
Alexa segera pergi dari dapur tanpa meninggalkan jejak sedikit pun untuk memberikan celah untuk mereka bisa mencurigainya.
Benar saja tak berselang lama beberapa pelayan membawa hidangan itu ke ruang makan untuk di sajikan kepada tua muda mereka, Alexa hanya bisa mengintipnya dari kejauhan memastikan jika makanan yang ia buat benar-benar disantap oleh Aland.
Pria itu baru saja turun dari tangga bersama orang kepercayaan nya Andrew, dan diikuti beberapa pria lainya dari belakang.
Cukup lama Alexa menunggu pria itu duduk di kursinya untuk makan namun Aland masih berkutat dengan ponsel nya sampai-sampai Alexa dibuat geram menunggu Aland menikmati makanan yang super pedasnya. "Dasar pria tengik, kenapa gak langsung makan aja sih malah main handphone." gerutunya dalam hati geram melihat Aland masih dengan duduk santai nya di meja makan tanpa menyantap makanan yang sudah dihidangkan.
"Panggil gadis itu" pinta Aland pada salah satu pelayan rumahnya.
"A..apa!" kernyitnya Alexa terbelalak mendengar Aland memanggil nya melalui pelayan lainnya. "Ke .. kenapa ha..harus aku!"
"Kamu!" sapa Astrid.
"Eh, i..iya!" mendadak Alexa gugup terpergok Astrid tengah memperhatikan Aland dari balik pintu.
"Tuan muda memanggil kamu, kenapa kamu malah ada disini."ucapnya Astrid.
Perasaan nya mendadak tidak karuan Alexa menelan salivanya dengan susah payah, berharap Aland tidak akan tahu jika makanan nya sudah ia beri bubuk cabai. "Astaga semoga Aland tidak tahu apapun tentang makanan nya"gumamnya Alexa berkelit dengan pikirannya.
langkah demi langkah ia injakan kakinya begitu berat terasa ada belenggu yang melingkar dipergelangan kakinya.
Tepat di sebelah kanan dimana Aland tengah duduk, Alexa hanya bisa tertunduk bahkan buliran keringat itu turun padahal setiap sudut rumah terdapat AC gadis itu hanya tidak bersuara sedikit pun namun, jari jemari Aland memberikan kode untuk para pelayan itu pergi termasuk Andrew dan lainya.
"Baik tuan muda" sahut dari mereka bersamaan.
"Ada apa ini? kenapa mereka pergi? mungkin aku juga harus pergi."
"Kecuali kamu, nona." hendak melangkah, Alexa dihentikan oleh Aland yang melarang nya untuk pergi sebelum ada izin darinya.
"Mati aku!"
__ADS_1
Aland beranjak dari duduknya dan meminta alexa untuk duduk. "Sini kamu duduk disini?" pintanya Aland.
"Untuk apa?"
"Kamu ingin melawan saya, duduk!" tegas Aland.
Permintaan nya yang aneh namun meski begitu Alexa menurutinya dan segera duduk, saat suara pria itu sudah naik satu oktaf. Kejutan jantung yang cukup untuk membuat orang lain mati berdiri.
"Makan!" pinta aland meletakkan kedua tangannya disebelah Alexa.
"Kenapa harus aku yang makan ini dimasak untuk ka .. maksud saya ini disiapkan untuk tuan muda kenapa harus saya yang makan?"
"Aku ingin kamu yang makan" Ekspresi yang dingin bahkan es kutub. Alexa kelimpungan setelah ini bagaimana bisa ia makan sementara makanan yang ia siapkan dipenuhi ranjau buatannya sendiri, bahkan ia tidak sanggup memakan makanan pedas bisa-bisa dia sendiri yang akan terbakar karena kepedasan.
Pria itu masih menunggu dengan sabar menatap lekat wajah indah Alexa yang tampak jelas terlihat ragu untuk memakan masakan nya sendiri. "Tapi, .."
"Ada apa bukankah ini masakan buatan tanganmu sendiri?!"
"Habislah kamu Alexa, ini namanya senjata makan tuan." batinnya ingin menjerit sejadi-jadinya jika tahu kejadian nya begini ia takkan pernah berpikir untuk memberikan nya ranjau cabai. "Masa iya sih aku harus makan, cabai."
