
Ditengah mempersiapkan kepulangan Aland Alexa bergegas mencari kamar Aland, wajar saja dia tidah mengetahui dimana letak kamar tuan muda terlebih dia masih baru untuk saat ini dijadikan pelayan oleh Aland.
Sementara Aland yang masih belum kembali Alexa segera bertanya pada Astrid keberadaan kamarnya, tampak terlihat begitu canggung Alexa takut jika pelayan Aland yang sangat mengabdikan dirinya itu sangat lah berhati-hati dan seolah mencurigai dirinya setelah kejadian pagi ini. "Untuk apa? kamu gak harus bersihin kamar tuan muda, itu pekerjaan pelayan lain kamu hanya diperintahkan untuk bagian luar saja." ucap Astrid yang mungkin sudah menaruh kecurigaan terhadap dirinya.
"Mbak Astrid, saya cuma mau minta maaf aja barangkali dengan saya membersihkan kamar tuan muda, dia bisa melupakan kejadian tadi pagi dan membuka maaf untuk saya." jawabnya Alexa berusaha meyakinkan Astrid dengan niat baiknya.
Alexa hampir kehabisan waktu karena membujuk Astrid untuk mengizinkan dirinya, namun Astrid masih terus menatap nya seakan-akan tengah mengintimidasi nya. "Kamu yakin?"
"Kok, gitu? kamu gak percaya sama saya. Ya udah kalo gak boleh aku kembali aja ke kamar."
Astrid masih terpaku disana sedikit pun tidak membiarkan Alexa untuk melakukan niat baiknya. Dengan sedikit kecewa Alexa harus bersabar untuk mengerjai Aland, sebelum tuanya kembali Alexa segera menyegarkan tubuh nya dan bergegas untuk tidur.
Dengan masih menggunakan sehelai handuk gadis jelita itu, kebingungan apa yang harus ia pakai. Ia lupa jika dirinya tidak membawa sepotong kain pun dari rumahnya.
Helaan nafasnya yang berat, ia hanya bisa menepuk jidatnya amat begitu sulit untuknya jika berlama-lama hidup seperti ini.
"Huh! lalu apa yang harus dipakai malam ini, masa iya sih aku harus pakai handuk semalaman?!" gerutunya Alexa yang tidak sengaja terdengar oleh seseorang yang kini tengah memperhatikan nya dari celah pintu kamarnya yang sedikit terbuka.
Punggung yang terlihat putih mulus, dengan sanggul kecil memperindah tampilan nya membuat seseorang tidak bisa mengendalikan diri hingga ia terpaksa menelan salivanya untuk menekan perasaan yang liar itu.
__ADS_1
Krek!!
Suara tekanan dari pintu kayu. "Siapa itu?" dengan cepat Alexa terlonjak dan menutupi bagian tubuhnya yang sebagian terbuka hingga terlihat jelas lekukan tubuhnya begitu indah dengan kedua tangannya yang mempererat handuk nya.
"Ini aku .."
"Kamu! sedang apa disana? kamu mau ngintip saya ya? atau mau berbuat jahat sama saya? gak sopan banget sih, ketuk dulu kalo mau masuk kamar perempuan gak bisa apa masuk dengan tata cara yang sopan gituh." protes Alexa yang tidak henti-hentinya terus melontarkan tuduhan pada Aland yang baru saja datang.
Aland dengan gaya cool nya mendekati Alexa yang hanya berbalut kain handuk, sebaliknya Alexa berusaha menghindar dengan melangkah mundur dari tatapan Aland yang seperti tengah memperhatikan nya.
"Ka..kamu ngapain, jangan coba-coba mendekat ..."
"Tuan muda jangan berani macam-macam atau .."
"Atau apa? kamu lupa nona, saya pemilik rumah ini kapanpun saya bisa masuk ke kamar mana saja sekalipun itu kamar pelayan. Jadi kamu gak perlu mengancam saya." Suara khas nya begitu mendayu-dayu aroma maskulin miliknya pun kini sudah terparkir di Indra penciuman nya, begitu kuat sampai-sampai otaknya sulit untuk berpikir jernih perasaan nya mulai merasakan energi aneh seperti sengatan listrik tengah mengalir didalam tubuhnya.
Tatapan pria tampan yang siapapun takkan pernah wanita tolak dengan gayanya yang menawan siapa saja akan tertarik terhadap nya termasuk Alexa namun logikanya masih tetap tersadar hingga ia masih bisa mengendalikan dirinya.
"ka..kalo.. Bu..butuh sesuatu tuan muda bisa panggil saya. Ti..tidak perlu repot-repot untuk datang kesini." Balasnya Alexa gelagapan.
__ADS_1
"Betul juga kamu, tapi kalo saya panggil kamu maka sayang sekali saya gak bisa liat kamu seperti ini. Apa kamu dengan sengaja menyiapkan ini untuk menyambut saya?" ucapnya Aland menelisik detail dari bawah hingga atas tubuhnya yang dibuat gemetaran.
"Hah, apa! nyambut gila.. ya gak lah masa iya aku harus nyambut dia ke gini pake handuk lagih. Nyebelin juga wajah aja ganteng pikiran nya sama aja kaya yang lainya, jorok." umpatnya Alexa bergumam sendiri didalam hatinya.
Bulatan kedua matanya cukup menjelaskan jika gadis cantik itu terkejut dengan sentuhan aneh yang menulusuri bagian lehernya. "Tuan muda, gak enak diliat orang tolong jangan gerayangan tangannya. kalo mau dibikinin kopi atau makanan nanti saya buatkan tapi tunggu di luar biar saya bisa berpakaian dulu." pinta Alexa secara baik-baik untuk membujuk Aland agar tidak berbuat hal yang sama di tempo hari.
"Kenapa? kamu takut?"
Alexa sebisa mungkin mengalihkan pandangannya dari tatapan Aland yang siap untuk memangsanya. "Ti..tidak .. a... aku ... sa..saya ... cuman kurang nyaman aja."
"Oke, kalo gitu. " Aland pun melepaskan dirinya dari Alexa . akhirnya gadis itu bisa bernafas lega.
"Ini paper bag isi nya pakaian perempuan kamu bisa pakai itu, dan beberapa barang yang bisa kamu gunakan."imbunya.
Entah kesambet apa pria yang baru saja ia lihat berubah drastis kembali menjadi dingin dan memberikan pakaian untuk ia pakai. "Ada apa dengan laki-laki itu bisa sebaik ini?"
"Cepat pakai saya tunggu di ruangan pribadi saya, dan perlihatkan pakaian itu kepada saya." Aland pergi kemudian meninggalkan Alexa sendiri untuk mengenakan pakaian yang sudah ia belikan untuk gadis si pemilik mata kecoklatan itu.
Namun jauh dari sikap dingin Aland Alexa jauh tampak terlihat tidak percaya.
__ADS_1
"Hah..."