati minggu pertama kami sebagai sepasang kekasih.
“Carol?”
Aku menoleh dan melihat Adam berdiri di depan pintu masuk dengan senyum yang dipaksakan.
“Kau baik-baik saja?”
“Tidak.” Aku menghela napas. “Ayo lanjutkan yang tadi.”
“Kau yakin ingin melanjutkannya sekarang? Kita masih punya waktu sampai Selasa depan sebelum itu dikumpulkan.”
“Aku butuh pengalihan, Adam. Kita harus mengerjakannya sekarang.” Aku berjalan kembali memasuki perpustakaan dan Adam mengikutiku dari belakang.
“Dalam lima hari ini, kalian sudah bertengkar tiga kali.” Adam berbicara saat kami baru saja membuka buku.
“Ini bukan masalah besar.” Aku membolak-balik halaman buku di hadapanku tanpa menatap Adam.
“Kau selalu mengalah untuknya, Carol.”
“Adam, tolong. Aku tidak ingin membahasnya saat ini, jadi tolong bantu aku, oke?”
Adam menghela napas dan mengangguk. “Kau tahu aku hanya tidak ingin melihatmu terluka.”
“Aku tahu. Terima kasih.” Aku tersenyum dan kami memulai kembali diskusi kami yang sempat terganggu.
Tugas kami selesai tepat sebelum perpustakaan ditutup untuk hari ini. Aku dan Adam keluar bersama-sama dengan tersenyum lega. Setidaknya akhir pekan kami kali ini akan terbebas dari tugas.
“Aku senang kita bisa menyelesaikan tugasnya secepat ini. Kau mau makan malam denganku? Sebelum aku mengantarmu pulang.”
“Adam, apa kau tahu dimana café milik ayah Julie yang baru saja diresmikan belum lama ini?” Aku bertanya.
“Ya, tentu. Aku datang saat acara pembukaannya. Kenapa?”
“Bagus. Bisa kau mengantarku kesana? Malam ini grup Sean akan tampil. Mereka ditawari untuk menjadi pemain tetap disana setiap akhir pekan. Aku harus melihatnya.”
“Setelah dia meninggalkanmu disini, kau masih ingin menemuinya?” Adam terlihat tidak setuju, tapi aku mengerti perasaannya.
“Akan lebih buruk jika aku tidak hadir disana, bukan?”
Adam menghela napas. “Kau terlalu baik, Carol. Aku benci itu, tapi kau benar. Ayo!”
Aku tersenyum saat Adam menyetujui permintaanku dan kami masuk ke dalam mobilnya bersama. Lalu lintas cukup padat karena ini akhir pekan. Banyak yang keluar untuk menghabiskan malam. Aku memeriksa ponselku, tapi tidak ada tanda-tanda Sean disana. Dia tidak menghubungi atau meninggalkan pesan untukku, jadi aku memutuskan untuk mengirimkan pesan untuknya.
To : Sean Keith
Maaf untuk kejadian sore tadi.
~
From : Sean Keith
It’s okay.
~
To : Sean Keith
Aku akan menonton penampilan kalian.
~
From : Sean Keith
Aku kecewa setelah membaca pesan terakhir Sean yang tidak menginginkanku hadir disana. Kenapa dia masih begitu marah untuk hal sepele seperti ini? Bagaimana lagi aku harus menjelaskan padanya agar tidak salah paham mengenai hubunganku dan Adam?
“Carol, ada apa?” Adam bertanya.
“Tidak.” Aku menggeleng dan aku baru menyadari bahwa mobil Adam sudah berhenti di depan sebuah gedung yang terlihat menarik. “Apa kita sudah sampai?”
“Ya, ini tempatnya. Kau harus lihat bagian dalam tempat ini. Aku yakin kau akan menyukainya. Tempat ini benar-benar hebat. Minuman dan makanannya benar-benar enak.” Adam bercerita dengan antusias dan aku menjadi semakin tidak sabar.
Jika aku masuk kesana, Sean akan terkejut. Dia akan senang melihatku datang dan kami bisa memperbaiki kesalahpahaman diantara kami, benar kan?
“Ayo masuk!” Adam keluar dari mobil dan aku mengikutinya.
Sayup-sayup aku mendengar suara musik dari dalam dan semakin terdengar jelas saat kami melangkah masuk. Adam tidak berbohong saat mengatakan bahwa tempat ini hebat. Nyatanya, tempat ini luar biasa. Gaya mewah dan masa kini dipadukan dengan sangat baik di tempat ini. Benar-benar sempurna.
