BEFORE YOU

BEFORE YOU
Chapter 2


__ADS_3

Minggu pertamaku memulai kuliah di universitas yang baru cukup menyenangkan. Aku belum memiliki teman selain Adam sejauh ini, tapi aku tidak peduli. Berkumpul dengan anggota dalam jumlah besar bukanlah gayaku. Aku bahkan tidak benar-benar memiliki teman di universitas yang lama. Aku yakin mereka tidak akan terlalu menyadari bahwa aku sudah pindah dari sana.


Sekarang sudah jam tiga sore dan ini hari Jumat, sepertinya aku terlalu menikmati pelajaran hingga tidak menyadari kalau waktu berjalan begitu cepat hari ini. Aku sudah menyiapkan beberapa rencana untuk menghabiskan waktu nanti malam. Menonton film sepertinya menyenangkan, tapi aku belum tahu apakah di sekitar sini ada bioskop atau tidak. Oh, mungkin aku harus bertanya pada Adam dan mencoba mengajaknya jika dia mau.


“Carol.” Baru saja aku mendapatkan ponselku dari dalam tas ketika suara yang kukenal itu terdengar. Aku mendongak dan menemukan Adam sudah berdiri disana sambil tersenyum.


“Oh, hai! Aku baru saja ingin menghubungimu.” Kataku dan menyimpan kembali ponselku ke dalam tas.


“Benarkah?”


“Ya, aku ingin bertanya apa kau punya waktu nanti malam. Sebenarnya aku ingin menonton film, tapi aku tidak tahu dimana ada bioskop di sekitar tempat ini dan kau bisa ikut jika kau mau.”


“Jadi kalau aku tidak pergi, kau akan menonton film sendirian?” tanyanya heran.


“Ya, kenapa tidak?”


“Bukankah agak aneh? Pergi menonton film sendirian. Atau kau memang sering melakukannya?” Dia bertanya lagi.


“Kau akan terbiasa melakukannya sendiri jika kau adalah anak tunggal. Aku tidak memiliki saudara yang bisa kuajak jalan bersama.” Aku menjawab dengan nada bercanda.


“Bagaimana teman-temanmu di tempat yang sebelumnya?”


“Aku tidak memiliki teman yang bisa diajak pergi atau mengobrol diluar jam pelajaran.” Aku tersenyum tipis dan menunduk –memainkan kuku jari tanganku.


“Yah, itu bukan masalah besar.” Adam tersenyum dan aku menarik napas lega. “Jam berapa kau ingin kita pergi?” tanyanya dan aku cukup terkejut.


“Kau mau ikut menemaniku?” Suaranya terdengar lebih tinggi dari yang seharusnya. “Terima kasih, Adam.”


“Itu bukan masalah. Aku tidak mungkin membiarkanmu pergi sendiri.” Adam bersikap begitu sopan. “Apa aku harus menjemputmu? Tapi aku belum tahu di mana rumahmu.”


Aku memberitahunya alamat rumahku dan dia mengatakan letaknya searah dengan jalan menuju bioskop dan aku semakin bersemangat. Setidaknya dia tidak perlu bolak-balik hanya untuk menjemputku agar kita bisa sama-sama pergi ke bioskop.


“Aku akan menjemputmu jam enam tiga puluh, bagaimana?” tanyanya.


“Good.” Aku mengangguk setuju dan kami berpisah karena Adam masih harus menghadiri kelas lain sementara aku sudah bebas.


Aku kembali melirik jam tanganku dan sekarang sudah jam tiga lebih tiga puluh lima menit. Aku bergegas meninggalkan area kampus dan menunggu di ujung jalan karena jika sesuai dengan jadwal yang kudapatkan, bus selanjutnya akan tiba dalam sepuluh menit.


Jam empat lebih dua puluh menit ketika aku tiba di rumah dan menemukan nenek bersama Marrie sedang berkutat di dapur. Aku rasa mereka sedang mencoba membuat kue karena aku bisa mencium aroma yang manis dan membuatku lapar. Melihat Marrie, aku jadi ingat bahwa aku tidak lagi melihat Sean setelah makan malam itu. Dia bahkan tidak ada di tempat kuliah padahal aku beberapa kali melihat rombongannya berkeliaran di sekitar kampus.


