BEFORE YOU

BEFORE YOU
Chapter 5


__ADS_3

Aku membuka mata dan hal pertama yang kulihat adalah langit-langit kamarku. Rasa sakit menyerang kepalaku selama beberapa detik. Aku duduk diatas tempat tidur, menemukan segelas susu di atas meja nakas dan langsung menghabiskannya. Hal terakhir yang kuingat adalah berada di mobil Sean semalam, tapi aku tidak ingat bagaimana bisa sampai ke dalam kamar.


Daripada memikirkan hal yang tidak kuingat dan hanya membuat kepalaku kembali sakit, aku memutuskan untuk mandi dan menyegarkan diri. Jadwalku hari ini adalah mengikuti kelas jam dua siang nanti, jadi untuk pagi ini aku bebas. Setelah menghabiskan dua puluh menit untuk mandi dan berpakaian, aku mengambil ponselku dan keluar dari dalam kamar.


“Kau sudah sadar?” Nenek menyambutku dengan senyum. Dia sedang menyiapkan semangkuk sereal. Aku menghampirinya dan duduk di salah satu kursi tinggi di depan counter. “Sean menggendongmu dari mobilnya sampai ke tempat tidur. Dia bilang kau salah minum. Seharusnya kau minum jus tapi kau mengambil alkohol hingga akhirnya mabuk. Sean minta maaf padaku karena tidak menjagamu dengan baik. Bukankah dia anak yang cukup baik?”


“Dia meminta maaf?” Aku tidak percaya dengan apa yang baru saja kudengar. Sean meminta maaf atas kesalahan yang tidak dia lakukan. Aku tidak tahu harus mengatakan apa.


“Kau harus berterima kasih padanya nanti.” Nenek mengingatkan sambil menyodorkan semangkuk sereal ke hadapanku dan aku hanya mengangguk kecil.


“Ada yang ingin kubicarakan.” Aku mengaduk serealku dan mulai merasa tegang hanya dengan membayangkan apa yang terjadi kemarin. Soal telepon itu.


“Katakanlah.” Nenek duduk di sampingku dengan secangkir teh hangat di tangannya.


“Kemarin, ini tentang kemarin.” Aku mulai gusar. “Aku mendapatkan telepon dari seseorang. Dia menghubungi telepon rumah kita.”


“Siapa?” Nenek menatapku, mengerti kecemasan yang aku alami saat ini.


“Aku tidak tahu. Dia hanya berbicara asal dan aku langsung menutup teleponnya, tapi aku masih mengenal suaranya. Aku takut dia menemukan kita.” Kedua tanganku sudah gemetar tanpa kusadari dan nenek segera menggenggamnya dengan lembut. Airmata menetes di pipiku saat aku mendongak untuk menatap wajah nenekku. “Aku tidak ingin bertemu dengannya lagi. Aku..kapan aku akan bisa lepas dari ketakutan ini kalau dia selalu mengganggu hidup kita?”


“Kau pasti bisa melewatinya, Sayang. Kau tahu aku akan selalu ada untukmu. Kita bisa melewati ini bersama.” Nenek merangkulku. Membawaku ke dalam dekapannya. Wajahnya sedih dan sebenarnya aku merasa kasihan karena dia harus ikut terlibat di masa tuanya seperti ini. “Kita akan mencari jalan keluarnya.”


“Bagaimana kalau dia lebih dulu menemukan kita?” tanyaku cemas.


“Lingkungan di tempat ini cukup aman, Carol. Aku yakin dia tidak akan mudah masuk dan berkeliaran disini.”


Aku menghela napas saat mengingat bahwa lingkungan ini memang cukup aman. “Kau benar. Kita akan baik-baik saja.” Aku mengucapkannya untuk meyakinkan diriku sendiri.


“Oh iya, kalian pergi kemana semalam? Sean mengatakan ada sebuah pesta, tapi aku tahu kau tidak suka tempat seperti itu.”


