
Keluar dari ruang UKS ternyata tidak membawa hasil apa-apa. Keenam sekawan itu akhirnya memilih berkumpul di pelataran masjid sambil menunggu jam kuliah dimulai. Mereka berjalan dengan tanda tanya besar di kepala.
Selesai shalat Dhuha, mereka duduk melingkar dengan gorengan yang sudah tersedia di tengah-tengah. Dila dengan baik hati membelinya untuk mereka selagi teman-temannya shalat tadi. Di antara mereka, Dila adalah orang yang paling sering shalat Dhuha di kosan dari pada di masjid. Ia beranggapan jika bisa saja ia terlalu sibuk di kampus hingga melupakan Dhuha. Pemikiran itu selalu mengundang senyum kagum dari teman-temannya.
“Eh, jadi tanya siapa ya soal abang itu?” tanya Yani memulai percakapan yang tentu saja topiknya masih sama. Pemuda misterius.
Jinan menggeleng. “Jinan kan pingsan, mana tau siapa yang bersorak waktu itu. Memangnya seheboh itu ya?”
Rini menelan kue sayur di mulutnya. “Wih, Jinan gak tau. Ribut kali kemaren lo. Anak teknik yang paling keras suaranya. Jinan kan primadona anak teknik,” ujar Rini menggoda.
Wanita bermata madu itu mendengus. “Primadona apanya? Jangan sembarangan memberi julukan deh.”
“Apa kita tanya ke FT aja?”
Serentak Melisa dan Jinan menggeleng kuat mendengar usulan Yani, ide itu terdengar mengerikan. Mengingat cibiran mahasiswa yang Jinan terima pagi tadi, ia tidak bisa berbohong jika hatinya sedikit takut berurusan dengan mahasiswa fakultas lain, terlebih tehnik.
Tidak tahu mengapa aura mahasiswa tehnik terlihat gelap. Mereka juga suka menggunakan setelan yang didominasi warna hitam, menambah kesuraman penampilan mereka. Belum lagi dengan rambut mahasiswa yang panjang, gondrong dan gimbal. Duh, mengerikan. Mahasiswinya juga tidak mau kalah. Dengan outfit serba hitam, dan wajah yang sangar membuat mahasiswa lain bisa langsung mengenali mereka ketika berada di tengah kerumunan.
“Yasudah, lupakan aja dulu tentang pemuda itu. Kalau memang ditakdirkan bertemu lagi, pasti kita ketemu sendiri,” ujar Jinan menengahi.
Melisa mengangguk menyetujui. “Yang penting Allah tau niat kita. Lebih baik kita pikirkan mau ngerjain tugas di mana? Kelas sepertinya udah gak kondusif karena anak tehnik lagi eksperimen sama motor mereka di gudang belakang.”
“Sayangnya di kosan Jinan gak terima tamu,” ujar Jinan menyesal.
Mereka berenam menghela nafas. Sepertinya mereka akan mengerjakan tugas secara individu lagi. Padahal kalau mengerjakan tugas bersama mereka bisa saling bertukar pendapat dan mendapat kesimpulan yang lebih baik lagi.
“Aneh kali ya kosan Jinan dibatasi gitu. Kenapa tamu gak boleh datang ya?” komentar Dila penasaran.
“Hmm, kurang tau alasan pastinya sih. Tapi kata temen Jinan dulu pernah ada yang kemalingan karena bawa temen ke kamar. Dan gak ada yang ngaku. Jadi untuk menghindari itu, tamu cuma boleh masuk sampai teras depan aja.”
“Ngeri juga kalo gitu ya! Tinggal di Medan nih ngeri-ngeri sedep juga,” komentar Yani. Jinan mengangguk membenarkan.
“Gak berniat pindah kos? Bareng Dila aja,” usul Dila pada Jinan.
“Inginnya sih pindah kos, tapi tanggung nih. Karena bulan depan udah kenaikan semester, pindahannya ditunda dulu biar bisa fokus.”
“Oh ya? Udah ada planning mau pindah ke mana?” tanya Melisa.
“Rusunawa.”
“Hah? Memangnya boleh? Kan bukan mahasiswa baru lagi,” tanya Rini.
