
Jinan berjalan tergesa menuju biro FAI untuk menyerahkan tugas makalahnya. Ia terlambat masuk kelas karena harus mencetak hasil tugasnya. Kemarin ia tidak sempat ke fotokopi karena harus mengedit ulang tugas itu. Masih banyak kesalahan pengetikan ketika ia meninjau ulang tugasnya.
Dan tidak disangka ia baru menyelesaikan tugasnya setelah adzan Isya berkumandang. Ia malah kembali dibingungkan dengan penyerahan tugas. Mau tidak mau ia harus menggunakan nomor yang ia catat di bukunya. Relator kelas, Ruslan.
Dengan hati berdegup, ia memberanikan diri mengirim pesan pada pemuda pemilik senyum charming yang mulai mengganggu pikirannya. Ia tidak bisa mengungkapkan identitas dirinya pada Ruslan karena malu yang menjalar hingga ke sum-sum tulang belakang. Ia belum pernah memberikan nomor pribadinya kepada ikhwan lain selama kuliah, dan itu membuatnya waspada jika ada yang bertanya nomor ponselnya.
Ia sedikit bernapas lega ketika Ruslan tidak terus mendesaknya. Namun ada rasa sakit yang menusuk hatinya ketika pemuda itu mengakhiri chat mereka. Jinan mendesah lelah. Ada apa dengan diriku? Kenapa harus segelisah ini karena seorang pemuda yang belum kukenal?
“Astaghfirullah, ampuni Jinan yang mulai membuat dosa,” bisiknya lirih. Bayangan seorang pemuda yang tersenyum tipis padanya membuat matanya berkaca-kaca.
Sepandai-pandai tupai melompat, pasti akan jatuh juga. Begitulah yang terjadi dengan Jinan. Ia sudah berusaha untuk tidak memberikan nomor ponselnya pada sembarang orang, namun ternyata pendataan kelas dari sang dosen membuatnya mau tidak mau harus menuliskan nomor ponselnya di buku absensi yang disediakan.
Hatinya tidak tenang ketika buku absensi itu jatuh ke tangan para ikhwan yang sibuk mencatat nomor teman sekelasnya terlebih lagi Ruslan. Ia memerhatikan gerak-gerik pemuda itu dengan seksama. Jantungnya berdegup kencang melihat senyum tipis di bibir pemuda itu. Apalagi ketika matanya bersirobok dengan mata setajam elang yang menatapnya dengan senyum masih bertengger di sana.
Ruslan merasa terkejut dan juga senang. Ia tidak menyangka butuh waktu satu bulan lebih untuknya bisa mendapatkan nomor ponsel wanita berwajah teduh di kelasnya. Karena dosen inilah ia akhirnya tahu jika pemilik nomor tidak dikenal itu adalah Jinan. Wanita yang menarik perhatiannya karena ketenangannya yang mengagumkan.
Tanpa sadar, ia menatap Jinan dengan senyum tipis. Mereka bertatapan beberapa detik yang terasa sangat lama. Tidak menyadari mata seorang wanita yang menatap tajam ke arah Ruslan yang masih betah menatap Jinan.
Jinan sendiri yang ditatap oleh pemuda itu menjadi salah tingkah. Ia bergerak kikuk dengan wajah memerah malu. Ia yang dengan keras kepalanya menyembunyikan fakta jika ia adalah pemilik nomor itu akhirnya menanggung malu karena ketahuan dengan tidak keren seperti ini. Meski begitu, hatinya senang. Ia tersenyum dalam tunduknya.
Drrtt!
Jinan tersentak kaget. Ponselnya bergetar di pangkuannya. Dengan cepat ia membuka pesan dan terbelalak kaget.
‘Udah kakak duga itu nomor Jinan. Haha.’
Ruslan. Itu pesan dari pemuda bermata setajam elang. Dan tidak tanggung-tanggung, langsung dikirim saat itu juga. Dosen bahkan masih berada di dalam kelas. Tidakkah ia bisa bersabar menunggu dosen keluar kelas terlebih dahulu?
Dengan wajah memerah malu, Jinan menyimpan ponselnya ke dalam tas. Tidak lama setelahnya dosen pun keluar dari kelas setelah menerima buku absensi berisi nomor mahasiswanya.
“Jinan, ke masjid yuk! Masih sempat untuk Dhuha,” ajak Melisa pada Jinan.
Jinan mengangguk, tangannya dengan cekatan memasukkan semua buku ke dalam tas mungilnya. “Oke, Jinan ke kamar mandi dulu.”
Secepat kilat Jinan berjalan keluar dari kelas. Saat melewati Ruslan, mata mereka kembali bersirobok. Dan ia bisa melihat gerak mulut Ruslan yang berkata—
“Jangan diabaikan!”
Jinan tersenyum malu, mengundang senyum senang di bibir Ruslan. Tidak menyangka tingkah malu-malu wanita bermata teduh itu sangat menarik dilihat.
