BEFORE YOU

BEFORE YOU
Chapter 3


__ADS_3

Sabtu pagi, aku melihat nenekku dan Marrie sedang mengobrol di halaman depan. Nenekku sedang menyirami tanaman di pekarangan dan Marrie sedang memangkas rumput dengan gunting besar di pekarangannya sendiri. Mereka berdua hanya dibatasi pagar kayu setinggi pinggang. Marrie sudah kembali ceria seperti biasa. Senyumnya cerah dan aku bisa mendengar suara tawa mereka dari dalam rumah. Aku menghabiskan susu yang sudah dibuatkan nenek, mengambil selembar roti panggang dan menyelipkannya diantara gigiku sebelum memutuskan untuk pergi dan bergabung dengan mereka.


“Oh, hai, Carol!” Marrie menyapaku lebih dulu dengan lambaian tangannya.


“Selamat pagi, Marrie.” Aku tersenyum.


“Terima kasih sudah membuat Sean pulang semalam.” Marrie berbicara tanpa bisa menyembunyikan senyumannya.


“Apa? Tidak. Kami hanya tidak sengaja bertemu tadi malam.” Aku menunduk malu, lalu mengunyah rotiku.


“Tepat sekali. Kalau kalian tidak bertemu, anak itu pasti masih ada di luaran sana.” Marrie menjelaskan. “Setidaknya sakit di kepalaku sedikit berkurang karena sudah memastikan Sean baik-baik saja dan sekarang sedang tertidur di kamarnya. Terima kasih, Carol.”


“Kau tidak perlu berterima kasih.” Aku tersenyum lagi padanya dan melirik nenekku yang juga ikut tersenyum.


“Oh, apa kalian sudah sarapan? Kita bisa sarapan bersama. Aku lebih suka ditemani saat menyiapkan makanan, tapi kakakku dan Sean tidak akan pernah mau melakukannya.”


“Aku sudah makan roti.” Aku menunjukkan rotiku yang sudah akan habis.


“Hanya selembar roti tidak bisa disebut sarapan, Carol. Ya ampun, ada apa denganmu dan Sean? Kalian masih dalam masa pertumbuhan. Benar kan, Kate?” Marrie bertanya kepada nenekku yang berusaha menahan tawanya.


“Sejujurnya, kau tidak perlu mengatakannya ‘masa pertumbuhan’ karena itu terdengar seperti, yah, anak kecil. Aku sudah sembilan belas tahun.” Aku menjelaskan padanya.


“Bagiku sama saja. Dan Sean bahkan sudah hampir dua puluh satu.” Marrie menembak. “Ayo sarapan di rumahku. Aku akan buatkan panekuk yang sangat enak, please?”


Aku menatap nenekku. Mencoba memberikan sinyal padanya kalau ini bukan ide yang baik. Aku tahu Marrie menyukai kami, tapi aku rasa terlalu menempel pada keluarganya bukanlah hal yang bagus. Aku juga tidak mau Sean membuat asumsi sendiri atas kedekatan ini.


“Oke, tidak sopan menolak ajakkan seseorang, Carol. Lagipula ini hanya sarapan..” Nenekku memutuskan dan aku hanya mengangguk pasrah. Ini bukan seperti aku terpaksa mengikutinya, hanya saja, aku tidak tahu. Berdekatan dengan Sean atau keluarganya mungkin akan membuatku kacau.


Saat kami bertiga masuk ke dalam rumah, aku melihat James masih tertidur di sofa di ruang tamu yang letaknya bersebelahan dengan ruang makan. Marrie dan nenekku langsung menuju counter dapur sementara aku duduk di salah satu kursi tinggi yang berjejer disana.


“Apa ada yang bisa kulakukan untuk membantu?” Aku bertanya.


“Tidak ada, Sweet. Kau hanya perlu duduk manis dan menunggu.” Marrie menjawab sambil tersenyum dan mulai sibuk mengaduk adonan. “Oh, mungkin kau bisa membantuku untuk membangunkan Sean? Dia agak sulit dibangunkan, tapi cobalah.”


“Apa? Tapi, aku, dia..”


“Kenapa gugup begitu, Carol? Sean bicara padaku semalam. Dia mengantarmu pulang, kan?” Marrie menatapku dengan senyum geli yang berusaha dia tahan.


“Ya, dia memang mengantarku pulang semalam. Itu hanya kebetulan karena kami bertemu dan...aku bahkan tidak tahu kamarnya dimana.” Aku mencari alasan.


