
Mimpiku terusik saat aku merasakan adanya usapan-usapan lembut di kepala dan wajahku. Saat aku membuka mata, betapa terkejutnya aku mendapati wajah Sean yang begitu dekat. Ia berjongkok di samping tempat tidurku, menatapku dan tersenyum. Sama sekali tidak terganggu dengan reaksi kaget yang aku tunjukkan.
“Selamat pagi.” Ucapnya santai.
“Apa yang kau lakukan di sini?” aku bertanya. Sedikit memundurkan tubuhku untuk menciptakan ruang di antara kami.
“Awalnya aku diminta untuk membangunkanmu, tapi cukup menyenangkan melihatmu tertidur nyenyak, jadi yah seperti yang kau lihat sekarang.”
“Apanya yang menyenangkan dari memperhatikan orang tidur?” tanyaku lagi sambil menahan senyum.
“Karena kau cantik.” Jawaban Sean membuat kedua pipiku memanas.
“Jangan menggodaku.” Aku bergerak gugup dan hendak bangun, tapi Sean menarik satu tanganku untuk kembali berbaring. Kemudian dengan begitu cepatnya ia bergabung denganku. “Sean, apa yang kau lakukan?” Aku terkejut dan berusaha untuk menjauh, tapi Sean menahanku dengan kekuatannya. “Marrie bisa memergoki kita.”
“Mereka sedang sibuk membuat sarapan. Kau tenang saja.” Sean menjawab dengan santai dan mulai memejamkan kedua matanya dengan satu tangan yang masih mengurungku.
“Aku harus membantu mereka.” Aku kembali menyuarakan alasan agar terbebas dari dekapannya, tapi Sean seolah tidak peduli.
Beberapa menit aku melakukan pemberontakan sebelum akhirnya menyerah karena aku tahu itu sia-sia. Semakin aku meronta, semakin erat Sean mendekapku.
“Aku ingin tidur sepuluh menit lagi. Bangunkan aku setelahnya.” Ucap Sean dengan suara menyerupai bisikan.
“Okay, tapi kau harus melepaskanku dulu.”
“Tidak, kau harus menemaniku.” Sean menarikku lebih dekat hingga tidak ada lagi jarak di antara kami berdua. Suara debaran jantungku terasa begitu keras hingga aku khawatir Sean akan mendengarnya. “Aku senang kau tinggal di sini bersamaku.”
“Hanya sementara.” Aku mengoreksi.
“Lain kali, kunci pintu kamarmu.”
“Kenapa?” Keningku berkerut. Aku mendongak menatap Sean yang masih memejamkan kedua matanya. Dari jarak sedekat ini, aku bisa merasakan hembusan napasnya yang hangat dan aku merasa nyaman.
“Karena aku bisa saja masuk ke kamarmu saat kau tidur.”
“Kau sudah melakukannya tadi.” Aku mengingatkan sambil menahan senyum.
__ADS_1
Sean membuka mata dan sedikit menunduk untuk menatapku. Pandangan kami bertemu dan aku menahan napasku. “Kau beruntung karena aku datang saat pagi tadi. Aku tidak bisa menjamin apa yang akan terjadi jika aku datang pada malam hari. Aku mungkin tidak hanya menatap atau mengusap kepalamu saja.”
“Aku tahu kau tidak hanya akan melakukan itu.” Aku masih menanggapinya dengan candaan, tapi Sean menatapku begitu dalam hingga membuatku salah tingkah.
“Aku ingin menciummu.” Sean berbisik. Satu tangannya yang merengkuhku kini naik dan menangkup sisi wajahku.
Usapan lembut ibu jarinya di pipiku membuatku menahan napas seketika. Sean menatapku, menunggu. Kemudian ketika aku tidak menunjukkan penolakan, ia mendekatkan wajahnya hingga bibirnya mencapai bibirku. Sean hanya menempelkannya sesaat sebelum bibirnya mulai bergerak. Ciumannya memabukan, sama seperti pertama kali.
Dalam hitungan detik, aku sudah berada di bawah kendalinya. Sean mengusap pipiku tanpa melepaskan ciuman kami yang berlangsung selama beberapa saat sebelum akhirnya berakhir karena suara Marrie terdengar. Aku buru-buru mendorong dada Sean dan ia tertawa melihat wajahku yang sepertinya sudah memerah.
“Ayo kita turun.” Sean berdiri dan menarik satu tanganku untuk membantuku berdiri.
