
" Dev.. Dev.. Bangun". ( sambil menggedor - gedor pintu kamar Devi dengan sangat kencang ).
" Kiki.. !! berisik banget sih, masuk aja, pintu enggak dikunci, terus siapa juga yang bilang aku lagi tidur ?, kebiasaan banget sih. ( dengan teriakan kencang dan sedikit menahan emosi ).
" Hehehe.. Aku pikir kamu lagi tidur Dev, Uda ayo ikut aku ". ( sambil memegang tangan Devi dan menarik - narik nya dengan keras ).
" Ya ampun Ki, mau kemana sih ? enggak liat apa, aku lagi ngapain ". Hari ini aku mendapat beberapa pesanan batik dari langganan ibu, karena ibu sudah tua, biasanya jika pesanan terlalu banyak. aku juga turut membantu ibu menyelesaikan beberapa pesanan, dari kecil ibu sudah mengajarkanku cara membatik, walaupun tidak sehebat ibu, paling tidak cukup untuk membantu ibu.
" Uda.. nanti lagi aja ngerjainnya, ntar aku bantuin pegangin batiknya deh ". ( tertawa lepas ).
" Bayi baru lahir juga bisa kali Ki pegangin batik, resek banget sih, yadah ayok.. emang kita mau kemana sih ? ".
" Nanya mulu, aku mau ngajak kamu ke galery ayah. Males ketemu ayah sendiri, takut ditanyain kuliah, hahaha.. ". Kiki memang tidak terlalu senang dengan dunia akademik, ia lebih senang mempelajari sesuatu langsung, bahkan bisa dibilang ini anak jarang banget masuk kuliah, kalau enggak di kantin ngobrol sana sini dengan para senior, paling juga cuma nongkrong di depan Galery kampus.
" Oke.. oke.. Tapi jangan lama - lama ya, sore Uda harus balik, terus janji kamu bakal nemenin aku lembur ngerjain pesanan batik ku sampai jadi ".
" Ashiaapp komandan, yasudah aku kasih kamu waktu 5 menit siap - siap ya, enggak usah mandi, enggak berubah juga itu muka". ( memalingkan badan menuju pintu keluar kamar sambil terus bicara ).
__ADS_1
" Terserah.. ! ". ( menutup pintu kamar mandi ).
Aku beruntung sekali memiliki teman dekat seperti Kiki, selain bisa dapet Tebengan mobil ke sana kemari, Kiki juga orang yang paling peduli sama aku selain bapak dan ibu, hampir tiap hari dia enggak pernah absen ke kost ku, padahal di kampus juga kami pasti satu kelas.
Perjalanan dari kost ku ke Galery ayah Kiki lumayan jauh, Galery nya terletak di perbatasan Bantul dan Sleman, jika menggunakan mobil kami menempuh waktu sekitar 45 menit, sedangkan rumah Kiki sendiri sebetulnya hanya berjarak 15 menit dari kost ku. Ayah Kiki membeli tanah lumayan luas untuk dijadikan Galery, beliau mang lebih banyak menghabiskan waktu di Galery daripada dirumah pribadi.
Sambil mendengarkan musik dan berbincang - bincang dengan Kiki didalam mobil, tak terasa kami sudah sampai di depan Galery ayahnya. dari depan tepat di samping pagar masuk Galery, ada gazebo kecil untuk duduk - duduk santai, masuk sedikit kedalam kita akan disambut dengan joglo megah terbuat dari kayu jati lengkap dengan ukirannya. Galery nya juga sangat teduh, banyak sekali tanaman pelindung disana, belum lagi tanaman - tanaman hias yang sengaja ditata rapi.
Jika melihat tempat seperti ini, rasanya aku langsung teringat dengan bapak dirumah. Bapak ingin sekali memiliki tempat seperti ini, aku bisa membayangkan bagaimana bapak menata tempat ini dengan sedemikian rupa, menaruh set gamelannya di area joglo sehingga dapat langsung dilihat oleh para tamu yang datang, dalam hati berbisik, " Sabar ya pak, jika nanti aku jadi orang, akan ku bangunkan bapak tempat seperti ini ".
