
“Kau harus mengobati itu.”
Aku menunjuk luka lebam di bagian tulang pipi sebelah kanan Sean yang mulai berubah warna menjadi keunguan. Sean masih belum menceritakan masalah apa yang terjadi antara dirinya dan pria itu hingga mereka berkelahi dan aku tidak ingin Sean mengomeliku karena mencampuri urusannya lagi, tapi tidak berarti aku tidak peduli. Aku hanya tidak ingin terlalu memaksanya untuk bercerita.
“Ini bukan apa-apa.”
“Apa kau sering berkelahi?”
“Tidak sesering yang kau kira.” Sean tersenyum dan membawa beberapa kentang goreng ke dalam mulutnya.
“Kenapa kau berkelahi?” tanyaku lagi.
“Kenapa kau menghampiriku?” Bukan menjawabnya, Sean malah mengajukan pertanyaan lain.
“Aku sudah mengatakannya. Aku melihatmu hampir dipukul dan aku tidak mungkin membiarkannya.”
“Kau bisa saja melakukannya. Kau bilang kau membenciku.”
Aku bergerak gelisah di tempat dudukku dan memutuskan untuk meneguk soda untuk membasahi tenggorokanku. “Itu karena aku kesal padamu. Kau menciumku pada malam sebelumnya lalu besok paginya kau mengatakan agar kita tidak saling berhubungan.”
“Kau langsung berteriak bahkan sebelum aku menyelesaikan apa yang ingin kukatakan.” Sean terkekeh sambil menggelengkan kepala.
“Maafkan aku.” Aku mengakui kesalahanku yang terlalu mudah tersulut emosi saat itu.
“Kau menyukaiku juga, kan?” Aku menatapnya, tidak tahu apa yang harus kujawab. “Kalau kau tidak memiliki perasaan apa pun padaku, kau tidak akan menghampiriku. Kau tidak akan peduli.”
“Ya.” Akhirnya aku mengaku setelah beberapa saat.
“Aku senang kau mau mengakui perasaanmu.” Sean tersenyum. Dia menyodorkan satu kentang goreng di depan mulutku dan aku menatapnya. “Buka mulutmu.”
Dengan menahan rasa panas di kedua pipiku, aku menggigit kentang goreng itu dan membawanya ke dalam mulutku. Sean kembali tersenyum dan aku tidak menyangka dia menjadi pria yang murah senyum hari ini, tapi aku menyukainya. Dia tidak lagi menyebalkan seperti sebelumnya.
“Enak, kan? Kau benar-benar tidak mau makan?” Dia kembali bertanya karena memang hanya dia yang memesan makanan sementara aku hanya minum.
“Aku baik-baik saja.” Aku menjawab. “Apa yang akan kau lakukan setelah ini?”
“Aku harus pergi ke suatu tempat.”
“Berkumpul dengan anggota yang lain?” tanyaku lagi.
“Yah, semacam itu.” Sean menjawab acuh. “Kau sendiri? Apa rencanamu?”
“Aku mungkin hanya di rumah dan melanjutkan membaca novel yang belum kuselesaikan."
“Good girl.” Sean lagi-lagi tersenyum sampai ke matanya dan aku tidak bisa menahan diriku dari pesonanya.
“Berapa lama kalian bersama-sama? Maksudku membentuk sebuah grup seperti itu.”
“Aku rasa sudah hampir tiga tahun atau lebih.” Sean menimbang. “Aku tidak terlalu ingat bagaimana awalnya.”
“Apa Tina juga sudah ikut sejak awal?”
“Ya. Tina memiliki hubungan dengan banyak orang sehingga kami bisa tampil di beberapa tempat bahkan sebelum kami merilis lagu sendiri.”
“Oh.”
Kenyataan bahwa Tina berkontribusi besar dalam grup Sean membuatku sedikit kesal. Aku merasa Tina lebih mengetahui banyak hal tentang Sean daripada diriku.
“Kenapa dengan nada itu? Apa kau cemburu?”