“Oh, aku tidak tahu kau sudah pulang, Carol.” Marrie menyapaku dari balik counter dan aku menghampiri mereka sambil tersenyum. “Kau mau mencobanya? Ini resep baru.” Dia menawarkan sepiring cupcake coklat ke hadapanku.


“Tentu.” Aku mengambil salah satu yang masih hangat dan mencicipinya. Ini lezat dan hangat, jadi perutku sedikit merasa lebih rileks. “Ini enak sekali. Sungguh.”


“Well, resep kami berhasil kalau begitu.” Marrie tersenyum riang dan aku melihat nenekku juga terkekeh. Walaupun berstatus sebagai bibi dari Sean, tapi Marrie sebenarnya adalah seorang wanita dewasa yang cantik, bersemangat dan dia masih sendiri.


“Nek, aku ingin pergi dengan temanku malam ini, boleh?” Aku meminta ijin.


“Tentu, Carol. Ini Jumat malam dan kau memang seharusnya pergi dengan teman-temanmu. Jangan khawatirkan aku.” Nenek mengijinkan dan aku senang.


“Ya, tentu saja. Aku akan menemani nenekmu disini. Tidak apa, kan?”


“Dengan senang hati.” Nenek menjawab.


“Great. Aku akan ke kamar dan bersiap-siap kalau begitu.” Aku tersenyum lega dan menuju kamarku untuk bersiap-siap.


Aku menghabiskan lima belas menit untuk mandi dan sekarang aku sedang memilih pakaian dari lemari. Pilihanku jatuh pada sebuah celana jins biru tua, atasan tanpa lengan berwarna peach dan membuat rambutku terurai. Sambil menunggu, aku mencoba mencari informasi tentang film yang sedang tayang dan aku senang ketika Beauty and The Beast masih tersedia. Oh, aku harus mendiskusikan ini dengan Adam. Aku tidak yakin dia akan setuju jika kami menonton film ini nantinya, tapi aku akan mencoba.


Aku keluar dari kamar setelah memastikan bahwa aku sudah siap dan membawa semua yang aku perlukan. Aku juga membawa sweater abu-abu kesayanganku. Aku dan angin malam bukanlah teman yang baik dan aku tidak mau mengambil resiko terserang flu besok. Tidak disaat aku ingin menikmati akhir pekan dengan damai.


Aku melihat Marrie sedang berbicara dengan seseorang melalui ponselnya sementara nenekku menata beberapa cupcake di kotak transparan ketika mencapai dapur. Marrie sepertinya terlibat dalam percakapan yang serius, aku tidak tahu, tapi terkadang dia berbicara keras, mengumpat dan membentak sambil memijat pelipisnya. Mungkin ini ada hubungannya dengan Sean? Kenapa aku harus peduli?


“Jam berapa kau akan pergi?” Nenek bertanya saat aku menempatkan bokong di salah satu kursi di depan counter.


“Hm, Adam akan datang dalam lima belas menit.” Aku menjawab sambil melirik jam dinding.


“Jadi dia seorang pria dan namanya Adam?” Nenekku tersenyum penuh harapan dan aku hanya mengerang kecil.


“Dia hanya temanku di kelas yang sama. Hanya dia yang menyambutku saat hari pertama dan aku cukup nyaman bicara dengannya.” Aku menjelaskan.


“Itu bagus. Kau bisa memulai semuanya dari awal disini dan aku harap kau menyukai tempat ini.” Nenekku tersenyum lagi, tapi aku melihat perubahan sorot matanya.


“Aku suka disini. Sungguh.” Aku meyakinkannya. “Apa kau juga suka tinggal disini?”


“Tentu. Selama kau ada bersamaku dan jangan lupakan Marrie. Dia benar-benar seperti ibumu. Aku terhibur sepanjang hari karena dia menceritakan banyak hal lucu.” Nenek terkekeh dan aku benar-benar merasa lega memiliki tetangga seperti Marrie.