" Kenapa kamu bengong ? mabuk kendaraan, masuk angin.. ya ampun Dev jangan kayak orang susah ". Satu lagi yang paling aku suka dari Kiki, dia orangnya sangat humoris, berada didekatnya aku selalu tertawa, terhibur dengan candaannya, sampai - sampai aku tak ingat apakah kami pernah berantem atau tidak.
" Iya, tapi awas ya, kalo sampai aku jadi tameng mu, ogah banget.. Hahaha.. ". ( kembali membalas candaan Kiki ).
" Hahaha.. tau aja, enggak kok, paling ntar kalau ayah nanya apa, kamu jawab yang baik - baik aja ya, awas kamu ". ( menunjuk kearah Devi ).
" Yah.. ngancem dia ".
__ADS_1
Aku dan Kiki berjalan menuju ruang tamu, berbeda dengan rumah pada umumnya, Galery ayah Kiki, memiliki ruang tamu justru berada paling belakang, setelah joglo, kita akan masuk ke pintu menuju ruang pamer, memang tak begitu besar, tapi cukup untuk memajang sekitar 25 karya lukis ukuran sedang, setelah melewati ruang pamer, disisi kanan terdapat kolam ikan yang diatasnya juga ditaruh gazebo kecil untuk duduk - duduk tamu.
Dari sini sudah bisa terlihat ruang tamu dan tumpukan - tumpukan karya, di kiri nya ada taman mini yang ditata sedemikian indah. Aku sendiri akan sangat betah sendirian di Galery ini, lalu pada sisi kanan ruang tamu, ada dua kamar mandi dan dapur mini, dapur bersih yang hanya diperuntukan menata makanan dan minuman siap saji, walaupun ada set kompor kecil tapi nampaknya hanya dipergunakan untuk membuat kopi.
" Ada tamu kayaknya Dev, ayah lagi ngobrol sama siapa itu ? ". Dari kolam ikan, nampak ayah Kiki sedang duduk di kursi ruang tamu sambil memegang gitar dengan satu orang laki - laki, menghadap kearah ayah Kiki, membelakangi aku dan Kiki, suara musik rock terdengar kencang, hampir tak terdengar suara ayah Kiki dan tamunya itu.
Sebenarnya aku hanya ingin duduk - duduk menikmati suasana Galery di joglo depan, tapi Kiki memaksaku untuk ikut masuk kedalam, kami lalu melangkah mendekati ayah Kiki dan tamunya, aku sempat ingin mencegah Kiki untuk menunda dulu bertemu ayahnya sampai si tamu pulang, namun Kiki bilang bahwa nampaknya itu hanya tamu biasa yang berkunjung membicarakan hal - hal biasa.
" Yah.. kurangin itu volume musiknya, berisik banget ". ( Sahut Kiki ). Aku masih mematung dibelakang tamu ayahnya Kiki
" Eits.. anak ayah Uda dateng, tolong kamu kurangi volume musiknya nak, sama Devi ya.. ". ( sambil menaruh gitar yang ada ditangan, menaruhnya ke samping kursi ).
" Sini Dev duduk, gimana kabar kamu ? baik.. ". Seperti Kiki, ayahnya pun sangat baik dan humoris, walupun baru kali kedua ini aku bertemu dengannya, namun rasanya tak begitu canggung.
" Iya om.. makasih ". langsung menuju kursi yang masih kosong, tepat berada di samping tamu tersebut.
" Oya, Kiki.. Devi.. kenalin ini temen ayah, ini temen om, anak musik rock, lebih tepatnya pecinta musik rock, sama kayak om ". ( sambil menunjuk kearah si tamu ).
__ADS_1
" Pras, ini anak om, namanya Kiki, ini temannya namanya Devi, kamu belum pernah ketemu sama Kiki ya ? Setiap kamu kesini, Kiki enggak pernah ada ". ( sambil menunjukkan kearah ku dan Kiki ).
Seketika saja aku terdiam, ntah ini kebetulan ataukah tidak, laki - laki ini, laki - laki yang aku kenal saat acara pameran malam itu, laki - laki yang aku tabrak dan menemaniku malam itu, walaupun kami sudah bertukar nomer ponsel, tapi semenjak malam itu, tak pernah ada kabar lagi.