
Satu bulan sudah berlalu sejak aku pindah ke kota ini. Tidak banyak yang terjadi. Aku menenggelamkan diriku untuk belajar. Rotasi kehidupanku hanya rumah, tempat kuliah, perpustakaan dan sesekali ke toko buku atau pergi dengan Adam. Kami menjadi partner yang baik dalam urusan pelajaran dan mengobrol.
Setelah acara sarapan yang berakhir canggung terakhir kali, aku berusaha untuk tidak berurusan dengan Sean lagi. Marrie juga tidak lagi memaksa nenekku untuk datang ke rumahnya dan memilih untuk menghabiskan waktu siang sampai petang untuk membuat kue kering yang lezat di dapur nenekku. Aku khawatir mereka bisa membuka toko kue karena terlalu banyak yang mereka buat. Mereka benar-benar memanfaatkan waktu dengan sangat baik.
Aku baru saja tiba dan membuka pintu rumah ketika suara telepon berdering dari ruang tengah. Tidak ada orang, mungkin nenekku sedang berada di kamarnya jadi aku memutuskan untuk menjawab.
“Halo?”
“Akhirnya, ketemu.”
Tubuhku membeku, jantung dan aliran darahku berhenti ketika aku mengenali suara siapa yang kini terasa begitu dekat di telingaku. Aku ingin menangis, tidak, aku sudah menangis. Seluruh tubuhku seperti lumpuh. Aku bahkan tidak bisa menggerakan mulutku untuk berbicara atau berteriak memanggil nenek.
“Kau masih disana, kan?”
“K-kau salah sambung.” Setelah itu aku mengembalikan gagang telepon ke tempatnya dengan gerakan yang cukup keras. Kepalaku pusing dan rasanya duniaku berputar. Aku ingin memanggil nenekku, tapi aku tidak tahu kemana suaraku pergi. Aku tidak pernah mengira bahwa aku masih sama seperti sebelumnya. Lemah. Aku masih sangat pengecut dan aku benci itu.
“Carol?” Aku tersentak ketika mendengar suara yang memanggilku, tapi pandanganku tidak jelas. Tubuhku mulai gemetar hebat dan aku tidak tahu bagaimana cara untuk menghentikannya. “Carol ada apa denganmu?”
Suara itu kembali terdengar disertai sentuhan di lenganku dan aku menghindar secara spontan. Aku berharap itu adalah nenekku, tapi suaranya berbeda. Aku menangis lebih keras dari sebelumnya. Takut akan kegelapan yang masih menguasaiku. Aku sama sekali tidak bisa melihat apa pun.
“Carol, kau gemetar. Sialan, apa yang terjadi?” Suara itu menuntut dan aku hanya ingin dia pergi, atau aku yang pergi, tapi sayangnya tubuhku tidak membantuku saat ini. “Kita harus ke rumah sakit!” Tanganku ditarik setelahnya dan aku meronta. Aku tidak mau ikut.
“Nenek, tolong aku.” Aku menangis tersedu-sedu, berharap nenek bisa mendengar suaraku dan datang kesini.
“Carol, tidak apa-apa. Buka matamu. Ini aku, Sean!”
Aku berhenti menangis dan menahan isak tangiku ketika mendengar nama yang familiar itu. Terang mulai menjemputku dan saat aku sadar, tubuhku sudah duduk meringkuk di lantai dengan Sean yang berlutut di hadapanku. Wajahnya terlihat cemas, tapi aku akhirnya bisa bernapas lega. Tubuhku lemas dan dia dengan sigap menangkapku sebelum menyentuh lantai.
“Terima kasih.” Aku berbisik padanya. Kepalaku bersandar di dadanya. Aku tahu ini tidak benar, tapi aku tidak memiliki sandaran selain dirinya untuk saat ini dan aku benar-benar tidak kuat menopang tubuh atau bahkan kepalaku sendiri.
“Tidak apa-apa. Kau akan baik-baik saja.” Dia mengusap lenganku dan hal itu secara ajaib membuatku merasa aman dan nyaman. Biasanya aku hanya merasakan ini ketika bersama ibu dan nenekku. “Kau bisa pindah ke sofa atau aku harus menggendongmu?”
“Apa kau tidak keberatan memberiku beberapa menit?” Aku bertanya dengan nada lirih.
“Baik.”
Aku sedikit heran ketika Sean menuruti ucapanku dan bersedia bersabar memberiku beberapa menit untuk memulihkan diriku. Dia juga dengan perhatian membimbingku duduk di sofa setelahnya, memberiku teh hangat yang sangat membantu tanpa menuntut penjelasan tentang apa yang baru saja terjadi. Aku bersyukur dia tidak bertanya.
“Kenapa kau tidak menutup rapat pintunya? Bagaimana kalau orang jahat yang datang, bukan aku?” Sean kembali menjadi Sean setelah beberapa menit yang tenang. “Tindakanmu itu ceroboh, kau tahu? Aku hampir kena serangan jantung saat melihatmu meringkuk ketakutan dan menangis seperti itu.”
“Aku...minta maaf.” Hanya itu yang bisa kukatakan. Aku bahkan tidak tahu kenapa aku harus meminta maaf padanya.
Sean menghela napas dan mengacak rambutnya dengan satu tangan. “Nenekmu dan Marrie sedang pergi dan mereka memintaku memberitahumu saat kau pulang supaya kau tidak khawatir mencari nenekmu.”
“Terima kasih.” Aku menunduk memainkan jari-jari tanganku sebagai pengalihan fokus.
“Apa kau sudah baik-baik saja?” Sean menatapku curiga, tapi aku mengabaikannya.
“Ya.” Aku menjawab. “Aku, aku hanya masih terbawa suasana setelah membaca novel seram sebelumnya.”
Sean mendengus. “Kalau begitu aku akan pergi.”
“Tunggu!” Tanganku bergerak lebih cepat menahan satu tangan Sean tanpa kusadari. “Temani aku sampai nenekku kembali, please?”
“Kau bukan anak berusia lima tahun yang takut ditinggal sendirian di rumah, kan?”
