
Ruslan yang melewati teman-temannya tanpa berkata apa-apa membuat Jinan bertanya-tanya. Mengapa pemuda itu hanya menyapanya saja?
Sementara itu teman-temannya terdiam kaku di tempatnya lalu saling menatap satu sama lain. Wajah mereka terlihat sama, cemas.
“Apa Ruslan dengar obrolan kita?”
“Ih, gimana nih?”
“Kalian ini makanya jangan menggosip, langsung kena karma.”
“Mutia, jangan gitu dong!”
“Semoga dia gak dengar!”
“Aamiin! Semoga gak dengar!”
“Aamiin!”
Mendengar kecemasan teman-temannya membuat Jinan kembali pada kesadarannya yang sekilas melayang. Ia tersenyum melihat teman-temannya yang dengan cepat mengganti topik pembicaraan. Mungkin saja kejadian barusan membuat mereka menyadari, jika tidak ada orang yang suka dijadikan bahan pembicaraan di belakang. Dan mereka harus lebih berhati-hati menjaga lidah tidak bertulang. Bagian tubuh yang tanpa sadar sering menyakiti dan berbuat dosa.
Jinan memerhatikan sekitar masjid dengan bingung. Ada begitu banyak mahasiswa yang sedang berkumpul membentuk kelompok kecil di teras masjid yang luas. Ia bertugas menjaga tas teman-temannya yang sekarang sedang melaksanakan shalat Dhuha. Beruntungnya mereka karena masih sempat melaksanakan shalat sunnah karena waktu hampir memasuki Dzuhur.
Sejujurnya ia merasa enggan berdiam diri di teras masjid seperti sekarang karena ia sedang dalam keadaan kotor, namun masjid ini tampak nyaman dijadikan tempat nongkrong. Ia sudah melihat sekeliling kampus dan tidak menemukan tempat nongkrong senyaman teras masjid yang sejuk. Dalam hati ia memohon ampun.
Mungkin sebaiknya aku bicarakan sama temen-temen untuk pindah tempat.
Tidak lama kemudian adzan berkumandang, berbondong-bondong mahasiswa masuk ke dalam masjid untuk menunaikan panggilan Allah. Ia memerhatikan sekitarnya dan mulai berkomentar dalam hati tentang penampilan mahasiswa yang tidak sesuai syariat Islam. Lalu memerhatikan gerombolan wanita berpakaian anggun yang kesemuanya mengenakan kerudung hingga menutup bokong.
Jika kau berteman dengan tukang minyak wangi maka kau akan tercium wangi juga, begitu pula jika kau berteman dengan pandai besi maka kau akan terkena panasnya. Aku sepertinya pernah dengar kalimat itu, di mana ya?
Saat sedang berpikir keras yang tidak membuahkan hasil, Jinan menoleh ke arah masjid bagian laki-laki. Ia tersentak kaget. Ada beberapa pasang mata yang menatap kagum padanya. Pandangan yang juga ia terima ketika memasuki gerbang kampus di hari pertamanya. Ia menunduk, ber-istighfar memohon ampun. Teringat dosanya di masa lalu yang ditutupi Allah sedemikian sempurna.
Usai shalat dzuhur, Jinan memohon untuk undur diri. Ia tidak bisa berdiam diri lebih lama lagi di pelataran masjid. Ia tidak ingin keberadaannya di masjid menjadi dosa karena keadaannya yang sedang kotor. Pun juga karena pandangan mata dari banyaknya mahasiswa yang mencuri pandang padanya. Itu membuatnya tidak nyaman.
Melisa tampak berpikir. “Gimana kalau kita makan siang aja di warung sambil nongkrong?”
Teman-temannya mengangguk setuju. Dan Jinan pun menyetujui usulan itu. Mereka akhirnya pergi ke Warung Sederhana berdasarkan kesepakatan bersama. Lagi-lagi seolah ada yang berbisik untuk menoleh ke belakang, Jinan memutar tubuhnya.
__ADS_1
Sepasang mata memandangnya dan senyum tipis tercetak di bibir pemuda yang sejak tadi tidak berhenti memerhatikan gerak-geriknya. Dengan lembut, Jinan menundukkan kepala ke arah Ruslan. Bermaksud memberi gesture jika ia menyapa pemuda itu yang tanpa disangka-sangka mencetak senyum menawan secandu gula dan mengundang rindu di hati sang wanita.
