Berusaha Lagi Mencintaimu

Berusaha Lagi Mencintaimu
Kepergian Kiki


__ADS_3

Pagi itu kampus masih sangat sepi, kelas masih kosong tanpa satu pun mahasiswa, hanya ada aku dan bangku kosong, jam menunjukkan pukul 7 pagi, sedang kuliah pagi dikampus kami baru dimulai pukul 8.


Udara disekitar kampus sangat segar, pepohonan yang menjulang tinggi membuat tetesan embun yang menyejukkan, hari ini rasanya suasana hatiku sedikit membaik.


Aku sengaja datang lebih awal kekampus, selain karena bangunku yang terlalu pagi, aku juga ingin sekali segera bertemu dengan Kiki, menemani nya seharian ini untuk mengurusi berkas surat pindahnya ke Amerika besok.


Setelah selesai meletakkan tas dibangku kosong dekat jendela kelas, tempat aku biasa duduk dengan Kiki, aku kemudian menuju keluar untuk sarapan dikantin kampus.


Aku memilih sarapan dikantin DKV, bukan tanpa sebab, biasanya sebelum Kiki masuk ke kelas, ia terlebih dulu ngopi dan sarapan dikantin tersebut. Untuk menuju ke kantin DKV, aku harus melewati gedung rektorat, didepan gedung ada jalan 2 arah dengan taman ditengahnya.


Jalan dan taman itu biasa digunakan warga atau orang - orang selain mahasiswa kampus untuk berolahraga ataupun bermain di pagi hari.


Sedang asyik berjalan sambil menikmati udara pagi kampus, nampak dari kejauhan Pras duduk di teras gedung rektorat, menoleh ke arahku.


Ingin rasanya memutar arah, membalikkan pandanganku, akan tetapi Pras sudah lebih dahulu melihat, ia kemudian tersenyum dan menghampiri.


" Pagi cantik.. ". Sapanya.


Aku pun hanya tersipu malu, mendengar sapaannya.


" Loh kok.., Ngapain kamu pagi - pagi disini ? ". Tanyaku. ( dengan wajah memerah ).


" Pengen liat kamu, siapa tau beruntung ". Jawab Pras.


Kehadiran Pras membuatku senang, lalu sekilas aku memiliki ide untuk membuat Kiki bahagia hari ini.


" Pras.. Ikut aku ke kantin yuk ! ". Ajakku, sambil menarik tangan Pras.


Dengan melihat Pras, aku yakin Kiki pasti akan senang, paling tidak dia akan terhibur dan melupakan sejenak kesedihannya. Pras pun menyetujuinya, lalu kami berdua berjalan menuju kearah kantin.


Ibu kantin sudah buka dari pukul 6.30 pagi, beberapa dari mereka sudah mulai mencari nafkah dari orang - orang yang datang untuk bermain atau berolahraga di kampus, walaupun belum begitu ramai tetapi sudah ada beberapa pengunjung disana.


Kiki belum tampak disana, aku dan Pras memilih duduk dikursi luar kantin, Pras memesan segelas kopi, sedangkan aku mengambil beberapa gorengan dan memesan teh hangat. Sambil menunggu pesanan datang, kami berdua berbincang masalah kepergian Kiki ke Amerika.

__ADS_1


Tak selang berapa lama, Kiki pun tampak jalan menuju arah kantin, aku memang sudah yakin ia akan datang ke kampus hari ini untuk mengurus berkas, namun syukurlah ia datang lebih awal dari biasanya, walau sebenarnya hatiku benar - benar tidak karuan memikirkan bagaimana tanggapan Kiki nantinya melihat aku bersama Pras.


Aku sudah tidak lagi fokus mendengarkan pembicaraan Pras, pandanganku hanya tertuju pada Kiki, selangkah demi selangkah Kiki mulai mendekati kami, raut wajahnya datar, bahkan ia sedikit memberikan senyum tipis kearah kami. Aku berusaha tetap tenang, dan tidak mau membuat suasana menjadi tak asyik.


" Kalian janjian disini ! ". Tegas Kiki.


" Curang.. Nongkrong enggak ngajak - ngajak kamu Dev.. ". Tegas Kiki lagi.


Aku mulai Salah tingkah dan bingung mau menjawab apa.


" Aku sengaja nyari Devi kesini, tanya soal kebenaran kabar kepindahan kamu ke Amerika ". Tiba - tiba saja Pras menjawab.


Aku segera mengangguk menegaskan bahwa apa yang dikatakan Pras itu benar.


" Jadi ngurus berkas hari ini Ki ? ". Tanyaku.


" Jadi.. ". Jawab Kiki.


" Tapi kita nongkrong dulu, aku mau ngopi sambil santai - santai dulu disini ". Jawab Kiki lagi, ( dengan wajah riang dan penuh semangat ).


Tak terasa sudah pukul 11 siang, sebentar lagi sudah hampir jam istirahat para staf kampus, aku kemudian memutus obrolan, mengingat aku dan Kiki harus mengurus berkas hari ini, apalagi aku juga sudah merelakan tidak masuk pada jam mata kuliah pagi.


" Ki.. Uda mau siang ni, Ayuk jalan.. keburu pada istirahat ". Tegasku. Kiki nampak masih asyik ngobrol dengan Pras.


