
"Gak habis pikir aku sama kamu Jesicca. Kamu tega jebak aku untuk bermalam dengan pria asing hanya demi uang?" tegas Alexa menyalahkan Jesicca yang sudah sangat jahat kepadanya sehingga perdebatan mereka didengar oleh ayah dan ibunya.
"Alexa!" teriak Jonas Maurin dengan keras membentak anak semata wayangnya yang sudah mencoreng wajah keluarga nya itu.
"A, ayah! tapi, dia yang sudah menjebak ku ayah. Aku gak salah apa-apa .."
"Cukup Alexa! aku gak mau denger alasan apapun lagi apalagi menyalahkan kakakmu. Kamu udah salah dengan tindakan kamu hari ini, maka dari itu pergi kamu dari rumah ini, Sekarang!"
Bukti jika ayahnya sudah terpengaruh oleh ibu dan saudari tirinya, membuat ayahnya sanggup bersikap keras dan kasar hingga dengan begitu tega mengusir Alexa dari rumah. "Alexa jangan buat ayahmu marah lagi. Ini, liat perbuatan kamu sudah sangat menjijikkan bagi kami." melempar selembaran gambar yang entah apa itu.
Alexa terperanjat tidak percaya selembaran gambar yang ibunya lempar memperlihatkan dirinya yang tengah mabuk berada diperuk kan seorang pria.
"Ini gak mungkin siapa pria ini? ini bukan aku ayah, ibu. Tolong percaya Alexa gak mungkin melakukan hal seperti ini."
"Itu jelas-jelas wajah kamu Alexa, kenapa kamu masih bohong?"
"Pergi! tidak ada dari keluarga kami yang bersikap murahan seperti itu."
"Ayah."
"Jangan panggil aku ayah, dimana kamu habiskan malam dengan pria asing itu aku sudah bukan ayahmu lagi."
Sakit sekali rasanya mendengar ayahnya sendiri sudah tidak mau mengakuinya, apa boleh buat ia langkahkan kakinya dari rumah yang sudah memberikan banyak kenangan bersama mendiang ibunya dan juga kebersamaannya dengan ayah tercinta.
Dengan berat hati ia pergi mengikuti langkahnya yang entah harus kemana setelah ia diusir dari rumah. Hari mulai gelap bahkan suara gemuruh ribut dari atas langit telah mengisyaratkan untuk tubuhnya segera berteduh.
__ADS_1
Namun ia tidak memperdulikan semua itu dan membiarkan alunan air hujan mengguyur tubuhnya. Seakan dinginnya malam disertai hujan tidak sedikitpun membekukan tubuh gadis malang itu, Alexa terus berjalan mengikuti langkahnya yang tidak bertujuan.
"Ayo minumlah ini jamu Alexa, bukan minuman keras."
"Tapi, Jes rasanya tidak enak sekali .."
"Namanya juga jamu, gak ada yang manis. Ini baik untuk tubuh kamu yang lelah seharian bekerja, percaya deh."
"Yaudah, tapi dikit aja yah?"
Kilas bayangan semalam membuat ia teringat jika Jesicca yang sudah membuatnya mabuk berat semalam, sampai-sampai tidak sadarkan diri dan berakhir diatas tempat tidur bersama orang yang tidak dikenal nya.
"Lalu apa setelah itu kenapa aku gak inget?" Gumamnya Alexa.
Entah bagaimana dia harus mencari keberadaan pria tersebut untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya. "Aku harus cari pria yang ada di gambar itu. Tapi kemana?"
Tiba-tiba. "Iya bener banget aku harus ke tempat itu lagi dan memintanya untuk menjelaskan kepada ayah jika diantara mereka tidak terjadi sesuatu."
Sebelum Alexa menuju tujuan nya kedua kaki nya sudah tidak mampu menopang tubuhnya yang sudah melemas dan akhirnya rubuh tidak kuasa menahan derasnya air hujan sehingga membuat dirinya kedinginan terlebih waktu sudah sangat malam tidak mungkin juga ia dapat mencari tempat tinggal dengan cepat.
