
" Grrrr.. " .
Suara alarm ponselku berbunyi sangat kencang, masih dengan rasa kantuk yang amat sangat aku coba meraih ponsel lalu mematikannya. Rasanya mata ini masih sangat berat, jika bukan karena jadwal kuliah pagi ini, mungkin aku masih akan melanjutkan tidurku.
Dengan tergopoh - gopoh ak menuju ke kamar mandi, setelah selesai mandi dan berpakaian, aku kemudian duduk di atas kasur sambil melihat pesan masuk di ponselku, kalau saja Kiki menghubungi. Semenjak cerita Kiki tadi malam, aku menjadi lebih khawatir olehnya.
Tak ada pesan masuk satupun, membuat ku semakin khawatir, Kiki itu sudah seperti pacarku, bisa dibilang 80% isi pesan didalam ponsel itu pesan darinya, tapi kali ini dia tidak mengirimiku pesan.
Lalu aku memutuskan menelponnya, beberapa kali tapi tak ada jawaban. Tak berselera membuat sarapan, lantas aku memutuskan untuk berangkat ke kampus lebih awal.
Ketika aku keluar dari kamar kost, nampak Kiki sudah duduk dihalaman depan kamarku.
" Kok enggak ketok pintu ? dari kapan kamu disitu ? ". Membondonginya dengan banyak pertanyaan.
" Baru kok, males dirumah ". Jawabnya.
Kamipun kemudian masuk mobil dan menuju ke arah kampus, sebelum sampai kampus, sekitar 500 meter, Kiki berhenti di sebuah warung makan.
" Sarapan dulu, aku juga mau ngopi ". Terang Kiki.
Kami berdua lantas sarapan, dari raut wajahnya, terlihat Kiki sudah jauh lebih baik, walaupun ia masih belum banyak bicara seperti biasanya.
" Tadi malam, aku WA an sama Pras ". Ucap Kiki mengagetkanku.
" Oya.. dapet darimana kmu nomernya ? ". jawabku, berusaha tetap tenang.
" Minta ayah, dia anaknya baik, aku sampai bisa curhat banyak sama dia ". ( sambil membentuk senyum tipis di bibirnya ).
Kemudian Kiki yang aku kenal, sudah kembali, awal pembicaraan tadi dan setelahnya dia bicara tanpa henti, aku sudah bisa tau bahwa ia menyukai Pras.
" Kayaknya ada yang lagi falling in love ni, terus.. enggak jadi ke Amerika dong ". ( sambil menggoda ).
" Iya Dev.. kayaknya aku suka sama Pras, hehehe.. jadi malu ". ( raut wajah memerah ).
" Syukurlah Dev, aku pikir selama ini, kamu itu enggak doyan laki - laki Ki, ternyata temenku masih normal, hahaha.. ". ( tertawa lepas ).
__ADS_1
Suasana pun kembali asyik seperti hari - hari ku bersama Kiki kmren, aku senang liat Kiki sudah bisa ceria lagi, akan tetapi.. ada rasa yang berbeda di hatiku, rasa aneh yang belum pernah aku rasa selama hidupku.
Rasanya seperti dada ini sakit dan sesak, aku juga merasakan kebimbangan dalam diriku, aku memang sangat senang dengan kondisi Kiki saat ini, tetapi kenapa mendengar ia menyukai Pras, justru membuatku menjadi sedih.
" Ya ampun, jangan - jangan aku juga suka sama Pras ". ( berbicara dalam hati ).
Ku tepis semua prasangka hatiku, aku kembali fokus pada Kiki.
" Kring.. kring.. ". ( suara dering telepon ).
Tiba - tiba ponsel dalam tasku berdering, ada telepon masuk, dan itu Pras, lagi - lagi ia panjang umur, baru saja kami membicarakan nya.
Seketika aku tersadar, bagaimana ini, jika aku mengangkat telepon dari Pras dihadapan Kiki, bisa aku pastikan akan merusak suasana hatinya saat ini, lalu aku memutuskan menjauh dari Kiki.
" Halo.. tumben telepon, ada apa Pras ? ". Jawabku.
" Lagi dimana Dev, nanti siang kamu ada acara enggak ? aku mau ajak kamu makan siang ".
Sejenak aku terdiam, aku benar - benar tidak tau harus jawab apa, semua kondisi ini sangat cepat dan tak mampu aku nalar dengan akal sehat, aku dan Kiki menyukai laki - laki yang sama.
" Boleh, lumayan.. dapet makan siang gratis ". Candaku.
" Aku jemput kamu di kampus jam 1 siang nanti ya ". Jawab Pras.
" Jangan.. " . ( sambil berteriak ), teriakan ku kencang sampai mengagetkan seluruh orang yang ada di warung.
" Hmm.. eehh.. jangan di kampus, kamu shareloc aja, ntar aku susul kamu ke sana, oke.. " .
