Berusaha Lagi Mencintaimu

Berusaha Lagi Mencintaimu
Kisah Kita di mulai


__ADS_3

Tatapan ku menuju kearah laki - laki itu, sorot matanya tajam seperti elang menatapku, bibir tipis nya membentuk lekukan kecil, senyum dingin yang mempesona. Ada apa dengan aku, ada apa dengan hati ini, kenapa sedari tadi rasanya aku senang sekali, hatiku tak henti - hentinya menari - nari, mataku terus memandangnya, tanpa sadar tanganku tak ingin lepas dari genggaman tangannya.


" Hai.. gitu amat ngeliatnya, kayak baru kenal aja ". ( sambil mengayunkan tanganku, agar aku tersadar ). Ntah bagaimana perasaan hatiku pada saat malam itu, berbeda dengan saat ini.


Malam itu terasa biasa saja, bahkan bisa dibilang aku berbincang dengannya hanya karena rasa bersalahku telah menyenggolnya dengan sangat keras, dan kenapa tidak memiliki teman semalam disaat seperti itu.


" Hei Pras, enggak.. aku enggak nyangka aja, bisa ketemu kamu lagi disini, kenal juga ma si om ? ". ( raut wajah memerah, menahan malu dan sedikit kaget dengan gerakan tangannya ).


" Sama om Ian.., owh jelas Uda kenal lama, lagian siapa juga yang enggak kenal beliau, pelukis dan musisi rock hebat Indonesia ". ( sambil memuji dan mengarahkan pandangan ke ayah Kiki ).


" Kamu teman kuliah anak om ? " Tanya Pras.


" Kenalin nama aku Kiki, ingatkan.. aku yang narik - narik si Devi untuk pulang malam itu ". jawab Kiki, ( menyodorkan tangan ke arah Pras ).


" Iyalah, enggak mungkin lupa, Oya.. aku Pras, murid om Ian, ayah kamu ". ( menyahut tangan Kiki sambil tertawa kecil ).


" Murid apa ? Sahut om Ian, ( sambil tertawa lebar ).


Suasana kemudian menjadi lepas, aku yang sedari tadi tegang, sekarang sudah mulai sedikit tenang. Lalu kami berbincang - bincang banyak hal saat itu, dari soal kesenian, musik hingga persoalan yang lagi viral terjadi di Indonesia tercinta ini, tak terasa sudah hampir 2 jam kami berbincang, kemudian om Ian memberi sinyal ke Kiki untuk bicara berdua.


Tiba - tiba saja, " Dev.. ikut aku yuk ! " . ( menarik tanganku dengan sangat lembut ).


Aku dan Pras kemudian berjalan menuju kearah ruang pamer, disana sudah terpajang banyak lukisan karya ayahnya Kiki, om Ian Baskoro, beliau pelukis abstrak yang hebat, karyanya sudah terkenal hingga mancanegara, harganya pun terbilang cukup tinggi, ah.. rasanya beruntung sekali bisa mengenal beliau, ditambah anaknya Kiki juga menjadi teman dekatku selama ini.

__ADS_1


Satu persatu karya beliau tak luput dari pandanganku, walaupun aku tak begitu memahami tentang lukisan abstrak, akan tetapi mataku tertuju ke sebuah karya, bagiku karya itu memiliki paduan warna yang sempurna, indah sekali.


" Kamu suka sama karya ini ? " Tanya Pras, mengagetkan ku.


" Eh.. Iya, bagus ya.. warnanya indah sekali ". ( sambil terus memandangi lukisan ).


" Selera kamu bagus, aku juga suka ". Sahut Pras.


" Ngomong - ngomong, kenapa kamu tadi tarik aku kesini ? " ( mengalihkan pembicaraan ).


" Owh itu, iya.. kayaknya om mau ngobrol penting sama Kiki soal rencana om, tadi om sempat cerita sedikit sama aku, kalau om mau kuliah kan Kiki ke luar negeri ". Jawab Pras, dengan raut wajah serius.


