
"Oke, kalo kamu gak mau ikut gak apa-apa. Tapi bayar perawatan kamu selama di rumah sakit ini dan cari tempat tinggal sendiri"
Alexa termenung benar juga apa yang di katakan pria bongsor itu jika dirinya kini sudah tidak punya tempat tinggal bahkan uang pun tidak punya. Gadis berparas cantik nan jelita itu akhirnya dengan berat hati menyetujui tawaran Aland untuk ikut dengan nya. "Ya, sudah a..aku ikut se.. sementara aja. Nanti aku cicil uang kamu yang udah aku pake kalo aku dah dapet kerjaan."
Seringai kejam terlukis dari wajah Aland. Kini ia harus bersama dengan orang yang dia benci jika bukan karena bantuan nya Alexa enggan harus seatap dirumahnya.
"Masuk!" perintah Aland.
"Iya aku masuk mobil, gak perlu kasar juga." ngedumel Alexa.
Sepanjang perjalanan tidak ada perbincangan sedikit pun untuk melihat wajahnya saja suasana didalam mobil berubah dingin. Gadis itu merasa aneh ia harus menerima bantuan dari orang asing seperti ini padahal keluarga nya masih ada namun karena kejadian satu malam itu hidupnya berubah 180° derajat.
"Nasib ku malang banget sih" larut dalam pikirannya sendiri mengingat kemalangan yang ia rasakan selama ini. Air matanya tumpah tanpa ia sadari dan menetes hingga pria disebelah nya menyadari jika kondisi mentalnya kini tengah tidak baik karena sesuatu.
Ala pria cool lainnya Aland memberikan selembar sapu tangan miliknya tanpa bicara ia tahu jika Alexa saat ini sedang membutuhkan nya. Dengan gaya nya yang dingin Aland memberikan kain persegi miliknya tanpa menoleh sedikit pun ia pria yang cukup peka namun disisi lain dia juga pria yang terlihat sombong.
hiks..
"Makasih!" ucapnya Alexa sedikit saja tidak mendapatkan jawaban apa-apa dari pria disebelahnya.
Pria itu kembali fokus memandangi laptopnya bergelut dengan keseharian nya yang disibukkan oleh pekerjaan yang selalu menunggunya.
Sementara Alexa seolah ada obat bius yang memintanya untuk tidur setelah menangis membuat kedua matanya lelah dan tertidur tepat disebelah kirinya. Pria itu sekilas melirik wajah lugu disampingnya yang nyaris terjatuh di atas bahu pria yang kerap disapa tuan muda itu.
"Bisa-bisa nya dia tidur!" desisnya Aland dengan lirikan nya yang tidak suka. Namun sesaat saja benturan dari jalanan yang berlubang membuatnya sigap menahan kepala Alexa yang hampir terpentok.
"Andrew! hati-hati."
__ADS_1
"Maaf tuan, saya tidak sengaja."
Bukan kebiasaan Aland membiarkan seorang wanita tidur lelap dipundak nya namun, tanpa disadari ia sudah memberikan kenyamanan bagi Alexa di pelukannya.
Meskipun mereka pernah tidur bersama akan tetapi Aland bukan tipikal pria bucin bisa tergila-gila pada wanita sebaliknya ia seorang pria yang acapkali memperlakukan wanita sebagai boneka yang ia butuhkan untuk bersenang-senang.
"Bikin repot aja." batinnya mulai merasakan risih namun disisi lain ada energi aneh ketika melihat wajah polosnya namun logikanya tetap membantah apa yang hatinya katakan.
Sesampainya Aland mencoba membangunkannya akan tetapi sikap Aland yang bertolak belakang dengan dirinya mengurungkan niatnya dan pergi begitu saja keluar dari mobil sampai-sampai Alexa yang masih bersender di bahunya tersungkur pada benda keras didepannya. "Aww! aduh .." rintih kecil Alexa merasakan dahinya yang kesakitan.
"Nona, kita sudah sampai mari saya bantu." ujar seseorang membantunya keluar dari mobil seorang wanita sekitar 40tahunan dengan menggunakan pakaian pelayan.
"Si.. siapa kamu?"tanya Alexa.