“Kamarnya di lantai dua. Dari tangga belok ke kiri. Kamarnya paling ujung.” Marrie sepertinya tidak menangkap ekspresiku yang tidak nyaman karena dia memang sedang sibuk mengaduk adonan. Aku melihat ke arah nenekku dan dia hanya memberiku senyuman seolah mengatakan ‘lakukan saja’.


Aku menghela napas dan beranjak dari kursi menuju tangga kayu yang terlihat bagus. Setiap langkah yang kuambil, otakku memikirkan berbagai hal. Apa yang harus aku lakukan? Langsung masuk ke kamarnya dan membangunkannya? Bukankah itu tidak sopan? Atau aku hanya harus mengetuk pintu sampai dia menjawab dari dalam kamarnya setelah itu kembali ke lantai bawah?


Ketika sampai di atas, aku menoleh ke kiri dan melihat sebuah pintu yang cukup besar berwarna coklat tua. Lebih dekat, aku baru melihat ada sebuah tulisan di atas pintu tersebut. ‘Don’t cross the line’. Sudah pasti ini kamar Sean, lalu apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku menghela napas sebelum mengetuk pintu kamarnya. Tidak ada jawaban. Mungkin aku terlalu pelan, jadi aku mencobanya sekali lagi dan kali ini lebih panjang.


“Carol, itu tidak akan berhasil.” Aku mendengar sahutan Marrie dari bawah yang membuatku cukup terkejut.


“Jadi apa yang harus aku lakukan?” Aku bertanya dengan suara yang cukup keras.


“Masuk saja dan tarik dia dari tempat tidur.” Marrie terkikik di akhir kalimatnya dan aku mendesah lagi. Ini tidak akan mungkin. Sean bisa saja meneriakiku karena masuk ke kamarnya tanpa ijin.


“Well, akan kucoba.” Aku membalas pelan dan membuka pintu kamar Sean. “Excuse me..”


Aku menjulurkan kepalaku lebih dulu untuk melihat keadaan di dalam. Kamar Sean jauh lebih bersih dan rapi daripada yang kubayangkan. Kamarnya masih cukup gelap. Hanya sedikit cahaya matahari yang masuk melalui celah tirai yang tidak tertutup rapat. Sean tidur bertelanjang dada dengan posisi menelungkup dan aku tidak tahu harus meletakan pandanganku ke mana.


“Sean?” Aku mencoba memanggilnya tapi kurasa itu tidak akan berpengaruh. Setelah menghela napas untuk yang entah berapa kali, aku memutuskan untuk melangkah ke dalam kamarnya. Mungkin cahaya bisa membuatnya bangun.


“Sial! Tutup jendelanya!” Aku terkejut mendengar bentakan itu ketika aku baru saja membuka tirai. Sean mengerang dengan mata yang masih tertutup dan tangan yang mencari-cari sesuatu untuk menutupi wajahnya, tapi dia tidak mendapatkannya. Yah, kamarnya memang rapi, tapi bagaimana cara dia tidur benar-benar mengerikan. Bantal dan guling tersebar di lantai dan tempat tidurnya berantakan. “Sial! Kau tidak dengar? Tutup jendelanya.”


“Marrie memintamu untuk turun dan ikut sarapan, Sean.” Aku memberanikan diri untuk bicara.


Sean mengangkat kepalanya, mencoba membuka matanya dan akhirnya melihatku. “Apa yang kau lakukan disini?” tanyanya sebelum menjatuhkan kepalanya kembali ke tempat tidur.


“Marrie memintamu untuk turun dan ikut sarapan bersama.” Aku mengulangi ucapanku, kata demi kata.


“Kau masuk ke kamarku tanpa ijin. Seingatku, terakhir kali kau marah karena aku secara tidak sengaja tersesat dan berakhir di kamarmu saat mencari toilet.” Kata-katanya menyindirku.


“Yah, itu, aku hanya terkejut saat itu. Lagipula, aku sudah mendapatkan ijin dari Marrie untuk membangunkanmu.” Aku menjelaskan, mencoba untuk tetap menjaga pandanganku darinya.


“Kalian bisa mulai tanpaku.” Aku bisa merasakan Sean menatapku dari atas tempat tidurnya. “Kenapa kau tidak menatap lawan bicaramu?”


“Karena kau tidak memakai bajumu.” Aku menjawab terlalu cepat. Aku meliriknya sekilas, lalu mendengarnya tertawa.


“Aku masih pakai celana.”


“Aku tahu kau hanya bermain-main denganku~~~~. Hentikan itu. Sekarang turunlah karena Marrie sudah membuatkan sarapan dan kau harus menghargainya.”