***
Dimulai dari kebutuhan informasi perkuliahan, obrolan kedua insan berbeda gender mulai merambah ke arah candaan dan perhatian yang tidak diperlukan. Hampir setiap kali ada kesempatan, Jinan maupun Ruslan akan saling mengirim pesan. Beberapa merupakan alasan yang benar, namun beberapa juga hanya alasan yang ingin dibenarkan.
Jinan maupun Ruslan sedikitnya menyadari jika perbuatan mereka kemungkinan besar sangat salah, namun apadaya syaitan sudah melancarkan serangannya. Obrolan yang halal berubah menjadi dipertanyakan kedudukannya.
‘Kuliah besok akan dilaksanakan di ruang 108.’
‘Oke, terima kasih, kak.’
‘Sama-sama. Jangan terlambat besok, hati-hati di jalan.’
‘Insyaallah kalau Jinan gak kesiangan, hehe.’
__ADS_1
‘Kalau gitu jangan tidur terlambat.’
‘Hmm, masih belum ngantuk nih.’
‘Kenapa? Ada yang mengganggu kah?’
‘Enggak sih, tapi kepikiran sesuatu.’
‘Apa itu?’
‘Ra-ha-si-a!’
‘Wiih, pelit banget pake rahasia.’
‘Hahaha. Cuma orang tertentu yang boleh tau.’
‘Dan orang itu adalah?’
‘Mm, mungkin mereka yang mencintai Jinan karena Allah?’
‘Begitu kah? Kalau gitu kakak akan berusaha.’
‘Hah? Apa maksudnya?’
‘Ra-ha-si-a. Hehe.’
Penggalan chat lewat WA itu terlihat biasa saja bagi kebanyakan orang. Namun untuk mereka yang mengerti hakikat interaksi lawan jenis yang dihalalkan, sudah jelas merupakan undangan yang bisa menjadi haram. Interaksi yang tidak diperlukan dan menimbulkan getar yang tidak seharusnya mulai terjadi.
Dalam doanya ia sering menangis, ketakutan akan mengulang kesalahan yang sama. Menjadi hamba-Nya yang melampaui batas. Namun ketika syaitan mulai melancarkan aksinya, seolah lupa dengan air mata yang ia luapkan dalam sujudnya, wanita itu membalas godaan syaitan dengan senyum sumringah.
Membalas pesan tidak bermakna pada lelaki yang tidak halal baginya adalah hal yang berbahaya. Apalagi ketika pesan tersebut menimbulkan getaran tidak biasa yang selalu menjadi awal malapetaka. Ia tidak tahu bagaimana mengatasi semua ini.
Ketika dihadapkan pada Allah, ia menangis. Namun ketika Ruslan menyapa, ia tersenyum manis. Apakah ia termasuk orang-orang yang munafik? Ia ingin menyangkal, namun kenyataan menamparnya. Isi chat beberapa hari belakangan menohok hati kecilnya.
Apa yang harus ia lakukan? Kembali pada Allah Melupakan perasaannya pada Ruslan? Itu ide bagus, namun sulit dilakukan.
Pertolongan Allah datang di saat yang tidak terduga. Ia menganggapnya seperti itu, namun mungkin saja itu hanya kebetulan yang salah lainnya.
Mutia datang padanya dengan wajah berseri...
“Jinan! Kayaknya Mutia suka sama kak Ruslan.”
Kalimat tiba-tiba yang masuk ke dalam gendang telinga Jinan menghantam perasaan. Ia tidak menyangka seperti ini cara Allah menolongnya dari jerat perasaan tidak pada waktunya. Namun, karena sayangnya pada Mutia melebihi rasa tertariknya pada Ruslan, dengan senyum ia menjawab lembut.
“Syukurlah. Kak Ruslan terlihat baik, tapi jangan melampaui batas. Mutia tahu kalau pacaran itu dilarang, kan?”
Jinan mengatakan kalimat itu dengan hati tercabik-cabik. Ia merasa tertampar dengan ucapannya sendiri yang terkesan munafik. Menasehati sahabat tersayangnya namun ia sendiri menjadi pelaku yang melanggar ucapan tersebut.
“Iya kan? Dari awal Mutia juga mikir kak Ruslan itu baik, bijaksana, pintar. Tapi Mutia gak akan ngajak pacaran kok. Mutia juga gak akan bilang sama kak Ruslan,” ujar Mutia muram.
Jinan menatap heran. “Kenapa gak mau bilang?”
“Kak Ruslan sama kak Amah terlihat dekat.”
__ADS_1
Jinan tercenung. Benarkah? Tidak pernah terpikir olehnya jika Ruslan dan Amah memiliki kedekatan tertentu. Atau apakah ia yang dibutakan dengan perasaan sendiri? Jika memang mereka memiliki kedekatan tertentu bukankah sikap mereka terkesan biasa saja di kelas?