“Hm, Sean seorang anak band. Mereka diundang untuk tampil dan Sean melihatku ketika aku ketakutan kemarin. Sepertinya dia tidak tega meninggalkanku sendiri, jadi dia menawarkanku untuk ikut. Itu ide yang lebih baik daripada di rumah sendirian.”


“Apa penampilan mereka bagus?” Nenekku mulai tertarik. Jelas terlihat dari senyumannya.


“Well, ya, mereka cukup baik.” Jawabku. Sejujurnya penampilan mereka sangat mengesankan. Lagipula, Sean tidak memainkan musik keras seperti yang diceritakan Adam sebelumnya.


Bicara soal Adam, aku lupa belum memberitahunya tentang keadaanku. Aku yakin ponselku sudah penuh dengan pesan dan panggilan tak terjawab darinya saat ini, tapi aku sedang tidak ingin diingatkan dengan masalah tadi malam. Kepalaku masih sakit dan aku masih bisa mengingat bagaimana Sean menciumku. Dia harus punya alasan yang cukup baik atas kelakukannya itu atau aku akan memukulnya. Semalam aku tidak melawan karena kehilangan kendali atas diriku sendiri akibat minuman pahit terkutuk yang kuhabiskan, tapi sekarang aku sudah sangat sadar.


Aku menghabiskan sarapanku, membawa mangkuknya ke bak cuci, lalu membersihkannya. Aku harus bertemu Sean. Dia harus menjelaskan padaku tentang situasi semalam.


“Kau mau kemana?” Nenek bertanya saat melihatku melewati ruang tamu menuju pintu.


“Aku, aku ingin bertemu Sean dan mengucapkan terima kasih karena sudah membawaku pulang.” Aku menjawab.


“Bagus.” Nenekku tersenyum. “Sampaikan salamku pada Marrie.”


“Tentu.”


Aku melewati pintu dan bergegas menuju rumah Sean. Tidak sampai lima menit, aku sudah berdiri di depan pintu rumahnya, tapi aku malah tidak tahu harus berbuat apa. Aku ragu saat ingin mengetuk pintu. Bagaimana kalau Sean tidak ada? Atau bagaimana kalau pria itu berubah menjadi menyebalkan seperti biasa?


Aku tersentak ketika pintu di depanku terbuka tiba-tiba. Bukan Sean atau Marrie atau James yang kulihat, tapi justru Tina yang berada di depanku. Apa yang dia lakukan di rumah Sean di pagi hari seperti ini? Dan ya ampun, aku rasa dia tidak memiliki pakaian yang tidak menunjukkan perutnya. Kenapa dia senang sekali mengenakan pakaian seperti itu.


“Oh, coba lihat siapa yang ada disini?” Tina mulai dengan nada suaranya yang sinis dan menyebalkan. “Sudah pulih dari hangover-mu, Gadis Manis?”


Aku sengaja tidak membalas ucapannya. Dia akan semakin tertarik jika aku terpancing.


“Kenapa kau bisa ada disini? Bagaimana kau bisa tahu rumah Sean?” Dia kembali bertanya.


“Kau sendiri? Apa yang kau lakukan disini?”


“Sean membutuhkanku, jadi aku datang.” Tina tersenyum kemudian berbisik padaku. “Kami sedang berduaan, jadi kalau kau tidak memiliki urusan yang penting, bisa kau pergi saja?”


Wajahku memanas mendengar suaranya yang menggelikan. Apa Marrie dan James tidak ada di rumah? Bagaimana bisa mereka membiarkan Sean dan Tina hanya berdua di dalam rumah. Aku benar-benar tidak habis pikir.


“Apa yang kau lakukan disana, Tina?” Suara serak itu terdengar dari dalam rumah. Aku menolehkan kepalaku dan melihat Sean berdiri dengan wajah bangun tidur, rambut berantakan dan kedua mata yang belum terbuka sempurna. Dia hanya mengenakan kaus tipis berwarna putih dan celana pendek hitam. Tina bergeser untuk memberiku jalan masuk dengan kedua tangan terlipat.