“Aku hanya merasa Tina tidak menyukaiku.” Aku menjawab jujur.
“Dia memang tidak pernah menyukai siapa pun. Kau tidak perlu memikirkannya.”
“Dia juga melakukan hal yang sama pada Lia padahal dia gadis yang manis.”
“Lia sudah lebih berpengalaman menghadapi Tina, jadi kau tidak perlu mencemaskannya.” Sean terkekeh.
“Tapi tetap saja, Tina tidak bisa melakukan hal itu pada Lia atau pada siapa pun.”
“Sepertinya kau dan Lia sudah berteman baik. Kau ingin bertemu lagi dengannya? Steve ingin membuat pesta kejutan akhir bulan ini untuk merayakan ulang tahun Lia. Dia memaksa kami semua untuk ikut membantunya, sial.” Sean terkekeh di akhir sambil menggelengkan kepala. “Kau tahu? Awalnya Steve tidak menginginkan Lia. Dia hanya pria brengsek yang ingin memanfaatkan keluguan Lia, tapi lihat sekarang. Dia justru bertekuk lutut pada gadis SMA.”
“Yah, kau tidak bisa menduga dengan siapa kau akan jatuh cinta.” Aku menanggapi.
“Kurasa kau benar.” Sean menatapku dengan senyuman di wajahnya dan pipiku kembali memanas. Aku masih belum terbiasa dengan Sean yang murah senyum. Maksudku, dia biasanya selalu memasang wajah serius sepanjang hari. Apa dia berubah karena sekarang kami sudah bersama? Aku sangat ingin tahu apakah dia juga seperti ini dengan para gadis lain sebelum aku.
“Hm, boleh aku bertanya?”
“Aku tahu kau akan bertanya.” Sean tersenyum dan membenarkan posisi duduknya. “Apa yang ingin kau tanyakan?”
“Aku ingin bertanya padamu kenapa..”
“Lihat siapa yang ada disini?” Aku menoleh ketika suara asing memotong ucapanku dan kulihat Nic bersama seorang wanita cantic yang terlihat berkelas.
“Apa yang kalian lakukan disini?” Sean menyapa Nic lebih dulu dengan wajah senang dan mereka bersalaman layaknya saudara.
“Well, perkenalkan dulu. Ini Julie. Sean kau pasti sudah mengenalnya. Julie, ini Sean dan Carol. Carol, Julie adalah tuan rumah dari pesta yang kita datangi terakhir kali.” Nic memperkenalkan kami dengan nada yang sangat menyenangkan dan aku menyukainya. Aku berjabat tangan dengan Julie dan dia terlihat bersahabat.
Setelahnya, Nic mengambil kursi di sebelah Sean dan Julie juga duduk di sampingku. Bisa kulihat tas yang dibawa Julie adalah tas mahal. Kurasa itu hal yang normal mengingat Sean sempat memberitahuku bahwa Julie adalah seorang anak dari pengusaha sukses.
“Jadi, apa ini? Kalian berkencan?” Nic lebih dulu bertanya dan melayangkan tatapannya padaku lalu pada Sean bergantian dengan senyum sumringah di wajahnya.
“Dan kurasa kau berhasil mendapatkan Julie.” Sean membalas pertanyaan Nic dan baru kali ini aku melihat Sean mengobrol dengan santai.
“Jangan mengalihkan pembicaraan. Kita sedang membahas kalian saat ini. Bagaimana kalian bisa bersama?” Nic menatapku seolah menunggu jawaban, tapi aku bahkan tidak tahu harus memulainya darimana.
“Seperti yang kau lihat. Kami sedang bersama.” Sean menjawab untukku.
“Jadi seorang Sean berkencan sekarang? Aku tidak tahu apa yang kau lakukan untuk membuatnya takluk, Carol.” Nic mengedipkan sebelah matanya padaku dan tertawa, tapi aku justru terkejut.
Apa yang Nic katakan? Apa maksudnya selama ini Sean belum pernah berkencan dengan siapa pun? Kejutan baru yang kudapatkan dan aku tidak tahu kenapa aku merasa sangat senang mendengarnya.