__ADS_1
“Jinan udah tanya sama kepala asramanya. Katanya sih boleh, asal bayar langsung selama setahun. Sistem bayarnya per tahun gitu.”
Mereka mengangguk-angguk. Setelah mengobrol sebentar, tidak terasa waktu berjalan begitu cepat. Kelas perkuliahan akan segera dimulai dan keenamnya beranjak dari masjid untuk menuntut ilmu bersama teman-teman yang lain.
Perjalanan dari masjid ke kelas hanya membutuhkan waktu kurang lebih 10 menit karena mereka berjalan santai. Beberapa kali mereka bertemu dengan teman yang lain dan berjalan bersama. Saling mengobrol, bercanda ria.
“Astaghfirullah! Eh, ada yang ketinggalan di motor. Melisa ke motor dulu ya, kalian duluan aja ke kelas,” seru Melisa cepat. Ia segera berjalan terburu-buru menuju motornya dan mengambil amplop putih berisi uang kuliahnya selama satu semester.
“Alhamdulillah masih ada,” ucapnya pelan.
Tiin! Tiin!
Suara klakson motor mengagetkannya. Ia menoleh ke belakang di mana ada seorang wanita mengenakan jaket ungu dan motor matik hijaunya datang dari arah gerbang belakang kampus. Wanita itu tersenyum ramah pada Melisa.
“Melisa, assalamualaikum!”
Melisa tersenyum cerah. “Eh, kak Amah. Waalaikumussalam!”
Amah memarkirkan motornya dengan gesit dan segera melepaskan atribut keselamatan berkendara yang ia kenakan. Senyum masih bertengger di bibir mungilnya. Wajahnya bercahaya diterpa sinar mentari ketika ia melepas helmnya. Kerudung hitam panjang selutut terjuntai anggun.
“Sendirian?”
“Iya kak. Tadi sama yang lainnya, tapi mereka udah duluan ke kelas. Ada yang ketinggalan di Motor,” jawab Melisa.
“Mau bareng?” tawar Melisa.
Amah tersentak. Ia bergerak kikuk membenarkan kerudung dan bajunya yang sudah rapi. “Melisa duluan aja, kakak masih ada urusan.”
Tanpa banyak bicara lagi Melisa pamit dari sana dan bergegas berjalan menuju kelas yang tidak jauh dari parkiran belakang. Ia sedikit menoleh ke belakang di mana Amah duduk di pembatas dinding koridor yang rendah.
Lagi nunggu siapa kak Amah?
Sesampainya di kelas, Melisa melihat teman-temannya sudah duduk di posisi masing-masing. Ia segera mengambil tempat di sebelah Jinan yang memang dibiarkan kosong untuknya. Ia tersenyum dan mengucap terima kasih.
“Ukhti ngambil apa di motor?”
Melisa tersenyum kikuk. “Uang kuliah, di bagasi motor.”
Jinan melotot mendengar jawaban itu lantas memukul lengan Melisa pelan. “Ada-ada aja! Kalau hilang gimana? Teledor nih, ukhti.”
Melisa tertawa. Jinan hanya bisa menggeleng pelan. Meski Melisa adalah orang yang paling bijaksana di antara mereka, ia juga adalah orang yang paling ceroboh. Sering melupakan sesuatu yang penting bagi dirinya. Sudah beberapa kali ia terkena masalah karena kecerobohannya.
__ADS_1
Saat sedang asik mengomel yang tidak ada gunanya karena Melisa hanya tertawa mendengar omelan itu, suara salam dari pintu kelas mengalihkan perhatian mereka. Amah memasuki kelas dan mengambil tempat duduk di belakang, sementara di belakangnya berjalan seorang pemuda yang terlihat berkharisma dan berwajah teduh.
Melisa tersentak. Kak Amah nunggu kak Ruslan? Ia terlihat tidak percaya dengan apa yang sedang dilihatnya.
Kehebohan lantas terjadi. Kedatangan dua orang itu mengundang siulan menggoda dari teman-teman sekelas. Tidak biasanya mereka berdua datang bersamaan seperti ini.