“Memang bukan, tapi, ayolah, hanya sampai nenekku kembali. Kumohon?” Aku benar-benar berharap padanya. Setelah berpikir beberapa saat, akhirnya Sean mengangguk dan aku benapas lega.
“Kau berhutang satu padaku, oke?”
“Baiklah. Aku akan membalasnya nanti.” Aku setuju. Aku memperhatikan dan baru menyadari bahwa Sean berpakaian rapi hari ini. “Kau mau pergi?” tanyaku.
“Ya.”
“Jam berapa?”
“Lima, kenapa?”
“Masih ada waktu satu jam lebih kalau begitu. Aku harap mereka tidak pergi terlalu lama.” Aku merujuk pada nenekku dan Marrie.
“Berharap saja.” Sean membalas acuh sambil mengedikkan bahu.
“Ngomong-ngomong, aku dengar, kau punya band.” Aku mencari topik untuk berbicara, sekaligus mengusir rasa gelisahku tentang kejadian telepon tadi. Aku terus meyakinkan diriku bahwa yang menelpon tadi bukanlah orang itu. Ya, pasti aku hanya salah mengenali suaranya. “Apa kau sudah sering tampil di hadapan banyak orang?”
“Yah, seperti itu.”
“Dimana kalian biasa tampil?” Aku bertanya, tertarik dengan topik yang kuciptakan.
“Kau tidak akan mau mengetahuinya.” Sean menyeringai kecil tapi aku tidak mempermasalahkannya.
“Kau hanya harus menjawab pertanyaanku.” Aku membalas dan Sean terkekeh.
“Kami biasa tampil di bar.” Sean menatapku saat mengatakannya, seperti menimbang respon apa yang akan kuberikan, tapi aku memang sudah menduga jawabannya. Terlihat dari bagaimana cara mereka berpakaian.
“Pasti menyenangkan. Kalian bisa menghasilkan uang sendiri.”
“Yah, Tina cukup baik mengelola pendapatan yang kami terima untuk kebutuhan band.”
“Tina?”
“Wanita yang hampir kau tabrak waktu itu. Dia bagian dari kami.” Sean menjelaskan.
“Dia bermain musik?”
“Tidak, dia hanya membantu kami mengelola keuangan sekaligus mengatur jadwal tampil kami setiap minggu.”
“Wow, jadi kalian sudah sering mendapat undangan tampil? Itu hebat sekali.”
“Tidak ada salahnya menyalurkan hobi.” Sean mengangkat bahunya. “Aku lapar, apa kau punya sesuatu untuk kita makan?”
“Oh, hm, sebentar. Aku harus memeriksa kulkasnya dulu.” Aku bangkit dari sofa menuju area dapur yang terhubung langsung dengan ruang depan sehingga Sean bisa melihatku.
Dari dalam kulkas, aku menemukan mac and cheese yang hanya perlu dihangatkan. Sean setuju untuk memakannya, jadi aku langsung menghangatkannya ke dalam microwave.
“Bagaimana menurutmu disini?” Sean bertanya setelah duduk di salah satu kursi counter dan berhadapan denganku. Kami hanya terpisah meja marmer.
“Aku suka.” Aku menjawab singkat.
“Kenapa kau memilih pindah kesini? Tempat asalmu cukup jauh dan kalian bahkan tidak memiliki sanak saudara.”
“Kami..hanya ingin suasana yang berbeda.” Aku menjawab asal. “Nenekku membutuhkan lingkungan yang tenang dan nyaman jadi kami pindah.”
“Lingkungan tempat tinggalmu yang dulu tidak nyaman, begitu?”
“Kurang lebih.” Aku senang ketika suara dari microwave berhasil melepaskanku dari topik pembahasan ini. Sean menerima dengan senyum lebar ketika aku menyodorkan semangkuk mac and cheese untuknya.
“Kau tidak ikut makan?” Sean bertanya ketika aku hanya memperhatikannya makan.
“Tidak, aku sudah makan tadi.” Aku berbohong. Rasa laparku hilang tanpa jejak setelah kejadian beberapa saat lalu.
“Bersama Adam?”
Aku mengerutkan kening tapi tidak bisa menahan senyum yang muncul di wajahku. “Tidak. Dia tidak datang hari ini karena ada keperluan dengan keluarganya.”
“Hebat, kau tahu seperti apa jadwalnya.”
“Dia memberitahuku.” Aku membela diri. “Dan apa kau punya masalah dengannya?”
“Kenapa kau bertanya?” Sean balik bertanya.
“Karena kau begitu emosional ketika membicarakannya.”
“Aku? Jangan bercanda.” Sean mendengus lalu menggelengkan kepalanya. “Aku hanya tidak terlalu suka kau berhubungan dengannya.”
“Adam pria yang baik.” Aku memberitahu.
“Yah, kalau tipe yang kau inginkan adalah seorang pria yang bersikap manis di depanmu, dia memang pilihan yang bagus.”
“Kami hanya berteman.”
“Kau selalu pergi dengannya.”
“Karena hanya dia teman yang aku punya.” Aku tertawa, tidak menyangka kalau aku akan memiliki percakapan semacam ini dengan seorang Sean. Ini aneh, tapi terasa lucu.
“Alasan yang bagus.” Ekspresinya berubah, aku menyadari itu, tapi aku tidak tahu apa alasannya.
“Apa Marrie memberitahumu kapan mereka kembali?” Aku bertanya setelah melirik jam dinding. Sebentar lagi Sean harus pergi dan aku benci membayangkan diriku akan berada disini sendirian.
“Kenapa? Kau tidak ingin ditinggal sendirian?”
“Itu salah satu alasannya. Mungkin aku harus menghubungi Adam dan bertanya apakah dia bisa menemaniku sampai nenek kembali.”
“Tidak!” Suara Sean cukup keras hingga membuatku tersentak. “M-maksudku kau tidak perlu menghubunginya. Kau pasti bercanda, rumahnya cukup jauh dari sini.”
“Kau benar.” Aku menghela napas mengingat sudah berapa kali aku merepotkan Adam.
“Aku bisa menemanimu menunggu.”