“Well, Nic, karena Sean ada disini, bukanlah lebih baik kita membicarakannya?” Julie akhirnya bersuara setelah beberapa lama.
“Membicarakan apa?” Sean mengangkat salah satu alisnya.
“Aku ada berita bagus untukmu, maksudku untuk kita semua.” Nic mulai bersemangat saat memulai cerita. “Tebak apa? Ayah Julie akan meresmikan sebuah café bar dalam beberapa hari dan Julie menawarkan kita sebagai pemain tetap disana. Bagaimana menurutmu?”
“Benarkah? Itu bagus sekali.” Aku lebih dulu merespon dengan senyum bahagia tapi Sean sepertinya tidak terlalu menyukai ide itu. Dia terlihat berpikir.
“Nic, kau tahu kalau..”
“Oh, ayolah, aku tahu kau tidak suka mendapat bantuan dari siapa pun, tapi ini bukan bantuan, tapi kesempatan. Percayalah aku tidak memohon pada Julie untuk ini. Dia hanya memberi tawaran.”
“Nic benar. Aku tidak akan mengusulkan kalian kepada ayahku kalau penampilan kalian terakhir kali tidak menakjubkan. Ayahku juga sempat melihat kalian dan dia memutuskan untuk memberi kalian kesempatan jika kalian memang ingin melakukannya.” Julie membantu menjelaskan dan kami semua menunggu bagaimana tanggapan Sean.
“Beri aku waktu untuk memikirkannya.” Sean menjawab, lalu meminum sodanya. Aku mendengar Nic menghela napas dan Julie hanya tersenyum kecil. Aku tidak mengerti kenapa Sean perlu berpikir lebih lama untuk mempertimbangkan tawaran ini. Bukankah ini sebuah kesempatan yang bagus untuk grup mereka?
“Carol, ayo pergi.” Sean menggeser kursinya dan berdiri. Dia mengambil kunci mobil diatas meja dan aku mengikutinya berdiri. “Nic, beritahu yang lain untuk berkumpul di tempat kita nanti malam.”
“Tentu saja.”
“Senang bertemu denganmu kalian.” Aku berpamitan pada Nic dan Julie sambil melempar senyum dan mereka membalasnya dengan ramah.
__ADS_1
“Kenapa kau tidak terlihat senang saat mendengarnya tadi?” Aku bertanya padanya dalam perjalanan kami menuju mobil. Langkah Sean begitu besar sehingga aku sedikit kesulitan menyamainya.
“Siapa bilang aku tidak senang?” Sean membuka pintu mobil untukku dan aku memutuskan untuk menurutinya agar kami bisa bicara di dalam mobil.
“Jadi kau akan menerimanya?” Aku kembali bertanya ketika kami berdua sudah berada di dalam mobil.
“Aku harus membicarakan ini dengan yang lain.” Sean menghidupkan mesin dan mobil mulai berjalan. “Kenapa kau begitu tertarik?”
“Karena ini untukmu dan untuk grup kalian. Aku rasa ini kesempatan yang bagus. Bukankah akan sangat baik jika bekerja sesuai dengan apa yang kita sukai?”
“Aku tidak pernah memikirkan ini sebelumnya. Bermain musik hanya sebagai hobi untukku.”
“Dan kau menikmatinya bukan?” tanyaku lagi dan Sean menatapku beberapa saat sebelum menganggukkan kepala. “Kalau kau mengambil kesempatan ini dan kalian tampil disana, aku akan menonton saat akhir pekan.”
“Setiap akhir pekan?”
“Kau ingin aku ada disana setiap akhir pekan?” Aku tidak bisa menahan senyumku.
“Sebenarnya, aku lebih suka memilikimu sepanjang hari.”
“Jangan menggodaku.”
Sean tertawa dan suaranya seperti sebuah hiburan tersendiri untukku. Kalau saja sejak awal dia bersikap seperti ini, kami tidak akan pernah mungkin bertengkar.
