Berusaha Lagi Mencintaimu

Berusaha Lagi Mencintaimu
Rencana Kepergian Kiki


__ADS_3

Didalam mobil, Kiki tak banyak bicara seperti biasanya, suasana menjadi terasa sangat membosankan, " Kiki masih baik - baik saja tadi ", ( ucapku dalam hati ). Namun ntah mengapa dia langsung berubah drastis seperti ini.


" Kamu lagi datang bulan Ki ?, kok dari tadi diam aja, oh.. jangan - jangan lagi kesambet setan alas ? ". Candaku.


" Hmmm.. ". Jawabnya.


Dengan spontan aku memegang jidatnya dan menempelkan kearah bokongku, membuat canda agar suasana tak tegang.


" Pantes, jidat kamu panas, kayak bokongku.. ". ( membuat tawa tipis yang nampaknya tak banyak berarti ).


" Aku cuma lagi pengen diam ". Jawabnya lagi.


Kemudian aku menyerah dan membiarkan suasana hening dan tak asyik didalam mobil, perjalanan berangkat tadi yg serasa singkat, menjadi sangat lambat.


Aku lantas mengambil ponsel dari dalam tasku dan mengecek apakah ada pesan yang masuk, dan benar saja, ada notifikasi pesan WhatsApp, sekitar 15 menit yang lalu. Pesan itu dari Pras, dengan penuh tanya dan rasa penasaran aku membuka pesan tersebut.


Belum sempat aku membacanya, tiba - tiba saja,


" Pras kayaknya orang baik ya Dev, dia juga lumayan ganteng menurutku ". Kiki mengagetkanku.


" Panjang umur itu anak, ". Jawabku.


" Kenapa memangnya ? ". Tanya Kiki.


" Ini dia WA aku baru aja, ". Aku kemudian menjawab.


" WA apa ? kok g cerita ? " Tanya Kiki lagi, ( sambil memperlihatkan wajah penuh curiga ).

__ADS_1


" Gimana aku mau cerita, aku juga belum baca isi pesannya, kamu sih, dari tadi diam aja ". ( sambil sedikit menggerutu ).


Lalu aku melanjutkan membuka ponselku dan membaca pesan dari Pras yang menanyakan apakah kami sudah sampai tujuan atau belum, aku membalasnya tanpa melanjutkan pembicaraan dengan Kiki barusan. Pras membalas kembali pesanku, sampai akhirnya aku tak sadar sedari tadi Kiki memperhatikanku dan ternyata ia menunggu jawaban dariku.


" Senyum - senyum sendiri ini anak, Pras WA apa ? ditungguin juga dari tadi, dasar.. ! ".


Senyum - senyum pikirku, " Iya bawel amat ini anak, Pras tanya kita sudah sampai belum, " . Tak lama aku kemudian tersadar, rasanya ada yang aneh dengan Kiki.


Kenapa dia segitu antusias nya bertanya isi WA dari Pras, aku kemudian teringat tentang ucapan Kiki barusan, ia mengatakan bahwa Pras baik dan lumayan ganteng, setahuku Kiki belum pernah bicara hal seperti itu dengan laki - laki.


Bahkan aku sendiri tidak yakin apakah dia menyukai laki - laki, bagaimana tidak, dari sekian banyak teman laki - laki tak satupun yang dia pernah dekat apalagi sampai pacaran, gaya dia berpakaian dan tingkah lakunya saja sudah seperti kaum adam.


Akan tetapi, bukan itu yang sekarang terpenting, melainkan kata - kata Kiki tentang senyum dibibir ku, bahkan aku sendiri tak sadar jikalau sedari tadi aku membaca pesan sambil tersenyum, akhhh.. ada apa dengan diriku dan kenapa pula dengan Kiki.


" Uda nyampe Dev.. Eh.. aku masuk dulu ya, aku mau cerita banyak hal sama kamu ". ( sambil mematikan mesin mobil dan menghela nafas panjang ).


Kemudian kami masuk kedalam kamar kost ku, isinya berantakan dengan barang - barang pesanan batik ibu.


" Oya.. kamu Uda janji mau nemenin aku lembur ngerjain pesanan batik ibu, jadi ceritanya sambil ngebatik yess.. ".


Kiki pun setuju, aku lalu menuju ke warung gorengan yang tepat berada disebelah kost, membeli beberapa gorengan dan membuat kopi panas untuk teman ngelembur dan mendengarkan cerita Kiki.