“Bagaimana?” Adam menatapku cerah.
“Ini luar biasa.” Aku tersenyum.
Pandanganku menemukan sebuah panggung sederhana namun tetap terlihat keren di sisi kanan ruangan. Aku melihat Leo dan Brandon sedang bermain alat musik di atas panggung. Steve dan Lia berada di samping panggung –aku harus menyapa Lia nanti.
“Perkataanku benar, bukan? Kau pasti menyukai tempat ini.” Adam masih begitu antusias dan kami semakin dekat dengan mini bar.
Setelah berhasil melewati kerumunan orang, kedua mataku justru melihat pemandangan yang mungkin seharusnya tidak kulihat. Aku melihat Nic dan Julie sedang tertawa bersama, tapi bukan mereka yang menjadi perhatianku melainkan dua orang di belakang mereka. Aku tidak pernah berani membayangkan ini sebelumnya, tapi Sean benar-benar ada disana. Dia dan Tina. Dia tersenyum dan membiarkan Tina mengusap kepala dan memainkan rambutnya.
Hatiku sakit. Aku merasa sesak secara tiba-tiba. Maksudku, bagaimana Sean bisa melakukan itu? Dia marah padaku beberapa jam lalu hanya karena aku berdiskusi dengan Adam mengenai tugas kami, tapi dia bahkan melakukan sesuatu yang lebih disini. Bersama wanita yang tidak menyukaiku dan tidak kusukai.
“Carol!” Suara Julie cukup keras hingga membuat Sean dan Tina menoleh bersamaan. Tina hanya tersenyum meremehkanku seperti biasa sementara Sean langsung berdiri dengan wajah terkejut. Dia terlihat seperti baru saja tertangkap basah.
“Carol? Apa yang kau lakukan disini? Aku sudah mengatakan padamu untuk tidak datang.” Sean berjalan mendekatiku tapi aku memintanya menjaga jarak dengan merentangkan satu tanganku ke depan.
“Kenapa? Agar aku tidak mengetahui apa yang kau lakukan dengan Tina?” tanyaku.
“Kami tidak melakukan apa-apa.” Sean menatapku seolah aku yang bersikap konyol disini.
“Kau bahkan tidak mau mendengar penjelasanku hanya karena melihatku dan Adam saat kami mengerjakan tugas bersama dan kau berada disini dengan wanita itu.”
“Kenapa kau marah untuk hal yang sepele dan tidak jelas seperti ini?”
Aku tidak percaya Sean akan mengatakan itu padaku. Sepele dan tidak jelas? Jari-jari lentik milik Tina baru saja membelai wajahnya beberapa detik lalu dan Sean mengatakan itu hanya hal sepele dan tidak jelas?
“Aku marah untuk hal yang sepele dan tidak jelas?” Aku mengulangi ucapannya. “Kau memarahiku untuk kesalahan yang tidak kulakukan, tapi kau tidak mau disalahkan atas kesalahan yang kau lakukan? Ada apa denganmu?” tanyaku tidak habis pikir.
“Kalau kau datang kesini hanya untuk mengajakku bertengkar, sebaiknya lakukan itu nanti.”
“Apa? Sean, kau tahu bukan itu maksudku.”
“Lalu apa? Kau ingin mendengar permintaan maaf dariku? Lupakan. Aku tidak akan melakukannya, jadi lebih baik kau kembali ke rumah sekarang.”
“Cukup! Kau sudah keterlaluan, Sean.” Adam maju dan berdiri diantara Sean dan aku. “Kenapa kau tidak bisa memperlakukannya dengan baik?”
“Apa ini? Jadi kau datang bersama pria ini, Carol?” Sean mendengus. Dia menatapku dengan tatapan meremehkan yang biasa Tina berikan padaku dan itu menyakiti hatiku bahkan jauh lebih sakit.
“Brengsek! Kau tahu Carol kesini hanya untuk…”
“Adam, hentikan!” Aku memotong sebelum Adam menyelesaikan ucapannya. “Kita pulang saja.”
“Apa?!”
“Lagipula ini sudah malam. Nenekku pasti sudah menunggu.” Aku mencoba memberikan senyuman padanya dan meyakinkan bahwa aku baik-baik saja.