“Bagaimana harimu?” Sean bertanya setelah kami hanya diam selama satu menit setelahnya.
“Seperti biasa. Kau tidak hadir hari ini?”
“Aku sedang tidak ada kelas.”
“Mengenai yang tadi, kenapa pria itu memukulmu? Apa kalian punya masalah?” Aku mencoba untuk bertanya lagi padanya tentang kejadian saat ia berkelahi tadi.
“Kau tidak perlu memikirkannya. Itu biasa terjadi diantara para pria.”
“Tapi kurasa dia bukan mahasiswa di tempat kita.”
“Memang bukan. Carol dengarkan aku. Kalau lain kali kau melihatnya dan tidak ada aku di dekatmu, abaikan saja. Atau lebih baik menghindar, okay?”
“Kenapa? Apa dia berbahaya?” tanyaku, seketika cemas.
“Dia tidak menyukaiku dan aku khawatir dia akan mengganggumu karena melihatmu membelaku tadi. Itu alasan kenapa aku sangat marah sebelumnya. Kau membahayakan dirimu sendiri.”
“Aku..tidak tahu. Sudah kukatakan sebelumnya, aku hanya ingin membantumu.”
“Yah, ini memang bukan salahmu.” Sean menghela napas. “Pokoknya, kau harus berhati-hati.”
“Okay.” Aku mengangguk setuju dan percakapan kami selesai. “Apa kau tidak keberatan kalau aku membuka kacanya?” tanyaku dan dijawab Sean dengan anggukan kepala.
Aku menurunkan kaca jendela dan membiarkan angin menerpa wajahku. Sean menyalakan radio dan suara musik mulai terdengar. Aku tidak tahu siapa penyanyinya, tapi musik yang dimainkan cukup bagus.
“Kapan pertama kali kalian tampil?” tanyaku beberapa saat kemudian.
“Aku rasa kami melakukan penampilan perdana di penghujung tahun pertama.”
“Kalian pasti punya banyak penggemar.”
“Kau pikir begitu?” Sean melirikku dengan senyum seringai di wajahnya.
“Bukankah memang seperti itu?”
“Yah, kau benar. Kami memiliki beberapa penggemar.”
“Aku tebak mereka semua adalah para gadis.”
“Akhir pekan? Aku tidak tahu.” Aku menggeleng. “Biasanya aku hanya menghabiskan waktu di dalam rumah. Membantu nenek merapikan rumah dan membaca buku.”
“Yah, itu benar-benar dirimu.” Sean menyindirku, tapi aku tidak keberatan karena itu memang sebuah kenyataan. “Kalau kau tidak keberatan, aku ingin mengajakmu ke suatu tempat. Bagaimana menurutmu?”
“Kemana?” tanyaku penasaran.
“Kau akan tahu setelah kita tiba disana.” Sean tersenyum puas seolah merasa berhasil karena membuatku penasaran. “Apa aku harus meminta ijin pada nenekmu?”
“Kau mau bicara dengan nenekku?”
“Kenapa tidak? Nenekmu orang yang baik dan ramah.”
“Nenekku juga menganggap dirimu baik.”
“Benarkah? Ternyata dia cukup baik dalam menilai orang.” Sean terkekeh dan begitu pula denganku.
Beberapa menit kemudian, saat mobil Sean berhenti di depan pagar rumahku, seseorang baru saja keluar dari dalam rumah dan ternyata itu adalah Marrie. Wajahnya cukup terkejut melihatku yang baru saja keluar dari mobil keponakannya.
“Bagaimana kalian bisa datang bersama?” Marrie bertanya, tapi aku melihat sorot bahagia dari tatapannya. “Ya ampun, ada apa dengan wajahmu, Sean?” Dia berusaha melihat menyentuh wajah Sean, tapi keponakannya itu justru menghindar.
“Ini bukan apa-apa.”
“Apa yang terjadi, Carol? Bisa jelaskan padaku? Karena aku tahu Sean tidak akan mau bercerita. Apa dia berkelahi lagi?”