“Tidak.” Aku menggeleng cepat. “Kau bilang akan pergi. Aku tidak mau kau menghancurkan rencanamu hanya karena menemaniku disini.”
“Aku hanya akan pergi untuk mengecek lokasi yang akan kami gunakan sebelum tampil malam ini. Bukan masalah serius.”
“Tetap saja kau harus pergi.” Aku akan merasa bersalah kalau Sean tidak jadi pergi.
“Kalau begitu kau bisa ikut denganku.”
Aku memikirkan tawaran itu. Ikut dengan Sean mungkin akan lebih baik daripada tinggal sendirian disini. Dia tersenyum ketika aku menganggukkan kepala.
“Tidak mau ganti baju?” tanyanya.
Aku menggeleng sambil mengekorinya menuju pintu setelah aku memasukkan piring bekas Sean makan ke dalam bak cuci. “Kau bisa terlambat.”
“Kunci pintunya dengan benar kali ini.” Dia mengawasi ketika aku mengunci pintu dan aku merasa seperti anak kecil yang diomeli.
“Jadi, kalian akan tampil malam ini?” aku bertanya ketika mobil Sean sudah melaju.
“Ini permintaan khusus dari seseorang yang tergila-gila dengan Nic. Sialan dia berhasil memikat anak gadis seorang pengusaha.” Sean terkekeh sendiri sambil bercerita dengan pandangan tetap ke depan.
Aku menoleh dan memperhatikannya. Kedua lengan panjang miliknya tertutup jaket kulit berwarna hitam yang kurasa adalah kesukaannya karena Sean selalu mengenakannya. Dari jarak sedekat ini, aku bisa mencium wangi Sean. Sebenarnya, mobil ini memang beraroma Sean.
“Nic dan Tina sudah tiba disana. Selagi aku menyelesaikan urusanku, kau bisa bergabung dengan Tina.”
Tina… kurasa itu bukan ide yang baik. Aku tentu tidak lupa bagaimana tatapan sinis Tina ketika aku bahkan tidak jadi menabraknya. Hanya hampir, tapi dia bersikap seolah aku sudah menabraknya sampai terjungkal.
“Kau tidak perlu memaksa mereka untuk menemaniku. Aku baik-baik saja. Atau aku bisa menunggu di dalam mobil saja.”
“Marrie bisa saja menjadikan aku bahan makanannya jika sesuatu terjadi padamu karena kesalahanku. Dia begitu menyukaimu.” Sindirnya dan aku tidak bisa menyembunyikan tawaku.
__ADS_1
“Aku bisa menjaga diriku sendiri.” Sean menatapku sanksi setelah mendengar ucapanku. “Aku berjanji.”
“Yah, pokoknya jangan terlalu jauh dari kami.”
Sekitar tiga puluh menit kemudian, Sean memarkirkan mobilnya di sebuah lahan di mana ada beberapa mobil juga yang parkir disana. Seperti yang Sean katakan, Nic dan Tina menghampri kami ketika keluar dari mobil.
“Kau membawanya?” Suara Tina sama seperti terakhir kali. Sangat tidak bersahabat.
“Hai, senang bertemu lagi denganmu.” Berbeda dengan Tina, Nic mengulurkan tangannya dengan senyuman yang manis. Aku menyambutnya dan ikut tersenyum.
“Jadi, dimana si pemilik tempat dan dimana panggungnya?” Sean bertanya.
“Well, mereka membuat panggung di halaman belakang. Temanya adalah pesta kebun dan kau harus melihatnya. Ini pasti menyenangkan. Kita sudah bosan dengan penampilan indoor.” Nic menjelaskan panjang lebar dengan bersemangat.
“Oke, Carol, kau bisa tunggu disini atau kau bisa berkeliling, tapi ingat jangan terlalu jauh.” Sean menasehatiku dan aku hanya mengangguk.
“Dia bukan anak kecil berusia lima tahun yang akan tersesat, bukan?” Aku melirik Tina yang tersenyum meremehkan ke arahku setelah mengatakan itu. Aku tidak yakin bisa berteman atau bahkan hanya sekedar mengobrol dengannya. Dia selalu berusaha memancing emosiku.
“Tina, jangan sikapmu.” Sean menegur dan aku berusaha menyembunyikan senyumanku melihat ekspresi kesal di wajah –penuh make up- Tina.
“Kalian berdua harus akur. Sebentar lagi Leo, Steve dan Brandon akan segera datang.” Nic ikut menimpali, lalu setelahnya kedua pria itu pergi meninggalkanku dan Tina.
“Kau tidak benar-benar berpikir aku akan menemanimu disini, bukan?” Tina bertanya dengan kedua lengan terlipat di depan.
“Oh, tidak, kau tidak perlu melakukannya. Aku tidak ingin membebanimu. Aku akan baik-baik saja.” Aku masih mencoba bersikap sopan walaupun aku tahu dia tidak menyukaiku.
“Bagus kalau begitu.” Dia melenggang pergi setelahnya dan aku ditinggal sendiri.
Aku menatap sekeliling. Tempat ini adalah sebuah restoran yang sepertinya mengambil tema alam terbuka karena begitu luas dan letaknya juga berjauhan dengan bangunan lain. Di sebelah kiri dibuat semacam kebun rindang. Aku yakin pemandangan di malam hari akan lebih bagus disini. Hampir lima belas menit aku berjalan-jalan dan menikmati udara sejuk dari pepohonan hingga lampu-lampu cantik yang terpasang bersambungan antara satu pohon dan yang lain menyala. Benar dugaanku, tempat ini jauh lebih baik jika dihiasi lampu-lampu.
Aku mendapati orang-orang mulai berdatangan. Segerombolan laki-laki berpakaian semi formal, sekumpulan perempuan berpakaian dress ketat, dan beberapa lagi mengenakan model pakaian seperti Sean dan Tina. Kurasa acaranya hampir di mulai, jadi aku memutuskan untuk kembali ke tempat parkir karena takut Sean mencariku.
“Sialan, Carol! Kau darimana saja? Aku mencarimu!” Sean menyerbuku ketika aku menghampirinya. Wajahnya cemas dan aku tidak menemukan Nic, Tina atau siapa pun anggota grup yang lain.
