Berusaha Lagi Mencintaimu

Berusaha Lagi Mencintaimu
Awal Mula aku mengenalmu


__ADS_3

Namaku Aqila Larasati Devi, keluarga dan teman - teman biasa memanggilku Devi. Aku terlahir dari keluarga sederhana di kota Yogyakarta, sejak kecil ak sudah biasa dengan dunia kesenian, ibu ku seorang pembuat batik, sedang ayah ku seorang pemain wayang.


Seperti namaku, semenjak kelahiran ku, keluarga kami menjadi semakin harmonis dan dilimpahkan rezeki, walau ibu dan bapak bukan lah pembatik dan dalang yang sohor di kota Yogya. Dari aku masih SD bapak sering mengajakku menjadi penyanyi atau sinden di acara wayang yang beliau dalangi.


Hingga akhirnya, pada saat SMP aku resmi menjadi sinden tetap group wayang bapak, lumayan, untuk upah yang aku dapat dari hasil menjadi sinden, aku bisa membiayai sekolahku sendiri, bahkan aku juga tidak pernah lagi meminta uang jajan kepada ibu dan bapak.


Sampai pada saat nya aku harus berpisah dengan bapak dan ibu karena aku diterima di kampus idamanku dari masih kecil, aku harus ngekost di dekat kampus ISI Yogyakarta, rumahku dari kampus ISI lumayan jauh, aku tinggal diperbatasan Klaten dan Yogyakarta, sedang kampus ISI berada di daerah Bantul.


Seperti kebanyakan anak yang belum pernah lepas dari orang tua, mengetahui harus menjadi anak kost membuat hati merasakan dua hal yang bertentangan, happy tentunya, karena selain masuk kampus idaman, aku juga sudah bisa membayangkan betapa bahagianya hidup mandiri dengan aturan yang aku buat sendiri, tapi juga sedih karena tak bisa lagi terus - terusan melihat dan menikmati masakan ibu dan candaan bapak.


" Uda disiapin semua barang yang mau kamu bawa Dev ? " . Tanya ibu.


" Sudah Bu, ntar juga kalo ada yang lupa, Devi balik lagi ke rumah, Hehehe.. ". ( dengan raut wajah tak sabar dan sedikit menggoda ibu ).


" Kuliah itu yang benar, yang rajin, enggak usah mikir yang aneh - aneh, jangan ngikutin temen - temen mu yang nakal, jangan pacaran dulu, ngerti Dev ? " .


" Siap komandan.. ". Bapak itu bukan tipikal orang yang serius, dia lebih banyak bercanda dengan kami daripada membicarakan hal - hal yang serius, mungkin dari aku kecil sampai sekarang, beliau hanya serius denganku urusan sekolah, jika aku sakit dan malas belajar.


" Sudah ayo pak, kita antar anaknya, nanti kemalaman, belum lagi beres - beres disana ". ( sambil terus mengangkat barang - barang ke dalam mobil pick up sewaan ibu ).


Selepas ibu dan bapak pergi, aku langsung mencoba merebahkan badan di atas kasur, badan ini terasa lelah karena seharian memindah barang dan beres - beres kamar baruku, sembari menatap ponsel. aku berusaha untuk terlelap, namun euforia masuk kuliah perdana membuatku tak bisa langsung terlelap. hingga akhirnya mataku lelah dengan ponsel masih ditangan, tanpa aku sadari aku sudah tertidur.


Saat itu tanganku meraba ponsel yang tergeletak di samping kepala, jam menunjukkan pukul lima pagi, nampaknya tidurku lumayan lelap karena aku tak sadar bagaimana aku bisa tidur semalam. Hari ini agenda pertemuan pertama di kampus yang membahas schedule dan barang bawaan apa saja yang akan dibawa untuk ospek besok.


Segera aku mandi dan bergegas, kost ku dan kampus ISI hanya berjarak sekitar 500 meter, perjalanan ke kampus aku lakukan dengan berjalan kaki, suasana sekitar kampus memang indah, masih asri dengan panorama sawah di kanan kirinya, tak banyak kebisingan di area sekitar kampus, karena Bantul memang belum seramai Sleman atau pun kota Yogya.