“Tapi, Carol…”
“Aku akan pulang sendiri kalau begitu.” Aku berbalik. Sempat melihat Nic yang terlihat canggung dan Julie yang menatapku sedih, tapi aku hanya tersenyum pada mereka berdua dan segera meninggalkan tempat itu.
“Carol, tunggu aku! Aku akan mengantarmu pulang.” Adam menyusulku kemudian saat aku sudah berada di luar gedung.
Sepanjang perjalanan pulang, aku tidak mengatakan apa pun padanya dan Adam sepertinya mengerti suasana hatiku yang sedang buruk. Yang hebat adalah, kali ini aku tidak menangis. Entahlah, mungkin menghadapi perubahan sikap Sean beberapa kali sudah membuatku terbiasa atau aku mulai lelah. Aku rasa keputusanku untuk menjalin hubungan dengannya memang tidak tepat dan terlalu terburu-buru. Terlalu banyak yang tidak kami ketahui tentang satu sama lain. Aku ragu untuk bisa bertahan dengan sikapnya yang seperti ini. Belum satu minggu tapi aku sudah merasa begitu lelah.
__ADS_1
Aku turun dari mobil Adam dan mengucapkan terima kasih padanya. Aku bersyukur dia tidak mengungkit apa pun tentang kejadian tadi sampai kami tiba di rumahku. Adam berbaik hati turun dari mobilnya untuk mengantarku sampai ke depan pintu. Aku rasa Marrie tidak datang hari ini, karena aku tidak mendengar suara dari dalam rumah.
“Terima kasih sudah mengantarku.” Aku tersenyum sebisaku pada Adam.
“Ini bukan apa-apa. Selamat tidur, Carol.”
“Kau juga. Hati-hati.” Kataku dan melambai saat Adam akan pergi.
Setelah mobil Adam tidak terlihat lagi, aku berbalik dan masuk ke dalam rumah. Ketika memasuki ruang tengah, betapa terkejutnya aku saat melihat nenekku terbaring di lantai dengan mata terpejam. Aku berlari menghampirinya, membawanya ke dalam dekapanku dan tangisku pecah. Tanganku bergetar saat aku mencoba menghubungi ambulans. Ini terlalu mendadak.
Tidak sampai sepuluh menit, suara sirine mulai terdengar mendekat. Beberapa petugas datang memasuki rumah dan dengan tanggap membawa tubuh nenekku, lalu meletakannya diatas ranjang beroda. Alat bantu pernapasan sudah dipasang sebelum mereka membawanya masuk ke dalam mobil. Aku baru saja akan ikut naik saat suara Marrie membuatku menoleh.
“Apa yang terjadi, Carol?” Wajahnya terkejut sekaligus bingung.
“Nenekku…” Aku tidak sanggup melanjutkan ucapanku karena airmata kembali mengalir deras dan Marrie langsung mendekapku.
“Kami harus segera membawanya.” Seorang petugas menghampiri kami.
Aku melepaskan diriku dari Marrie dan masuk ke dalam mobil sambil terisak.
“Aku akan menyusulmu, Carol.” Marrie memberitahu sebelum pintu ditutup dan aku hanya mengangguk.
Aku duduk di samping tubuh nenekku yang terbaring sambil menggenggam satu tangannya. Berdoa di dalam hati agar nenekku baik-baik saja.
“Nenekmu akan baik-baik saja.”
Aku mendongak menatap seorang petugas pria yang tersenyum mencoba menenangkanku. Dia baru saja mengecek keadaan nenekku dan mencatat sesuatu di kertas yang dia bawa.
Aku mengangguk kecil. “Aku harap begitu.”
Perjalanan menuju rumah sakit terasa begitu menegangkan untukku, apalagi saat aku harus menunggu sendirian saat nenekku dibawa ke dalam ruang ICU. Kedua tanganku bergetar hebat dan aku tidak bisa menghentikannya.
“Carol.”
Aku menoleh saat mendengar suara Marrie dan bersyukur dia segera datang menyusul, tapi saat melihat orang yang ikut berjalan di belakangnya, suasana hatiku menjadi lebih buruk. Aku tidak ingin melihatnya sekarang. Tidak disaat aku sedang dalam keadaan rapuh seperti ini. Aku tidak mau dia mengasihaniku.
“Bagaimana?” Marrie bertanya saat dirinya sudah duduk di sampingku. Sean hanya berdiri dan sedikit menjaga jarak. Aku senang dia melakukan itu, dia bahkan seharusnya tidak ikut datang.
“Mereka masih memeriksanya.” Aku menjawab.