" Eh.. iya, pada jalan gih.. aku juga sampai lupa waktu, ngobrol sama kalian ". Jawab Pras, sambil memotong pembicaraan Kiki.


Kiki dengan gestur manja mengiyakannya, kami berdua pun berpamitan dengan Pras, dan menuju gedung rektorat, setelah selesai mengurus semua berkas, Kiki langsung pulang karena harus menemui ibunya, sedang aku kembali ke kost.


Keesokan harinya, semua kami lalui dengan ritme yang sama, berangkat ke kampus, lalu mengurusi berkas - berkas yang tak bisa selesai hanya dalam satu hari. Jika ada sisa waktu dan jam mata kuliah, barulah kami menyempatkan mengikuti kuliah.


Sisa waktu 1 Minggu bersama Kiki terasa begitu cepat, aku yang tadinya sering risih jika ia mengikuti kegiatanku setiap harinya, justru kali ini, aku yang membuatnya risih karena terus mengikuti kegiatannya setiap hari.


Tepat 1 hari sebelum keberangkatan Kiki, kami membuat janji untuk bertemu dengan ibunya Kiki, ia ingin memperkenalkan aku dengan ibunya, Kiki bilang ibu sangat penasaran denganku, aku pun tak mungkin keberatan, kami sepakat untuk ketemu di restauran dekat dengan galery tempat aku bertemu Pras pertama kali.

__ADS_1


Bukan aku yang memilih tempat, tetapi ibu Kiki langsung yang memilih tempatnya, karena memang daerah disekitaran situ banyak sekali hotel dan restauran juga tempat berkumpulnya para wisatawan mancanegara.


" Uda siap belum ? 10 menit lagi aku nyampe ". Tanya Kiki, melalui Video Call WhatsApp.


" Uda dari tadi, oke.. aku tunggu ya ! " . Jawabku, lalu mengakhiri Video Call.


Setelah selang beberapa menit kemudian, Kiki datang dan kami langsung bergegas menuju restauran, Ibu Kiki juga sudah menunggu disana.


Setelah 15 menit kami pun tiba didepan halaman restauran, memarkirkan mobil, lantas turun dari mobil, Tiba - tiba saja, mataku tertegun dengan mobil Mitsubishi hitam diseberang jalan, " itu kan mobil Pras " , ( dalam hati aku bicara ).


Benar saja, Pras juga tampaknya baru saja tiba di lokasi yang sama, aku langsung memalingkan wajah, seolah tak melihatnya. Aku dan Kiki lalu berjalan menuju kearah meja tempat ibu Kiki duduk.


" Hai mam, kenalin ini best friend aku Devi.. ". Devi menunjuk kearah ku.


Aku pun menyodorkan tangan, menyalami ibu Kiki, lalu memperkenalkan diri. " Ibu Kiki sangat cantik, apa mungkin semua bule memang cantik ", pikirku dalam hati.


" Hai.. Kiki sering sekali cerita tentang kamu, silahkan duduk, pesan apa saja yang kamu mau Dev ". ( dengan logat Indonesia yang aneh ).


Aku pun mulai melihat - lihat menu, tiba - tiba terdengar suara yang tak asing ditelinga ku.


" Maaf telat, barusan ketemu teman di parkiran ".


Benar saja, sontak aku kaget dan langsung menoleh kearah sumber suara, itu Pras, kenapa dia juga ada disini, kenapa Kiki enggak cerita kalo ada Pras, kepala ku langsung penuh dengan banyak pertanyaan.


" Owh iya, enggak apa - apa Pras, ayok duduk disini ". Kiki menjawab sambil mengarahkan Pras untuk duduk persis disampingnya, yang juga persis disampingku.


" Ini Pras, temen spesial aku mam ". Lalu Kiki memperkenalkan Pras kepada Ibunya.


Aku yang kala itu sedang melihat - lihat menu, tak lagi fokus pada apa yang aku lihat, aku terdiam dan hanya bisa menahan semua rasa yang campur aduk, ingin rasanya aku tak berada disana.


Kemudian aku sandarkan badanku dikursi, meninggalkan menu makanan yang baru saja aku lihat, menaruh tanganku diatas paha sambil menghela nafas panjang, menenangkan diri, tak ingin merusak suasana. Namun, tiba - tiba saja tangan Pras menggenggam erat tanganku diam - diam, pandangannya tetap berada ke Kiki dan ibunya.


Sontak aku segera berusaha melepas genggaman itu, aku tak bisa begini pikirku, aku lalu pura - pura menerima telepon dari ibuku, setelah pura - pura bicara dengan ibu, aku kemudian pamit kepada Kiki dan Ibunya.

__ADS_1


" Sorry Ki, sorry Tante.. Barusan ibu telepon kalau Devi disuruh ke Klaten sekarang, karena ada acara keluarga mendadak, sorry banget ya Tante, tapi Devi pamit pulang ".


Belum sempat Kiki dan ibunya menjawab, aku langsung jalan dengan sedikit berlari kearah luar restauran, maafkan aku Kiki, maafkan aku karena tak bisa berada disana, aku sakit, hatiku ternyata sakit, aku berteriak disepanjang jalan.


__ADS_2