“A-aku pergi melihat-lihat.” Aku menjawab dengan gugup. Sean terlihat sangat marah. Wajahnya merah padam dan dia menatapku tajam.
“Kenapa kau tidak bersama Tina?” Dia menuntut.
“Aku bukan anak kecil berumur lima tahun.”
“Ya, benar. Kau mungkin lupa beberapa jam yang lalu kau menangis bahkan seperti anak berusia tiga tahun!” Dia memarahiku dan aku tidak bisa berkata apa-apa untuk membalas ucapannya yang merendahkanku. Aku memang menangis tadi sore, tapi dia tidak berhak menghakimiku seperti itu. Dia tidak tahu penyebabnya.
“Kau tahu? Kau tidak harus mengajakku kesini kalau kau hanya akan bersikap menyebalkan!” Kekesalanku mulai terpancing. “Aku bisa pulang sendiri kalau kau merasa aku hanya menjadi beban.”
“Kalau begitu pulang saja!”
Aku terkejut mendengar ucapannya. Tidak menyangka dia akan setega itu membiarkanku pulang sendiri. Aku tidak bersungguh-sungguh saat mengatakannya, aku hanya kesal. Aku bahkan tidak tahu kami berada di mana dan tempat ini cukup jauh dari jalan raya. Sial, Sean benar-benar menyebalkan!
“Fine.”
Aku berbalik setelah menelan pahit ditenggorokanku. Rasanya ingin menangis, tapi aku tidak mungkin melakukannya disini. Aku tidak berharap Sean akan berubah pikiran dan memanggilku, jadi aku setengah berlari meninggalkan tempat itu. Aku harus menghubungi Adam dan bertanya apakah dia bisa menjemputku disini.
Sebuah mobil berhenti tepat di depanku saat aku berhasil mengeluarkan ponselku dari dalam saku celana. Kaca mobil di turunkan dan aku melihat Leo serta Brandon duduk di depan, sedangkan Steve dan seorang wanita yang tidak kuketahui namanya duduk di belakang. Leo yang menyetir.
“Bukankah kau Carol?” Leo menatapku dengan kening berkerut. “Apa yang kau lakukan disini sendirian?”
“Yah, aku akan pulang, sepertinya..”
“Bukankah kau bersama Sean?” Brandon menimpali. “Setengah jam yang lalu Sean memberitahu kami.”
“Aku..harus pulang.” Aku memberi alasan.
“Kau tidak akan pulang.” Suara di belakangku membuatku hampir terjungkal kalau Sean tidak cepat-cepat menangkap pergelangan tangan kananku. “Maksudku, aku yang akan mengantarmu pulang setelah ini berakhir.”
“Hai, Dude!” Ketiga pria yang ada di dalam mobil itu tersenyum cerah menyambut Sean.
“Kalian harus segera masuk dan melakukan check sound.” Sean memerintah dan mereka semua mengangguk setuju. Mobil mereka melewati kami dan saat itu juga aku menepis tangannya yang memegangiku.
“Aku bisa pulang sendiri.” Aku menatapnya kesal.
“Tidak, kau tidak bisa. Aku sudah mengatakan pada Marrie kalau kau ikut bersamaku dan aku akan membawamu pulang setelah acara ini berakhir. Marrie akan menemani nenekmu di rumahmu.”
“Kenapa kau yang mengambil keputusan untukku?”
“Kau tidak punya pilihan. Siapa yang mau kau mintai pertolongan untuk menjemputmu? Adam?”
“Itu bukan urusanmu.” Aku membuang muka.
“Kau akan terkejut kalau tahu bahwa dia ada disini.” Sean menyeringai dan aku kembali terkejut, entah untuk keberapa kali dalam hari ini.
“Adam disini?”
“Sepertinya dia mengenal gadis yang mengadakan acara ini. Aku melihatnya di dalam tadi.”
“K-kalau begitu, aku akan pulang naik taksi.”
“Tidak, kau tetap bersamaku!” Sean mengambil satu tanganku dan memaksaku untuk mengikutinya kembali ke tempat tadi.
“Lepaskan tanganku, Sean!” Sekeras apa pun aku meronta, Sean tidak mau melepaskan tanganku dan itu menyebalkan. Akhirnya aku hanya diam dan menahan kekesalan ketika dia kali ini mengajakku ke dalam, melewati ruangan yang sudah penuh oleh para tamu hingga akhirnya kami berada di halaman belakang. Di tengahnya ada panggung yang lumayan besar. Nic, Leo dan Brandon sedang mengetes alat musik mereka masing-masing sedangkan Tina berdiri di samping panggung. Meja dan bangku tersebar di sekeliling panggung. Ada meja panjang yang diatasnya tersaji makanan dan minuman di sebelah kiri halaman ini. Beberapa pria dan wanita terlihat mengobrol seru dan tertawa bersama.
Aku tersadar ketika Sean membuatku duduk di salah satu kursi tak jauh di samping panggung. Di sebelah kiriku juga ada meja bulat yang diatasnya terdapat beberapa makanan ringan dan minuman.
“Ini meja yang disediakan untuk kami. Kau duduk disini dan jangan pergi kemana pun!” Dia mendikte apa yang harus aku lakukan, tapi aku hanya diam dan membuang tatapanku darinya. Tatapanku bertemu lagi dengan Tina. Dia menatapku tidak suka, tapi anehnya aku sudah mulai terbiasa.
Sean berbalik meninggalkanku setelah aku mendengar helaan napas kasar darinya. Dia menuju ke atas panggung, bergabung dengan anggota lainnya. Steve sebagai drummer, Leo sebagai basis, Nic sebagai vokalis, Brandon memainkan keyboard dan Sean tentu saja sebagai gitaris. Mereka mengawali pertunjukan dengan membawakan lagu milik salah satu penyanyi terkenal yang memiliki tempo sedang. Aku sedikit terkejut karena mereka membawakan lagu bersemangat namun enak didengar. Bayanganku adalah mereka akan menyanyikan lagu-lagu bermusik keras, berteriak-teriak dan orang-orang akan berjingkrak mengikuti mereka. Aku senang bayanganku tidak menjadi kenyataan.
