
Malam itu aku sedang disibukkan dengan tumpukan kerjaan yang tak kunjung selesai, sudah tidak ku hitung lagi tumpukan gelas kopi yang bergiliran ku seduh. Namun, kopi yang tadinya ku buat untuk penawar rasa kantuk, nampaknya tak lagi bisa menahan rasa kantuk di mataku.
Di sela - sela mencoba terus menyadarkan diri agar tetap terjaga, tiba - tiba saja meja kerja bergetar kencang dan mengagetkanku. Iya.. aku memang lebih suka membuat fitur ponsel dengan mode bergetar, rasanya jika sebentar - bentar nada dering berbunyi, kepala ini akan terasa pusing mendengarnya.
Dengan mata ngantuk, samar - samar aku melihat nama kontak yang meneleponku, sekilas tak sadar tapi aku coba lagi melihatnya, dan benar saja, nama yang ada di ponselku, nama yang telah hilang dan tak ingin lagi ku ingat selama tiga tahun ini.
Sempat beberapa saat untukku berfikir harus bagaimana, hati mulai berkecamuk. Namun tetap saja perasaan yang dulu mengalahkan segala egoku.
" Halo.. ". ( Suaraku lirih dan penuh ragu ).
Seketika saja suasana menjadi sangat hening.
" Apa kabar ? ". Suara itu, suara yang sama yang masih terus kuingat sampai detik ini. Tak bisa lagi ku jelaskan bagaimana gambaran hatiku mendengar suara yang sudah tak lagi pernah ku dengar selama tiga tahun lamanya.
" Kamu masih ingat mas kan ? ".
" Iya.. Ada apa mas malam - malam telepon ? Btw, tumben banget. Kirain Uda enggak ingat ".
" Al.. Kamu masih cinta mas enggak ? ". Entah maksud dan tujuan apa kata - kata aneh itu keluar.
" Kenapa tiba - tiba tanya kayak gitu ? " ( Sambil tak sadar bibir bergerak membentuk lekuk tipis ).
" Mas mau kita menikah, kamu mau ya ? ".
Seketika suasana kembali hening sejenak, rasanya seperti aku tak lagi berada di bumi dan tak juga di langit. Jiwaku terombang - ambing, orang yang selama delapan tahun aku cintai dan selama bertahun - tahun meninggalkanku, sekarang kembali dan mengatakan hal yang mungkin aku tak pernah berani berharap, setelah kejadian itu.
Orang yang seketika itu, dengan gestur dan raut wajah penuh kebencian meninggalkanku begitu saja tanpa memutuskan harus dibawa kemana hubungan ini, orang yang sangat aku cintai, dan dengan penuh harap aku mencintainya.
__ADS_1
Orang yang meninggalkanku hanya karena ia kecewa dengan kondisi keadaan hidupnya saat itu, tanpa dia berfikir akan kondisi hidupku jika dia meninggalkanku begitu saja, orang yang telah membuatku bertahun - tahun lamanya harus menjahit lukaku sendiri, menutupinya sedikit - demi sedikit.
" Kok diam.. ". Tanya nya.
Bagaimana aku bisa menjawab, karena baru malam ini aku sadar bahwa hatiku telah hambar, walaupun tak bisa aku pungkiri, telepon darinya membuat senyum tipis di bibirku, menjadi penawar rasa kantuk mengalahkan kopi yang sedari tadi ku teguk bergelas - gelas banyaknya.
" Mas mau kita sama - sama lagi kayak dulu ?, Dev.. mas masih cinta sama kamu, mas mau kita menikah, kamu mau ya ? ".
" Selama mas merantau, mas masih mikir kamu Dev, mas tau mas salah saat itu, tapi setelah mas pikir - pikir, mas ingin menikah dengan orang yang sudah melalui banyak hal dengan mas ". ( Sambil lirih dan bergetar ).
Saat itu juga ingatanku kembali ke tiga tahun lalu, jika mengingat hal itu maka rasanya dada ini terasa sakit, nafas terasa sesak dan aku tak mau lagi mengulangnya. Aku tak mau lagi mengulang mencintai orang dengan sepenuh hati bahkan melebihi cintaku pada apapun di bumi ini.