Desas desus tentang kedekatan dua mahasiswa ini memang kerap terdengar. Namun dengan lantang keduanya membantah tuduhan yang dilayangkan. Mereka tidak pacaran. Begitulah katanya.
Hingga suatu kalimat menyentak lamunan seseorang.
“Lho? Jadi ustadz Ruslan sama Ustadzah Amah atau sama Ustadzah Jinan?”
Pertanyaan itu sekejap membuat Jinan terlonjak kaget. Ia menatap tajam Amar sang penanya. Hatinya berdetak tidak tenang mendengar pertanyaan itu, pertanyaan yang tidak hanya sedang diperdebatkan oleh kelima sahabatnya maupun teman-teman sekelasnya namun juga olehnya sendiri.
Kepada siapa sebenarnya pemuda bernama Ruslan menambatkan hatinya? Amah atau Jinan? Tidak ada yang tahu kecuali sang pemilik hati.
Tidak hanya kedekatan Ruslan dan Amah yang menjadi tanda tanya besar. Hubungan Ruslan dengan Jinan yang tidak biasa juga patut dipertanyakan.
Sejauh apa kedekatan mereka? Akan terlihat pada masanya.
Tidak hanya Jinan yang terkejut dengan pertanyaan berani itu, Ruslan dan Amah juga terkejut. Namun Ruslan hanya tersenyum kecil lantas menggelengkan kepala, sementara Amah memandang Jinan sekilas sebelum memprotes Amar dengan suara kecilnya.
“Eh? Gak boleh tanya-tanya gitu ya, Amar!” omel wanita bertubuh mungil itu dengan nada pura-pura kesal.
Amar tertawa. “Loh? Kenapa ustadzah? Kan kami penasaran siapa pada akhirnya wanita yang berhasil menakhlukkan hati ustadz Ruslan. Iya kan, tadz?”
Ruslan tidak memberi jawaban, ia hanya tersenyum. Membuat beberapa orang yang penasaran di kelas itu menatap gemas padanya. Sesusah itu kah memberi klarifikasi pada orang lain supaya tidak menimbulkan prasangka?
Namanya Ruslan, pemuda berkulit tan dengan hidung mancung dan bibir merah tebal. Seorang perantau dari kawasan Stabat yang saat ini tinggal sementara di mesjid Jl. Gaharu sebagai marbot mesjid. Sebelumnya ia mengenyam pendidikan D3 di Malaysia dan melanjutkan S1 di Medan. Ia adalah mahasiswa yang dipercaya beberapa dosen untuk menjadi relator kelas.
Kecakapannya membuat banyak dosen dan juga mahasiswa menyukainya. Banyak juga wanita yang terpesona dengan kharismanya. Pengetahuan agamanya juga tidak kalah dari dosen itu sendiri. Ia adalah panutan dengan ilmu dan realisasi yang hampir setara.
Sementara Amah adalah mahasiswi lulusan pesantren dan saat ini mengajar sambil kuliah. Ia merupakan warga Medan yang sudah sangat hapal dengan seluk-beluk Medan hingga ke lorong tikus sekalipun. Ia adalah orang yang ramah, suka menolong dan sering direpotkan dengan masalah teman-temannya. Ia juga dikenal sebagai wanita judes yang mengayomi teman-temannya. Usianya yang lebih tua dibandingkan teman-teman sekelasnya membuat ia dihormati.
Sejak awal perkuliahan keduanya memang sudah dekat satu sama lain. Tidak tahu ada urusan apa, namun mereka kerap terlihat berdua sedang mengerjakan sesuatu. Beberapa orang bilang jika itu hanya alibi dari perasaan mereka yang saling menyukai.
Untuk menutupi perasaan itu, keduanya mencari-cari alasan supaya bisa lebih sering berduaan tanpa dicurigai. Bahkan kini mereka punya panggilan khusus untuk masing-masingnya. Wak dan Mbok. Ketika teman-temannya bertanya perihal panggilan itu, mereka mengatakan jika itu adalah panggilan ejekan yang menjadi ikon mereka selama ini.
Lalu bagaimana dengan hubungan Jinan dan Ruslan?
Tunggu di chapter berikutnya.
__ADS_1
Bersambung...