“Ya, tentu.” Aku mengangguk dan dia mengambil tempat di sebelahku.
“Namaku Lia.” Dia mengulurkan tangannya untuk berjabat denganku dan aku menyambutnya dengan senang hati.
“Aku Carol.”
“Aku baru melihatmu.”
“Ya, hm, aku belum lama pindah kesini.”
“Satu universitas dengan The Cinnamons?”
“Kayu manis?” Aku mengerutkan kening.
“Itu nama grup band mereka. Kau datang bersama Sean tapi tidak tahu nama grup band-nya?” Lia terkekeh.
“Well, kami bukan teman, sebenarnya. Aku hanya tidak punya pilihan lain selain ikut ke tempat ini.”
“Oh, ayolah, jangan seperti itu.” Lia menyenggol bahuku main-main dan aku tidak bisa menyembunyikan senyumku. Dia seorang yang periang dan aku bersyukur karena tidak harus sendirian sampai acara ini selesai. “Kurasa, aku lebih menyukaimu daripada Tina.”
“Apa?” Jadi bukan hanya aku saja yang tidak nyaman pada Tina.
“Yah, dia agak menyebalkan dan begitulah. Dia seolah tidak ingin aku menjalin hubungan dengan Steve.”
“Dia kurang ramah, kurasa.”
“Dia juga bersikap seperti itu padamu, benar, kan?” Tebakan Lia tepat. “Sudah kuduga.”
“Kau kuliah dimana?” Aku bertanya.
“Aku masih duduk di bangku sekolah tinggi. Sekarang sudah ditingkat akhir.” Lia bercerita. “Aku tidak sabar ingin masuk ke universitas yang sama dengan Steve.”
Wow, aku tidak menyangka Lia masih seorang siswi sekolah tinggi. Penampilannua cukup dewasa. Aku menebak alasannya adalah karena Steve. Lia pasti ingin terlihat cocok berdampingan dengan Steve.
“Lihat siapa yang sudah akrab disini?” Tina datang dengan sebotol minuman di tangannya, menatap kami seolah kami adalah objek yang menarik. Lia bahkan terang-terangan menghela napas di sebelahku.
“Hai, Lia. Bukannya besok kau masih harus bangun pagi dan pergi ke sekolah?” Tina bertanya dengan nada yang lembut tapi aku tahu dia hanya sedang mengejek Lia.
“Terima kasih sudah perhatian, tapi aku mengurus urusanku sendiri.” Lia tersenyum sopan dan aku bangga padanya. Dia sama sekali tidak terintimidasi dengan Tina, atau mungkin karena dia sudah lebih lama berhadapan dengannya.
“Minum?” Tina menawarkan botol yang dia pegang ke hadapan Lia yang belum bereaksi.
“Kau tahu dia masih dibawah umur.” Aku menengahi. Lia menoleh dan tersenyum padaku.
“Jadi kau yang mau menggantikan?” Tina menampilkan ekspresi yang benar-benar menyebalkan. Aku mungkin akan mendorongnya jika saja aku ingin membuat keributan disini, tapi aku tidak mungkin melakukannya. Tidak di saat kami sedang berada di pesta orang lain.
“Tidak. Berhentilah mengganggu kami, Tina.” Lia membelaku kali ini.
“Siapa dirimu berani mengaturku, Anak Kecil?” Tina mendelik tajam pada Lia.
“Aku bukan anak kecil.”
“Kalau begitu, minum dan habiskan!” Tina menyodorkan lagi botol minuman yang dibawanya dan aku melihat Lia sedang menahan emosinya. Aku tidak mungkin membiarkan Lia minum, lalu tanpa aku sadari, tanganku bergerak lebih dulu untuk merebut botol tersebut dan meminum isinya yang ternyata masih penuh. Sial. Kedua mataku terpejam saat rasa pahit yang membakar melewati tenggorokanku. Aku mendengar suara Lia yang memintaku untuk berhenti minum, tapi aku menghiraukannya.
“Hah.” Aku mengerjapkan mata beberapa kali selesai menghabiskan semuanya dan membuang botol tersebut hingga menggelinding dan berhenti tepat di depan sepatu tinggi yang Tina kenakan. “Kau puas?”
Tina tertawa. “Kuharap kau masih bisa membuka matamu setelah ini.” Setelahnya dia pergi meninggalkan kami berdua.
“Carol, kau tidak harus melakukannya.” Lia menatapku cemas. Aku melihat perasaan bersalah dari sorot matanya.
“Aku..baik-baik saja.” Tidak, aku tidak baik-baik saja sebenarnya. Aku mulai linglung. Kepalaku pusing.
“Aku akan mencoba mencari air dingin untukmu atau susu. Tunggu disini, oke?” Lia berdiri dan aku hanya mengangguk ketika melihatnya setengah berlari melewati kerumunan orang yang sedang menikmati pertunjukkan.
Aku mencoba memfokuskan pandanganku ke arah panggung. Tatapan Sean tertuju padaku dan aku memberinya sebuah senyuman. Dia mengernyit melihatku tapi aku mengabaikan ekspresinya dan memberikan lambaian tangan. Sean menggelengkan kepalanya sebbelum kembali pada lagu yang sedang mereka mainkan. Aku menghela napas dan menyandarkan punggungku. Kenapa kepalaku terasa semakin berat? Lia juga belum kembali.
“Carol?” Aku mendengar suara yang sudah kukenal dan aku menoleh. Adam berjalan semakin mendekat dan menatapku bingung. “Bagaimana kau bisa ada disini?”
“Hai, Adam.” Aku memberikannya senyuman lebar. Mencoba untuk membuat postur tubuhku tetap tegap walau nyatanya tidak berhasil.
“Astaga, Carol, apa kau mabuk?” Adam menahan kedua bahuku agar tubuhku tidak oleng seperti jelly.
“Tidak, tidak.” Aku menggeleng cepat dan kepalaku semakin pusing. “Orang mabuk tidak bisa diajak bicara, kan? Aku masih bisa mendengarmu dengan jelas.”