Keadaan nya sangat memprihatinkan sudah gadis malang yang sudah ternodai oleh pria tidak dikenal, bahkan ia harus menerima kebencian ayahnya pula.
***
"Bagaimana dok, keadaan dia?" suara seseorang dari jauh terdengar samar-samar namun masih bisa diterka jelas olehnya.
__ADS_1
"Dia baik-baik saja, saya rasa gadis ini terlalu lama kehujanan dan didalam tubuhnya juga ditemukan obat bius dengan dosis yang cukup banyak." sahut nya.
"Hah obat? obat bius? jadi semalam aku dibius Jessica." Jerit hatinya yang tidak menduga jika Jesicca memang sudah merencanakan itu dari jauh-jauh hari.
Matanya masih berat untuk terpejam ia hanya bisa mendengar apa yang mereka bicarakan dengan samar hanya sebagian yang bisa ia dengar saat ini. Kesadaran nya yang belum bisa kembali seutuhnya, entah dimana dirinya saat ini hanya ada suara yang kabur seperti pria dan wanita.
"Siapa mereka? mengapa aku bersama mereka? apa itu ayah dan siapa orang-orang yang lainya?" batin Alexa bertanya-tanya ingin segera membuka matanya dan melihat siapa yang tengah berada didekatnya saat ini.
"Rawat dia secara intensif, dia akan menjadi tanggung jawab keluarga Enderson. Jangan khawatir kan soal biayanya kami akan membayar rumah sakit ini dua kali lipat" pintanya seseorang cukup menusuk pendengaran Alexa.
"Enderson? suara itu? siapa mereka? aku seperti nya kenal tapi, siapa?"pertanyaan terus bermunculan dalam benaknya siapa gerangan orang-orang itu mengapa ia sangat sulit untuk tersadar dan mengetahui siapa saja disana. "Argh!! kenapa sulit sekali untuk bangun dan membuka kedua mataku bahkan tubuhku seperti mati rasa."
Tengah berusaha untuk menggerakkan seluruh badannya tiba-tiba ada seseorang yang tengah menyentuh di bagian wajahnya, terasa hangat dan lembut dengan hembusan aroma maskulin pria yang tidak asing baginya.
"Ku kira tidak akan berjumpa lagi dengan mu gadis asing." Bisiknya seorang pria bertubuh kekar dan tegap berparas rupawan tepat disebelah Alexa saat ini. Sampai-sampai suara itu menerpa daun telinga nya begitu hangat dan nyaman.
"Hah apa? dia mengenaliku." Terkejut nya Alexa mendengar ucapan sang pria disampingnya sepersekian detik aroma maskulin nya menjauh hingga tidak terdengar lagi suara tapak kakinya yang menjauh dari brankar Alexa.
***
"Bu, akhirnya rumah ini akan menjadi milik kita setelah menyingkirkan Alexa kita hanya perlu membuat ayah semakin membenci Alexa dan mengalihkan semua hartanya atas nama kita." rencana yang telah di buat selama bertahun-tahun akhirnya mereka bisa membuat saudari tirinya pergi meninggalkan rumah dengan secara tidak terhormat. "Anakku ini memang cerdas, dengan mudahnya dia masuk kedalam perangkap yang sudah kamu siapkan. Semoga saja hidup kita akan damai setelah ini mari kita rayakan hari kebesaran kita dengan berbelanja barang branded terbaru." Ucap ibu Jesicca yang begitu bahagia setelah membuat Alexa tersingkir dari anggota keluarga Maurin.
"Ide bagus Bu, mari kita rayakan!"
Entah terbuat dari apa hati mereka begitu tega membiarkan Alexa terlunta-lunta di jalanan hingga kehujanan dan membuatnya tiba ditempat orang asing lagi dan lagi dengan keadaan yang cukup memprihatinkan sedangkan mereka menikmati hidup mereka seolah tanpa dosa sedikit pun berfoya-foya dan merayakan keberhasilan mereka dalam menyusun rencana untuk menjebak Alexa.
__ADS_1