“Apa yang terjadi?” Marrie kembali bertanya.
Aku menggeleng. “Aku tidak tahu. Nenek sudah pingsan saat aku datang. Dia selalu baik-baik saja selama ini. Bagaimana kalau sesuatu terjadi padanya?” Airmataku masih terus mengalir. Aku tidak akan bisa hidup jika terjadi hal buruk pada nenekku.
“Jangan bicara seperti itu. Tidak akan terjadi apa-apa pada Kate. Kau harus percaya itu.” Marrie memelukku dan aku bersyukur memiliki seseorang seperti dirinya disaat seperti ini.
Seorang dokter keluar dan aku segera berlari mendekatinya. Dia memberikan sebuah senyuman yang aku harap adalah pertanda baik.
“Nyonya Kate akan baik-baik saja. Dia hanya mengalami serangan jantung ringan. Dia dibawa kemari tepat waktu jadi dia akan baik-baik saja sekarang. Kami akan memindahkannya ke ruang perawatan.”
Aku menghela napas lega dan tubuhku langsung terasa lemas seketika, seperti seluruh tenagaku hilang entah kemana. Sebelum kesadaranku menghilang, aku mencium aroma tubuh Sean dan dekapan hangat yang membungkus tubuhku.
***
Sayup-sayup, aku mendengar suara tawa sebelum cahaya menyambutku ketika membuka mata. Langit-langit yang menyambutku bukanlah langit kamarku. Bau obat begitu menyengat disini. Aku menoleh dan melihat nenekku duduk serta mengobrol bersama Marrie di atas ranjang. Nenekku mengenakan pakaian rumah sakit. Selang infus masih tertanam di punggung tangan kanannya. Aku bangkit dan mereka langsung menoleh ke arahku.
“Carol, kau sudah sadar?” Marrie menyapaku dengan senyuman.
Aku mengangguk dan turun dari tempat tidur, lalu mendekati nenekku yang kini sudah terlihat baik-baik saja. Dia tersenyum padaku, tapi airmataku justru menetes. Aku langsung memeluknya erat-erat.
“Jangan meninggalkanku. Kau harus berjanji.” Ucapku lirih dan mengeratkan pelukanku.
“Aku janji.” Nenek menyambut pelukanku dan juga mengusap punggungku. “Kau pasti terkejut, ya? Maafkan aku.”
Aku menggeleng. “Maafkan aku. Aku tidak ada untuk menemanimu kemarin. Apa yang terjadi?” Aku merenggangkan pelukan kami dan menatap wajah nenekku yang berubah sedih.
“Kita akan bicara nanti.” Nenek menepuk pipiku pelan dan tersenyum. “Kau harus sarapan.”
Saat itu juga, Sean datang dengan membawa sebuah nampan yang diatasnya tersedia makanan dan segelas susu. Dia memberikan sebuah senyuman untukku, tapi aku mengabaikannya dan memilih kembali ke atas tempat tidurku. Aku baru sadar bahwa aku juga mengenakan pakaian pasien.
“Kau harus makan, Carol. Aku membawakan sarapan untukmu.” Sean menghampiriku, meletakan nampan tersebut di atas meja portable yang ada di ranjang rumah sakit ini.
“Aku tidak lapar.”
“Dokter bilang kau pingsan karena kelelahan dan perutmu kosong.” Marrie memberitahu.
“Kau harus makan, Carol.” Nenekku juga ikut berbicara.
Ini menyebalkan. Sean memanfaatkan keadaan untuk bersikap baik padaku agar nenek dan Marrie tidak tahu kelakukan buruknya sebelum ini. Aku tidak bisa tahan melihatnya bersikap baik di hadapan orang lain setelah dia menyakitiku sebelumnya. Dengan begitu terpaksa aku mengambil sendok dan mulai menyantap makanan yang Sean bawakan untukku.
“Maafkan aku.” Sean berucap pelan hingga hanya aku yang dapat mendengarnya, tapi aku mengabaikannya. Aku hanya fokus untuk menghabiskan makananku sementara dirinya masih duduk menungguku selesai.
“Kami sudah membicarakan ini, kau dan Kate akan tinggal di rumah kami untuk sementara waktu.” Marrie memberitahuku setelah aku menghabiskan segelas susu.
“Kenapa?”
Marrie memandang Kate sejenak sebelum kembali tersenyum padaku. “Hanya, untuk memastikan Kate pulih dengan sempurna.”