Ruslan memang kerap bersikap dingin pada Amah ketika berada di kelas, namun yang terjadi di luar kelas ia tidak tahu. Hanya saja Jinan memang mengira jika Amah jatuh cinta pada Ruslan. Terlihat dari bagaimana ia bersikap jika menyangkut Ruslan. Terlalu gugup berlebihan.
“Jinan gak yakin,” ujar Jinan mengomentari.
“Tapi kalau dilihat, kak Ruslan biasa aja ke kak Amah. Kalau kak Amah sih terlihat suka.”
Jinan menggeleng. “Astaghfirullah, yasudahlah. Lebih baik tanya langsung ke orangnya daripada menduga. Lagipula gak baik menggibah, Tia.”
“Iya bener-bener! Astaghfirullah aladziim.”
Jinan tersenyum. Kalau Mutia suka sama kak Ruslan, aku akan mundur. Alhamdulillah, begini caranya Allah menolongku. Semoga aku bisa lebih istiqamah dengan niatku. Aamiin.
***
“Jinan, Dhuha?” Melisa bertanya ramah seperti biasa.
Jinan mengangguk senang. Ia sudah lebih dekat dengan beberapa temannya yang ia juluki ‘Para Bidadari’. Mereka adalah Melisa, Rini, Dila, Mutia, dan Yani. Mereka sering menghabiska waktu bersama ketika jam perkuliahan berakhir. Berada di sekitar sahabat yang selalu mengingatkanmu akan Allah pastinya membuat hati lebih tenang. Meski dalam pergaulan ada kekhilafan, mereka tidak melampaui batas dan saling mengingatkan.
Jinan bersyukur memiliki sahabat yang senantiasa menunjukkan jalan yang benar dan bukannya membenar-benarkan jalan yang ia pilih. Ketika mereka bingung harus memilih jalan mana, diskusi dan penyerahan diri pada Allah selalu menjadi solusi memecahkan pilihan. Hanya satu hal yang mereka masih tutupi terhadap satu sama lain.
Rasa suka kepada lawan jenis.
Kelimanya malu ketika harus mengakui perasaan mereka pada seorang ikhwan. Apalagi jika mereka mengenal siapa ikhwan yang dimaksudkan. Tetapi terkhusus Mutia, wanita itu memang suka bicara apa adanya kepada Jinan. Ia tidak menutupi apapun pada sahabat SMA-nya yang satu itu. Hanya saja untuk mengungkapkan perasaannya pada sahabat barunya, ia masih malu-malu.
Sementara hubungan Mutia dan Ruslan tidak mengalami perubahan seperti yang dijanjikan Mutia. Ia tidak akan mengungkapkan perasaannya pada relator kelas mereka. Ia hanya mencoba mendekati pemuda itu dengan niat belajar, belajar dan belajar. Ruslan adalah sumber belajar yang bagus, terlebih ia adalah pemuda yang ia sukai.
Beberapa minggu mencoba mendekati Ruslan via obrolan langsung dan tidak langsung, Mutia akhirnya menyerah pada perasaannya. Ia tidak bisa menggoyahkan keteguhan Ruslan yang terlihat membuat dinding padanya.
“Kayaknya kak Ruslan itu cocoknya sama Jinan deh,” ujar Mutia suatu ketika.
Seketka Jinan tersedak tahu bakso yang sedang dikunyahnya. “Ngomong- uhuukk apaan sih? Astaghfirullah. Uhukk-uhuk! Ada-ada aja.”
“Ya Allah Nan, maaf, maaf,” seru Mutia panik. Ia memberikan air minum dari botol minumnya untuk meredakan batuk yang dialami Jinan.
Tidak menunggu lama Jinan menerima botol tersebut dan menenggak isinya. “Haahh~ Alhamdulillah.” Ia menatap tajam Mutia yang tersenyum kikuk. “Kalau ada dendam sama Jinan dibilang aja deh, jangan bunuh perlahan gini,” ujar Jinan pura-pura kesal.
Mutia tertawa. “Mutia serius lo. Menurut Mutia, Jinan itu cocok sama kak Ruslan.”
“Gak mungkin. Jinan bukan tipenya. Kalau Mutia suka sma kak Ruslan ya silahkan, ambil gih,” cibir Jinan.
Mutia merengut. “Kayaknya Mutia juga bukan tipenya. Dia biasa aja ke Mutia.”
Jinan menatap Mutia dalam. Sahabatya itu terlihat murung.
“Yasudah, berarti memang belum jodohnya. Pasti ada yang cocok untuk kita,” ujar Jinan menyemangati.
Kedua sahabat itu tersenyum lalu tertawa. Saat ini keduanya sedang berada di kelas karena jam perkuliahan sudah usai. Teman-temannya sudah pada pulang dan ada juga yang sedang shalat Dzuhur. Sementara mereka yang sedang libur shalat memilih menunggu di kelas sambil ngemil.
Mereka tidak menyadari keberadaan pemuda yang mendengarkan obrolan mereka. Pemuda itu tersenyum tipis mendengar penuturan Jinan.
Bersambung...
__ADS_1