“Yah, kurang lebih..” Aku menjawab tidak pasti, karena aku tidak yakin Sean akan suka jika aku menceritakan detailnya.
“Ah, kenapa kau selalu membuat luka di wajahmu yang tampan.” Marrie mengeluh dengan nada yang berlebihan. “Baiklah, aku tunggu di rumah dan kita harus segera mengobati lukamu itu. Carol, Sayang, sampai ketemu besok.” Marrie memelukku dan setelahnya berbalik pergi menuju ke rumahnya.
“Dia selalu menjadi wanita yang paling berisik di tempat ini, bukan?” Sean mendengus.
“Tidak. Marrie adalah wanita yang menyenangkan. Kau harusnya senang. Pasti tidak bosan memilikinya di rumahmu.”
“Benar.” Dia tertawa kecil. “Baiklah, sampai jumpa besok? Apa kau ingin berangkat bersamaku?”
“Kau juga ada kelas besok pagi?”
“Tidak, tapi aku bisa mengantarmu.”
Aku tersenyum melihat tingkahnya yang manis seperti ini. Seperti bukan Sean, tapi tidka buruk. Aku menyukainya.
“Okay.” Aku mengangguk. “Jam tujuh?”
“Tentu saja.” Dia tersenyum lagi padaku.” Sampai ketemu besok.”
“Sampai ketemu besok.” Aku tersenyum dan Sean kembali ke dalam mobilnya. Dia melambaikan tangan sebelum menjalankan mobilnya dan aku tersenyum sebelum masuk ke dalam rumahku.
Hari ini tidak pernah terbayangkan olehku. Maksudku, siapa yang menduga kalau mulai sekarang aku akan menjadi pacar Sean dan dia menjadi pacarku? Aku bahkan tidak pernah memikirkan untuk menjalin hubungan dengan siapa pun, secepat dan semudah ini. Namun Sean berhasil membuat pendirianku berubah. Dia berhasil membuatku menyerah pada perasaan yang awalnya kutolak mati-matian. Dia membuat duniaku berubah.
***
Keesokan harinya seperti yang dia janjikan, Sean mengantarku ke kampus. Nenekku sempat terkejut ketika membuka pintu dan melihat Sean yang berdiri disana, dengan sebuah senyuman canggung. Aku yakin nenek pasti akan mencecarku dengan berbagai pertanyaan saat aku kembali ke rumah nanti dan aku akan menjelaskannya.
“Jam berapa kelas pertamamu dimulai?” Sean bertanya saat kami masih di perjalanan.
“Jam delapan lima belas.”
“Kau bercanda? Itu masih satu jam lagi. Kenapa kau datang sepagi ini?” Sean menatapku horror.
“Aku suka mempelajari materi yang akan dibahas lebih dulu sebelum memulai kelas.” Jawabku.
__ADS_1
Sean tertawa kecil sambil menggelengkan kepalanya. “Kau benar-benar gadis yang baik.”
“Jangan menggodaku.” Aku memukul lengannya pelan dan dia tertawa. Awal yang baik untuk memulai sebuah hari yang kuharap berjalan dengan baik juga.
“Ini pertama kalinya aku datang ke kampus sepagi ini. Bahkan aku tidak melakukannya saat masih menjadi mahasiswa tahun pertama.” Dia memulai lagi dan aku hanya memberinya lirikan.
“Apa yang akan kau lakukan setelah mengantarku?” tanyaku, mengganti topik.
“Pulang, kurasa? Aku masih butuh tidur. Marrie menceramahiku sepanjang dirinya mengobati luka di wajahku. Aku tahu dia sengaja memperlambat pekerjaannya sehingga aku bisa mendengarkan ocehannya sampai selesai.” Sean menghela napas dan aku tidak bisa menahan tawaku.
“Kau harus lebih sering mendengarkan ucapannya kalau begitu.”
“Kenapa aku merasa kau juga akan menjadi Marrie yang lain?” Sean menggodaku dengan tatapannya tapi aku hanya menggelengkan kepala.