“Carol? Ada apa kemari?” Sean menatapku dengan kening berkerut.


“Ada yang ingin kubicarakan denganmu.” Aku menatapnya lama sambil memainkan jari-jari tanganku. Sean mengamatiku cukup lama sebelum pandangannya beralih pada Tina yang berada di belakangku.


“Pulanglah, Tina. Aku akan menemuimu lagi nanti sore.”


“Tentu.”


Aku menoleh ke arah Tina untuk terakhir kali dan dia memberiku seringai yang menyebalkan. Setelah Tina pergi dan pintu tertutup, hanya ada aku dan Sean di ruang tamu ini. Jarak kami hanya sekitar tujuh langkah. Dia masih berdiri disana, menungguku berbicara.


“Jadi? Apa kau hanya akan berdiri disana saja?” Sean menatapku dengan senyum kecil di sudut bibirnya.


“Dimana Marrie?” Aku membuka suara.


“Marrie? Jangan katakan kalau kau hanya mencari alasan dengan mengatakan ingin membicarakan sesuatu denganku padahal kau hanya ingin mengusir Tina dari sini?”


“Apa? Tidak. Aku tidak bermaksud seperti itu. Dan lagipula, kau yang menyuruh dia pergi, bukan aku.”


Sean mendengus. “Marrie pergi ke swalayan. Ayahku tidak ada. Dia ke luar kota untuk beberapa hari karena pekerjaan. Hanya itu yang ingin kau tanyakan? Kalau sudah, aku ingin kembali tidur.”


“A-aku ingin mengucapkan terima kasih.” Kataku pelan. Bodoh, Carol! Apa yang barusan kau katakan?


“Apa?”


“Nenekku menceritakannya. Dia bilang kau menggendongku dari mobil sampai ke dalam kamar. Terima kasih. Kau seharusnya membangunkanku.”


“Percayalah aku sudah melakukannya, tapi kau tertidur seperti orang mati. Dan kau mabuk, ingat? Bagaimana keadaanmu sekarang?”


“Aku sudah lebih baik.” Aku melihat ke arah lain dan berdiri dengan canggung saat Sean terus menatapku intens.


“Ada lagi yang ingin kau bicarakan, Carol?”


Ya, aku ingin bertanya kenapa kau menciumku semalam?

__ADS_1


“Kenapa Tina bisa ada disini?” tanyaku pada akhirnya. Aku tidak bisa mengatakan apa yang sebenarnya ingin kutanyakan.


“Sejak kapan kau jadi penasaran pada semua hal?” Sean menatapku dengan senyuman di wajahnya.


“Aku tidak penasaran. Kau tidak perlu menjawab kalau tidak mau.” Aku membela diriku sendiri walaupun aku tahu itu tidak berguna. Nyatanya aku sudah salah sejak awal datang kesini.


“Kalau tidak ada hal lain lagi, aku ingin kembali tidur. Kau mau ikut?” Dia menggerakan kepalanya sebagai ajakkan agar aku mengikutinya kearah tangga tapi siapa yang mau?


“Dalam mimpimu saja.” Aku bertolak pinggang dan Sean tertawa melihatku.


“Berita baiknya, itu sudah terjadi. Kau ada di dalam mimpiku semalam.” Suaranya berubah menjadi lebih rendah. Sean menatap ke dalam mataku dan aku tidak bisa mengalihkan diriku darinya.


“Apa yang kau katakan?” tanyaku pelan, hampir seperti bisikan dan aku tidak sadar telah menahan napasku.


“Aneh bukan?” Sean mendengus. “Kau yang mabuk tapi aku yang bermimpi aneh tentangmu. Aku rasa memang seharusnya kita tidak saling berdekatan.”


