
Rintik gerimis mulai membasahi kerudung hijau wanita bermata secokelat madu yang tergesa menuju parkiran kampus. Beberapa orang menyapanya sekilas dan dibalas anggukan serta senyum tipis. Ia sedang terburu-buru, hari sudah menjelang Maghrib.
Menyadari jika tubuhnya rentan terhadap curahan rahmat Allah yang turun membasahi bumi, ia tidak berniat berlama-lama di kampus hanya untuk meladeni seorang laki-laki yang bukan mahromnya.
Lagi-lagi ada seorang pemuda yang menyatakan cinta padanya. Ini sudah ke sekian kali ia mendengar kalimat 'Jadilah pacarku' dari laki-laki yang tidak dikenalnya.
Sebenarnya apa yang salah dengan dirinya? Mengapa pemuda-pemuda di kampusnya tidak henti mengucapkan kalimat yang mengundang murka Allah? Tidakkah mereka menyadari jika ajakan 'pacaran' tidak ubahnya seperti mengajaknya menuju kubangan dosa?
Saling menatap penuh kagum, merayu dengan ribuan kata menyesatkan bahkan menyentuh lawan jenis. Tidakkah mereka sadar semua perbuatan itu mengandung dosa?
Tindakan yang akan menjerumuskan mereka ke dalam lembah maksiat. Yang dosanya bahkan lebih besar dari pada ditusuk jarum di ubun-ubun.
Tidak menunggu waktu lama mata teduhnya menemukan motor hijau yang diapit puluhan motor lain berbagai brand. Ia menghela nafas, bukan keahliannya mengeluarkan motor dari parkiran sempit seperti ini.
"Aku pasti bisa, bismillah," bisiknya menyugesti diri sendiri.
Dengan pelan ia mencoba menaiki motornya dan bergerak mundur ke belakang, memastikan sepatbor belakang tidak menabrak motor lain. Ruang yang sempit membuatnya kesulitan, bahkan motornya tidak bisa berdiri tegak karena akan menyenggol stir motor di samping.
Hanya rutinitas kecil seperti ini saja mampu membuat jantungnya berdegup tidak beraturan. Terpacunya adrenalin karena rasa takut, cemas dan dikejar waktu membuatnya gugup. Hal yang tidak diinginkan pun akhirnya terjadi.
Ia tidak menabrak motor lain, tetapi tidak sengaja menabrak pelan kaki seorang pemuda yang hendak mengeluarkan motornya juga.
"Astaghfirullah, maaf akhi," ujarnya spontan.
"Gak apa-apa," balas pemuda itu kalem. Ia membersihkan celana bahan yang kotor terkena debu ban motor wanita bermata madu itu.
Tersenyum canggung, ia kembali berusaha mengeluarkan motornya dengan sangat pelan. Tidak ingin kejadian yang sama terulang kembali.
"Mm...apa kau butuh bantuan?" tawar pemuda itu setelah melihat wanita di depannya tidak kunjung bergerak menjauh.
"Tidak perlu," tolak wanita itu pelan.
"Tidak perlu sungkan, akan lebih cepat jika saya membantu ukhty," ujar pemuda itu lagi dengan ramah.
Sang wanita menghela nafas pelan. "Tidak, terima kasih. Saya bisa, insyaallah."
Pemuda itu menatap dengan alis terangkat, meragukan ucapan wanita di depannya. Meski begitu ia tidak berkata apa-apa, tidak ingin menyinggung perasaan wanita asing yang sedang berjuang...mengeluarkan motor dari parkiran?
__ADS_1
Setelah beberapa saat menunggu dengan sabar, akhirnya penantiannya berakhir. Motor telah berada di jalur lurus dan wanita itu sudah bisa bergerak sekarang.
"Alhamdulillah," ucap wanita itu cukup keras hingga mampu di dengar sang pemuda.
Setelah memakai helm dan membenarkan baju gamis longgarnya, wanita itu meluncur pelan meninggalkan area parkiran. Ia bahkan tidak menyadari keberadaan pemuda itu yang setia menunggunya keluar.