“Kenapa aku harus menuruti ucapanmu?” Sean menyangga kepalanya dengan satu tangan. Ada senyum yang samar di wajahnya ketika dia menatapku lebih teliti. Bodohnya, aku justru ikut menoleh dan menatapnya langsung. Mengabaikan fakta bahwa dia masih bertelanjang dada dan sial, dia memiliki bentuk tubuh yang bagus. Wajah Sean yang sehabis bangun tidur tidak seseram ketika dirinya berada di luar.


“Bukan aku, tapi bibimu yang memintamu untuk turun.” Aku mengoreksi.


“Fine. Kau pintar menjawab.” Sean mencibir dengan wajah cemberut tapi aku tidak peduli dan justru tidak bisa menahan senyumku sendiri saat melihatnya bangun dari tempat tidur. “Apa kau mau menunggu disana dan melihatku mengganti pakaian?” Dia bertanya dengan alis terangkat. Aku menggeleng dan bergegas meninggalkan kamarnya. Suara tawanya terdengar lagi di belakangku saat aku menutup pintu.


“Dia bangun?” Marrie bertanya ketika aku sudah kembali ke dapur dan bergabung dengan mereka. Sarapan sudah hampir siap tertata diatas meja. Aku melirik ke sofa, tapi ayah Sean sudah tidak ada disana.


“Ya, dia akan turun sebentar lagi.” Aku menjawabnya sambil tersenyum.


“Luar biasa! Bagaimana kau membangunkannya? Biasanya aku harus bertengkar sengit dengannya, tapi jarang sekali dia mau bangun pagi di hari Sabtu.” Marrie begitu antusias.


“Yah, aku hanya melakukan yang bisa kulakukan.”


“Ini pasti Carol, benar?” Aku menoleh dan melihat James berjalan mendekati meja makan. Dia tersenyum dan aku bisa melihat kemiripannya dengan Sean. Warna mata mereka sama tapi tatapan James lebih lembut daripada milik Sean.


“Senang bertemu denganmu, Tuan Keith.” Aku menjabat tangannya yang terulur.


“Panggil saja James.” Dia tersenyum dan mengambil kursi di ujung meja di sebelah kiriku. “Aku senang Marrie punya teman sekarang. Terima kasih Nyonya Katherine.” James tersenyum sopan kepada nenekku.


“Kate lebih bisa diandalkan daripada dirimu.” Marrie mencibir tapi James sepertinya sudah terbiasa karena dia hanya tertawa dan nenekku juga terkekeh.


“Maafkan aku, Marrie. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi.”


“Sebaiknya kau benar-benar menepati janjimu kali ini atau aku akan pindah saja dari rumah ini. Tinggal bersama Kate dan Carol rasanya lebih tenang.”


“Pegang janjiku.” James membuat tanda silang di depan jantungnya dan Marrie hanya memutar mata melihatnya.


“Oh, Sean! Ayo duduk dan sarapan bersama.” Marrie berseru ketika Sean turun dan semua orang praktis menoleh menatapnya yang kini berdiri di tengah tangga. Mata Sean bertemu dengan ayahnya beberapa saat dan aku bisa menangkap rasa tidak suka yang Sean keluarkan. Berbanding terbalik dengan tatapan iba dan penyesalan yang dipancarkan oleh James.


“Kau bisa sarapan sendiri, kenapa menyuruhnya untuk menggangguku?” Sean bertanya pada Marrie dengan wajah cemberut, lalu melirikku singkat.


“Karena aku ingin menikmati sarapan bersama hari ini.” Sean memutar matanya mendengar jawaban Marrie, tapi tetap menghampiri kami dan duduk di sebelah kananku. Mungkin aku harus bertukar tempat duduk dengan Marrie yang sudah mengambil tempat di seberang meja. Duduk di sebelah Sean hanya akan membuatku gugup dan aku tidak suka makan dibawah tekanan.


Kami memulai sarapan dengan tenang. Sesekali mendengarkan Marrie bercerita tentang beberapa hal. Panekuknya sangat enak, aku tidak berbohong. Sean makan dengan tenang di sebelahku. Aku masih merasa kalau dia tidak suka dengan gagasan sarapan bersama ini. Wajahnya terus-menerus ditekuk.


“Bagaimana kuliah disini, Carol? Menyenangkan?” James bertanya padaku setelah Marrie selesai dengan cerita seorang pemilik toko bunga yang menurutnya cerewet.


“Ya. Tempatnya bagus dan aku suka dosen yang mengajarnya.” Aku tersenyum. “Tempat ini jauh lebih baik.”