“Aku senang mendengarnya.” Aku tersenyum senang.


“Ya Tuhan, aku tidak tahu kenapa harus berhadapan dengan ayah dan anak yang sama-sama menyebalkan.” Marrie mendatangi kami dengan mengerang kesal sambil menyeka rambut yang ada di keningnya.


“Minum ini dulu.” Nenekku memberikannya segelas jus mangga yang dingin dan dia meneguknya sampai habis, lalu menghela napas panjang.


“Terima kasih.” Marrie duduk di sebelahku setelah itu.


“Kau ingin menceritakannya?” Nenekku memulai ketika kami hanya diam selama lima menit yang lalu.


“Aku butuh anggur untuk bisa menceritakan semuanya.” Marrie menjawab.


“Minum tidak baik untuk kesehatanmu.” Nenekku memberitahu.


“Yah, kau benar.” Marrie menghela napas. “Aku hanya sakit kepala karena menghadapi Sean dan ayahnya. Mereka bertengkar sepanjang waktu dan aku tidak punya kesempatan untuk bicara.”


Perkiraanku benar. Ini semua tentang Sean dan aku prihatin melihat wajah sedih Marrie. Namun belum sempat aku mengatakan sesuatu, bunyi bel disertai ketukan di pintu membuatku mengalihkan pandangan. Itu pasti Adam.


“Apa kau mau membawa beberapa kue? Untuk di jalan?” Nenekku menawarkan dan aku melihatnya sudah mempersiapkan sebuah kotak bekal kecil dengan beberapa kue di dalamnya. Tidak mungkin aku menolak.


“Terima kasih, Nek.” Aku mengambilnya dan tersenyum. “Aku pergi dulu kalau begitu.”


“Nikmati waktumu.” Nenekku tersenyum diikuti oleh Marrie yang walaupun mencoba bersikap ramah tapi aku tahu senyumnya dipaksakan karena sebenarnya suasana hatinya sedang buruk.


Aku membuka pintu dan menemukan Adam sudah berdiri di sana dengan senyumannya yang riang. Dia sama sepertiku. Menggunakan jins panjang berwarna hitam dan sweater berwarna hijau tua. Dia terlihat santai tapi tetap rapi.


“Hai. Kau sudah siap?” Dia bertanya. “Apa aku harus menyapa nenekmu dulu?”


Aku menoleh ke belakang, ke arah dapur dan melihat Marrie sedang terisak pelan dengan nenekku yang sabar mengelus punggungnya. Ini bukan waktu yang tepat. Marrie pasti mendapatkan masalah yang cukup besar kali ini. Aku kasihan padanya, tapi aku tidak mungkin membatalkan janjiku dengan Adam.


“Mungkin lain kali saja.” Aku menjawabnya setelah beberapa saat. “Ayo pergi.”


“Tentu.” Adam tersenyum dan kami berjalan menuju mobilnya.


“Nenekku membuat beberapa kue tadi, kau mau mencobanya?” tanyaku setelah kami di dalam mobil dan aku menyodorkan padanya kotak yang disiapkan nenekku.

__ADS_1


“Wow, ini enak sekali, Carol.” Adam berkomentar setelah mencicipinya dan aku senang. “Terima kasih.”


“Ini bukan apa-apa.” Aku membalas. “Oh ya, aku ingin bertanya apa mungkin kau tidak keberatan jika kita menonton Beauty and The Beast? Aku tahu itu hanya kisah dongeng yang sekarang diperankan oleh manusia, tapi aku ingin melihatnya.”


“Hei, aku hanya menemanimu, jadi kau bebas memilih film apa pun yang ingin kau lihat.” Adam memberikan respon yang membuatku senang dan lega sekaligus. “Jangan terlalu canggung padaku. Kita ini teman, bukan?”


“Terima kasih, Adam. Aku benar-benar beruntung bisa berteman denganmu.” Aku ikut tersenyum pada akhirnya dan Adam mulai menjalankan mobil meninggalkan rumahku.