"Yu! Kenapa masih di sini? Pak Irsam sudah mau pergi tuh, buruan print outnya!" teriak pemuda bertubuh kurus pada temannya yang masih bengong di parkiran memandangi kepergian wanita keras kepala itu.
"Iya, iya. Aku pergi nih, tahan dulu dosennya," seru pemuda itu cepat dan dalam sekejap ia meluncur menuju fotokopi terdekat.
Meski ia sedang terburu-buru, tetap saja ia memandangi wanita berkerudung hijau panjang yang menarik untuk dilihat. Senyum kecil terukir di bibir tebalnya.
"Astaghfirullah, maafkan hamba Yaa Rabbi, hamba lalai karena seorang wanita," lirihnya tiba-tiba teringat pesan sang ayah.
Pandangan pertama adalah dimaafkan, dan pandangan kedua, ketiga dan seterusnya adalah dosa. Sesaat ia lupa nasehat ayahnya karena begitu tertarik dengan wanita berkerudung panjang.
Sepanjang jalan menuju tempat fotokopi, yang dilakukannya hanyalah ber-istighfar memohon ampunan atas lalainya hati dan fikiran.
***
Ia baru saja sampai di kos-kosan bernuansa biru yang dijadikan tempat menetap sementaranya hampir setahun belakangan ini. Karena lambatnya ia mengeluarkan motor dari parkiran, kerudungnya terlanjur basah oleh rintik gerimis yang semakin deras.
Ditambah lagi dengan macet di simpang tiga Jl. Karantina menuju Yos Sudarso. Apalagi dengan cuaca seperti sekarang, orang-orang terlihat agresif untuk menghindari hujan. Begitupula dengan wanita itu yang mau tidak mau akhirnya terjebak macet di sana.
Terdengar suara langkah kaki terburu-buru dari dalam rumah kos, dan tidak lama pintu terbuka pelan. Menampilkan seorang perempuan berambut pirang pendek sebahu. Wajahnya terlihat kuyu, sepertinya ia baru saja bangun tidur.
“Maaf, aku ketiduran,” seru wanita itu dengan raut wajah datar. Ia segera membuka kunci gerbang rumah.
“Makasih, Ay. Maaf merepotkanmu,” balas wanita bermata madu.
“Gak masalah, kau udah pesan tadi tapi aku malah ketiduran. Maaf ya, Jin.”
Wanita yang dipanggil ‘Jin’ itu berdecak pelan, tidak suka dengan panggilan teman serumahnya.
“Bukan Jin, tapi Jinan. Jinan kan bukan makhluk halus,” protesnya yang hanya ditanggapi uapan ngantuk oleh Ayu.
Sudah jadi kebiasaan Ayu—perempuan berpenampilan tomboy yang memanggil Jinan dengan sebutan tidak biasa itu. Berkali-kali Jinan memprotesnya yang ternyata sia-sia. Ayu terlalu cuek untuk hal-hal kecil seperti panggilan yang menurutnya tidak berarti. Tidak masalah bagaimana ia memanggilnya, yang terpenting ia merasa tidak memiliki niat yang buruk. Begitulah motto-nya.
__ADS_1
Pernahkah kalian memiliki teman yang berpenampilan negatif di luar namun hatinya luar biasa positif? Setidaknya kalian pasti pernah bertemu dengan orang-orang seperti ini, yang membenarkan secara nyata jika kita tidak boleh men-judge isi dari sampul semata.
Jinan menghela nafas, percuma ia protes kalau ternyata hanya masuk telinga kanan dan keluar dari sisi yang sama. Mental, tidak meninggalkan jejak. Daripada berdebat dengan Ayu sebaiknya ia segera mandi karena kalau tidak, sudah bisa dipastikan jika ia akan demam esok harinya.
Dengan cekatan Jinan merebus air di panci besar untuk digunakan sebagai campuran air bak yang terasa dingin seperti air pegunungan. Kalau mandi dengan air dingin sekarang, ia bisa menggigil. Terasa seolah tubuh ditusuk ribuan jarum es yang membekukan aliran darah.