“Kalian dari Phoenix, kan? Aku ingat Marrie pernah memberitahuku.”


“Phoenix? Matahari pasti tidak menyinari kulitmu, kurasa.” Aku memutar mataku mendengar ucapan Sean. Kenapa dia tidak diam saja sampai sarapan ini berakhir? Dia selalu mempunyai celah untuk mengejekku.


“Kau pasti tidak pernah dengar yang namanya sunblock.” Aku tersenyum bangga pada diriku sendiri karena bisa membalasnya.


“Yah, aku menduga kau masih menggunakannya sampai hari ini?”


“Sean, kau tidak harus mengganggu Carol.” Teguran dari Marrie membuatku membuang tatapan darinya. Sean tersenyum sebelum kembali menyantap panekuknya. Dia menyebalkan. Berapa kali aku sudah mengatakan hal itu sejak kami bertemu pertama kali?


“Kau masih naik bus untuk pergi kuliah, Carol?” James kembali bertanya padaku.


“Um, ya, aku ingin sekali punya mobil sendiri tapi aku belum punya waktu untuk mengambil tes mengemudi.” Aku menjawab.


“Sean bisa membantumu belajar mengemudi.” Saran Marrie benar-benar membuatku kehabisan kata-kata.

__ADS_1


“Kau pasti bercanda.” Sean mendengus sambil menggelengkan kepala.


“Kenapa tidak? Kita bertetangga, kau harus bersikap baik pada mereka, Sean.”


“Kenapa aku harus jadi gurunya? Dia bisa pergi dan melakukan tes sendiri.”


“Well, kalau begitu kau bisa pergi bersama Sean setiap hari, Carol.” Marrie tersenyum penuh arti dan aku tidak tahu apa arti yang dia maksud.


“Aku rasa tidak perlu.” Nenekku turun tangan sambil tersenyum sopan dan aku sangat bersyukur untuk itu. “Aku rasa Sean dan Carol juga memiliki jadwal kelas yang berbeda.”


“Benar. Lagipula, temanku sudah menawarkan untuk menjemputku.” Aku berbohong untuk meyakinkan.


“Siapa? Adam?” Sean mengejekku dan aku sangat ingin menarik rambutnya karena jengkel.


“Siapa Adam? Teman yang mengajakmu pergi kemarin?” Marrie bertanya dan aku mengangguk untuk menjawabnya.


“Oh, tentu saja. Kau cantik dan pasti banyak yang menyukaimu.” Marrie bersemangat. “Kau beruntung memiliki cucu yang sangat cantik, Kate. Aku bahkan belum bisa menikah karena harus mengurus dua pria menyebalkan ini.” James dan Sean berdeham mendengar sindiran keras yang Marrie berikan untuk mereka dan aku tidak bisa menahan senyum.


“Yah, kabar baiknya adalah aku akan mulai bekerja lagi mulai hari Senin.” James berbicara setelah membersihkan sekitar mulutnya dengan serbet.


“Serius?!” Marrie berteriak dan itu mengejutkan semua orang yang ada di meja makan. Aku heran bagaimana dia bisa begitu bersemangat setiap harinya. “Kau tidak boleh mengacaukannya lagi kali ini, James. Kau harus memulai kembali hidupmu dan melupakan Grace..”


Sean berdiri tiba-tiba sambil menggebrak meja hingga membuatku hampir mendapatkan serangan jantung. Semua orang diam dan menatapnya yang kini menampilkan ekspresi menyeramkan.


“Kau tidak berhak mengatakan itu, kau tahu!” Bentaknya pada Marrie dan aku menyadari diriku sendiri tengah menahan napas melihat hal itu.


“Sean.” James memanggilnya.


“Jangan bicara padaku!” Sean kembali membentak. “Aku sudah cukup dengan omong kosong yang kalian lakukan disini.” Dia pergi meninggalkan meja makan dengan emosi menuju halaman belakang dan membanting pintu dengan keras.


Suasana di ruang makan menjadi tidak nyaman. Aku melihat wajah Marrie yang sedih, nenek mengusap pundaknya dan James menunduk. Bagaimana bisa Sean bersikap begitu kasar kepada keluarganya sendiri? Seseorang harus memberitahunya soal sopan santun.


“Kau mau pergi kemana, Carol?” Nenekku bertanya ketika aku berdiri.


“Aku, ada yang harus aku bicarakan dengannya.” Aku menjawab. Tunggu, apa yang aku katakan?


“Sean tidak akan suka itu. Kau tidak perlu..”