Kami membutuhkan waktu sekitar dua puluh menit untuk sampai di pusat kota, lalu menemukan sebuah bioskop dan langsung membeli tiket karena jadwal pemutaran film selanjutnya dimulai hanya sekitar sepuluh menit lagi. Kami beruntung mendapatkan kursi di bagian tengah. Adam membeli popcorn serta dua gelas minuman dan kami sempat berdebat sedikit tentang siapa yang harus membayar itu semua karena dia sudah membeli tiket untuk kami sebelumnya, jadi aku yang membayar bagian ini.


Kami menikmati sepanjang film diputar, atau mungkin hanya aku, tapi Adam tidak mengeluh dan kami bahkan membicarakannya setelah keluar dari studio, jadi aku asumsikan bahwa dirinya juga ikut menikmati film. Tempat ini cukup ramai karena besok hari libur sehingga beberapa kali bahuku menyenggol orang yang lewat. Sekarang sudah jam delapan tiga puluh dan aku ingat kalau kami belum makan malam.


“Kau ingin makan sesuatu? Memang sudah terlambat tapi setidaknya kita harus mengisi perut.” Adam berbicara.


“Ya, tentu. Sepertinya aku memang mulai lapar.” Aku mengangguk setuju dan Adam tersenyum.


“Aku tahu tempat masakan Italia yang enak, tapi tidak di dalam sini. Kau mau coba kesana? Jaraknya tidak terlalu jauh. Hanya sekitar sepuluh menit berjalan kaki.”


“Sepertinya menyenangkan.” Aku menanggapi dan kami berjalan keluar meninggalkan mall yang ramai, menuju jalanan yang juga ramai.


Berjalan kaki seperti ini membuatku bisa mendapatkan udara segar. Yah, kalau dipikir aku belum punya kesempatan untuk berjalan-jalan sejak pindah ke tempat ini. Portland tempat yang cukup baik sejauh ini. Aku punya teman seperti Adam dan nenekku juga mendapatkan teman untuk diajak mengobrol dan bertukar resep masakan. Kami bisa memulai kembali hidup kami disini. Hanya aku dan nenekku.


“Carol, awas!” Aku melihat sinar lampu terang dan terdengar suara klakson mobil, lalu tubuhku ditarik ke belakang dan dirangkul dengan erat. Napasnya yang memburu terasa di telinga kananku dan aku memejamkan mata ketika perasaan itu kembali. Membuat aliran darah di dalam tubuhku seperti membeku, tetapi jantungku berpacu begitu cepat dan aku mulai panik. Ingatan-ingatan itu menghantuiku. Membawa semua ketakutan itu lagi setelah beberapa tahun berlalu.


Tuhan, jangan lagi..


“Jangan sentuh aku!” Aku meronta. Berusaha melepaskan diri dari dekapan yang terlalu erat itu.


“Carol, maaf, aku tidak bermaksud, hei apa kau baik?”


Aku tersentak ketika suara Adam kembali terdengar dan aku membuka mata. Dia sudah melepaskanku dan kini menatapku bingung. Jantungku masih berdebar keras dan aku mulai berkeringat.


“Ada apa denganmu?” Adam melangkah mendekatiku tapi aku mundur. Aku tidak bisa berdekatan dengan siapa pun sekarang. “Carol?”


“Maaf, Adam, aku rasa aku harus pergi sekarang. Maafkan aku..” Aku berbalik dan berlari, berharap dia tidak mengikutiku karena aku benar-benar butuh sendirian saat ini. Suaranya yang memanggil namaku masih terdengar sampai akhirnya aku berbelok di ujung jalan. Aku berjanji akan meminta maaf padanya nanti.


Entah berapa lama aku berlari dan mengambil jalan sembarangan, akhirnya aku berhenti karena hampir menabrak seseorang yang muncul tiba-tiba dari dalam gedung. Napasku putus-putus dan orang itu berbalik melihatku. Dia seorang wanita. Dengan baju yang menampilkan perutnya dan rok ketat yang jauh diatas lututnya. Dia menatapku tanpa mengatakan apa pun, tapi aku tahu sepertinya dia terganggu olehku.