" Enak banget tu anak, mau sekolah ke luar negeri, tinggal berangkat, aku yang pengen aja enggak mampu, awas aja kalau sampai dia nolak rencana ayahnya, aku omelin dia sampai lulus kuliah ".


" Iya.. tapi enggak satu hati dan rasa, hahaha.. cuma enggak tau juga kenapa jadi bisa dekat ya.. ".


Tiba - tiba saja sebuah tangan memukul pundak ku dengan sangat kencang, belum sempat aku membalikkan badan, teriakkan seseorang tersebut langsung memekakkan telingaku, sangat kencang hingga membuat tanganku reflek menutup telinga sambil menahan amarah.


" Woi.. lagi pada ceritain aku ya ?, ngaku.. ". Jelas dari suara itu, aku sudah bisa langsung menebak siapa orang yang baru saja memukul pundak ku dengan kencangnya.


" Bete ni.. ke kampus aja yuk !".


Kiki lantas membuat suasana hening dan syahdu ku bersama Pras menjadi kacau balau, anak itu memang tidak pernah berubah, apapun yang ia lakukan selalu dengan ekspresi yang meluap - luap, mungkin saja dulu ibunya tak sengaja menginginkan bayi laki - laki, tetapi justru Kiki yang lahir, perempuan yang terjebak ditubuh laki - laki, tak sedikitpun jiwa feminim ada di dirinya.

__ADS_1


Akhirnya momen berdua ku dengan Pras terpaksa berakhir, Kiki memutuskan untuk kembali ke kampus, sebelum pergi aku menyempatkan berpamitan dengan om Ian yang sedari tadi masih duduk di kursi tamu sendirian sambil menatap beberapa lukisannya.


Raut wajah om Ian datar dan matanya kosong, tak ingin berlama - lama disana, setelah selesai berpamitan, aku lantas langsung menuju ke arah ruang pamer tempat Kiki dan Pras masih terlihat asyik berbincang.


" Aku udah pamit sama ayahmu, Ayuk.. kalo mau jalan ". Ajak ku.


Tak begitu menghiraukan ku, Kiki masih saja terus asyik bicara dengan Pras, yang membuatku lantas geram olehnya, gimana tidak, ide untuk pergi dari Galeri ke kampus adalah ide nya, malah sekarang dia yang asyik ngobrol dengan Pras berdua.


Tanpa basa - basi, aku langsung memutus pembicaraan mereka.


" Permisi Ibu, asyik banget ngobrolnya, bisa kita lanjut tahun depan ". Mendengar perkataan ku Pras lalu tertawa.


" Enggak bisa liat orang seneng aja ni anak ". Jawab Kiki sambil menggerutu.


" Yaelah.., bukannya kamu tadi yang ganggu aku, kenapa jadi nuduh balik, dasar kecoa ".


" Pras.. aku jalan duluan ya, kapan - kapan kita lanjut lagi " . Aku kemudian berpamitan dengan Pras.


" Aku juga mau pamit ke kampus dulu ya Pras, next time kita ngobrol lagi ". Kiki pun tampak tak mau kalah.


Kemudian kami berdua jalan menuju kearah mobil, meninggalkan Pras yang memutuskan kembali ke ruang tamu. Di dalam mobil, baru sekitar 5 menit meninggalkan Galeri, Kiki lantas mengatakan sesuatu.


" Menurut kamu Pras orangnya gimana ?, Itu anak lucu juga ya, lumayan ganteng lah, tapi laki banget, kok.. aku jadi suka sama dia ".

__ADS_1


Aku terdiam sejenak, mencerna apa yang barusan diucapkan oleh Kiki, sejenak kemudian aku tersadar, menyimpulkan semua ucapan yang baru saja Kiki ucapkan, Kiki menyukai Pras, itulah kesimpulan ku.


__ADS_2