“Aku akan baik-baik saja.” Aku tersenyum meyakinkan Marrie dan menghembuskan napas sebelum menyusul Sean ke halaman belakang.


Dia berdiri membelakangiku sambil bertolak pinggang. Kepalanya menengadah menatap langit dan pundaknya bergerak naik turun –bukti bahwa emosinya belum reda.


“Kau tidak harus berteriak seperti itu, Sean.” Kukira suaraku akan terdengar sangat payah, tapi tidak. Aku cukup terkejut karena suaraku begitu tegas dan berani.


Sean berbalik menatapku dengan wajah marah. “Kau tidak harus ikut campur urusan keluarga ini.”


“Aku tidak ingin ikut campur atau terlibat, tapi sikapmu berlebihan. Kau harus minta maaf pada mereka.”


“Kau gila?!” Sean berteriak dan aku tersentak. “Satu-satunya yang harus meminta maaf adalah pria itu. Dia yang membuat semuanya menjadi seperti ini.” Dia berbicara dengan napas memburu. Wajahnya merah menahan amarah dan aku tidak tahu kenapa aku harus ada disini untuk menjadi objek amukan dari emosinya.


“Kau harus pergi.” Katanya dengan nada yang lebih pelan. Tatapannya beralih ke tanah. Dia membuang napasnya dengan agak keras. “Dan jangan katakan pada siapa pun mengenai hal ini.”


“Kenapa kau selalu berpikir aku akan menceritakannya pada orang lain?” Aku mengerang sebal dan Sean kembali menatapku. “Oke, aku tidak akan pernah mengatakannya pada siapa pun. Kau dengar? Tapi kau harus kembali ke dalam dan meminta maaf.”


“Kukira kita sudah selesai membahas itu tadi.” Dia menatapku sengit.


“Setidaknya kau harus minta maaf karena sudah membentak mereka, bukan karena alasan lain.” Aku berkeras. “Atau..”


“Atau apa?”


Aku menimbang sebentar untuk memperkirakan reaksi apa yang akan Sean berikan padaku, tapi bagaimana pun itu, sepertinya aku harus melakukan ini. “Atau aku bisa saja tidak sengaja membuka mulutku di hadapan orang lain.”


“Kau tidak akan berani.” Dia menatapku tajam.


“Aku punya mulut.” Aku mengangkat bahu.


Sean mengerang kesal dan mengacak rambutnya. “Fine! Tapi kau harus berjanji untuk menutup mulutmu.”


“I will.” Aku membuat gerakan menutup bibirku dengan jariku dan mengikuti Sean kembali ke dalam rumah.


“Maaf.” Suara Sean terlalu pelan.


“Apa?” Marrie bertanya.


“Aku minta maaf.” Sean memutar matanya. “Untuk apa yang tadi terjadi.”


Aku melihat Marrie tersenyum haru mendengar permintaan maaf Sean dan kedua mata James juga mulai memerah. Nenekku tersenyum padaku, seolah mengatakan bahwa aku baru saja melakukan hal yang baik dan aku lega karena perasaan itu. Sean berbalik menghadapku dengan wajah cemberut, tapi aku memberikannya senyuman.


“Kau harus menepati janjimu.” Bisiknya.


“Tentu saja, Tuan Keith.” Aku tersenyum padanya.


Sean memutar matanya, lalu melewatiku menuju tangga dan kembali ke kamarnya di lantai atas. Marrie hampir menjerit karena terharu dan nenekku terkekeh melihat sikapnya yang kembali seperti semula.


“Kau dengar itu, Kate? Dia meminta maaf. Aku selalu tahu kalau Sean adalah anak yang baik.” Marrie mengedipkan matanya beberapa kali untuk menahan airmata. “Aku yakin ini karena dirimu, Carol. Terima kasih, Dear.” Dia menggenggam satu tanganku dengan mata berkaca-kaca.


“Aku tidak melakukan apa pun, sungguh.” Aku menunduk, lalu melirik ke arah nenekku lagi.


“James, kau dengar itu, kan? Sean meminta maaf.” Marrie berbicara pada James yang sedang mengusap matanya dengan punggung tangannya.


“Yah, aku mendengarnya.”


“Kita hanya perlu menunggu waktu yang tepat untuk memberitahukan semuanya.” Marrie melanjutkan.


“Kita tidak bisa.” James berdiri. “Bagaimana pun ini adalah salahku.”


“Tapi..”


“Kita tidak harus membahas hal ini sekarang, Marrie.” James memotong. “Tetangga kita tidak akan merasa nyaman dengan hal ini.” Dia mencoba memberikan senyuman ramahnya padaku dan nenek.