“Sorry..” Aku akhirnya berbicara setelah cukup kuat untuk menggerakan mulutku.


“Kenapa berhenti?” Suara lain terdengar dan aku menoleh, wanita itu juga menoleh ke arah pintu dan aku terkesiap melihat Sean ada disana. Dia dan gerombolannya.


“Seseorang terlalu sibuk pada Jumat malam dan hampir menabrakku.” Wanita di depanku ini menjawab dengan nada yang menyebalkan. Aku tahu dia menatapku lagi, tapi aku tidak bisa mengalihkan pandanganku dari Sean yang terlihat begitu cuek seolah kami tidak saling kenal. Well, kami memang tidak bisa dibilang saling kenal, apalagi sudah lama aku tidak melihatnya. Oh, aku teringat Marrie yang menangis saat aku pergi. Apa itu ada hubungannya dengan Sean? Tapi pria itu terlihat biasa saja.


“Bukankah kau anak yang baru pindah itu?” Seorang pria berambut keriting menyapaku dan berdiri di samping wanita dengan perut yang terlihat tadi. Aku baru menyadari bahwa mereka kini ada di depanku dan berjumlah enam orang.


“Yah, itu aku.” Aku menjawab canggung. “Sebaiknya aku pergi. Maaf sekali lagi.” Aku berbicara pada wanita yang hampir kutabrak tadi dan berbalik pergi.


Sambil berjalan pelan, aku mulai mengatur kembali napas dan debaran jantungku. Aku juga mencoba mengingat jalan mana yang tadi aku lalui walaupun itu tidak berhasil. Semua jalan terlihat sama bagiku dan aku menyesal mendapat serangan panik disaat yang tidak tepat sebelumnya. Aku membutuhkan Adam untuk membawaku pulang.


Dering ponsel di dalam tas membuatku tersentak, tapi aku dengan cepat mengambilnya. Nama Adam muncul di layar dan aku bernapas lega.


“Carol, Tuhan! Syukurlah kau mengangkat teleponnya. Aku menelponmu belasan kali sejak tadi.” Suaranya yang terdengar khawatir dan lega menyapa telingaku ketika panggilan tersambung.


“Adam, maafkan aku. Aku tidak tahu apa yang terjadi beberapa saat yang lalu. Aku kehilangan kendali atas diriku sendiri dan…”


“Kau ada di mana sekarang?”


“Carol? Kau baik? Apa Sean ada disitu bersamamu?” Aku mendengar suara Adam di telingaku, tapi aku cukup terkejut melihat Sean datang menghampiriku. Sebelum aku tahu apa yang terjadi, Sean merebut ponselku dan menggantikanku untuk berbicara dengan Adam.


“Aku akan mengantarnya pulang, jadi kau bisa pergi.” Sean berbicara dengan Adam, tapi tatapannya hanya tertuju padaku dan aku belum bisa menemukan suaraku ketika dia mengembalikan ponselku. “Apa yang kau lakukan disini?” Dia bertanya.


Kenapa dia harus bertanya? Dan kenapa dia berbicara pada Adam dengan sangat tidak sopan? Kenapa aku tidak bisa mengatakan apa pun padanya?


“Aku pergi dengan temanku.” Aku menjawab setelah beberapa detik dan menyadari bahwa tenggorokanku kering.


“Biar kutebak. Adam?” Senyumnya meremehkan dan aku tidak suka itu.


“Ya, kau baru saja berbicara melalui telepon dengannya.”


“Lalu kenapa kalian terpisah?” Dia sepertinya tertarik atau mungkin hanya ingin menggangguku.


“Yah, semacam itu. Ini kesalahanku dan seharusnya dia sudah menemukanku sekarang jika kau tidak dengan seenaknya mengambil alih ponselku lalu bicara dengannya.” Aku memprotes.


