
ternyata berkeliling dapat menenangkan pikiran juga batin eunbi. terkadang menyendiri dan tidak peduli menjadi hal baik juga itulah yang selalu ditanamkan eunbi pada diri nya sendiri.
eunbi melirik jam ditanggannya. segera merogoh ponsel di tas ada pesan masuk tertera di sana Ibu.
****
prang...
suara tamparan itu begitu keras sehingga memekakkan telinga. sebuah tangan terulur ke sebuah pipi. ia hanya bisa menangis tersedu-sedu memandangi wajah ayah yang penuh kemarahan.
"setidaknya perlakukan aku sama dengan kakak?, apakah aku bukan anakmu" teriaknya.
ia berdiri dengan tangan yang gemetar membuat jantung nya berdetak kencang dan air mata tidak dapat dihentikan berlalu pergi".
"ibu setidaknya perlihatkan peduli mu padaku bu batin eunbi. sambil menatap ke arah ibu yang berdiri sedari tadi.
eunbi berlari ke kamar menutup pintu lalu melempar tubuh ke kasur menyelimuti diri sambil menangis. masih terdengar suara teriakan ayah yang sedang marah di ruang tamu.
"apa yang membuat ku berbeda dengan kakak?, kenapa mereka membedakan kasih sayang mereka padaku
aku iri dan aku benci tidak memiliki apapun untuk dibanggakan
Aku..............
aku lelah harus menjadi seseorang yang mengalah dan aku lelah berharap dan kemudian patah dan patah. aku hanya ingin mewujudkan semua yang kuinginkan apakah itu salah?" eunbi berdiri berjalan ke arah meja belajar mencari buku harian lalu menulis.
" Ada kalanya engkau sangat membenci keadaan sehingga mengutuk setiap harapan.
__ADS_1
Dan dititik tertentu ingin sekali menghentikan denyut nadi dan napas yang berhembus.
Setiap usaha yang tidak berkesempatan, setiap janji yang ter-ingkari, dan setiap pelukan yang melepas. engkau ingin sekali menghancurkan bumi menjadi berkeping-keping hingga Meluluhlantakkan setiap sudut bumi.
Ada kalanya engkau terdiam sepi di ramainya orang-orang yang bersorak ria. Tanpa menatap kiri dan kanan, depan dan belakang. Hanya terbelenggu sepi di khalayak ramai.
Setiap tangisan yang ter-sembunyikan, dan setiap kata yang terpatahkan. Engkau ingin sekali mendekap matahari dengan cahayanya memenuhi sebuah ruangan kegelapan."
"bu andaikan aku bisa memberi tahu mu apa yang ku rasakan. akan kah kamu memelukku seperti kakak? apakah ayah memberiku semua keinginkanku" air mata mengalir di pipi eunbi menetes di atas buku hariannya.
menangis membuat eunbi lelah kemudian pelan-pelan tertidur di meja belajar.
****
"eunbi" suara teriakan itu membuat eunbi menoleh ke belakang. ternyata adri.
dengan cepat eunbi mengelap air mata yang ada di pipi nya. memasukkan buku harian ke dalam tas kembali. eunbi melanjutkan berkeliling melihat-lihat sekitar.
"pergilah, aku ingin sendiri" ucap eunbi.
"kamu harus mulai belajar etika tidak mengusir seseorang, tidak baik" Adri menatap eunbi penuh keseriusan. eunbi hanya terdiam sambil berjalan, adri mengikuti eunbi tanpa sepatah katapun.
"langit yang cerah ya?". mencoba menarik eunbi untuk berbicara padanya. tetapi sayang eunbi hanya terdiam sambil melihat ke arah kiri dan kanan menikmati udara pagi dan cahaya matahari yang mulai menghangatkan tubuh.
adri menatap ke arah eunbi. "ternyata eunbi cantik juga batinnya". tidak terasa mereka berada di depan fakultas tata busana. eunbi ingin masuk kelas tetapi adri menahan eunbi
"sebentar eunbi, nanti siang makan bareng ya?"