“Kenapa harus tinggal di rumah kalian?” tanyaku mendesak, karena tidak puas dengan jawaban yang Marrie berikan. “Apa yang sebenarnya terjadi kemarin?”
“Carol, sebenarnya..”
“Ada orang asing yang mencoba masuk ke rumah kalian.” Sean memotong ucapan Marrie dan aku terkejut bukan main mendengarnya. “Itu yang membuat nenekmu pingsan.”
“Siapa? Siapa yang ingin mencoba masuk?” Aku beralih pada nenekku dan menuntut jawaban. “Apa orang itu?”
“Tidak, Carol. Bukan dia.” Nenekku membantah dengan cepat.
“Lalu siapa?”
“Itu masih diselidiki oleh polisi jadi akan lebih aman kalau kalian tinggal bersama kami untuk sementara waktu sampai keadaannya membaik.” Marrie menjelaskan.
“Tapi barang-barangku..”
“Sean dan aku sudah membereskannya.” Marrie menyahut. “Kamarmu juga sudah disiapkan. Kate akan tidur denganku di lantai bawah.”
Aku menghela napas mendengar betapa mereka sudah menyiapkan semuanya disaat aku kehilangan kesadaran. Tapi kenapa begitu cepat? Mereka menyiapkannya hanya dalam satu malam.
“Kau tidak sadarkan diri selama dua puluh empat jam penuh.”
Ucapan Sean lagi-lagi membuatku terkejut hingga akhirnya aku menatap wajahnya langsung. Sean tersenyum samar menatapku. Sorot matanya masih menunjukkan penyesalan, tapi aku mencoba mengabaikannya. Aku kembali melihat nenek dan Marrie, mereka mengangguk mengiyakan ucapan Sean barusan.
“Kalian sudah diperbolehkan keluar dari rumah sakit hari ini. Kalau kau sudah lebih baik, kita bisa mulai bersiap, bagaimana?”
Aku mengangguk menyetujui ucapan Marrie. Dia membantu nenekku menuju kamar kecil untuk berganti pakaian. Aku menolak saat Sean akan membantuku, tapi dia tidak mendengarkan. Dengan seenaknya dia membereskan semuanya.
“Kau tidak perlu bersikap baik, tidak ada nenekku atau Marrie disini.” Kataku, tanpa melihatnya.
Sean menghembuskan napas dan duduk di hadapanku. Aku tidak ingin melihatnya, tapi Sean menggenggam kedua tanganku dan membuatku terpaksa menatapnya. “Maafkan aku. Aku tahu aku sudah melakukan hal yang bodoh. Aku menyakitimu, tapi aku bersumpah tidak memiliki hubungan apa pun dengan Tina. Dia hanya membantu merapikan rambutku. Dia bilang ada debu di kepalaku jadi dia membantuku membersihkan dan merapikannya. Hanya itu.”
“Hal yang sama juga berlaku pada diriku dan Adam, tapi kau tidak mau mendengar atau pun mengerti.” Aku membalas ucapannya dengan nada pelan –hampir seperti putus asa.
“Aku tahu. Aku tahu. Aku benar-benar minta maaf. Aku hanya..”
“Kau tidak percaya padaku, Sean.” Aku memotong ucapannya. “Kita tidak bisa melanjutkan ini jika kau masih tidak percaya padaku.”
“Jangan bicara seperti itu.” Sean mengeratkan genggaman tangannya. “Aku tidak akan mengulanginya lagi. Aku janji.”
“Adam adalah sahabatku. Kau harus mengerti itu.”
“Ya, aku mengerti.” Aku melihat raut wajah Sean, dia masih terlihat tidak rela.
“Adam pria yang baik, jadi kuharap kau juga bisa bersikap baik padanya.”
“Akan kucoba.” Sean menghela napas sambil menunduk, lalu kembali menatapku. “Jadi?”
Aku mengangguk kecil dan wajah Sean berubah menjadi cerah. Maksudku, dia langsung tersenyum seperti biasanya dan memelukku erat.
“Terima kasih.” Dia berbisik dan aku tersenyum di pundaknya.
Aku tidak tahu apa yang akan kami lewati selanjutnya, tapi yang aku yakini saat ini adalah aku akan baik-baik saja jika Sean bersamaku. Entah sejak kapan aku merasa begitu nyaman di dalam dekapan seorang pria dan itu hanya pada Sean, tidak ada yang lain.
***
__ADS_1