
Kita flashback dulu.
Awal perkuliahan tahun 2013 sudah dimulai. Jinan yang tidak mengikuti Masa Taaruf (MASTA) kolosal sedikit bingung ketika ia sampai di gerbang masuk UMSU yang dipenuhi mahasiswa. Ia mengitari sekitar dan tidak bisa menemukan gedung fakultasnya. Pada akhirnya ia memutuskan untuk menelepon Mutia.
“Tia, help me!” serunya pelan hampir merengek.
Mutia tertawa di seberang ponsel. “What?”
“Jinan gak tau gedungnya di mana.”
“Oh, kita di gedung F, dari gerbang depan masuk terus sampe gedung terakhir, nanti ada tulisan di gedungnya kok,” ujar Mutia dengan sabar.
“Hm? Oke, jangan ditutup ya.”
Dan mulailah Jinan berjalan pelan sambil matanya mencari gedung yang dimaksudkan Mutia. Setelah melewati FP dan FT serta Auditorium akhirnya ia sampai di gedung fakultas paling belakang. Di sana seorang wanita berkerudung hitam menunggu sambil menempelkan ponsel di telinga kanannya. Ia tersenyum melihat temannya datang.
“Jinaaaaan! Assalamualaikum,” seru Mutia ceria.
“Waalaikumussalam.” Jinan menjawab lembut. Mutia tersenyum tertahan.
“Jinan udah banyak berubah dari terakhir kali kita ketemu,” komentar Mutia. Ia berjalan memandu menuju ruang kelas mereka.
“Benarkah? Alhamdulillah, meski masih sering khilaf tapi Jinan serius mau berhijrah,” ujar Jinan pelan.
“Alhamdulillah. Mutia juga mau hijrah, kita bareng-bareng perbaiki diri ya.”
Jinan mengangguk. Kedua sahabat itu tersenyum saling mengerti keadaan masing-masing di masa lalu.
“Eh, Mutia udah kenalan sama temen-temen kita di kelas. Ada 52 orang lho! Kelasnya penuh, tapi asik.”
Jinan tersenyum mendengarkan ocehan Mutia yang ceria. Gadis berdarah Aceh itu terlihat antusias dengan masa awal perkuliahan sebagai mahasiswa jurusan PAI. Sesekali tangannya membuat gerakan yang menunjukkan ia adalah seorang orator handal.
Sesampainya di depan pintu kelas, Jinan berucap ‘Bismillah’ dalam hati dan memasuki kelas sambil mengucap salam.
“Assalamualaikum,” sapanya setenang mungkin.
Seketika ruang kelas yang begitu berisik mendadak senyap. Semua pasang mata menatap ke arah Jinan dengan raut penasaran. Karena ia tidak mengikuti MASTA, wajahnya terlihat asing bagi teman-teman sekelasnya. Namun sedetik kemudian suasana mendadak lebih ricuh dari sebelumnya.
“Woaaahhh!”
“Masyaallah!”
“Bidadari... Bidadari...!”
“Ihh cantik kali bah!”
“Eiittsss, calon istriku akhirnya muncul. Sini kuperkenalkan sama kalian.”
“Udah gila si Yudha ini!”
“Halu kau ya, woy!”
“Kurang otaknya itu!”
__ADS_1
“Bla... bla.. bla..”
Dan banyak lagi ucapan tidak jelas terdengar memenuhi kelas. Jinan menundukkan kepala. Tidak ingin menatap kerumunan lelaki yang saling berebut menghampirinya dengan raut wajah ramah. Mereka saling memperkenalkan diri yang tentu saja tidak diingat nama dan wajahnya oleh Jinan karena ia sibuk menunduk.
“Minggir kalian, woy! Kasihan kakak ini, mau duduk dia,” teriak wanita berwajah sangar.
“Berisik kali, Ulfa! Macam nenek lampir kau kutengok!”
“Nenek lampir mamak kau itu!”
“Hush! Jangan bawa-bawa mamak!”
“Udahlah, berisik kali kalian! Minggir dulu, biarkan kakak ini lewat!”
Dan akhirnya perlahan kerumunan itu menjauh, membuat Jinan menarik nafas lega. Ia menatap Ulfa dan tersenyum berterima kasih.
“Ha! Tengok tuh, menghela nafas kakak ini jadinya karena kalian,” ujar wanita bermata sipit yang duduk di sebelah Ulfa.
Suasana kembali ricuh dengan ocehan tidak jelas teman-teman sekelas. Jinan menggelengkan kepala dan duduk di kursi yang sudah disiapkan Mutia. Ia tersenyum lembut pada teman-teman barunya yang saling memperkenalkan diri. Yang tentu saja tidak ia ingat nama dan wajahnya kerena Jinan adalah seorang pengingat yang payah.
