Berdetak Kembali

Berdetak Kembali
kehadiran sosok kamu


__ADS_3

Jembatan Siti Nurbaya merupakan ikon wisata Kota Padang memiliki pesona tersendiri saat malam hari. Jembatan yang membentang di atas Sungai Batang Arau memiliki sejarah yang menarik. Setiap harinya jembatan ini didatangi banyak pengunjung, baik dari masyarakat sekitar atau dari luar daerah. Mereka datang dengan tujuan untuk menikmati pemandangan barisan bukit yang disuguhkan dari atas jembatan. Bahkan saat sore menjelang malam, Jembatan Siti Nurbaya menyajikan pesona gemerlap lampu dari desa yang berada di bawah hulu sungai. Gemerlap kilau yang didapat dari lampu jalan di sekitar jembatan, menambah atmosfer romantis saat malam tiba.


Di sana, di jembatan itu aku termasuk salah satu dari banyaknya masyarakat yang datang. Aku berdiri sembari menikmati cahaya lampu dan bintang yang bertebaran di langit. Dalam keramaian aku masih tetap saja merasakan kesepian dengan dingin nya angin malam. Aku membuka buku sembari menulis bait demi bait perasaanku.


"Seusang timbunan buku


Berdebu, Kotor, Robek, Dan Tulisan yang pudar


Aku kembali mengingatkan diriku


Semua tidak lagi sama


Tidak lagi tersusun, tidak lagi jelas, dan tidak lagi bersih


Sesejuk embun pagi di pedesaan


Dedaunan yang berguguran


Kini tidak lagi sama


Pepohonan mulai tidak ada


Panas mulai membakar


Dan kini ceritapun tidak lagi sama

__ADS_1


Aku kembali mengingatkan diriku


Bahwa semua telah berubah


Bahwa ternyata yang dingin dahulu sudah menjadi panas membara


Dan yang tertata rapi sudah tidak pada tempatnya


Perasaan pun begitu


Sedikit ada tapi banyak kecewa


Sedikit merindu tapi berusaha melupa


Dengan kehilangan apapun yang menjadi harapan


Daun pun ikut gugur bersama butir harap yang tersisa


Begitulah diri ini mengingatkan.


Aku membatasi diriku untuk setiap hubungan atas percintaan. Aku berjalan seiringan dengan rasa cinta dan benci. membuat suatu hubungan dengan yang satu dan menghapus ikatan dengan yang lainnya. Begitulah aku membenci sebuah kekosongan dalam diriku. Aku menatap langit malam yang begitu indah tetapi tetap saja merasa hampa.


"Aku benci dunia yang tidak adil ini"


"aku benci pernah mengenalmu dan aku menyesal telah mencintaimu"

__ADS_1


Aku mengutuk semua hubungan yang pernah kujalani. karena cinta tidak dapat menandingi sebuah kebencian.


Disaat yang sama pria berjalan menghampiriku kemudian berdiri tepat di sampingku. Ternyata sedari tadi dia tengah memperhatikanku. Dia memberiku sebuah syair


"Kekosongan yang tercipta dalam perasaan yang menyelimutimu itu adalah kesalahanmu.


Hubungan tidak bisa engkau putuskan hanya karena engkau kecewa.


Dan menyesal setelah mencintainya adalah kebohongan karena pada dasar kamu tetap saja mencintainya kan?.


Tidak pernahkah engkau bertanya adakah alasan dibalik rasa kecewamu itu?


Lantas bisakah engkau berasumsi bahwa kecewamu adalah karenanya?"


Dalam sela-sela kata-kata yang diutarakannya membuatku melihat kearahnya.


siapa pria ini berani memberiku kritik? batinku


, Lalu berencana pergi meninggalkannya tanpa sepatah katapun tetapi sebelum aku meninggalkannya pria itu berucap "setidaknya jangan mengutuk dunia karena apa yang kamu alami, tidak hanya kamu yang merasakan sakit, dunia ini penuh dengan kejutan dan mungkin suatu saat kamu akan mendapat kejutan itu" dia mengucapkan kata itu dengan wajah dinginnya.


"siapa kamu berhak menceramahi ku" sambil beranjak pergi.


pria itu hanya menatap punggung yang semakin menjauh.


Saat diperjalanan kata kata pria tadi terus saja terngiang-ngiang seolah-olah semua yang dia katakan benar-benar telah menampar diriku. setiap kali aku melihat bintang di langit. aku selalu mengingat perkataan pria pada malam itu, sosok seperti apa dia? batinku.

__ADS_1


__ADS_2