Aku tak mau lagi mengulang, merasakan detik demi detik aku menutupi luka di hatiku yang dibuat olehnya, aku tak mau lagi merasakan bagaimana aku berjuang hari demi hari untuk sanggup hidup dengan semua sakit karena kepergiannya, mungkin baginya mudah, tapi tidak bagiku.
Tapi aku juga tak bisa berbohong, atau justru aku membohongi diriku sendiri, ntahlah, malam ini menjadi malam paling kacau dan membingungkan bagi hidupku.
" Kali ini mas sungguh - sungguh Dev, mas mohon ". Hati nurani ku bisa mendengar kejujuran di suaranya, namun pikiranku terus menolak untuk menerima keadaan ini.
" Untuk bukti mas serius atau tidak, aku mau mas bicarakan hal ini langsung dengan ibu. Apapun keputusan ibu nanti, itu menjadi keputusanku juga ".
" Oke.. Nomer ponsel ibu masih yang dulu kan ? ". ( nampak penuh semangat ).
" Iya.. Masih sama ".
" Besok mas telepon, kalau sudah besok mas kabari kamu lagi ya ".
" Iya.. " .
__ADS_1
" Ya sudah kalo gitu, mas tutup dulu teleponnya Dev, met malam ". Sebelum ia menutup teleponnya , aku langsung segera bergegas memencet tombol merah yang ada di ponselku, aku masih belum siap dengan pembicaraan yang membuat hatiku terguncang.
Segera setelahnya aku bergegas menutup laptop, membersihkan diri dan membiarkan pikiran dan ragaku beristirahat sejenak, walaupun pada kenyataannya pikiranku masih terus melayang - layang. Dan setelah satu jam memutari tempat tidur ke kanan dan ke kiri akhirnya mataku terpejam.
" Dev.. Bangun Uda siang ". Sahut ibu dari balik pintu.
" Iya Bu ". Sembari masih belum sadar dengan segala prahara semalam ". Bisa jadi otakku langsung me-restart segala kejadiannya, karena aku anggap enggak logis.
Bergegas ke kamar mandi, beres - beres dan menyantap hidangan lezat bikinan ibu, masakan yang restoran manapun enggak akan bisa mengalahkannya.
" Oya nak, tadi pagi banget Pras telepon ibu ".
" Oya.. Terus ngomong apa ? " . ( Raut wajah panik dan penuh tanya ).
" Katanya mau minta izin nikahin kamu, dia bilang belum bisa pulang secepatnya buat ngelamar, karena urusan kerjaan, tapi dia mau pernikahannya secepatnya ".
" Apa.. dia ngomong gitu Bu, terus ibu bilang apa ? ", Pura - pura menutupi rasa panik yang ada.
" Iya kalau ibu terserah kalian aja, kalau niat dia baik kenapa tidak ?, lagi pula setau ibu kalian Uda pacaran lama kan ? ". Ibu memang tidak pernah tau apa yang terjadi sebenarnya, bahkan tak ada satupun yang tau, ak memang selama ini menutupi luka ku sendiri.
Lalu tak berapa lama ponselku bergetar, dan benar saja dia menelpon ku setelah tau salah satu fitur chat dalam ponselku menandakan aku sedang dalam keadaan online. Aku belum siap, sebenarnya ak belum siap.
" Pagi cantik, udah bangun ? ". Sesungguhnya apapun yang berkaitan dengannya. hatiku sudah benar - benar mati rasa, tapi entah mengapa suara dan ucapan yang keluar dari mulutnya membuat senyum tipis lagi di bibirku.
" Dev.. Semalam kamu bilang, jawaban ibu adalah jawabanmu, tadi pagi ibu bilang iya. Dev.. kamu bakal jadi istriku, kamu sudah bicara itu. "
Mendengar kata - kata yang keluar dari mulutnya, membuat ak mengingat lagi kejadian itu. Oh.. Tuhan, aku harus bagaimana sedang ak sudah bersikap tapi hatiku masih benar - benar belum siap.
__ADS_1