Ia sedikit melirik ke barisan lelaki yang memang dipisah tempat duduknya dengan bagian perempuan. Satu persatu mereka memperkenalkan diri yang hanya dibalas dengan senyuman.
Sekilas matanya menatap pemuda yang duduk diam fokus pada ipad-nya, tidak tertarik dengan kericuhan kelas. Jinan tersenyum, bersyukur karena masih ada pemuda yang sedikit tenang dari yang lainnya. Ia mulai mempersiapkan buku dan pena. Ia siap menerima ilmu baru hari ini.
Diam-diam pemuda berkulit tan di depan melirik ke arah Jinan dan bibirnya tersenyum tipis. Seorang wanita yang duduk tidak jauh dari pemuda itu menatap tanpa ekspresi.
***
Seperti sudah suatu tradisi, murid baru maupun mahasiswa baru mengawali minggu pertama perkuliahan dengan saling memperkenalkan diri. Begitupula dengan kelas ini. Satu per satu mahasiswa memperkenalkan dirinya dan menyatakan alasan mereka memilih kampus ini sebagai tempat mengenyam pindidikan S1.
“Nama saya Jinan Salsabila, kalian bisa panggil Jinan atau Nan. Tolong jangan panggil ‘Jin’ karena saya bukan makhluk halus. Alasan saya memilih kampus ini...karena mama yang memintanya. Lagipula saya gak diterima di Universitas negeri.”
Ia tersenyum tipis saat mengatakannya, begitupula dengan teman-temannya yang tertawa mendengar kejujuran Jinan. “Lalu alasan saya memilih jurusan ini...karena saya ingin memperbaiki diri.”
Kalimat terakhir Jinan yang diucapkan dengan nada tidak biasa rupanya menarik perhatian Ruslan yang sejak tadi memejamkan mata. Pemuda itu memutar badannya dan menatap Jinan tajam. Jinan tersentak kaget dan segera menunduk, menghindari kontak mata yang menimbulkan kejutan listrik.
Tidak ada yang bersuara beberapa detik setelahnya, seolah mereka menyadari ada keseriusan aneh di dalam alasan yang diutarakankan Jinan.
***
Pemilihan relator kelas yang dipilih berdasarkan voting tertinggi akhirnya diperoleh Ruslan sebagai pemenang. Ia mengemban tugas menjadi pemimpin yang menjadi hakim, pengacara maupun seorang ayah di dalam kelasnya. Tugas yang sangat berat, namun ia menerimanya dengan lapang dada. Meski ia sempat menolak menjadi kandidat karena merasa tidak pantas, namun ternyata teman-temannya menaruh harapan dan kepercayaan pada kepemimpinannya.
Berbekal semua kepercayaan itu akhirnya ia menerima tugas mulia dengan ridha. Dengan mengharap pahala dan rahmat Allah atas perbuatannya, ia mulai menjalankan tugasnya hari itu juga. Awalnya ia menulis nomor ponselnya di papan tulis di depan kelas. Hal itu bertujuan untuk mempermudahkan komunikasi antar sesama jika mereka membutuhkan bantuannya dalam masalah perkuliahan.
Jinan menulis nomor pemuda bernama Ruslan di buku catatannya. Ia tidak segera menyimpan nomor pemuda itu di ponselnya karena merasa tidak perlu. Ia yakin tidak membutuhkan pemuda itu dalam waktu dekat.
Jam perkuliahan sudah lama berakhir, sementara mahasiswa PAI masih betah berada di dalam kelas saling bercanda dan mempererat tali ukhuwah. Jinan banyak tersenyum mendengar ocehan teman-temannya. Dalam sekejap ia sudah merasa dekat dengan beberapa temannya. Meski ia tergolong manusia introvert, kali ini ia mampu bersosialisasi dengan cukup baik.
Matanya melirik ke arah Ruslan yang sejak tadi sibuk berkutat dengan laptop di depannya. Ia terlihat serius mengerjakan sesuatu. Hal ini membuat tanda tanya, mengapa pemuda itu terlihat begitu sibuk sementara perkuliahan tidak sedang aktif karena baru sampai tahap perkenalan?
“Jinan, mau ke masjid sama-sama? Kami mau Dhuha kalau sempat sih,” ajak Melisa ramah.
Jinan mengalihkan perhatiannya. Hatinya berucap istighfar karena tidak berhenti memperhatikan pemuda yang bukan mahromnya.
__ADS_1
“Jinan mau ikut, tapi masih libur sih,” jawabnya disertai senyum malu.