“Kau mungkin harus lebih berhati-hati karena aku bisa lebih berbahaya dari Marrie.” Aku menatapnya sambil tersenyum.
“Oh, baiklah. Aku tidak sabar ingin melihatnya.” Dan kami tertawa bersama untuk lelucon yang kami buat.
Aku tidak membayangkan kami bisa cocok bercanda seperti ini. Sebelumnya Sean dan aku sangat berbeda. Dia dan aku seperti ujung magnet yang berlawanan, tapi sekarang kami sudah bersama. Aku menyukai perasaan ini. Perasaan bahagia. Hal yang sudah lama tidak kurasakan.
“Carol, mengenai rencana akhir pekan yang kuceritakan kemarin, kau belum menjawabnya.”
“Oh, benar.” Aku mengingat percakapan kami yang sempat terputus kemarin malam.
“Apa kau mau ikut bersamaku?” Sean kembali bertanya dan aku langsung mengangguk setuju. Menghabiskan akhir pekan dengan Sean terdengar seperti ide yang bagus.
Sejak kemarin, aku selalu ingin menjadi lebih dekat dengan Sean. Aku tahu, aku terkesan berlebihan, tapi ini bukan suatu hal yang bisa kukendalikan. Semua orang pasti akan merasakan hal yang sama jika mereka jatuh cinta. Bukan begitu?
Ya, aku jatuh cinta pada pria ini. Sean Keith.
“Aku selalu tahu bahwa aku tampan, tapi kau tidak perlu menatapku seperti itu. pipiku sudah hampir berlubang karena tatapanmu.” Sean kembali bergurau dan aku terkekeh. Dia orang yang menyenangkan.
“Yah, aku yakin kau mendapat banyak keuntungan karena wajahmu.”
“Apa? Kau kira aku hanya menggunakan wajahku untuk mempromosikan diri?”
“Aku tidak mengatakannya, kau yang bilang.”
“Well, wajahku memang sedikit banyak membantu.” Sean berkedip padaku dan aku menggelengkan kepalaku melihat sikapnya yang bebas seperti ini. Aku ingin dia selalu seperti ini setiap waktu.
“Jam berapa kau memulai kelas hari ini?” tanyaku.
“Aku tidak ada kelas apa pun hari ini. Aku bebas.”
“Kukira kau mempunyai kelas hari ini. Kau tidak perlu mengantarku kalau aku tahu lebih awal.”
“Kenapa? Aku senang bisa mengantarmu.”
“Tapi aku hanya merepotkanmu.”
“Kau memang harus merepotkanku karena kau pacarku sekarang. Jangan merepotkan orang lain lagi terutama Adam.”
Ya ampun, Adam! Bagaimana bisa aku melupakan sahabatku itu? Aku harus memberitahunya tentang hubunganku dengan Sean. Adam mungkin akan bereaksi, tapi aku harus meyakinkannya.
“Aku belum bicara padanya mengenai kita.”
“Kenapa kau perlu bicara padanya mengenai kita?” Sean menatapku dengan kening berkerut.
“Adam sahabatku dan hubungan diantara kalian tidak begitu baik. Aku harus memberinya pengertian.”
“Dan jika dia tidak menyukai hubungan kita, apa kau akan meninggalkanku?” Nada suara Sean mulai meninggi.
“Apa? Tidak, tentu saja tidak. Kenapa kau mengatakan itu?” Aku tidak mengerti kenapa dia bisa bicara seperti itu.
“Tepat sekali. Jadi tidak ada gunanya menceritakan tentang hubungan kita padanya.”
“Sean, aku mengenal Adam lebih dulu. Dia sudah menjadi teman baikku sebelum dirimu.”
Mobil Sean memasuki area parkir dan dia menghentikan mobilnya dengan emosi hingga menimbulkan suara berdecit.
“Jadi karena kau lebih dulu mengenalnya, kau harus melaporkan segala sesuatu padanya?”
“Tidak seperti itu. Aku…”
“Kau menyebalkan.” Sean memotong ucapanku dan membuang tatapannya dariku.
