Bidadari Dunia

Bidadari Dunia
Chapter 4


__ADS_3

Sebelum mencari tahu siapa lelaki asing yang sempat membuat keributan saat Jinan pingsan di kelas, mari kita perkenalkan dulu tokoh utama yang ada dalam cerita klise ini.


Adalah Jinan Salsabila, perempuan yang kerap disapa sebagai bidadari dunia ini memiliki perawakan tinggi, kulitnya putih cenderung pucat, bibirnya tipis, dan hudungnya mancung. Pembawaannya selalu tenang, dan terkadang ia bisa bersikap tegas di situasi tertentu. Ia sering tersenyum tipis, berhati lembut dan mudah tersentuh. Lebih tepatnya sih cengeng, namun keras kepala. Kalau dilihat lagi, sepertinya ia tidak cocok menyandang gadis bidadari dunia. Memangnya ada bidadari yang keras kepala?


Jinan berasal dari desa terpencil di kawasan kabupaten Asahan, Sumatera Utara. Saat ini ia mengenyam pendidikan Jurusan Agama Islam di Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU). Merantau dari desa sejak Sekolah Menengah Atas (SMA) tidak lantas membuatnya mengenal kawasan Medan dengan baik. Sering kali ia tersesat jika bepergian ke tempat yang jarang ia kunjungi.


Saat ini ia menetap sementara di Kos Angel di Jl. Bambu bersama dengan lima orang lainnya yang sudah dideskripsikan secara singkat di episode lalu. Satu-satunya penghuni kos yang dekat dengannya adalah Ayu, perempuan tomboy yang berasal dari kawasan Aek Kanopan yang berpenampilan nakal namun berjiwa baik. Mahasiswa yang sering bolos.


Selain Ayu, ada beberapa teman dekatnya di kampus. Meski mereka berasal dari berbagai daerah yang berbeda, keenamnya berteman dengan sangat baik hanya dalam kurun waktu sebentar.


Yang paling dekat dengan Jinan bernama Melisa, wanita berkacamata yang memiliki kesabaran dan pengertian yang luar biasa terhadap teman-temannya. Ia bahkan tidak segan berkorban demi sahabat. Wanita luar biasa yang berbakti pada orang tuanya. Berasal dari Sumatera Barat dan menetap di Medan bersama keluarganya yang membuka usaha ‘Masakan Minang’.


Lalu ada Rini dan Dila yang berasal dari kota kecil Kisaran, mereka adalah sahabat sejak kecil dan selalu bersama. Dua perempuan cantik bertubuh mungil. Memiliki banyak kesamaan dalam hobi namun tidak pada perangai.


Dila cenderung diam dan seorang pengamat yang baik, sedangkan Rini lebih bersemangat dan mengutarakan apa yang tidak ia suka dengan lantang. Ia tidak suka berbohong, sangat suka menyindir Jinan yang keras kepala.


Mutia adalah teman semasa SMA Jinan di Medan. Mereka sudah saling mengenal sejak kelas 1 karena berada di kelas yang sama. Ia adalah teman yang suka mengobrol dan bertanya apa saja. Tidak dengan maksud buruk, ia akan bertanya apa yang membuatnya penasaran bahkan untuk hal yang tabu sekalipun. Karena semua hal ia anggap sebagai informasi, ilmu yang berguna. Ia adalah orang yang peka pada suasana sekitar. Warga keturunan Aceh yang menetap di Medan bersama keluarga dan adiknya yang sangat cantik.


Dan yang terakhir ada Yani. Wanita yang berasal dari Mandailing Natal, bermarga Lubis. Orangnya suka bicara apa adanya, tidak perlu disaring dulu selama tidak ada niat buruk dibalik ucapannya. Teman-temannya menjulukinya BTL alias Batak Tembak Langsung karena cara bicaranya yang to the point tanpa tedeng aling-aling.


Nah, itu hanya segelintir tokoh yang sering berada di sekitar bidadari kita, Jinan. Satu hal yang menyatukan mereka sedemikian erat ialah karena kebutuhan mereka akan ilmu agama yang besar. Keinginan belajar dan menjalin persahabatan yang kuat mempertemukan mereka dalam satu ikatan. Namun bukan berarti mereka tidak berteman dengan yang lainnya, hanya saja intensitas kedekatannya tidak seperti enam sekawan ini.


***


Pagi hari yang cerah membawa keceriaan bagi sebagian besar orang. Tidak ada udara dingin yang menusuk atau genangan banjir lagi, aktifitas kota kembali seperti biasa. Anak-anak pergi ke sekolah, dan orang dewasa bekerja untuk menyekolahkan anaknya.


Begipula dengan Ayu yang sudah bersiap dengan seragamnya. Ia mengenakan baju berwarna biru dengan strip merah dan kuning di saku baju, wajahnya terpoles makeup tipis yang terlihat cantik di wajahnya.