James adalah pria yang baik, aku bisa melihat itu dari sorot matanya yang penuh perhatian. Mungkin mabuk hanya untuk pengalihannya –walaupun itu tidak bisa dibenarkan, tapi aku yakin bahwa James adalah pria baik.


“Maaf, kalian harus melihat kejadian ini.” Marrie menyesal.


“Itu bukan masalah besar.” Nenekku memberi pengertian. “Sebaiknya kami kembali ke rumah.”


“Ya, benar. Aku juga harus berbelanja.” Aku menambahkan dan kali ini aku tidak berbohong.


“Apa kau ingin aku antar ke luar?” Marrie menawarkan tapi aku dan nenek kompak menolaknya dengan halus.


Ketika aku dan nenek sudah berada di luar, nenek memegang satu tanganku dan kami berjalan bersama. Dia tersenyum dan aku pun sama.


“Tadi itu sangat hebat. Kau tidak tahu betapa berharganya itu untuk Marrie dan James.”


“Aku hanya coba mengatakan pada Sean apa yang menurutku benar.”


“Kau melakukannya dengan baik.” Dia mengusap punggung tanganku dan aku merasa begitu senang.


“James dan Marrie adalah orang baik.” Kataku.


“Aku rasa juga begitu.”


Sampai di rumah, aku memutuskan untuk mandi karena aku memang harus pergi berbelanja sebelum tengah hari agar aku tidak terlambat pulang. Mungkin aku harus segera mengatur jadwal untuk bisa mengambil tes mengemudi agar mendapatkan surat ijinku dan setelah itu membeli mobil. Naik bus memang menyenangkan, tapi aku tidak bisa mengikuti jadwalnya terus-menerus.


“Carol, ini daftar barang yang harus kau beli.” Nenek datang ke kamar setelah aku selesai mandi dan berpakaian. Dia memberiku sebuah catatan yang cukup panjang. “Kalau kau kesulitan membawanya, pulanglah dengan taksi, oke?”


Aku mengangguk. “Tidak apa-apa kalau nenek disini?”


“Tentu. Lagipula Marrie akan kesini saat kau pergi. Aku yakin itu.” Nenekku terkekekh jika mengingat Marrie dan aku ikut tersenyum.


“Aku akan segera kembali.” Aku mencium pipinya dan bergegas setelah mengambil tas dan memakai sepatu.


“Hati-hati, oke?”

__ADS_1


“Tentu saja, Nek.”


Aku mengenakan jeans biru, kaus polos berwarna putih dan jaket denim diatasnya. Bus selanjutnya adalah sekitar lima belas menit, jadi aku tidak perlu berjalan terburu-buru untuk sampai di ujung jalan. Busnya hanya berhenti disana. Saat melewati rumah Marrie, aku melihat mobil Sean masih terparkir jadi kurasa dia masih di dalam atau mungkin kembali melanjutkan tidurnya. Itu bukan urusanku.


Ponselku berdering saat aku tiba di tempat perhentian bus. Aku tidak ingat memasukkan benda itu ke dalam tas. Saat aku mendapatkannya dari dalam tas, aku melihat nama Adam muncul di layarnya.


“Hei.” Aku menyapa setelah menyentuh simbol hijau di layar.


“Hei, Carol. Apa yang kau lakukan?” tanyanya dengan suara riang.


“Hm, aku dalam perjalanan. Harus pergi berbelanja.”


“Sendiri?”


“Ya, aku menunggu bus.”


“Kebetulan aku akan ke toko buku hari ini. Apa kau mau bertemu?”


“Jam berapa? Karena aku harus berbelanja dan sepertinya aku membutuhkan waktu setengah jam untuk sampai disana dan sekitar satu jam lagi untuk berbelanja.”


“Apa kau tahu jalan, Carol?” Adam bertanya padaku.


“Yah, aku belum menghapalnya dengan baik tapi aku tahu letak toko yang akan aku datangi.” Aku menjawabnya dan tepat saat itu, bus datang. Aku naik dan mengambil tempat paling belakang. “Aku sudah di dalam bus.”


“Bagus. Aku akan bersiap-siap kalau begitu. Sampai jumpa.”


“Sampai jumpa, Adam.” Aku meletakan ponselku di saku celana depan setelah mengakhiri obrolan.