“Dasar bayi besar! Mandi aja harus masak air dulu,” cibir Evi, penghuni kamar kos nomor 1.
“Jinan cuma gak mau sakit dan malah merepotkan kalian,” jawab Jinan pelan. Ia tidak berani menatap Evi yang menatap sinis padanya.
“Muna lo!” maki Evi dan berlalu meninggalkan Jinan.
Sejak kepindahan Jinan ke Kos Angel di kawasan Jl. Bambu, penghuni bernama Evi memang kerap memandang tidak suka ke arahnya. Bahkan semakin lama sikapnya jadi semakin tidak bersahabat. Evi tidak segan berkata kasar pada Jinan.
Jinan sudah mencoba mengajaknya bicara baik-baik dan meminta maaf atas kesalahannya, namun sepertinya Evi tidak berniat memperbaiki hubungan mereka.
Semua ini bermula ketika Lingling—teman baik Evi—yang sebelumnya menempati kamar nomor 4 di Kos Angel dipaksa pindah oleh Kek Reynal selaku pemilik kos karena kedatangan Jinan. Bukan tanpa alasan Kek Reynal mengusir Lingling. Sudah hampir empat bulan wanita berdarah campuran itu tidak membayar kos dan hanya memberi janji.
Ketika kek Reynal datang menagih uang kos, Lingling akan bersembunyi dan Evi membantu persembunyian temannya agar tidak ketahuan. Tidak ada yang berani melaporkan kejadian itu pada pemilik kos karena Evi memiliki tabiat buruk, ia juga merupakan anak orang kaya yang suka membungkam orang lain dengan uangnya.
Namun sepandai-pandai tupai melompat, ia pasti akan jatuh juga ketika lengah. Begipula dengan Lingling dan Evi yang tidak menyadari kedatangan kek Reynal bersama dengan Jinan selaku calon penghuni baru Kos Angel. Ternyata diam-diam kek Reynal sudah mencari pengganti untuk Lingling yang selalu menghilang ketika ditagih uang kos.
Hari kedatangan Jinan ke Kos Angel merupakan hari yang buruk. Wanita bermata madu itu tidak tahu menahu keadaan kos dan tiba-tiba saja kek Reynal mengusir wanita muda berparas blasteran untuk digantikan dengannya.
Ia yang bingung, sedikit banyak akhirnya mengerti keadaan saat itu dan memilih mengalah mencari kos baru. Namun kek Reynal tidak mengizinkannya, kakek gaul itu tentu lebih memilih mengusir penghuni lamanya daripada harus kehilangan uang kos selama 6 bulan ke depan. Ya, Jinan memang sudah memberikan uang kontrak kos selama setengah tahun ke depan. Marketing yang dilakukan kek Reynal sangat menarik dan Jinan percaya saja dengan rayuan kakek itu untuk menempati kos miliknya.
Kos Angel adalah rumah besar dengan lima kamar tidur dan dua kamar mandi luar. Penghuni kamar nomor 1 bernama Evi, kamar nomor 2 diisi perempuan bernama Sunee berkebangsaan Thailand yang menjadi peserta student exchange di salah satu Universitas swasta di Medan. Penghuni kamar nomor 3 bernama Maria, lalu ada Jinan yang menempati kamar nomor 4, dan Ayu, perempuan tomboy yang menempati kamar nomor 5. Rumah itu berbentuk memanjang dengan kamar yang berjajar hingga ke belakang.
Blup..blup..blup...
Suara air mendidih membuyarkan lamunan Jinan tentang masa lalu buruk yang ia alami ketika pertama kali datang ke kos ini. Ia segera mematikan kompor dan mengangkat panci besar berisi air mendidih itu ke kamar mandi dengan hati-hati.
Byuuur...!
Air mendidih dituang ke dalam bak besar yang sudah terisi air dingin setengah. Asap mengepul ke wajah Jinan membuatnya merasakan kehangatan di wajah yang mendingin. Bergegas ia membersihkan diri karena adzan Maghrib sudah berkumandang.
Bersambung...
__ADS_1