" Udah dulu ya Pras, sampai jumpa nanti siang ". Seketika aku menutup telepon dari Pras, aku tak mau ia menanyakan kenapa aku tak mau ia jemput di kampus.
Aku kemudian menuju meja makan tempat aku dan Kiki duduk tadi, Kiki terlihat sedang asyik melihat YouTube sembari mengunyah makanannya. Aku pun lanjut menghabiskan pesanan makananku.
Sebelum Kiki bertanya siapa yang baru saja meneleponku, aku lebih dulu mengalihkan pembicaraan dengan membicarakan tentang tugas kuliah kami untuk pagi ini. Dan syukurlah, ia tak bertanya siapa yang menelpon ku barusan. akhirnya kami selesai sarapan dan langsung menuju kampus.
Hari ini jadwal kuliah ku dan Kiki hanya sampai jam 11 siang, Kiki lalu mengajakku nongkrong di kantin kampus, tak apalah pikir ku, sembari menunggu jam 1 siang untuk janji bertemu dengan Pras.
__ADS_1
Sambil nongkrong dan ngobrol - ngobrol ringan bersama dengan teman yang lain, aku terus saja berfikir alasan apa yg akan aku katakan kepada Kiki nanti, sedang Kiki tak punya kegiatan lain hari ini, ia juga sedang malas dirumah katanya. Sudah bisa dipastikan ia akan menghabiskan waktu bersamaku.
Akhirnya tak selang berapa lama, terpikir oleh ku alasan apa yang paling tepat untuk ku katakan pada Kiki nanti.
Tak terasa sudah hampir 2 jam Kami berada di kantin kampus, lokasi tempat kami janjian pun sudah Pras kirim ke ponselku, artinya Pras sudah lebih dulu berada disana, tak ingin membuat Pras menunggu lama, aku langsung mengeluarkan alasanku ke Kiki.
" Ki.. barusan ibu WA, katanya aku disuruh ibu ke Pakualaman tempat tante, buat antar batik pesanan ibu, kamu mau tetap disini atau mau istirahat di kost ku ? " . ( sambil menahan nafas ).
Aku benar - benar grogi dan merasa bersalah pada Kiki, karena memang baru pertama kali ini aku membohonginya. Aku juga takut, ia akan menjawab untuk ikut bersamaku, semoga saja semua berjalan lancar sesuai harapanku, pikirku saat itu.
" Hmhm.. Lagi males juga sih kemana - mana, yasudah aku disini dulu aja deh, kunci kamar kost mu tinggal aja, btw kamu enggak apa - apa kan, enggak aku antar ". Jawab Kiki.
Mendengar jawaban Kiki, lantas membuat aku lega bukan main, syukurlah pikirku, aku langsung membuka ponsel dan memesan ojek online menuju lokasi yang telah Pras kirim padaku.
" Enggak apa - apa Ki, yasudah.. aku balik kost dulu ya, beres - beres barang terus langsung berangkat, kunci aku tinggal tempat biasa " . Sahutku.
Agar Kiki tak curiga, aku memutuskan memesan ojek online dengan lokasi penjemputan di kost, aku juga serta membawa barang pesanan ibu, tak selang berapa lama, si ojek pun datang.
Dari kejauhan sudah nampak Pras duduk sendirian, ah.. baru melihat wajahnya saja, sudah membuatku bahagia.
" Maaf.. nunggu lama ya ? " . Tanyaku mengawali pembicaraan.
" Enggak apa - apa, kamu bisa datang aja, Uda seneng ". Jawab Pras sambil tersenyum padaku.
Tak ingin larut dalam pesonanya, juga tak ingin berlama - lama meninggalkan Kiki dalam kebohongan, aku langsung bertanya maksud dan tujuannya mengajakku untuk bertemu, siang ini.
" Santai dulu Dev.. kamu aja belum pesan makan dan minum ". Pras mengulur waktu.
" Pras.. terus terang aku enggak bisa lama - lama, lagi pula ada yang harus aku omongin juga sama kamu, tapi tadi pagi, kamu yang ajak aku untuk bertemu, jadi.. kamu duluan yang bicara, oke.. ". Raut wajahku mulai menegang.
" Oke.. yasudah kalo gitu ". Pras kemudian menyerah.
" Dev.. aku menyukaimu dari awal kita ketemu di pameran dulu, tapi saat itu aku belum yakin dengan perasaanku, sampai kmren kita ketemu lagi di galeri om Ian, akhirnya aku makin yakin pada perasaan ini ".
Seketika saja dunia seakan mau runtuh mendengar ucapan Pras saat itu, aku bahagia, sangat bahagia. Tapi aku justru tak tau harus bersikap apa dengan kebahagiaan ku, aku tak menyangka justru Pras menyukai ku. Oh.. Kiki, maafkan aku karena memiliki perasaan yang sama denganmu.
__ADS_1