Bus cukup sepi di hari Sabtu. Aku yakin orang-orang masih lebih memilih untuk berada di rumah pada jam ini. Aku mengeluarkan lagi catatan yang diberikan nenekku dan membacanya untuk memastikan apa saja yang ingin dia beli. Kebanyakan adalah kebutuhan di dapur. Bumbu-bumbu, sayuran, buah, minyak, daging, kacang, roti dan lainnya. Aku mengambil pensil dari dalam tas dan menambahkan beberapa di daftar itu. Aku perlu membeli sepasang sepatu dan mungkin beberapa potong pakaian. Ingatan ketika Sean mengejek pakaian yang kukenakan saat makan malam terakhir kali membuatku kesal.


Seperti perkiraan, aku sampai dalam waktu setengah jam. Tempat itu cukup ramai ternyata. Aku cepat-cepat masuk dan mengambil troli, lalu mulai berkeliling. Senang rasanya karena aku bisa melakukan lagi kegiatan ini, hanya saja sekarang aku sendiri. Biasanya aku pergi berbelanja dengan ibuku dan sekarang dia tidak ada. Aku tidak mengerti bagaimana bisa seseorang ada di hari ini, lalu keesokannya sudah tidak ada lagi di dunia ini.


Aku menghabiskan empat puluh lima menit untuk mengisi keranjang troli dan sekarang aku sedang menunggu giliran untuk sampai ke kasir. Tidak cukup panjang, tapi mereka membeli banyak barang, sama sepertiku dan itu membutuhkan waktu untuk dihitung. Aku tidak tahu berapa lama aku menghabiskan waktu untuk menunggu giliran, sampai akhirnya itu semua selesai, aku keluar dari toko dengan banyak tas di tanganku.


“Carol.” Aku menoleh dan menemukan Adam berlari kecil ke arahku dengan senyum lebar.


“Adam? Bagaimana kau tahu aku ada disini?” tanyaku tidak percaya.


“Mudah saja. Toko ini yang paling dekat dengan halte bus.” Adam menjawab. “Biar kubantu.” Dia mengulurkan tangannya untuk mengambil barang-barang dari tanganku dan membawanya menuju mobilnya yang terparkir tidak jauh.


“Terima kasih.” Kataku setelah kami selesai meletakkan belanjaanku di kursi belakang mobilnya.


“Senang membantu teman.” Sahutnya riang.


“Jadi, dimana toko bukunya?” tanyaku.


“Bagaimana kalau makan siang dulu?” Dia menawarkan dan aku langsung mengangguk setuju. Berbelanja sudah menghabiskan setengah dari tenagaku mengingat pagi tadi hanya satu panekuk yang masuk ke perutku akibat insiden Sean yang mengamuk. “Apa yang kau inginkan?”


“Entahlah, mungkin makanan Itali? Kita belum jadi kesana kemarin malam.” Aku mengusulkan.


“Tentu.” Adam tersenyum setuju dan kami memutuskan untuk berjalan kaki melihat keadaan lalu lintas yang cukup padat.


“Apa kau selalu pergi ke sekitar sini ketika libur?” Aku bertanya dalam perjalanan kami.


“Tidak terlalu.” Dia mengangkat bahu.


“Hanya pergi sendiri?”


“Tidak. Kadang aku pergi dengan adik sepupuku. Dia lucu dan sering memintaku untuk mengantarnya membeli mainan.”


“Dia masih kecil?” tanyaku tertarik.


“Sekitar enam tahun, kurasa. Namanya Hero.”


“Mungkin dia bisa menjadi pahlawan saat besar nanti.” Aku tersenyum dan Adam tertawa.


“Dia selalu suka dipuji seperti itu, percayalah.” Kami tertawa bersama.


Kami berbelok di ujung jalan dan menemukan sebuah restoran Itali yang terlihat nyaman. Karena masih cukup awal untuk makan siang, kami bebas memilih tempat duduk yang kami inginkan dan kami menempati meja di dekat jendela. Dari sini, aku bisa melihat jalanan dengan leluasa.


“Apa kau tidak berniat membeli mobil, Carol?” Adam bertanya setelah kami selesai memesan makanan.


“Yah, aku baru saja merencanakannya tadi pagi, tapi aku harus tes mengemudi untuk mendapatkan surat ijin.”


“Aku bisa membawamu ke tempat yang menjual mobil. Kau ingin mobil baru atau..?”


“Oh, aku tidak yakin bisa membeli mobil baru. Kau tahu itu terlalu mahal dan aku tidak mungkin menghabiskan tabungan hanya untuk membelinya.”


“Kau benar.” Adam terkekeh dan makanan kami datang. Perutku langsung bereaksi ketika makanan yang masih mengepulkan uap putih tersaji di hadapan kami.