Aku masuk lewat pintu belakang, dari pintu belakang ISI kita bisa langsung menemui aula atau Galery ISI tempat para anak ISI pameran atau memamerkan karyanya, gedung yang aku tuju adalah gedung kuliah Tata Kelola Seni, disana terlihat sudah ramai anak baru yang juga akan menempuh kuliah bersama ku nanti. Namanya juga kampus ISI, para mahasiswa dan mahasiswi disana beraneka ragam, dari suku, gaya, style dan keunikan lainnya.


Ruangan kami, para mahasiswa baru berada di lantai 2 gedung Tata k


Kelola Seni, setelah sekitar 2 jam mendengarkan segala keperluan besok, kami semua dipersilahkan mengelilingi kampus ISI atau boleh langsung pulang, beberapa mahasiswa memilih untuk langsung menuju kantin kampus, ada juga yang tertarik mengelilingi area kampus, tapi aku memilih untuk bergegas pulang ke kost, karena hari ini ayah akan menjemput ku untuk mengisi acara di salah satu pernikahan di desa kami tinggal.


Baru saja sampai didepan pintu kamar kost, ayah sudah berdiri disana, ayah memang bukan orang yang suka mengulur waktu, ia sangat disiplin. apalagi persiapan wayang tidak lah sedikit, memakan waktu yang banyak untuk menyiapkan segala perintilannya.


Biasanya wayang dihadirkan penikmatnya di saat malam hari, tetapi kali ini yang punya acara meminta acara wayangnya disuguhkan di siang hari, syukurlah.. karena sepulang dari nyinden, aku bisa langsung meminta ayah mengantarkan ku membeli segala persiapan untuk ospek besok.


" Ayo Dev, kita beli perlengkapan mu besok. kamu beres - beres dulu, bapak tunggu disini ya".


" Iya pak". ( Sambil langsung menyopot sanggul dan menyeka make up di wajahku ).


Butuh sekitar dua jam membeli segala persiapannya, memang tak sulit mencari barang apa saja yang diperlukan besok, karena di area kampus, biasanya sudah banyak pedagang yang menjual barang - barang kebutuhan ospek, tapi juga tak mudah, aku harus meminjam ontel tetangga dan membuat STNK serta BPKB buatan untuk si ontel.

__ADS_1


Kampus ISI memang sangat dikenal dengan keunikan ritual ospek dan wisudanya, bahkan beberapa stasiun TV banyak yang menyoroti agenda ospek dan wisuda yang dibuat kampus ini. aku memang sangat beruntung bisa masuk kampus ini, selain kampusnya asri, kampus ini juga kampus yang sangat populer dan digemari para siswa dan siswi lulusan SMA yang ingin mengasah bakat seninya.


Ospek berlangsung selama sekitar 7 hari, setelah itu kami sudah mulai menjalani bangku perkuliahan seperti biasa, awal kali masuk kuliah, tak begitu banyak pelajaran yang dibahas, beberapa dosen juga masih absen mengajar, Oya.. dosen di kampus ISI rata - rata juga seniman, jadi mereka juga banyak disibukkan dengan acara seni di luar kampus, tak jarang juga beberapa dosen masih berada di luar negeri menghadiri pagelaran seni ataupun menggelar pameran.


Tak terasa sudah hampir satu semester aku menempuh kuliah, makin hari rasanya makin asyik, kegiatan ku juga makin padat, teman - teman juga makin banyak, aku juga sudah mulai mengenal beberapa seniman senior dan juga mulai menghadiri acara seni di Galery - Galery yang ada di kota Yogyakarta.


Aku juga sudah mulai dekat dengan beberapa kurator, karena aku mengambil jurusan Tata Kelola Seni, mengenal banyak seniman, kurator, kolektor merupakan sebuah keharusan. Karena nantinya saat kami lulus diharapkan kami akan menjadi Art Management, Event organizer, ataupun Kurator yang handal.