Rasanya aku ingin menangis. Bukan karena sedih, tapi aku kecewa padanya. Sean masih bersikap menyenangkan beberapa menit sebelumnya, lalu dia berubah pada menit berikutnya. Aku belum bisa mengimbanginya.
“Terima kasih untuk tumpangannya. Hati-hati.” Aku membuka pintu di sampingku dan turun dari mobil tanpa melihat Sean yang masih duduk di balik kemudinya.
Berjalan beberapa langkah, aku mendengar suara Adam dan benar saja, dia berlari ke arahku sambil melambaikan tangan. Aku ikut tersenyum menyapanya.
“Aku tahu kau akan datang. Mau masuk ke kelas bersama?” Adam menawarkan dan aku mengangguk setuju.
Saat kami akan mengambil langkah, suara Sean yang memanggil namaku terdengar dari arah belakang. Aku dan Adam menoleh bersamaan dan kulihat Sean berjalan menghampiriku dengan bibir terkatup dan wajah masam. Dia melirik tidak suka ke arah Adam.
“Baby, I’m sorry. Aku akan menjemputmu untuk makan siang nanti.” Sean menekan kata ‘baby’ dan bahkan mengambil kesempatan untuk mencium puncak kepalaku sebelum memberikan senyuman dan kembali ke mobilnya disaat aku belum bisa bereaksi. Sean benar-benar menyebalkan. Aku tahu dia sengaja melakukan itu. Bagaimana aku akan menghadapi Adam setelah ini?
“Carol, apa yang terjadi? Kenapa kau bisa bersamanya? Kenapa dia menciummu?” Adam menatapku. Menuntut jawaban sesegera mungkin dariku.
“Adam, aku akan menceritakannya nanti. Aku janji, okay?” Aku menatapnya sambil memohon. Aku tidak tahu kenapa aku harus memohon. Aku hanya takut Adam akan menjauh dariku setelah ini. Dia teman yang baik dan aku tidak mau kehilangannya.
“Ya, kau harus menjelaskannya padaku. Semuanya.”
Aku menghela napas dan Adam masih menatapku penuh selidik. “Kami memutuskan untuk memulai sebuah hubungan, sejak kemarin.”
“Kau apa?” Adam menatapku tidak percaya. “Carol, aku sudah menceritakan bagaimana dia dan teman-temannya, bukan? Kau bahkan mengatakan tidak ingin lagi berurusan dengannya.”
“A-aku tahu. Minggu lalu aku begitu emosional dan tidak bisa berpikir dengan jernih saat mengatakan itu. Aku…”
“Kau menyukainya? Sean?” Adam memotong ucapanku. Dia menatapku kecewa.
“Ya, aku rasa aku menyukainya.” Aku mengaku.
“Walaupun kau tahu dia tidak baik untukmu?”
“Sean tidak seburuk itu.” Aku membela. Setidaknya Sean memang tidak seburuk yang terlihat.
“Aku sudah memperingatkanmu.” Adam membuang tatapannya dariku.
“Apa kau akan tetap menjadi temanku? Kau tidak akan menjauh hanya karena masalah ini, kan?”
“Pastikan kau tidak akan menangis karena dia atau aku tidak akan mau peduli jika dia benar membuatmu menangis nantinya. Aku sudah memberitahumu sejak awal.”
Aku tidak mengerti kenapa Adam berbicara seperti itu dan seolah Sean adalah manusia yang paling harus hindari di muka bumi, tapi aku tidak ingin bertanya lebih jauh. Sudah cukup bagiku bahwa Adam tidak akan menjauh karena hal ini dan aku bersyukur.
“Terima kasih, Adam. Aku tahu kau tidak akan menjauhiku.” Aku memberinya sebuah pelukan dan Adam menyambutku dengan hangat. Senyum kembali terlihat di wajahnya walau masih terkesan tidak rela.
“Aku ikut bahagia jika kau juga bahagia, Carol.”
***
__ADS_1