“Aku tidak berbohong saat mengatakannya. Aku akan mengantarmu pulang.” Membetulkan tas gitar yang ada di bahunya. “Kau mau pulang sekarang, kan? Ayo ke mobilku.” Dia berjalan di depan dan aku mengikutinya di belakang. Tidak cukup dekat, tapi tidak terlalu jauh juga. Aku masih tidak mengerti kenapa aku malah ikut dengannya alih-alih menghubungi Adam lagi untuk menjemputku.


Ketika kami sampai di depan mobilnya yang terparkir, aku melihat sekeliling dan tidak menemukan gerombolannya. Tempat parkir ini sepi, tapi penuh diisi oleh mobil-mobil. Sean meletakan gitarnya di kursi belakang dan aku masuk ke mobil setelah dia menyuruhku. Ini kedua kalinya aku berada disini dan baru benar-benar menyadari bahwa disini beraroma pria. Seperti..ini beraroma Sean. Aku tidak tahu dia menggunakan parfum apa, tapi baunya enak dan aku belum pernah menemukan orang lain menggunakannya.


“Mereka tidak ada.” Sean menjawab pertanyaan di dalam kepalaku tentang keberadaan gerombolannya.


“Oh.”


“Apa? Kau ingin bergabung dengan mereka? Aku bisa membawamu.”


“Tidak.” Aku menjawab terlalu cepat dan aku malu setelah menyadarinya. “Maksudku, tidak usah. Aku lebih baik pulang.”


“Aku tahu.” Aku melihatnya tersenyum dan menyalakan mesin sebelum mobil keluar dari area parkir. “Apa yang kau lakukan disana?” Dia bertanya setelah kami sudah berada di jalan.


“Aku sudah mengatakannya tadi, aku pergi dengan Adam.”


“Maksudku, apa yang kalian lakukan?” Dia mengulang dengan sedikit tekanan di setiap kata.


“Menonton film dan tadinya berencana untuk makan malam.” Aku menjawab.


“Jadi kalian berkencan?” Sean mendengus geli.


“Apa? Tidak. Kami hanya pergi keluar bersama.” Aku membantah. Berkencan adalah hal terakhir yang aku pikirkan akan aku lakukan dan aku bahkan belum membayangkannya sama sekali.


“Terserah. Lagipula, itu bukan urusanku.” Dia mengangkat bahu dan bersikap acuh padahal dia yang memulai.


Setelah itu hening dan aku bingung harus mengatakan apa sampai akhirnya ingatan tentang Marrie mendatangiku. Apa dia masih berada di rumahku dan menangis di depan nenek? Apa ini ada hubungannya dengan Sean?


“Marrie menangis di rumahku tadi.” Tanpa bisa kucegah, mulutku lebih dulu berbicara.


“Dia?” Aku menangkap nada terkejut yang berusaha ia tutupi, tapi aku tahu. “Kenapa?”


“Aku tidak tahu. Menurutmu kenapa? Kau keponakannya dan kalian tinggal bersama.”


“Aku tidak kembali kesana beberapa hari ini.” Dia menjawab cepat dan pelan.


Oh, jadi itu alasan kenapa aku tidak melihatnya dalam seminggu ini. Dia pergi dan tidak pulang ke rumah.

__ADS_1


“Apa bibiku sering ke rumahmu?” Dia bertanya lagi.


“Yah, dia menyukai nenekku, kurasa. Mereka selalu sibuk di dapur untuk membuat sesuatu ketika aku selesai dengan kuliahku.”


“Itu bagus. Setidaknya dia tidak akan mengomeliku sepanjang hari dengan suaranya yang nyaring.” Aku tidak tahu Sean hanya bercanda atau sungguhan ketika mengatakan itu. Aku rasa dia tidak memiliki hubungan yang baik dengan Marrie.


“Dia keluargamu.” Aku mengingatkan dan dia mendengus.


“Dia selalu menganggapku seperti anak berusia lima tahun.”


“Nenekku juga melakukan yang sama.” Aku mengaku. “Apa sekarang kau akan pulang kalau begitu? Kurasa Marrie akan membutuhkanmu.”


“Aku tidak berpikir begitu. Dia mungkin mengatakan aku hanya akan menambah sakit di kepalanya.”