“Apa?” Aku tidak percaya dengan apa yang baru saja kudengar darinya. Setelah dia menciumku sembarangan semalam, sekarang dia mengatakan agar kami tidak saling berdekatan? Adam benar. Sean hanya seorang pria yang kurang ajar.


“Yang semalam terjadi itu tidak sengaja. Aku benar-benar menyesal. Itu tidak akan pernah terjadi lagi.”


Mendengar ucapannya yang seolah berusaha menjadi bijaksana membuat emosiku naik. Andai aku bisa, aku ingin memukulnya sekali agar dia tahu bahwa dia tidak bisa berbuat sesuka hati dan hanya menyesali setelahnya. Itu bukan hal yang benar.


“Kau tahu? Kau menyebalkan dan aku membencimu.” Aku mengepalkan kedua tanganku. “Kau tidak ingin bertemu lagi denganku, bukan? Tentu. Aku senang kau mengatakannya dan akan kuulangi untuk membuatnya semakin jelas. Aku juga tidak ingin bertemu lagi denganmu dan kau juga tidak perlu berpura-pura di hadapan nenekku atau ayahmu atau Marrie. Kau bisa menganggap hal semalam tidak terjadi atau lakukan semaumu, aku tidak akan peduli.” Napasku memburu setelah aku selesai mengatakan semua yang kurasakan dan tanpa menunggu Sean membalas, aku lebih dulu berlari dan meninggalkan rumahnya.


Aku harus mengingatnya mulai saat ini. Aku tidak lagi mengenal pria bernama Sean Keith. Dia hanya pria asing dan aku tidak perlu lagi bertemu atau berurusan dengannya. Ya, aku harus melakukannya, tapi kenapa hatiku sakit?


***


Ini sudah delapan hari sejak terakhir kali aku bertemu Sean. Aku masih melihatnya beberapa kali tanpa sengaja, tapi kami tidak saling bertegur sapa atau semacamnya. Kami berdua benar-benar bertindak seperti dua orang asing. Marrie sepertinya menyadari berubahan sikap yang terjadi padaku dan Sean, jadi dia lebih sering berkunjung ke rumah kami alih-alih mengajak kami untuk datang ke rumahnya. Juga, sejak aku menceritakan pada nenekku mengenai telepon misterius itu, ia memutuskan untuk menghubungi layanan jasa agar mengubah nomer telepon rumah kami dan aku bisa merasa lega sekarang.


Aku membasuh wajahku dan menatap diriku di cermin, lalu mengambil handuk kecil dari dalam tas untuk mengeringkan wajahku. Tepat saat itu, Tina muncul dari balik pintu di belakangku. Aku bisa melihatnya melalui cermin. Dia membuat ekspresi terkejut yang berlebihan dan aku berusaha untuk mengabaikannya.


“Hai.” Dia berdiri di sebelahku. Kami saling menatap melalui cermin.


“Hai.”


“Bagaimana kabarmu, Carol? Aku tidak melihatmu berkeliaran di dekat Sean lagi akhir-akhir ini.” Dia melipat kedua tangannya ke depan. Senyumnya yang menjengkelkan tidak pernah hilang dari wajahnya.


“Dan kenapa aku harus berkeliaran di dekatnya?”


Tina mendengus. “Aku hanya bertanya. Kau tidak perlu merasa jengkel seperti itu.” Dia menatapku kali ini dari atas sampai ke bawah dan kembali menatap wajahku. “Lagipula kau dan Sean terlihat tidak cocok saat bersama. Kau terlalu berbeda.”


“Apa maksudmu?” Aku mengerutkan kening mendengar ucapannya yang ambigu tapi Tina hanya tersenyum dan berbalik pergi meninggalkanku.


Suasana hatiku langsung turun setelah bertemu dengan Tina. Bagaimana pun, dia orang yang menyebabkan aku mabuk hingga ciuman antara diriku dan Sean terjadi pada malam itu. Tina bahkan tidak pernah meminta maaf walaupun aku memang tidak mengharapkan hal itu terjadi.