Gorengan dan kopi sudah siap, semua perlengkapan untuk ngelembur malam ini juga sudah beres.


Akan tetapi, Kiki masih saja membisu sedang aku terus sibuk membatik, dalam asyik membatik dan menunggu untuk Kiki siap bercerita, aku teringat pada ucapan Kiki tentang Pras, lamunanku kemudian tertuju pada laki - laki itu, mengapa saat ini, setiap mengingatnya hati ku merasa senang.


Aku coba lagi membuka ponsel yang aku letakkan di samping kasurku, memastikan apakah ada pesan masuk dari Pras, tapi hasilnya nihil, tak ada pesan masuk kecuali dari ibu mengingatkan ku untuk tidak tidur larut malam.

__ADS_1


" Ki.. Uda malam ni, jadi cerita enggak ? ". Tanyaku, memulai pembicaraan.


" Bingung, mau mulai darimana ". Lantas Kiki menghentikan aktifitasnya, sedari tadi ia hanya menatap ponsel ditangannya.


Terlihat dari wajah Kiki, ia memendam sesuatu yang sangat sulit untuk ia ungkapkan, tetapi aku tak berani menerka apa itu, aku tak mau membuat Kiki tak nyaman dengan prasangka ku. Aku hanya bisa menunggu sampai ia mau menceritakan nya sendiri.


" Yaudah, kamu tidur sini aja, Uda malem juga ". Sahutku.


" Dev.. ayah dan ibuku punya rencana ingin berpisah, dan aku harus ikut ibu pulang ke Amerika ". Jawab Devi mengagetkanku.


Sejenak aku hanya bisa terdiam mencerna semua yang diucapkan Kiki, mendengar perkataan nya saja dadaku terasa sesak, ruangan kemudian semakin hening dan senyap.


Kiki memiliki darah campuran Indonesia dan Amerika, ibunya memutuskan kuliah di Yogyakarta mengambil jurusan seni karawitan, di kampus yang sama tempat kami kuliah saat ini, ibu Kiki memang memiliki ketertarikan terhadap seni karawitan dari temannya berdarah Indonesia yang memutuskan memperkenalkan budaya karawitan di Amerika. Di kampus yang samalah ayah dan ibu Kiki bertemu dan menjalin hubungan sampai menikah dan memiliki Kiki.


Karena alasan visa dan izin tinggal di Indonesia, ibu Kiki harus terus bolak balik Yogyakarta dan Amerika, aku sendiri belum pernah bertemu dengan ibunya Kiki secara langsung, selama kami kenal dari awal masuk kuliah, ibu Kiki belum sekalipun pulang lagi ke Yogyakarta.


Lalu tiba - tiba Kiki berbicara seperti ini padaku, rasanya aku sendiri tidak tau harus berucap apa, hanya saja aku bisa merasakan apa yang dirasakan olehnya saat ini. sejenak kemudian kami masih terus diam satu sama lain.


" Dev.. maaf aku enggak bisa nemenin kamu ngelembur lama - lama ya, aku juga belum bisa cerita banyak sama kamu, yang jelas, ibu nyuruh aku balik Amerika bulan depan ". ( dengan raut wajah penuh kesedihan dan menahan tangis ).


Kiki orang yang hebat pikirku, padahal setelah bicara dengan ayah nya tadi, ia tidak menampakkan kesedihan sedikitpun, ia masih bisa terus bercanda, namun mungkin saja semuanya karena ada Pras, ia tidak ingin memperlihatkan kesedihan didepan orang yang baru ia kenal.


Aku pun lantas menghentikan semua kegiatan membatik ku, rasanya aku sudah tidak punya gairah lagi untuk menyelesaikannya malam ini.


Aku lalu mengantarkan Kiki pulang sampai ke pintu mobilnya, ku tarik badannya dan memeluknya dengan sangat erat, semoga saja dengan pelukan ini bisa membuatnya sedikit lebih baik.


" Hati - hati ya Dev, kalau sudah sampai rumah kabarin aku ". Ucapku sambil terus memeluknya.

__ADS_1


Pelukanku pun dibalas olehnya dengan badan yang lemah, aku tau saat ini hatinya sangat rapuh. Tak berapa lama ia kemudian masuk kedalam mobil dan lantas pergi.


__ADS_2