“Ini enak sekali.” Aku berkomentar setelah suapan pertama sampai di dalam mulutku. Aku bahkan mengeluarkan erangan pelan yang segera kusesali karena aku malu, apalagi Adam tertawa melihatku.


“Kau benar-benar kelaparan, ya?”


“Jangan mengejekku.” Aku mencibir tapi tetap menyantap makananku. Adam tertawa pelan sebelum menggigit potongan daging ayam yang dia pesan.


“Apa aku boleh bertanya sesuatu?” Adam kembali bertanya setelah beberapa saat kamu hanya fokus untuk menghabiskan makanan.


“Tentu. Apa?”


“Aku hanya penasaran kenapa kau lari dariku, bertemu dengan Sean lalu dia mau mengantarkanmu pulang kemarin.”


Aku meletakan garpu di samping piring dan menelan sisa makanan yang masih ada di dalam mulutku. Aku tahu Adam pasti penasaran tentang hal itu, tapi aku belum punya jawaban yang bisa kugunakan saat ini. Apalagi ada hubungannya dengan Sean. Pria itu bisa saja mencekik leherku kalau aku salah bicara pada orang lain.


“Baiklah, aku minta maaf.” Adam kembali bicara karena aku tidak memberikan jawaban. “Aku hanya penasaran, tapi kalau kau tidak ingin atau tidak bisa membahasnya, tidak apa-apa. Kau tidak perlu menjawab.”


“Maafkan aku, Adam.” Aku menatapnya dengan menyesal. Lagipula aku tidak mungkin bisa memberitahunya bahwa alasan aku lari darinya adalah karena aku mengira dia adalah seorang penjahat hanya karena dia memelukku.


“Tidak. Aku yang harus minta maaf karena mengganggumu dengan pertanyaanku tadi. Hanya saja aku tidak mengerti. Apa kau mengenal Sean?”


“Sebenarnya, kami bertetangga.” Aku mengakui. “Tapi, tolong jangan katakan hal ini pada siapa pun. Sean benar-benar tidak ingin ada yang tahu. Dia bahkan sempat mengancamku.” Aku mencibir ketika mengingat bagaimana menyebalkannya Sean saat bicara padaku.


“Oh, jadi rumah kalian berdekatan?”


“Bersebelahan.” Aku mengoreksi. “Marrie sangat dekat dengan nenekku sejak pertama kami pindah. Dia adik dari ayah Sean. Marrie wanita yang ramah dan ceria, tidak seperti Sean.”


“Yah, baiklah. Setidaknya aku tahu alasan dia mau mengantarmu pulang karena rumah kalian dekat.” Adam tersenyum. “Walau sebenarnya aku tidak setuju kalau kau menjadi dekat dengannya.”


“Kenapa?” Aku bertanya.


“Karena dia tidak baik. Entahlah, menurutku dia tidak seperti yang lain. Kau lihat bagaimana penampilan kelompoknya, kan?”


“Kau benar.” Aku mengangguk setuju. “Lagipula aku tidak punya niat untuk menjadi dekat dengannya. Sean benar-benar menyebalkan, kau tahu?” Aku menghela napas.


Adam tertawa. “Tentu aku tahu. Kami satu sekolah sejak kecil. Dia menjadi berandalan sejak di sekolah menengah dan semakin menjadi-jadi.”


“Wow, aku tidak menduga itu.” Aku menatapnya tak percaya.


“Kami tidak dekat. Tidak pernah.” Adam menjelaskan. “Aku hanya berada di satu sekolah yang sama dengannya, tapi kami tidak benar-benar saling mengenal.”


“Dan apa kau tahu penyebab dirinya berubah?” Aku tidak sadar bahwa aku mulai tertarik dengan topik ini. Pembicaraan tentang masa lalu Sean.


“Hanya semacam rumor yang beredar bahwa kedua orangtuanya berpisah, itu saja. Aku tidak tahu banyak.” Adam mengangkat bahu.


“Aku sudah tahu soal itu.”


“Dia menjadi anak nakal, selalu mendapat hukuman, berkelahi dan selalu bolos.” Adam menambahkan.


Aku membayangkan bagaimana Sean yang beranjak remaja menjadi berandalan di sekolah. Mungkin tidak semenyeramkan sekarang, tapi tetap saja dia adalah Sean baik itu saat remaja atau dewasa seperti sekarang. Aku hanya menyayangkan bagaimana sikap egois dan mulut pedasnya menyakiti hati Marrie dan James. Dan aku masih tidak mengerti alasan James menutupi semua kebenaran hingga membuat Sean hingga membencinya.


***


 

__ADS_1


 


__ADS_2