Astaga, mengingat hal itu justru membuatku kembali mengingat ciumanku dengan Sean. Bagaimana mungkin aku semakin mengingat bayangan kejadian itu padahal aku berusaha keras untuk melupakannya? Semakin aku berusaha, bayangan wajah Sean dan sapuan napasnya yang begitu dekat justru terasa semakin jelas dan membuatku merinding. Bagaimana dia bisa tetap mempengaruhi diriku bahkan disaat kami tidak saling bertegur sapa selama delapan hari? Ini tidak adil.


Aku keluar dari toilet dan memutuskan untuk kembali ke rumah karena kelasku sudah berakhir hari ini. Adam memiliki urusan lain, jadi aku akan pulang dengan bus. Selama perjalanan, aku hanya melamun menatap jalanan yang kulalui sambil menyandarkan kepalaku di kaca. Bus tidak terlalu ramai hari ini. Hanya ada lima orang termasuk supirnya. Saat berbelok, aku terkejut melihat Sean ada di pinggir jalan bersama seorang pria lain yang menatapnya galak. Aku berteriak agar supir berhenti saat melihat pria itu mencengkram bagian depan baju Sean dan hampir meninjunya. Setelah bus berhenti, aku segera turun dan berlari ke arah mereka. Aku tidak tahu apa yang aku lakukan saat ini, yang terpenting adalah menolong Sean.


“Berhenti!” Napasku tersengal setelah berhasil melepaskan cengkraman pria itu dari Sean dan kini aku berada diantara keduanya.


“Siapa kau? Kenapa ikut campur?” Pria dengan rambut berwarna tembaga itu menatapku tidak suka.


“Dia bukan siapa-siapa.” Sean menjawab dengan cepat. Menarik tanganku untuk berdiri di belakang punggungnya. Aku baru menyadari bahwa tulang pipi sebelah kanannya sudah lebam.


“Bukan siapa-siapa tapi kau menggenggam tangannya?” Pria itu menyeringai. Tatapannya tertuju pada tangan Sean yang masih menggenggam satu tanganku. “Menarik.”


“Tunggu di dalam mobilku.” Sean memberi perintah dan aku menimbang antara menurutinya atau tetap disini. “Carol!” Dia menegurku dengan suara tegas dan aku tidak bisa lagi menolak.


Dengan berat hati, aku berbalik menuju mobil Sean dan menunggunya di dalam. Aku masih memperhatikan mereka bicara walaupun aku tidak bisa mendengar sama sekali. Beberapa kali pria itu melirik dan melayangkan seringaian kepadaku sebelum akhirnya pergi dengan sepeda motornya. Akhirnya dia meninggalkan Sean sendiri, tapi aku menjadi gugup saat Sean berjalan ke arahku. Dia membuka dan menutup pintu mobil dengan keras.


“Apa yang kau lakukan tadi?” tanyanya dengan nada kesal.


“Aku… aku melihat kalian sepertinya berkelahi, jadi aku…”


“Kenapa kau selalu berusaha ikut campur, Carol? Kau tidak perlu melakukan apa pun, kau dengar? Kau tidak perlu menjadi baik untukku.” Dia marah. Wajahnya terlihat frustasi dan dia mengacak rambutnya dengan kasar.


Hatiku sakit saat mendengar ucapannya. Maksudku, kami memang sepakat untuk menjaga jarak dan bersikap seolah kami adalah orang asing, tapi aku tidak mungkin mengabaikan orang yang akan berkelahi di pinggir jalan.


“Maaf kalau menurutmu aku sudah lancang, tapi aku hanya berniat untuk membantumu. Dia hampir memukulmu tadi dan juga…”


“Dan apa? Kau pikir kau bisa membantuku darinya? Ini urusan laki-laki.” Sean menyentak hingga aku menahan napas. “Kenapa kau selalu membuat dirimu sendiri berada dalam masalah?”