“Aku harus ke toilet dulu.”
“Okay, aku tunggu di bawah.” Sean mengecup keningku sebelum meninggalkanku sendirian di kamar.
Aku menghela napas. Menuju kamar mandi yang ada di dalam kamar dan menatap wajahku di cermin untuk beberapa saat sebelum membasahinya dengan air. Ini hari Senin dan masa istirahatku sudah berakhir. Setelah menimbang, aku memutuskan untuk mandi sekaligus agar tidak membuang waktu.
“Oh, ini dia! Selamat pagi, Sayang.” Suara ceria Marrie menyambut saat kakiku menyentuh lantai bawah. Aku melihat nenekku, Marrie, Sean dan oh..ada James juga di meja makan. “Bagaimana keadaanmu pagi ini?”
“Aku baik. Terima kasih.” Aku berjalan mendekati meja makan. Duduk berseberangan dengan nenekku yang tersenyum lembut.
“Aku tidur dengan nyenyak, Nek.”
“Senang melihatmu sudah baik-baik saja, Carol.” James menyapaku dengan senyumannya. Dia rapi. Mengenakan kemeja dan dasi.
“Terima kasih sudah menerima kami di sini untuk sementara waktu.”
“Oh, itu tidak masalah. Aku senang kau di sini.” James tersenyum sebelum melirik ke arah Sean yang duduk di antara kami.
“Kenapa kau berpakaian rapi?” Sean bertanya.
“Untuk berangkat ke kampus, tentu saja.” Aku menjawab santai.
“Kau belum sembuh.”
__ADS_1
“Aku sudah baik-baik saja.” Aku meyakinkannya dan Sean hanya menghela napas, tak ingin mulai berdebat denganku. “Kau tidak ada kelas hari ini?” tanyaku.
“Ada, siang nanti.” Sean menjawab singkat.
Kemudian acara sarapan kami berjalan dengan tenang hingga selesai. James pamit pergi lebih dulu sementara aku membantu Marrie membereskan perlengkapan makan kami. Nenek pergi ke halaman belakang, entah melakukan apa, sementara Sean tadi memintaku menunggu karena dia harus berganti pakaian. Dia bersikeras ingin mengantarku.
“Bagaimana hubungan kalian?” Marrie membuka percakapan ketika kami tengah mengeringkan piring-pirung yang sudah selesai dicuci.
“Sejauh ini, kami baik-baik saja.” Aku tersenyum.
“Sean cukup menyebalkan, ya?” Marrie menatapku kali ini sambil menunggu jawaban. “Kudengar kalian sempat bertengkar kemarin.”
“Hanya pertengkaran biasa.” Aku kembali tersenyum.
“Aku harap kau tidak bosan pada kelakuannya.” Marrie mengusap lenganku dengan penuh perhatian. “Sejujurnya aku sudah sangat menyukaimu dan Kate. Kalian sudah kuanggap sebagai keluarga.”
“Terima kasih, Marrie. Kami benar-benar beruntung mengenalmu.”
“It’s okay, Dear.”
“Sudah selesai?” Sean datang menghampiri kami. Dia sudah mengenakan T-Shirt hitam dan celana jeans panjang.
Aku mengangguk. “Aku harus mengambil tas di kamar.”
Sean menunjukkan ranselku yang sudah ada di tangan kanannya sambil tersenyum. “Aku sudah mengambilnya.”
Perhatian-perhatian kecil yang Sean lakukan ini yang membuatku menyukainya. Hal itu juga yang membuatku yakin bahwa Sean memang bukan pria jahat dan aku benar-benar berharap hubungan kami akan menjadi lebih baik setelah ini.
Setelah berpamitan pada Marrie dan menitipkan salamku untuk nenek, aku dan Sean bersama-sama keluar menuju mobilnya yang terparkir di garasi samping. Pagi ini cuacanya cukup cerah dan melihat Sean yang tersenyum menatapku membuat hari ini terasa lebih baik.
“Jam berapa kelasmu selesai?” Sean bertanya ketika kami sudah berada di dalam mobil.
“Sekitar jam dua.”
Ia hanya mengangguk dan mobil dengan cepat meninggalkan garasi.
__ADS_1
Kami menikmati menit-menit pertama perjalanan dengan keheningan. Rasanya menyenangkan. Duduk di samping Sean sudah menjadi satu hal yang membuatku nyaman.
***