Aku dan teman dekatku Kiki juga sudah mulai ikut dilibatkan bekerja satu tim dalam sebuah pagelaran seni salah satu seniman besar, memang upahnya tidak terlalu besar tapi untuk sebuah pengalaman, itu tak ternilai harganya. Oya.. sekilas tentang Kiki, dia merupakan anak seniman lukis besar di Yogyakarta, darah seni juga sudah mengalir dari ia masih kecil, sama sepertiku, bedanya ia terlahir dari keluarga yang cukup berada.


Malam ini, Kiki mengajakku ke pameran lukis di salah satu cafe di daerah Prawirotaman, bagi yang sudah sering ke Yogyakarta pasti tak asing lagi dengan jalan Prawirotaman, daerah atau jalan ini bisa disebut kampung bule. sepanjang mata memandang akan terlihat banyak cafe, hotel dan tempat hiburan yang isinya mayoritas para turis mancanegara.


Areanya pun tak luas, hanya berupa jalan atau gang - gang yang ada di kisaran kurang lebih satu kilometer jalan Parangtritis, tempat yang kami tuju, berada di gang atau jalan Mangkuyudan, Kiki akan menjemput ku sekitar pukul 7 malam, biasanya jika Pameran lukis diadakan malam hari, acara akan dimulai sekitar pukul 19.30 WIB atau selepas Isya.


" Dev, Devi.. ". Teriakan Kiki, sudah mulai terdengar dari balik pintu kamar kost ku.


" Masuk Ki, pintunya enggak di kunci". ( Sambil melanjutkan mengusap lipstik yang melewati area garis bibirku ).


" Enggak usah cantik - cantik, ntar di gondol bule kamu".


" Biarin, kan lumayan dapet pacar bule, bisa diajak jalan - jalan ke Eropa ". ( Sambil tertawa lebar ).


" Emang ada ya Ki bule kere, kirain semua bule kaya raya ".


" Pengetahuan kamu kurang luas Dev, malu aku punya temen deket kayak kamu, Uda ayok, buruan.. Uda jam berapa ini ".


Bergegas menaiki mobil yang dibawa Kiki, perjalan kami tempuh kurang lebih 20 menit jika menggunakan mobil, akan lebih cepat jika menggunakan motor, karena sebetulnya dari kampus ISI hanya satu jurusan jalan Parangtritis itu saja. Kamipun sampai tempat acara baru saja akan dimulai, tempat parkir sudah mulai ramai berjejer motor dan mobil para penonton yang hadir.


Sebetulnya acara pameran lukis seperti ini, penontonnya tidak hanya dari kalangan penikmat seni lukis saja, para seniman lainnya juga akan turut hadir, biasanya seniman satu dan lainnya akan saling support.


Banyak juga orang - orang yang tak mengerti seni datang untuk menikmati musik yang disuguhkan pada saat pameran berlangsung, musiknya pun beragam, tergantung request seniman kepada Art Management nya atau si Art Management sendiri yang akan mengarahkan seniman segala persiapan dan perintilan acara, si seniman hanya fokus pada karyanya saja.


Setelah bisa memarkirkan mobil, aku dan Kiki langsung menuju ke meja buku tamu, selesai mengisi buku tamu, kami menuju ke tempat duduk yang disediakan disana, di kanan kiri sudah banyak para tamu atau penonton yang saling berbincang satu sama lain, banyak juga yang lebih memilih berdiri sambil menikmati hidangan yang disuguhkan.


Lagi - lagi Kiki menjadi primadona. Selain cantik, tajir, dia juga terkenal. Aku terpaksa harus rela banyak dicuekin olehnya, sambil menonton acara pembukaan, dan mengurangi rasa kesepian, aku memilih untuk fokus menikmati acara yang sedang berlangsung sambil menikmati teh dan rebusan kacang.


Tiba - tiba saja penonton langsung riuh, panggung kemudian menjadi ramai, suara musik reggae menggema di semua sudut dan sisi cafe malam itu, tempat pamer pun sudah dibuka, para penonton sudah bisa menikmati karya - karya si seniman.


" Ayo masuk Ki ". Menarik tangan Kiki yang sedari tadi asyik ngobrol dengan orang lain.


" Kamu duluan gih.. ntar ak susul ya ". ( setengah mendongak dan langsung mamalingkan pandangan kepada lawan bicaranya ).