Pandanganku kabur karena airmata yang mulai memupuk. Aku tidak menyangka kalau Sean menganggapku remeh seperti itu. Mungkin aku memang tidak akan bisa membantunya melawan pria tadi, tapi setidaknya aku memang berniat membantunya lepas dari pria itu.


“Kau tahu? Kau tidak perlu meremehkanku seperti itu jika kau memang tidak memerlukan bantuanku. Dan aku menyesal karena peduli padamu.” Aku menghapus airmataku yang menetes dan membuka pintu mobil, lalu membantingnya setelah aku keluar.


Aku berjalan secepat yang kubisa sambil terus mengusap airmataku yang sialnya tidak mau berhenti. Aku benci Tina. Aku benci Sean. Dan aku benci perasaanku padanya yang membuatku bingung. Aku merasa seperti orang bodoh. Sean pasti berpikir kalau aku yang sengaja mendekatinya dan menganggap diriku hanya sebagai pengganggu.


“Carol, tunggu.”


Aku mempercepat langkahku saat mendengar suara Sean di belakang disusul dengan derap langkah kaki. Aku benar-benar menyesali tindakan bodohku. Tidak seharusnya aku merelakan turun dari bus yang seharusnya sudah mengantarku pulang ke rumah hanya untuk pria tidak punya hati seperti Sean. Dia bahkan membentakku.


“Kubilang, tunggu!”


Satu tanganku dicengkram dan aku dipaksa untuk berbalik menatap Sean. Aku berusaha melepaskan tanganku, tapi dia menahannya dengan kuat. Perlawananku untuk bisa bebas darinya berlangsung selama lima menit tanpa jeda dan cukup melelahkan. Dia benar-benar tidak melepaskanku dan aku sama sekali tidak berusaha untuk melihat wajahnya. Aku tidak mau dia melihatku menangis untuk kedua kalinya.


“Lepaskan.” Aku akhirnya bicara setelah perlawananku sia-sia dan hanya bisa pasrah. Lagipula, pergelangan tanganku mulai terasa sakit.


“Tidak.”


“Kau ingin aku pergi, kenapa sekarang menahanku?” Aku belum mau menatapnya, jadi aku hanya menunduk.


“Maafkan aku, oke?”


Sean benar-benar tidak bisa dipercaya. Beberapa menit lalu dia kembali melukaiku dengan kata-katanya dan sekarang dia minta maaf dengan begitu mudahnya.


“Lepaskan atau aku akan berteriak.” Aku mati-matian membuat suaraku terdengar normal disaat airmataku mulai mengalir lagi. Kenapa rasanya begitu sesak?

__ADS_1


“Carol.” Satu tangan Sean yang bebas ingin menyentuh pipiku tapi aku dengan cepat menepisnya.


“Jangan sentuh aku.” Kini aku menatapnya setelah menghapus airmata dari wajahku. Sean menatapku dengan wajah memelas tapi aku tidak peduli. Dia selalu pandai berpura-pura.


“Maaf, aku tidak bermaksud bicara seperti itu padamu.”


“Tidak, Sean. Aku yakin kau memang berniat untuk mengatakan itu padaku.” Aku membantahnya. “Kau sudah mengatakannya dengan sangat jelas dan sekarang aku mengerti. Jadi tolong lepaskan tanganku dan biarkan aku pergi.”


“Biarkan aku mengantarmu.” Sean melonggarkan cengkramannya tapi belum melepaskan.


“Tidak. Aku akan pulang sendiri.”


“Tidak ada kendaraan lain disini. Kau tidak mungkin pulang dengan jalan kaki.”


“Aku bisa mengurus diriku sendiri jadi lepaskan tangan sialanmu dariku!” Aku mengumpat dan menatap marah ke arahnya. Sean sempat tersentak sebelum akhirnya melepaskan tanganku. Bukan hanya dia yang terkejut, aku juga sama. Aku tidak pernah mengumpat pada siapa pun sebelumnya, tapi Sean benar-benar membuatku marah dan dia menyakiti hatiku.