“Kau belum menjawab pertanyaanku. Bagaimana kau bisa ada disini?”
“Sean..” Aku menjawab asal sambil menunjuk ke arah panggung.
“Sial, dia membuatmu mabuk dan meninggalkanmu sendirian disini?” Adam menggerutu kesal dan berusaha menarik tanganku agar aku berdiri, tapi aku tidak punya kekuatan. Rasanya aku ingin tertidur saat ini juga. “Ayo bangun, Carol. Aku akan mengantarmu pulang.”
“Tidak, jangan.” Aku menepis tangannya. “Kau harus menikmati pestanya. Jangan pedulikan aku. Aku baik-baik saja.” Aku mengibaskan satu tanganku, memintanya untuk pergi saja sambil tersenyum.
“Kau harus ikut pulang denganku.” Adam bersikeras dan aku menatapnya sebal. Kenapa dia dan Sean selalu berusaha mengaturku?
“Kau tidak bisa membawanya bersamamu.” Suara itu sukses membuatku dan Adam menoleh bersamaan.
Sean berdiri dengan tatapan tajamnya. Aku berkedip beberapa kali karena pandanganku kembali berputar. Aku tidak suka keadaan seperti ini.
“Kau, brengsek!!” Adam menarik bagian depan baju Sean dengan gerakan cepat. “Apa yang kau lakukan padanya?!”
“Kau akan melepaskan ini atau kau ingin tahu akibatnya?” Sean berbicara dengan nada rendah yang berbahaya dan kesadaran menamparku. Aku berlari dan berdiri di tengah mereka berdua. Membuat cengkraman Adam terlepas, menyisakan kusut di bagian depan baju yang Sean kenakan.
__ADS_1
“Kalian berdua, berhenti.” Aku menatap Adam. “Aku akan baik-baik saja, Adam.”
“Aku tidak bisa meninggalkanmu dengan pria ini.” Adam menatap Sean dengan sengit.
“Adam, please.” Aku memohon padanya hanya karena aku tidak ingin ada keributan disini. “Aku akan baik-baik saja.” Aku meyakinkannya untuk pergi sebelum mereka kedua pria ini benar-benar berkelahi.
“Kau dengar yang dia katakan? Pergi.” Aku bisa melihat senyum kemenangan dari wajah Sean ketika dia mengatakannya pada Adam dan aku mendelik padanya.
“Hubungi aku saat kau tiba di rumah.” Adam terlihat tidak rela, tapi dia akhirnya membiarkanku dan berbalik pergi.
Aku berbalik menghadap Sean ketika Adam sudah tidak terlihat lagi. Memberinya tatapan tanpa mengatakan apa pun.
“Apa?” Sean terlihat jengah.
“Kau tidak harus memprovokasi Adam.”
“Memprovokasi? Kau pikir siapa orang yang lebih dulu menarik bajuku?”
“Kau tidak perlu mengancamnya.” Aku memprotes. Mendongak untuk membalas tatapannya yang berusaha untuk mengintimidasiku.
Tanpa kuduga, Sean menarik lenganku hingga jarak kami begitu dekat. Dia menunduk dan wajahnya mendekati wajahku. Kepalaku kembali merasa pusing. Kali ini lebih parah karena aku tidak bisa bernapas dengan baik karena jarak Sean yang begitu dekat. Aku bahkan bisa merasakan hembusan napasnya yang segar.
“Carol, apa kau mabuk?” Sean mengernyit. Hidungnya berhenti beberapa centi di depan mulutku.
“Tidak.” Lirihku.
“Sial, aku bisa mencium bau alkohol dari mulutmu.” Sean mengumpat, lalu memaksaku untuk duduk. “Tunggu disini, aku akan membawakan air untukmu.”
Aku mendengus sebal melihatnya pergi meninggalkanku sendirian. Lia belum kembali dan aku bertanya-tanya dimana anggota band lainnya. Apa mungkin Lia bersama Steve sekarang?
Tenggorokanku kering dan tubuhku mulai terasa panas jadi aku melepaskan jaket denim yang kukenakan, lalu mengikat tinggi-tinggi rambutku menjadi satu di belakang. Kepalaku menoleh ke kiri dan menemukan beberapa gelas dan botol minuman yang terlihat dingin dan menyegarkan. Tanpa pikir dua kali, aku mengambil botol tersebut dan mengisinya ke dalam gelas, lalu menghabiskannya dalam satu tegukan. Minuman ini tidak jauh berbeda rasanya dengan yang diberikan Tina. Hanya saja minuman ini dingin dan sedikit mengurangi panas yang membakar di dalam tubuhku hingga aku tidak sadar meminumnya lagi dan lagi.
“Carol, apa yang kau lakukan?!” Botol di tanganku dirampas begitu saja dan aku menemukan wajah marah Sean, lagi. “Apa kau sudah gila?”
“Berikan padaku! Aku ingin minum.” Aku berusaha mengambil kembali botol dingin itu tapi Sean menghindar dengan cepat.
“Kau sudah sangat mabuk. Bagaimana aku bisa membawamu pulang dengan keadaan seperti ini, sial!”
“Berhenti mengutuk. Kau menyebalkan.” Aku merasakan dunia berputar dan Sean menangkapku dengan sigap.
“Minum ini.” Sean menempelkan botol air yang dingin ke pipiku. “Habiskan.” Itu perintah dan aku menurutinya karena aku memang sangat haus.
“Carol, maaf aku terlalu lama.” Aku mendengar suara Lia tepat setelah aku menghabiskan isi dari botol yang Sean berikan. Lia bersama Steve. Pria itu merangkul pinggangnya dengan posesif.
“Kalian sudah saling kenal?” Sean bertanya.
“Tina membuat Carol meminum alkohol. Dia memintaku untuk minum, tapi Carol menggantikanku.” Lia bersungut. “Cukup sulit meminta sebotol air mineral disini, tapi aku mendapatkannya.” Dia menyodorkan sebotol air yang persis seperti yang dibawa Sean tadi.
“Aku tidak bisa minum lagi.” Aku menggeleng lemah ketika Sean menyodorkan botol air yang masih penuh itu kepadaku. Perutku sudah penuh dan aku rasa aku akan muntah.
