
Jembatan Siti Nurbaya merupakan ikon wisata Kota Padang memiliki pesona tersendiri saat malam hari. Jembatan yang membentang di atas Sungai Batang Arau memiliki sejarah yang menarik. Setiap harinya jembatan ini didatangi banyak pengunjung, baik dari masyarakat sekitar atau dari luar daerah. Mereka datang dengan tujuan untuk menikmati pemandangan barisan bukit yang disuguhkan dari atas jembatan. Bahkan saat sore menjelang malam, Jembatan Siti Nurbaya menyajikan pesona gemerlap lampu dari desa yang berada di bawah hulu sungai. Gemerlap kilau yang didapat dari lampu jalan di sekitar jembatan, menambah atmosfer romantis saat malam tiba.
Di sana, di jembatan itu aku termasuk salah satu dari banyaknya masyarakat yang datang. Aku berdiri sembari menikmati cahaya lampu dan bintang yang bertebaran di langit. Dalam keramaian aku masih tetap saja merasakan kesepian dengan dingin nya angin malam. Aku membuka buku sembari menulis bait demi bait perasaanku.
"Seusang timbunan buku
Berdebu, Kotor, Robek, Dan Tulisan yang pudar
Aku kembali mengingatkan diriku
Semua tidak lagi sama
Tidak lagi tersusun, tidak lagi jelas, dan tidak lagi bersih
Sesejuk embun pagi di pedesaan
Dedaunan yang berguguran
Kini tidak lagi sama
Pepohonan mulai tidak ada
Panas mulai membakar
Dan kini ceritapun tidak lagi sama
__ADS_1
Aku kembali mengingatkan diriku
Bahwa semua telah berubah
Bahwa ternyata yang dingin dahulu sudah menjadi panas membara
Dan yang tertata rapi sudah tidak pada tempatnya
Perasaan pun begitu
Sedikit ada tapi banyak kecewa
Sedikit merindu tapi berusaha melupa
Dengan kehilangan apapun yang menjadi harapan
Daun pun ikut gugur bersama butir harap yang tersisa
Begitulah diri ini mengingatkan.
Aku membatasi diriku untuk setiap hubungan atas percintaan. Aku berjalan seiringan dengan rasa cinta dan benci. membuat suatu hubungan dengan yang satu dan menghapus ikatan dengan yang lainnya. Begitulah aku membenci sebuah kekosongan dalam diriku. Aku menatap langit malam yang begitu indah tetapi tetap saja merasa hampa.
"Aku benci dunia yang tidak adil ini"
"aku benci pernah mengenalmu dan aku menyesal telah mencintaimu"
__ADS_1
Aku mengutuk semua hubungan yang pernah kujalani. karena cinta tidak dapat menandingi sebuah kebencian.
Disaat yang sama pria berjalan menghampiriku kemudian berdiri tepat di sampingku. Ternyata sedari tadi dia tengah memperhatikanku. Dia memberiku sebuah syair
"Kekosongan yang tercipta dalam perasaan yang menyelimutimu itu adalah kesalahanmu.
Hubungan tidak bisa engkau putuskan hanya karena engkau kecewa.
Dan menyesal setelah mencintainya adalah kebohongan karena pada dasar kamu tetap saja mencintainya kan?.
Tidak pernahkah engkau bertanya adakah alasan dibalik rasa kecewamu itu?
Lantas bisakah engkau berasumsi bahwa kecewamu adalah karenanya?"
Dalam sela-sela kata-kata yang diutarakannya membuatku melihat kearahnya.
siapa pria ini berani memberiku kritik? batinku
, Lalu berencana pergi meninggalkannya tanpa sepatah katapun tetapi sebelum aku meninggalkannya pria itu berucap "setidaknya jangan mengutuk dunia karena apa yang kamu alami, tidak hanya kamu yang merasakan sakit, dunia ini penuh dengan kejutan dan mungkin suatu saat kamu akan mendapat kejutan itu" dia mengucapkan kata itu dengan wajah dinginnya.
"siapa kamu berhak menceramahi ku" sambil beranjak pergi.
pria itu hanya menatap punggung yang semakin menjauh.
Saat diperjalanan kata kata pria tadi terus saja terngiang-ngiang seolah-olah semua yang dia katakan benar-benar telah menampar diriku. setiap kali aku melihat bintang di langit. aku selalu mengingat perkataan pria pada malam itu, sosok seperti apa dia? batinku.
__ADS_1