“Carol…”


“Jangan bicara padaku lagi.” Aku berbalik dan kali ini setengah berlari meninggalkannya.


“Sialan!” Aku mendengar Sean mengumpat dan kemudian suara pintu mobil yang ditutup dengan keras.


Langkahku berhenti saat mobil Sean melesat melewatiku. Airmataku kembali mengalir dan aku bahkan terisak melihat mobilnya semakin menjauh. Dia meninggalkanku sendirian disini. Sean benar-benar pria brengsek. Kedua kakiku lemas, tapi aku terus memaksakan diri untuk berjalan karena kondisi disini yang cukup sepi. Kembali aku mengusap sisa airmata yang ada di pipiku sambil berusaha menenangkan diri.


Tidak berapa lama, aku tersentak saat mobil Sean –entah bagaimana, sudah berhenti tepat di depanku dengan bunyi decitan antara ban mobil dan aspal. Dia keluar dari mobil dan menutup pintunya dengan keras. Tatapannya penuh emosi dan rahangnya mengeras. Bibirnya ditekuk saat dia berjalan ke arahku dengan langkah yang besar dan tanpa bisa kuhindari, bibirnya sudah berada diatas bibirku. Dia menciumku, dengan keras, seolah dia sedang menyalurkan emosinya lewat ciuman ini. Ciuman yang lagi-lagi seenaknya dia curi dariku.


Aku membawa kedua tanganku di depan dadanya untuk mendorong Sean agar menjauh, tapi gerakannya cukup cepat untuk menahan kedua tanganku di dalam satu genggaman tangannya. Satu tangan yang bebas dia gunakan untuk menahan kepalaku. Aku dipaksa untuk menerima ciumannya yang membuat perasaanku campur aduk. Aku takut, berdebar dan sedih. Hanya Sean yang bisa membuatku merasakan hal seperti ini.


Setelah beberapa menit yang menguras seluruh pasokan oksigen di sekitarku, Sean akhirnya mengakhiri ciumannya. Wajahnya sedikit menjauhiku, hanya sedikit, dan tatapan kami bertemu. Napasnya terengah sama sepertiku. Bibirnya merekah dan kurasa milikku juga sama. Sean mengusap sebelah pipiku dengan ibu jarinya.


“Jangan menangis. Aku tidak suka melihatnya.” Napasnya yang segar menerpa wajahku hingga membuatku memejamkan mata.


“Apa yang kau lakukan?” Suaraku terdengar begitu lirih dan tidak percaya diri. Otakku masih membeku dan belum bisa menerima kejadian barusan.


“Aku minta maaf karena membentakmu, tapi aku tidak akan minta maaf karena menciummu.” Sean menempelkan keningnya pada keningku. “Sial, Carol! Apa yang kau lakukan padaku? Selama ini aku berusaha menjauhimu, tapi sekarang kau yang mendatangiku.”


“Aku melihatmu hampir dipukul, bagaimana bisa aku mengabaikannya?”


Sean menatapku, pandangan kami bertemu. Ibu jarinya mengusap pipiku dengan perlahan. Tangan Sean memang tidak lembut, tapi aku merasa nyaman. Aku bahkan tidak merasakan ketakutan yang biasa kualami jika berada dalam jarak yang seintim ini dengan lawan jenis. Sean…berbeda dari yang lain.


“Ayo, aku antar kau pulang.”


Sean menggenggam tanganku untuk mengikutinya ke dalam mobil. Aku masih berusaha menenangkan debaran jantungku yang tidak karuan dan saat mobil mulai melaju, kami mengawalinya dengan keheningan. Aku tidak tahu harus mengatakan apa dan Sean hanya fokus pada jalanan di depan kami. Aku menghela napas dan memilih untuk melihat ke arah jalanan di samping kanan dengan jari yang saling bertautan di atas pangkuanku.


“Apa yang kau pikirkan?” Suara Sean terdengar beberapa saat kemudian yang disusul dengan genggaman tangannya diatas tautan jari-jariku.