Sean begitu pesimis dan menyebalkan. Bagaimana dia bisa berbicara begitu tentang keluarganya? Tentang Marrie yang selama ini sudah begitu baik.


“Aku hanya penasaran apa yang terjadi hingga dia menangis.” Aku memberitahunya. “Dia mengatakan tentang seorang ayah dan anak yang menyebalkan.”


“Tentu saja dia akan mengatakan itu.” Sean terdengar sedikit kesal jadi aku yakin dia setidaknya mengerti apa yang sudah terjadi. “Aku tahu apa yang kau pikirkan tapi ini bukan tentangku. Aku yakin ayahku yang melakukannya.”


“Darimana kau tahu? Kau belum pulang selama hampir satu minggu.”


“Apa kau menghitungnya?” Alisnya sedikit terangkat saat dia menoleh untuk menatapku beberapa detik.


“Itu bukan poinnya.” Aku mengingatkan.


“Dengar, apa pun yang kau lihat atau dengar tentang yang terjadi pada keluargaku, diam saja, oke? Kau tidak perlu ikut campur atau memikirkannya. Dan jangan katakan pada siapa pun.” Dia menegaskan sekaligus menutup pembicaraan ini.


“Oke, kau tahu apa? Aku bahkan tidak berniat atau berpikir untuk mengatakan apa pun kepada siapa pun. Kenapa kau selalu menuduhku lebih dulu?” Aku mengutarakan kekesalanku dan menyadari bahwa suaraku lebih tinggi dari yang seharusnya.


“Hanya mengingatkanmu.” Dia mengangkat bahunya dan menginjak pedal gas lebih dalam.


Sisa perjalanan kami diisi oleh keheningan, tapi tidak lupa untuk tetap berterima kasih padanya karena sudah mengantarku pulang walaupun itu bukan keinginanku. Aku melihatnya berhenti di depan rumahnya dan aku merasa lega saat dia turun dari mobil dan menuju ke dalam rumah. Saat aku masuk, nenekku sudah tertidur di kamarnya jadi aku memutuskan pergi ke dapur dan mencari sesuatu untuk dimakan karena perutku sudah memprotes.


Aku menemukan tumisan sayur dengan daging di dalam kulkas, lalu segera menghangatkannya di microwave. Sambil menunggu, aku juga memutuskan untuk membuat segelas milkshake vanilla –kesukaanku. Ponselku berdering dari dalam tas dan nama Adam muncul di layarnya. Aku berhutang penjelasan padanya.


“Hai, Adam.”


“Carol? Akhirnya. Apa kau sudah di rumah? Sean benar-benar mengantarmu?” Suaranya terdengar khawatir dan aku mengerti itu. Aku pergi dengannya tapi pulang dengan Sean.


“Ya, aku sudah di rumah sepuluh menit yang lalu. Aku minta maaf meninggalkanmu sendirian disana. Aku benar-benar menyesal. Itu diluar kendaliku. Aku..”


“Carol, tenang saja. Aku hanya khawatir padamu karena kau tiba-tiba berlari menjauh dariku dan kemudian ada Sean bersamamu.”


“Yah, aku juga tidak mengerti kenapa dia ada disana.” Aku menggumam pelan. “Apa kau sudah di rumah?”


“Aku hampir sampai.”


“Kau tidak boleh menggunakan telepon saat menyetir.” Aku memperingatkan.


“Baik, aku hanya ingin mendengar kabar darimu sebelum aku sampai di rumah agar aku tidak khawatir lebih lama. Sampai bertemu Senin nanti, Carol.”


“Sampai ketemu nanti.” Aku tersenyum dan mengakhiri panggilan kami tepat saat microwave berbunyi.


Aku mengeluarkan makananku dan meletakannya di piring bersama dengan segelas milkshake yang sudah kubuat. Ugh, masakan nenek benar-benar yang terbaik. Perutku langsung menghangat pada suapan pertama.


“Carol? Kenapa makan sendirian disini? Kenapa tidak membangunkanku?” Nenekku keluar dari kamarnya dan berjalan menghampiriku yang duduk di meja counter.