Melisa tersenyum. “Gak apa, ikut aja. Abis Dzuhur kita ngobrol saling mendekatkan diri.”
Anggukan antusias menjadi jawaban. Sedikitnya Jinan tahu jika Melisa dan beberapa temannya memiliki kepribadian yang cocok dengannya. Dan juga ada satu orang yang menarik perhatiannya. Sejak awal kedatangan wanita ini, ia sudah mengagumi perempuan mungil berkulit putih susu yang senantiasa ramah pada sekitar.
“Kak Amah mau ikut juga?” tanya Jinan antusias.
Ia tidak sabar ingin mengenal dan belajar banyak hal dari wanita ini. Kebetulan sekali wanita ini adalah lulusan pesantren yang pastinya memiliki ilmu akhirat lebih baik darinya.
Amah terlihat kikuk, namun ia menolak dengan sopan. “Maaf, gak bisa. Kakak masih ada urusan.”
“Urusan?” beo Jinan penasaran. Namun Amah tidak menjawab dan hanya tersenyum.
Tidak ingin mencampuri urusan orang lain lebih jauh, akhirnya ia pamit pergi pada teman-temannya yang masih ingin berada di kelas dan mengekori Melisa yang sudah lebih dulu keluar. Di depan pintu, seolah ada desakan aneh, ia menoleh ke arah Ruslan yang ternyata sedang menatapnya tajam. Buru-buru ia menunduk dan mengejar Melisa.
Mengapa pemuda itu terus saja menatapku tajam?
Jinan menggelengkan kepala, tidak ingin pikirannya kembali tekontaminasi oleh hal-hal tidak halal yang bisa merusaknya.
“Mereka pacaran?”
“Kayaknya sih enggak. Tapi mereka dekat sejak hari pertama kuliah. Iya kan?”
“Itu laptop yang dipegang Ruslan juga punya Amah.”
“Iya? Beneran?”
Reva mengangguk. “Aku lihat Amah ngasih laptopnya ke Ruslan.”
“Kok bisa gitu ya? Padahal mereka kan sama-sama lulusan pesantren, masa’ iya mereka pacaran?”
“Yee, yang dari pesantren kan bukan orang suci.”
“Hei! Gak boleh menggibah temen sendiri,” tegur Melisa yang merasa jengah mendengar obrolan teman-temannya.
“Hehehe. Tapi kalau temen orang lain boleh ya, Mel?”
“Apa? Eehh, gak boleh jugaaa!” seru Melisa gelagapan.
Mereka tertawa, reaksi Melisa sangat lucu saat sedang dijahili. Membicarakan teman sekelas yang sedang terlibat urusan percintaan memang selalu menjadi topik menarik. Tidak hanya sebagai bahan hiburan, terkadang orang-orang juga menjadikan itu lelucon dan mengolok pelakunya. Tentu saja semua itu dilakukan dalam batas bercanda. Meski kita tidak tahu apakah korban merasakan candaan yang sama atau malah tersinggung dengan kejahilan teman-temannya.
Jinan berjalan diam, meski ia tidak suka menggibah tidak bisa dipungkiri jika ia merasa pembicaraan itu sangat informatif baginya. Ia sadar jika ia penasaran dengan dua nama yang sejak tadi menjadi topik pembicaraan teman-temannya. Tanpa disadari teman-temannya, Jinan bergelut dengan pemikirannya sendiri. Perjalanan ke mesjid terasa sangat menyesakkan baginya.
Namun tiba-tiba dari arah belakang, seolah ada angin yang bertiup pelan menarik Jinan untuk menoleh ke belakang. Di sana, di ujung pintu masuk gedung F, Ruslan keluar dengan sedikit berlari kecil. Saat kedua pasang mata itu bertatapan, waktu seolah terhenti. Jinan tidak bisa mendengar suara teman-temannya, hanya langkah pasti Ruslan yang bergema jelas di telinganya.
Tap.. tap... tap..
Langkah itu semakin dekat, dan ketika mereka berpapasan jantung Jinan berdentum keras. Waktu seolah melambat. Angin tiba-tiba menerbangkan kerudung panjang yang menyentuh paha.
“Assalamualaikum, Jinan.”
Jinan tersentak, bisikan itu terdengar jelas di telinganya. Ia menoleh dan mengikuti langkah pemuda itu. Tidak menyangka Ruslan akan menyapanya dalam momentum singkat nan rahasia. Tentu saja hal itu hanya disadari olehnya. Teman-temannya mendadak terdiam melihat Ruslan berjalan cepat melewati mereka.
__ADS_1
Bersambung...