Aku menoleh dan melihatnya tersenyum samar. Dia menunggu jawabanku tapi aku sendiri tidak tahu apa yang sedang aku pikirkan. Terlalu banyak. Aku belum bisa mencerna apa yang terjadi beberapa saat lalu dan kata-katanya masih membuatku bingung.


“Carol, beritahu aku. Jangan menyimpannya sendiri.” Sean kembali berbicara.


“Aku tidak tahu.” Aku menggeleng pelan dan menunduk untuk melihat kedua tanganku yang berada dalam genggaman tangannya. “Kau membuatku bingung.”


“Kalau aku mengatakan hal yang sama, apa kau akan percaya?”


“Aku rasa tidak.”


Sean tertawa pelan mendengar jawabanku. “Ini yang kusukai darimu.”


“Kau…apa?” Aku menahan napas. Tidak percaya dengan apa yang baru saja kudengar.


“Carol, aku rasa aku mulai menyukaimu. Bagaimana menurutmu?” Ekspresi Sean berubah lebih serius. Dia membenarkan posisi duduknya.


“Tapi kau bilang kita tidak seharusnya saling berhubungan. Kau membenciku.”


“Aku tidak pernah membencimu, kau yang mengatakannya.” Sean mengoreksi dan aku merasa malu. Aku memang mengatakannya dan aku menyesal karena aku sudah mengucapkan kalimat yang bertentangan dengan hatiku. Aku tidak akan pernah bisa membenci Sean. Entah apa yang sudah dia lakukan padaku hingga aku menjadi seperti sekarang.


“Aku tidak tahu, aku belum bisa mencerna semua ini.”


“Jangan terburu-buru. Aku tahu kau masih belum percaya padaku.” Dia melepaskan genggaman tangannya dariku dan ada senyum getir yang tersamar di wajahnya yang membuatku merasa bersalah.


“Kita belum saling mengenal, Sean. Aku yakin kau akan berubah pikiran saat mengetahui semua tentangku.” Aku menunduk lagi dan memainkan jari-jari tanganku.


“Kau yakin bukan kau yang akan berubah pikiran jika mengetahui semua tentangku?”


“Yah, sedikit banyak aku sudah mengetahui tentangmu.” Aku mengangkat kedua bahuku dan Sean terkekeh.


“Aku tidak akan mempermasalahkan masa lalumu atau apa pun yang kau lakukan sebelumnya.”


“Okay.” Jawabku cepat.


“Apa itu artinya?” Sean bertanya dengan satu alisnya terangkat. “Kau mau mencobanya? Denganku?”


“Yah, mencoba untuk saling mengenal.” Aku menjawab.


Sean tersenyum dan satu tangannya yang bebas kembali menggenggam tanganku. “Terima kasih.”


Satu sisi di hatiku bertanya apakah ini keputusan yang tepat, tapi sisi lainnya mengatakan bahwa aku memang harus mengambil keputusan ini karena aku juga memiliki ketertarikan yang sama pada Sean. Dan aku harus mencobanya.


“Apa kau ingin makan? Aku tahu ini masih sore, tapi aku belum sempat makan siang tadi dan jika kau tidak keberatan, mau temani aku?”


“Tentu.” Aku mengangguk setuju dan Sean kembali tersenyum, lalu memindahkan satu tangannya kembali ke roda kemudi.


Aku menatapnya, bertanya dalam hati sudah berapa banyak dia mengencani gadis-gadis sebelumnya. Apa saja yang mereka lakukan dan bagaimana Sean memperlakukan mereka. Tiba-tiba aku menjadi ingin tahu, tapi aku rasa itu bukan ide yang bagus jika aku menanyakan padanya. Lagipula, Sean sudah mengatakan tidak peduli pada masa laluku, jadi kurasa aku tidak berhak mengorek masa lalunya juga.


 


***


 

__ADS_1


 


__ADS_2