“Dimana yang lainnya?” Sean bertanya pada Steve.
“Nic mengobrol seru dengan Julie. Kurasa wanita itu tergila-gila padanya.” Steve terkekeh. “Brandon dan Leo menikmati pesta di dalam, tapi aku tidak melihat Tina.”
“Dia pergi lebih dulu. Sial, kalau aku tahu dia membuat Carol mabuk, aku akan memarahinya.” Sean kembali mengumpat.
“Tina selalu menyebalkan.” Lia ikut bersungut lagi dengan wajah cemberut.
“Honey, tenanglah.” Steve menenangkan dengan senyum manis. Aku memperhatikan mereka dan ikut tersenyum. Rasanya aku bisa melihat rasa cinta diantara keduanya.
“Kenapa kau tersenyum?” Sean menatapku dengan wajah ditekuk.
“Kenapa aku tidak boleh tersenyum?”
“Setelah mabuk seperti ini, kau tidak menyesal sama sekali?”
“Aku tidak mabuk, Sean. Aku baik-baik saja.” Aku memberitahunya. Memaksa kedua mataku untuk fokus, tapi tidak berhasil. “Kenapa panas sekali disini?” Aku merengek. Menggerakan tanganku untuk mengipasi diri sendiri.
“Baiklah, kau sudah cukup disini. Kita pulang.” Sean memutuskan. “Steve katakan pada yang lain kalau aku pergi duluan.”
“Tentu saja, Bro.”
Lia membantuku berdiri dengan wajah cemas. “Terima kasih. Dan maaf karena membuatmu begini.”
“Ini bukan masalah serius dan ini bukan salahmu.” Aku tersenyum padanya. Sean menarikku melewati kerumunan setelah berpamitan dengan Steve dan Lia. Aku sempat menoleh ke arah mereka dan Steve sedang menciumnya. Wajahku semakin memanas dan aku segera memalingkan wajah kembali ke depan. Sean harus merangkulku ketika kami melewati kerumunan yang padat di dalam. Aku ingin mendorongnya, tapi aku tidak punya tenaga dan wangi tubuh Sean membuatku mengurungkan niat. Kepalaku bersandar di dadanya selagi dia membawaku ke arah mobilnya.
“Baumu enak.” Aku bergumam, semakin menyandarkan kepalaku di dadanya yang keras. Aku bisa mendengar suara debaran jantungnya yang teratur.
“Apa ini? Kau berubah menjadi gadis nakal ketika mabuk?” Sean menatapku dengan seringai di matanya.
Aku memisahkan diri darinya dengan wajah cemberut. “Aku bukan gadis nakal.”
“Ayo masuk ke mobil.” Sean membukakan pintu penumpang depan untukku tapi aku tidak beranjak dari tempatku. “Kenapa?”
“Teman-temanmu masih berada di dalam, kan? Kenapa kita harus pulang lebih dulu?”
“Karena aku harus mengantarmu pulang dan tempat ini tidak cocok untukmu.”
Aku menghela napas. “Kau benar. Aku tidak cocok berada di tempat seperti ini.”
“Pakai lagi jaketmu.” Sean menyodorkan jaket denimku yang sejak tadi ia sampirkan di bahu kirinya.
“Aku tidak mau memakainya.” Aku menolak mentah-mentah dan berbalik menuju kebun samping yang sempat aku datangi sore tadi. Disini sudah sepi karena orang-orang pindah ke dalam dan ke halaman belakang, jadi suasananya cukup tenang.
Walau tidak bersuara atau pun mengatakan sesuatu, aku tahu Sean mengikutiku dari belakang ketika aku berjalan-jalan di sekitar kebun itu. Ada jalan setapak yang dibuat, jadi aku tidak takut tersandung batu atau semacamnya. Lampu-lampu hias disini juga membuatnya terlihat cantik. Aku mengambil napas dalam-dalam dan menghembuskannya beberapa kali untuk menenangkan diriku. Sebenarnya kepalaku masih pusing, tapi tidak separah tadi.
“Hei, Nona Yang Tidak Nakal. Sampai kapan kau mau jalan-jalan seperti ini?” Sean bersuara setelah aku menghabiskan waktu sepuluh menit.
“Kau bisa menunggu di dalam mobil, tidak perlu mengikutiku. Atau kau bisa bergabung dengan teman-temanmu di dalam. Aku akan baik-baik saja.” Aku menjawab tanpa menoleh padanya. Tetap melanjutkan langkahku menyuduri jalan setapak.
“Berapa banyak yang kau minum sebenarnya?”
Aku akhirnya menoleh dan langkah kami berdua berhenti. Sean berdiri lima langkah di depanku. Dia masih memegang jaketku. Dengan cahaya lampu yang berada di sekitar kami, aku bisa melihat jelas wajahnya. Sean tampan, aku akui itu. Dia mungkin adalah tipe yang diinginkan para gadis. Seorang bad boy yang penuh pesona. Sial, apa yang aku pikirkan?
“Aku hanya minum satu botol dari Tina dan setengah lagi dari minuman yang disediakan di atas meja.” Aku tersenyum padanya.
“Jangan tersenyum seperti itu.” Sean menatapku tajam, tapi aku melihat sudut bibirnya berkedut. “Kau tidak sadar sudah menggodaku sejak tadi?”
“Aku tidak menggodamu. Kau bertanya dan aku menjawab.” Aku membantah. Yang benar saja, aku bukan wanita seperti itu.
“Berhenti bertingkah manis seperti itu atau kau akan merasakan akibatnya.” Sean melipat kedua lengannya ke depan dan memperhatikanku sambil memiringkan kepalanya. “Kau benar-benar tidak mudah ditebak dalam keadaan mabuk seperti ini, Carolyn.”
“Jangan panggil aku seperti itu.”
“Kenapa? Itu namamu.” Sean meledek dan aku mendengus sebal.
“Kenapa kau selalu bersikap menyebalkan?” Aku bertanya.