"Ti..tidak perlu tuan muda aku bisa makan sendiri" begitu lembutnya Alexa menolak tangan Aland yang hendak menyuapinya makanan. Dengan terpaksa Alexa harus makan mau tidak mau meskipun itu akan membakar mulutnya, dengan gemetaran ia melahap makanan yang sudah disiapkan Aland untuknya.
"Ya ampun ini pedas sekali"
Uhuk.. uhuk.. Alexa tersedak mulutnya bagai terbakar panas, dan pedas dengan cepat Alexa berlari menuju kamar mandi dan memuntahkannya kembali sembari berkumur-kumur air untuk menghilangkan rasa pedas didalam mulutnya.
"Huhhh..."
"Oh astaga pedasnya! pedas ... Huh hah!" Alexa kelabakan karena bubuk cabai yang ia makan berlari kecil menuju dapur untuk mencari air dingin.
"Ini membakar mulutku, Huh.. minum .. aku harus minum, ini pedas banget .." dengan ketar ketir Alexa mengambil air minum dan meneguknya. Tiba-tiba setelah meletakkan gelas Aland sudah tepat berdiri dibelakang Alexa dan menarik pinggang kecilnya sehingga mereka saling berhadapan dengan jarak yang begitu dekat bahkan Alexa bisa merasakan aroma maskulin Aland.
__ADS_1
Aland bisa melihat jelas wajah cantik Alexa saat ini dengan rona merah dikedua pipinya dengan posisi yang menguntungkan bagi Aland. "Tu..tuan muda .. huhh"
"Mulut kamu terbakar?"
Dengan polosnya Alexa menganggukan kepalanya dengan kedua matanya yang masih lekat menatap bola mata indah Aland sembari dipenuhi rasa gugup, takut menjadi satu Aland takkan diam setelah tahu dirinya telah mencampur kan bubuk cabai di makanannya.
Tiba-tiba tanpa aba-aba Aland menekan pundaknya dengan keras hingga kedua bibir mereka bertemu, kedua matanya terbelalak sentuhan Aland membekukan seluruh tubuhnya.
Gadis itu mematung disaat benda kenyal itu mencoba merogoh membuka paksa mulutnya yang tengah merasakan kepanasan, sejenak ia hampir terhanyut namun seketika saja ia kembali ke kesadaran nya dan mendorong tubuh besar Aland. "Tidak sopan sekali disaat aku kepedasan kamu malah cari kesempatan berbuat tidak senonoh"
Sikapnya yang dingin sama sekali tidak membuat Aland merasa bersalah dengan berbuat seperti itu, tanpa sadar Alexa sudah membangunkan hasrat pria didepannya. "Tidak senonoh?? Ini harusnya kamu dihukum karena kamu sudah berani meracuni makanan ku dengan bubuk cabai, nona."
Alexa terkejut ternyata Aland menyadari apa yang sudah ia perbuat untuk nya. "Ingat satu hal Alexa ini rumah ku dan setiap sisi nya terdapat cctv jadi jangan ulangi kesalahan yang sama atau aku bisa berbuat lebih dari ini."
"Sial! dia tau." gumamnya. Masih terus menghembus rasa pedas dari mulutnya yang masih terasa membakar di seluruh mulutnya.
Aland pergi begitu saja setelah memberikan pelajaran untuk Alexa dengan memakan makanan buatannya sendiri.
"Astrid!"panggil Aland.
Astrid bergegas menghampiri tuannya, yang sepertinya sedang marah atas perbuatan Alexa yang menyulut emosinya.
"Iya tuan."
"Bawa makanan ini dan buang. Jangan biarkan gadis itu menyajikan makanan lagi untuk ku, paham!"
"Ba..baik tuan. Saya tidak akan membiarkan Alexa menyajikan makanan lagi untuk tuan."
"Bersihkan semuanya. Aku akan makan diluar."
Ucapan pria itu sampai di telinga Alexa, sungguh geramnya Alexa padahal hampir sedikit lagi untuk pria itu menyicipi masakan, dan sialnya malah dia sendiri yang harus merasakan jebakan nya sendiri.
__ADS_1
Namun Alexa tidak kehabisan ide untuk mengerjai tuan muda Aland, meskipun masih kepedasan Alexa masih terpikirkan cara lain untuk membuat pria itu merasa menyesal karena sudah membawanya kemari.
"Tuan Aland, liat aja nanti Alexa gak akan kehabisan ide untuk buat kamu nyesel. Huh.. hah.. pedas !! huh.. mulutku.."