"Saya pelayan nya tuan muda, dia meminta saya buat bantu nona dan menyiapkan kebutuhan nona selama tinggal disini." sahutnya.
"Tuan muda udah duluan masuk, non."
Gadis itu turun segera dari mobil, apa yang dilihat nya begitu seperti mimpi rumah si pria itu dua kali lipat lebih besar dari rumah miliknya. "Ini!"
"Iya non, selamat datang di kediaman tuan muda Aland."
"Dia gak cocok dipanggil tuan muda. Tapi cocoknya dipanggil tuan killer." bisiknya dalam hatinya
Meskipun rumah Aland terbilang sangat mewah dan besar Alexa tidak merasa nyaman, dia baru saja sampai tapi hatinya bersikeras ingin sekali segera pergi dari sana. Kedua mata indah itu mengeliar menatap setiap detail dalam rumah besar Aland yang amat berkelas.
Pandangan nya tidak sedikit pun lepas dari ketakjuban dari Kilauan rumah yang mungkin berkisaran triliun nan jumlahnya. "Apa aku bisa tinggal disini?" hatinya bertanya-tanya.
__ADS_1
Selepas berganti pakaian Aland memerintahkan pelayan Astrid untuk membawanya ke kamar yang sudah disiapkan untuk Alexa. Untuk apa semua ini Alexa terkejut melihat isi kamar nya yang begitu jauh berbeda kamar lamanya. "Apa ini kamar untukku?"
"Iya ini kamar pelayan dan ini pakaian yang harus kamu gunakan besok."
"Apa ini?"
"Bukannya kamu ingin membalas Budi baikku bukan, maka dengan seragam itu kamu bisa menyicilnya." sahut Aland begitu dingin tanpa ekspresi.
Gadis itu terdiam pakaian ini sama persis dengan yang digunakan oleh Astrid baru saja. Apa mungkin dia berniat menjadikan nya pelayan?
"Pelayan??!"
"Mulai hari ini kamu akan menjadi pelayan pribadi ku, jadi siapkan dirimu Astrid akan memberi tau kamu apa aja yang harus kamu lakukan." Dia pergi melengos begitu saja seusai memberikan tahukan apa yang harus ia kerjakan setelah berada dirumah nya.
Entah mungkin kebetulan yang tidak disengaja mereka harus bertemu kembali terlebih Alexa yang tidak pernah menduga sebelumnya jika ia akan dipertemukan dengan pria di hotel tempo hari dengan begitu mudah tanpa harus mencari kemana.
Meskipun ia harus menjadi pelayan untuk membalas jasa Aland, dibalik persetujuan nya ada sesuatu yang sudah ia siapkan untuk Aland. "Liat saja nanti"
Keesokan harinya waktu sudah menunjukkan pukul 6 pagi dengan lihainya Alexa berkemas membersihkan setiap sudut rumah itu dengan bantuan beberapa pelayan Aland yang senantiasa memberikan arahan dengan sikap yang ramah tamah.
Setelah bermandikan keringat usai mengerjakan tugasnya sebagai pelayan Alexa dengan cekatan memasak makanan dengan sengaja menambah beberapa bubuk cabai didalamnya.
Beberapa chef yang di percaya kan untuk memasak makanan kesukaan Aland sudah memberitahukan gadis itu jika tuan mudanya tidak suka makanan pedas. "Tuan muda ini masakan spesial untuk anda dari saya, selamat menikmati makanan pedas saya." Seringai nya terlihat begitu licik untuk menjahili tuan mudanya dengan makanan yang paling tidak ia sukai. "Hitung-hitung ini pemanasan dari untuk memberikan kamu pelajaran" bisiknya Alexa.
Tidak ada yang tau satu orang pun jika makanan tuan muda nya telah diberikan bubuk cabai termasuk juru masak kediaman Ederson bahkan pelayan saja tidak melihat apa yang dilakukan nya saat ini.
"Selamat mencoba bom cabai buatan dari Alexa tuan muda.. hahahaha" pelan namun pasti Alexa yang begitu kegirangan tidak sabar melihat tenggorokan Aland terbakar karena memakan makanan buatan nya.
__ADS_1