“Ayu yakin nih mau kerja di tempat itu?” tanya Jinan ragu.


Pasalnya, bekerja sebagai kasir diharuskan untuk ber-makeup, dan Ayu adalah orang yang anti makeup selama ia mengenal perempuan itu. Penampilannya yang acak-acakan dengan rambut pirang dan beberapa tindikan di telinga membuatnya terlihat tidak cocok bekerja sebagai kasir.


“Yakin dong! Sudah diterima kok, nih dapat seragam,” ujarnya menunjukkan baju yang ia kenakan.


“Kenapa bisa dapat seragam ya? Gak training dulu?”


Ayu menggeleng. “Pengalamanku bekerja sebagai kasir sudah cukup memuaskan mereka.”


“Lalu, itu?”


Jinan menunjuk tindik di telinga Ayu yang terpasang masing-masing dua di kanan dan kirinya. Ayu tiba-tiba tersenyum licik.


“Aku gak pake ini waktu interview, jadi gak ketahuan,” seringai mengembang di bibir tipisnya.


“Hiee? Kalau ini langsung dipecat bagaimana?”


Ayu mengangkat bahu, tidak peduli dipecat atau tidak. Ia menikmati raut cemas Jinan yang berlebihan. Sudah biasa baginya berganti-ganti pekerjaan. Ia tidak pernah cocok dengan pekerjaan yang selama ini ia kerjakan. Waitress, laundry, kasir supermarket, penyanyi kafe bahkan bartender juga pernah dilakoni. Namun semuanya hanya bertahan sebentar, wanita tomboy itu memilih berhenti dan mecari lagi pekerjaan yang pas untuknya.

__ADS_1


Jinan menggeleng pelan melihat temannya yang selalu bertingkah sesuka hati. “By the way, di mana tempatmu bertugas?”


Entah mengapa Jinan merinding melihat seringai semakin lebar di bibir Ayu. Sepertinya ada yang tidak beres.


“Di Indomaret samping UMSU.”


“Hah?”


Terkejut? Tentu saja! Ia tidak tahu jika temannya akan bekerja di sekitar kampusnya. Ia akan sering melihat wajah menyebalkan itu kalau memilih nongkrong di Indomaret.


Kebetulan di sekitar UMSU hanya ada satu minimarket itu, dan memang dikonsep mirip seperti Indomaret Point di mana tersedia kursi di dalam marketnya untuk pelanggan yang ingin makan sajian instant seperti pop mie, nasi ayam, dimsum dan kopi.


Jinan menggeleng. “Semoga Ayu betah kerja di sana, aamiin.”


Diam-diam Ayu mengamini hal yang sama di dalam hati. Sedikitnya ia merasa lelah harus beradaptasi dengan lingkungan baru, namun tetap saja kenyamanan adalah hal utama baginya.


***


Jam perkuliahan dimulai pukul 10 pagi, yang itu artinya masih ada banyak waktu bagi Jinan untuk bersantai di kos sebelum berangkat kuliah. Kondisinya sudah membaik pagi ini, ia tidak merasa pusing atau demam lagi.


Inginnya sih ia berdiam di kos, namun apa daya masih ada hal yang harus ia cari tahu. Yap, pemuda asing yang membawanya ke UKS. Untuk itulah ia putuskan akan ke kampus pagi ini dan bertanya mengenai pemuda itu kepada penjaga UKS yang kemarin merawatnya.


Ia sudah mengirim pesan kepada kelima sahabatnya jika ia akan sampai di kampus tidak lama lagi. Satu persatu balasan ia terima. Kelima sahabatnya sepakat akan menemaninya mencari tahu siapa pemuda asing itu. Rasanya memalukan sekali digendong sedemikian mesra oleh pemuda yang bukan mahromnya. Ia memohon ampun pada Allah sejak kemarin, dan berdoa semoga itu bukanlah suatu kesalahan.


Sesampainya ia di kampus, pandangan kagum dari beberapa pemuda kembali menghujam ke arahnya. Namun kali ini ditambah dengan pandangan sinis dari beberapa orang lainnya. Rupanya kejadian kemarin mencuri banyak perhatian terutama di Fakultas Tehnik (FT) dan Fakultas Pertanian (FP). Hal ini dikarenakan UKS berada di gedung yang sama dengan FP dan untuk bisa ke sana ia harus melewati FT terlebih dahulu.


Bagaimana ia bisa menolak kalau saat itu ia dalam keadaan tidak sadarkan diri? Memprotes kepada sahabatnya yang membiarkan hal ini terjadi juga percuma saja. Mereka sudah mencoba memberi pengertian, namun pemuda itu bersikeras jika ia adalah petugas UKS. Pihak UKS tidak memiliki brankar dorong seperti di rumah sakit, mau tidak mau bagi mahasiswa yang sakit harus datang sendiri atau digendong seperti ia kemarin.