“Kau tertidur nyenyak, aku tidak ingin membangunkanmu.”


“Kau tidak makan di luar tadi?”


“Kami tidak sempat.” Aku menunduk dan memilih untuk kembali melahap makananku.


“Apa yang terjadi?” Nenekku bertanya dengan nada lembut dan aku kembali mendongak untuk melihatnya. “Aku mengenalmu, Carol. Apa yang terjadi saat kau pergi?”


“Aku...aku mengacaukannya.” Aku mencoba tersenyum walau airmata mulai naik dan menghalangi pandanganku. “Aku hampir tertabrak dan aku tahu Adam hanya mencoba menolongku, tapi aku takut berada di dalam dekapannya dan aku lari.” Dan suaraku pecah. Aku tidak menangis, hanya saja aku lega karena sudah melepaskan ketakutan yang aku alami di luar tadi.


“Apa kau masih terus membayangkan hal itu?” Nenek mengusap punggung tanganku yang ada di atas meja dengan wajah sedih.


“Sekeras apa pun aku mencobanya, mereka tidak mau menghilang dari kepalaku, Nek.” Aku benci mengingatnya dan aku lebih benci karena aku yang harus mengalami itu semua.


“Aku tidak akan memaksamu. Melihatmu langsung mempunyai seorang teman pria saja sudah kemajuan yang cukup bagus, Carol. Kau juga tidak harus memaksakan dirimu sendiri.”


“Aku...aku hanya takut, Nek. Aku tidak bisa mengendalikannya ketika perasaan takut itu menguasai tubuhku.” Aku menghela napas dan berbalik menggenggam erat tangan nenekku untuk mendapatkan kekuatan.


“Kau bisa melewatinya. Aku percaya.” Nenek tersenyum padaku dan aku benar-benar senang masih memilikinya. “Jadi, kau pulang sendiri setelah lari dari Adam?” Dia mengalihkan topik.


“Tidak. Aku… Sean yang mengantarku.” Aku menjawab dan kini aku berubah canggung. Meminum milkshake dan mulai kembali melahap makananku yang sudah tersisa setengah di piring.


“Sean?”


“Ya, dia ada disana ketika aku melarikan diri dari Adam dan dia menawariku tumpangan.” Aku menjelaskan.


“Marrie mengatakan Sean tidak pulang ke rumah selama hampir satu minggu dan ayahnya membuat kekacauan di sebuah bar.”


“Benarkah? Ayah Sean melakukan itu?”


“Marrie adalah adik James –ayah Sean. James menjadi pemabuk setelah istrinya pergi dengan pria lain saat Sean masih berusia sepuluh tahun dan anak itu tidak mengetahuinya sampai saat ini.”


“Apa?” Aku terlalu terkejut dengan cerita ini.


“Marrie menceritakan semuanya tadi. Dia menangis cukup lama hingga mata dan hidungnya memerah. Hubungan Sean dengan ayahnya tidak berjalan baik sejak saat itu. Bahkan semakin buruk setiap harinya. Mereka saling berteriak dan bertengkar setiap hari. Sean selalu menyalahkan ayahnya atas kepergian ibunya.”


“Kenapa mereka tidak mengatakannya pada Sean? Maksudku, menjelaskan semuanya.”


“Aku tidak tahu. Mungkin Sean tidak bisa menerima fakta bahwa ibunya pergi.”


“Tapi setidaknya Sean harus tahu supaya hubungan mereka tidak terus berada dalam kesalahpahaman.”


“Lihat dirimu. Sejak kapan kau begitu memperhatikan persoalan orang lain?” Nenekku terkekeh dan aku merasa malu. Benar. Kenapa aku harus begitu terbawa?


“Aku..hanya merasa sedih karena melihat Marrie menangis tadi.”


“Sudah malam, habiskan makananmu dan tidur, oke? Aku akan kembali ke kamar.”


Aku mengangguk dan menatap nenekku yang kembali ke kamarnya dan menutup pintu sambil memikirkan apa yang baru saja kudengar.


***


 

__ADS_1


 


__ADS_2