__ADS_1
"ya" meninggalkan adri dan segera masuk kelas. adri tersenyum senang akhirnya dia membuka diri batinnya. adri pun bergegas pergi ke fakultas sastra indonesia.
"Kelas hari ini selesai disini, kalian harus mencari seseorang sebagai model peragaan sebagai tugas semester ini hanya boleh salah satu murid dari kampus ya, jangan bawa dari luar." lalu dosen meninggalkan kelas.
eunbi berfikir sejenak siapa yang akan dia jadikan model sedangkan dia tidak memiliki teman. eunbi harus mencari seseorang agar nilai semester kali ini menjadi terbaik lagi.
"tetapi aku bisa mencari lain kali karena masih banyak waktu tetapi akan lebih baik aku menemukan sekarang. aghhhhhhh menyebalkan. batin eunbi.
ternyata adri sudah berada di depan kelas. eunbi sempat lupa ternyata dia telah mengiyakan ajakan makan siang bersama adri.
lalu dalam sejenak eunbi teringat tugas sekolah "mungkin dia bisa membantuku tapi bagaimana cara mengatakannya". eunbi tampak berpikir keras karena ini pertama kali nya dia meminta seseorang membantunya. adri melihat ke arah eunbi yang tampak ragu-ragu seperti ada yang ingin dikatakannya.
"hey, kamu terlalu melamun kita sudah sampai".
menepuk lengan eunbi membuat eunbi kaget dan segera masuk ke dalam kafe.
"kamu tampak bingung, mikirin apa" ucap adri ke arah eunbi karena sedari tadi eunbi tampak melamun seperti mencemaskan sesuatu. raut wajah penuh dengan keraguan.
"ah, itu...bukan apa-apa , makan saja". namun adri tidak percaya berusaha membuat eunbi mengatakan yang sebenarnya. "eunbi kalo butuh sesuatu bilang ya, aku siap bantu kok". eunbi berpikir sejenak kemudian menghela napas.
"baiklah. hari ini dosen mengumumkan tugas kelompok untuk nilai semester. karena aku harus menyiapkan segala sesuatunya mulai dari sekarang. karena jika tidak sekarang takut nanti tidak cukup waktu". adri menatap eunbi serius " lalu, apa yang membuat mu khawatir" balasnya.
"aku khawatir karena itu adalah peragaan kampus dan aku harus punya model untuk peragaan itu karena...."eunbi terdiam sejenak lalu melanjutkan ucapannya "karena aku tidak punya teman. tapi maukah kamu membantuku?" wajah eunbi memerah karena malu. adri mengetahui bahwa eunbi merasa aneh harus meminta bantuan orang lain karena dia selalu mengerjakan apapun sendiri. tetapi karena semester ini akan banyak tugas kelompok bagaimanapun dia harus mulai kembali bergaul dengan orang lain. tanpa berpikir adri mengiyakan permintaan eunbi. "jadi aku harus melakukan apa untuk tugas itu?"
"kamu hanya harus hadir saat aku membutuhkanmu untuk tugas ini. akan aku kirimkan detail nya ke WhatsApp,
terima kasih" ucapnya ke arah adri. adri hanya membalas dengan senyuman. terus memandangi eunbi yang sedang makan, dalam hati adri merasa senang dia akan punya alasan untuk bertemu dengan eunbi. eunbi yang merasa diperhatikan melihat ke arah adri. dengan cepat adri mengalihkan pandangan.
__ADS_1
"kamu tidak makan?"
"makan kok" balas adri sambil tersenyum. setelah selesai adri bertanya pada eunbi "tinggal dimana eun? biar ku antar" lalu dengan cepat eunbi menjawab "tidak usah, aku bisa pulang sendiri" tetapi adri terus memaksa mengantar eunbi pulang.