Meski ia mendengar cibiran itu, Jinan tidak terbawa emosi. Ia tetap bersikap tenang dan tersenyum maklum. Inilah salah satu fitnah akhir jaman yang harus ia lewati. Hatinya terus ber-istighfar supaya tidak mendendam kepada mereka yang tidak tahu keadaan.


Sesampainya di UKS, Jinan duduk menunggu para sahabatnya datang sesuai janji. Ia tidak akan mencari tahu hal ini sendiri, sahabat-sahabatnya sudah menawarkan diri membantu. Dan ia tidak ingin mengecewakan mereka lagi karena bertingkah keras kepala.


“Assalamualaikum,” sapa Jinan pada kelima sahabatnya yang secara ajaibnya datang di saat bersamaan.


“Waalaikumussalam.” Dan kembali terjadi lagi rutinitas biasa mereka ketika bertemu.


“Mau tanya langsung ke dalam?” tanya Yani. Ia terlihat bersemangat pagi ini entah kenapa.


Jinan mengangguk. “Lebih cepat lebih baik.”


Dengan ‘Bismillah’ keenam wanita berkerudung panjang itu menuju UKS untuk mencari tahu kebenarannya.


Tok! Tok!


Pintu diketuk pelan, dan tidak lama setelahnya terdengar seruan ‘Masuk’ dari dalam. Keenamnya masuk satu per satu, mengundang raut bingung penjaga UKS dengan name tag Susilawati di dada kirinya. Ia tidak mengira akan diserbu pagi ini.


“Eh, ada apa ya ramai-ramai begini?” tanya Bu Susi bingung.

__ADS_1


Jinan maju sebagai perwakilan. “Ibu ingat saya? Yang kemarin pingsan dan dibawa ke sini.”


Bu Susi tersenyum tipis meskipun raut bingung tidak kunjung hilang dari ekspresi wajahnya. “Tentu saja. Ada apa?”


“Maaf bu, saya mau bertanya. Pemuda yang kemarin mengantar saya ke sini, siapa ya?” tanya Jinan mengutarakan maksud dan tujuan secara langsung.


Bu Susi tersenyum aneh. “Maksudnya membawa adek ke sini?”


Wajah Jinan memerah malu. Ia tahu maksud Bu Susi. Sedangkan teman-temannya mengalihkan pandangan berpura-pura tidak mengerti.


“I-iya.”


Bu Susi tertawa kecil. “Memangnya kenapa? Ada masalah sama dia?”


“Bu, kami cuma mau berterima kasih,” sahut Melisa tenang.


Bu Susi menatap Melisa sebentar, teringat jika wanita berkacamata inilah yang menemani pasiennya kemarin. Beliau sadar keenam mahasiswi di depannya tidak bisa diajak bercanda mengenai hal semacam ini. Mereka memegang teguh ajaran untuk berhati-hati terhadap interaksi kepada lawan jenis. Dan beliau yakin, alasan mereka mencari pemuda itu bukan sekedar untuk berterima kasih semata.


“Dia mahasiswa Fakultas Tehnik, hanya itu yang ibu tahu,” ujar Bu Susi tersenyum simpul.


“Hah? Tapi katanya dia anggota UKS, namanya siapa, Bu?” tanya Yani heran.


Bu Susi menggeleng. “UKS tidak pernah merekrut anggota dari fakultas selain kedokteran, dek. Pemuda itu bilang kalau dia mengenal adek ini.” Bu Susi menunjuk Jinan.


“Kenal Jinan? Siapa?” tanya Jinan bingung meminta penjelasan teman-temannya.


Hampir semua kenalannya sudah diperkenalkan kepada para sahabatnya. Jadi tidak mungkin mereka tidak mengenal pemuda yang mengaku mengenalnya itu.


“Mmm, ibu sering melihatnya di sekitaran FAI. Karena dia dari FT yang dekat dengan FAI, mungkin saja kalian pernah melihatnya. Kalian ini dari FAI kan?”


Keenamnya mengangguk. Tidak heran mereka di identifikasi sebagai mahasiswa FAI karena penampilan mereka. Masih banyak orang di dunia ini yang menilai orang lain berdasarkan penampilan yang tampak.


“Ibu benar gak tahu siapa namanya?” tanya Yani lagi.


Bu Susi menggeleng, tersenyum menyesal. “Ibu gak tahu, dek. Kalian bisa tanya ke FT karena sepertinya mereka berdua ini terkenal.”


Lagi-lagi Bu Susi menunjuk Jinan, mengisyaratkan jika ia dan pemuda itu terkenal di kalangan mahasiswa.


“Terkenal?” beo Yani.


Bu Susi mengangguk. “Kedatangan mereka berdua ke UKS disambut kericuhan gak biasa dari mahasiswa, sudah pasti mereka dikenal.”


Keenamnya terdiam sebelum akhirnya pamit dan berterima kasih pada Bu Susi.


Masih menjadi misteri, siapa pemuda itu...


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2