__ADS_1


Sedikit kesal rasanya, tapi aku memilih untuk masuk ke ruang pamer sendiri meninggalkan Kiki yang sedang asyik berbincang. Untuk masuk keruang pamer, aku harus melewati panggung musik di kiri jalan pintu masuk ruang pamer, sehingga ketika jalan aku memang sedikit hati - hati, kalau saja tersenggol oleh penonton lainnya yang sedang asyik menikmati musik.


Sampai diruang pamer, aku seakan terhipnotis oleh segala karya yang ada, ntah berapa lama aku memandangi satu persatu pajangan karya yang disuguhkan pada malam itu. Sampai dari belakang Kiki mengagetkanku, ia menepuk punggungku dengan sangat keras, membuat ak berteriak dengan sangat kencang. dan alhasil aku menjadi pusat perhatian seisi ruangan, malunya bukan main, Kiki memang jail.


Tak ingin berlama - lama menjadi pusat perhatian, aku langsung bergegas keluar dari ruang pamer, langkah ku sedikit kencang, pandanganku sedikit tak awas, tiba - tiba saja aku menyenggol pundak seseorang dengan sangat kencang, aku sedikit tertunduk sambil memegang pundak ku yang terasa sedikit sakit.


" Kamu nggak apa - apa kan ? " . ( sambil memegang pundak ku ). Tanya seseorang yang tadi tanpa sengaja aku menyenggolnya.


" Enggak apa - apa, maaf ya buru - buru ". Tak sengaja memperhatikan raut wajah nya, dan ternyata dia seorang pria, namun aku tak kenal siapa dia, mungkin saja seniman atau penonton yang sekedar datang menikmati musik.


" Sendirian ! " . Dengan penekan suara yang sedikit keras, karena kencangnya suara alunan musik ditempat itu.


" Enggak, berdua sama temen aku, tapi temen aku masih didalam ". Si pria mendekatkan kupingnya kearah bibirku.


Sontak aku sedikit menjauhkan badanku darinya. aku juga belum pernah berbicara dengan pria asing selama ini, sehingga rasanya agak sedikit aneh dan canggung. Namun, si pria terus saja mengajakku bicara, dia mulai bertanya tentang ku. dan mengajakku kenalan lebih jauh, ntah bagaimana lama kelamaan aku merasa mulai biasa.


" Nama aku Pras, kamu.. ". ( sambil menyodorkan tangannya kearah ku ).


" Devi.., kamu sendirian juga ? ". Sambil membalas tangannya, aku balas kembali bertanya.


" Iya, aku sendirian aja, tapi pemain musiknya semua teman - teman aku, aku kenal mereka ".


" O.. kamu pemain musik juga ? ". Tanyaku.


" Bukan, aku cuma suka aja nonton musik reggae " .


Kemudian setelah dari itu, kami sudah mulai asyik berbincang - bincang, kami pun akhirnya memilih untuk mengambil segelas kopi dan duduk disalah satu kursi kosong yang ada disana, tanpa aku sadari Kiki datang dan mengagetkan ku lagi.


" Dev.. Uda malam, pulang yuk ! ". Ia langsung menarik tanganku dengan kencang. Malam juga sudah menunjukkan pukul 22.00 WIB, kami besok masih harus kuliah pagi - pagi.


" Iya, bentar.. Aku pamit dulu sama masnya ". ( sambil menunjuk kearah Pras ).


" Mas siapa ? temen mu ! kok aku enggak kenal ". Tanya Kiki dengan nada keras sambil melihat keatas Pras dengan penuh tanya.


" Bukan, aku juga baru kenal tadi, udah ah ntar aku ceritain, Oya.. Pras, aku balik duluan ya, makasih udah ditemenin ngobrol ".


" Sama - sama Dev, boleh aku minta nomer kamu, siapa tau aku bisa tanya kamu info tentang pameran - pameran kayak gini lagi ". ( sambil mengeluarkan ponsel dari dalam saku ).


" Boleh.. ".


Malam itu, menjadi awal mula perkenalan ku dengan nya.

__ADS_1


__ADS_2