“Menyebalkan sudah menjadi nama tengahku, sepertinya.” Sean terkekeh. Harusnya aku kesal karena dia menanggapiku dengan main-main, tapi senyumannya tidak bisa aku abaikan. Aku tidak mengerti kenapa saat ini Sean terlihat begitu tampan.
“Aku ingin bertanya sesuatu padamu dan kau harus menjawab.”
“Kenapa aku harus?”
“Karena aku memaksa.” Aku menatapnya berani dan Sean kembali terkekeh.
“Katakan.”
Aku menarik napas sebelum bicara. “Kenapa kau tidak menyukaiku? Maksudku, kau membingungkan. Awalnya kau memintaku untuk menjauhimu tapi setelahnya kau yang selalu datang. Aku tahu kita bertetangga, tapi kau tidak harus bersimpatik padaku. Aku…tidak suka dikasihani.”
“Aku tidak mengasihanimu. Aku tidak memiliki hal-hal semacam itu di dalam hidupku.”
“Lalu kenapa kau bersikap baik belakangan ini? Kau tidak berusaha membuat kita terlihat seperti orang asing disaat aku mencobanya.”
“Kau ingin jawaban yang jujur atau bohong?”
Aku berdecak sebal mendengar ucapannya yang bermain-main. “Lupakan saja.” Setelah itu aku berjalan ke arahnya untuk melewatinya, tapi Sean menahan satu lenganku dan menariknya hingga tubuhku terhuyung ke arahnya dan entah bagaimana itu terjadi, bibirnya sudah berada diatas bibirku. Dia menciumku. Sean menciumku.
Dia menahan kepalaku dengan satu tangannya yang dia letakan di belakang leherku. Aku memejamkan mata ketika rasa takut itu kembali hadir. Mengalir di setiap aliran darahku dan aku tidak bisa menggerakan tubuhku. Sean menggerakan bibirnya dengan lembut, tapi yang aku rasakan hanyalah ketakutan yang semakin menguasai. Selain itu, kepalaku kembali berputar semakin cepat dan perutku mulai bergejolak.
“Jangan!” Aku mendorong dadanya dengan tenaga terakhir yang kumiliki setelah beberapa saat.
“Carol, kau menangis?” Sean ingin mendekat tapi aku memintanya untuk tetap menjaga jarak. Aku mengusap pipiku yang sudah basah. Tidak tahu kapan airmataku turun.
“Kau tidak bisa mempermainkan seseorang seperti ini.” Aku terisak pelan dan berbalik untuk meninggalkannya. Aku menuju ke sudut yang tidak diterangi lampu untuk muntah karena perutku bergejolak hebat. Ugh, aku benci ini. Kepalaku masih berputar dan aku butuh sandaran.
“Pakai ini.” Sebuah sapu tangan muncul di depanku setelah aku selesai mengeluarkan isi perutku dan Sean sudah berdiri di dekatku.
“Jangan lihat.” Aku mendorongnya, tapi Sean tidak terpengaruh.
“Kau benar-benar buruk saat mabuk, Carol. Jangan melakukannya kalau tidak bersamaku.” Sean dengan semena-mena membersihkan di sekitar mulutku.
“Hentikan.” Aku menepis tangannya lagi. “Aku bukan anak kecil.” Sahutku sebal.
“Aku tidak bilang kau anak kecil.” Sean membela diri. “Pakai jaketmu.” Dia menyodorkan lagi jaketku dan kali ini aku menurutinya.
Tidak ada orang lain selain kami disini dan aku kembali mengingat apa yang terjadi diantara kami beberapa menit lalu. Aku masih bisa merasakan bibir Sean pada bibirku dan itu membuat wajahku memanas. Kenapa dia melakukan itu?
“Maafkan aku.” Sean berbicara, wajahnya terlihat murung. “Aku tidak bermaksud melakukannya. Itu salahku.”
Mendengar permintaan maaf darinya justru membuatku merasa semakin kesal dan sedih disaat yang bersamaan. Jadi itu hanya kesalahan yang dia sesali sekarang? Apa dia selalu begitu mudah mencium wanita?
“Apa kau selalu seperti ini? Mencium para wanita dan meminta maaf setelahnya, lalu mengatakan itu hanya sebuah kesalahan?” Aku menuntut.
“Apa yang kau bicarakan?” Sean mengerutkan keningnya.
“Aku memang mendengar berita tentangmu. Banyak yang mengatakan bahwa kau bukan pria yang baik, tapi aku berusaha untuk menutup telinga karena aku tidak ingin mudah percaya pada sesuatu yang belum kuketahui kebenarannya, tapi sekarang aku sudah mengerti. Kau memang bukan pria yang baik. Dan aku tidak seharusnya berdekatan denganmu. Aku seharusnya mendengarkan ucapan Adam. Aku seharusnya ikut pulang bersamanya ketika dia mengajakku tadi.”
“Sebut namanya sekali lagi jika kau ingin aku mengulangi apa yang beberapa menit lalu kulakukan padamu.” Sean mengancam dengan geraman di dalam suaranya.
“Kau tidak bisa mengancamku. Aku tidak takut padamu.” Aku membalasnya dan ingin meninggalkannya, tapi lagi-lagi Sean menahan satu lenganku dan mencengkramnya erat.
“Jangan menguji kesabaranku, Carol. Kau tidak akan tahu apa yang bisa kulakukan.”
Aku terpaku menatap sorot matanya yang tajam dan menyeramkan. Lidahku kelu dan kesadaran memukulku. Membuatku menyesal karena sudah menantangnya.
“Sekarang kau turuti perintahku untuk kembali ke mobil dan kita pulang, atau kau ingin aku melakukan cara lain untuk memaksamu?”
“Oke.” Aku menjawab pelan dan Sean melepaskanku secara tiba-tiba hingga tubuhku terhuyung sesaat. Dia berjalan mendahuluiku dan aku tepat berada di belakangnya.
Sean hanya diam saja selama perjalanan. Wajahnya masih ditekuk, tapi rahangnya tidak lagi mengeras seperti sebelumnya. Kenapa sekarang dia yang marah? Aku yang berhak marah karena dia menciumku seenaknya dan meminta maaf dengan mudahnya seolah itu bukanlah hal besar.
***
__ADS_1