Jinan terpana, melihat senyuman yang teramat indah terukir di seberang dinding kaca masjid.
***
Hari-hari perkuliahan berjalan normal. Tentu dengan hati Jinan yang mulai memasuki musim semi karena keberadaan pemuda pemilik senyum sehangat mentari. Ia tahu satu hal pasti dari pemuda bernama Ruslan. Ketika berada di sekitar teman-teman sekelasnya, pemuda itu bersikap seolah ia tidak mengenal Jinan dan acuh pada wanita itu. Sementara jika ada kesempatan, Ruslan akan mencuri-curi waktu melayangkan senyum charming-nya untuk Jinan.
Aneh. Sungguh membuat penasaran Jinan yang mulai tertarik pada pemuda itu. Diakui sebagai mahasiswa tercerdas di kelas dan bijaksana, siapapun wanita sedikitnya akan merasa tertarik dengan Ruslan. Tidak terkecuali Jinan yang mulai menaruh perhatian lebih pada pemuda itu.
Tidak banyak yang menyadari, semua teman-teman mereka bahkan tidak mengira jika keduanya mulai saling melayangkan chat. Semua bermula dari Jinan yang ingin bertanya perihal tugas kuliah yang harus dikumpulkan. Ia tidak yakin harus menyetor pada siapa makalahnya, maka tidak ada pilihan lain selain bertanya pada Ruslan selaku relator kelas. Itu akan lebih cepat daripada bertanya pada teman-temannya yang sangat jarang memegang ponsel mereka.
Ruslan yang saat itu sedang bersantai di masjid tempat berteduhnya sementara, menatap tidak tertarik bunyi notifikasi pesan masuk di ponselnya. Ia menghela nafas pelan, mengundang raut jahil teman sekamarnya yang sejak tadi memerhatikan pemuda berkulit tan itu.
“Siapa? Fans lagi?”
Ruslan mendengus mendengar ledekan Rifki. “Gak tau. Payah nih jadi ketua kelas hensem.[handsome:tampan]”
“Beh, astagfirullah. Maafkan hambamu yang narsis itu, Yaa Allah!”
“Aamiin. Kalau boleh, semua dosanya dihapus juga, Yaa Rabb,” sahut Ruslan menadahkan tangannya berdoa sungguh-sungguh.
Saat Ruslan membuka pesan dari nomor baru yang tidak ada di kontaknya, ia mengangkat alis bingung. Ia menduga jika itu adalah nomor teman sekelasnya, namun ia tidak memiliki gambaran tentang sang pemilik nomor.
‘Assalamualaikum, akhi. Maaf mengganggu, mau tanya tentang makalah Manusia dan Agama dikumpulkan di mana? Di biro seperti biasa atau ke akhi dulu?’
‘Waalaikumussalam. Dikumpulkan langsung di biro sama bang Sofi ya.’
Balasan dengan cepat masuk ke ponselnya. Ia menyernyit heran.
‘Oh, iya. Syukran. Wassalamualaikum.’
Tidak biasanya teman-temannya yang laki-laki maupun perempuan bertanya to the point dan menutup percakapan begitu saja. Sebulan ini, setelah ia menjabat sebagai relator kelas, ada saja pesan masuk yang serius dan tidak serius mengganggunya.
Kebanyakan pesan itu adalah berisi gangguan perkenalan biasa dari para akhwat sementara yang ikhwan akan mencoba mengakrabkan diri dengannya.
Baru kali ini ia menerima pesan sedemikian singkat. Bahkan teman-temannya yang ia anggap menjaga hubungan antar lawan jenis juga tidak sesingkat ini mengiriminya pesan. Siapa? Apakah salah satu dari mereka?
__ADS_1
Ruslan mencoba menebak dengan siapa ia mengobrol. Hanya ada beberapa orang di kelasnya yang masih belum memberikan nomor ponsel padanya. Bahkan Amah yang terkenal paling religius saja sudah mulai melancarkan serangan yang tentu saja ia sambut hangat.
Tidak sabar karena menduga tidak akan menyelesaikan masalah, Ruslan mengirim balasan pada nomor tidak dikenal itu.
‘Maaf, ini dengan siapa ya? Biar saya save nomornya.’
Pemuda itu mengetuk-ketukkan jarinya di lantai tidak sabar. Hingga 3 menit ke depan tidak ada balasan. Ia menanti penasaran.
‘Mm, sebaiknya jangan disimpan.’
Secepat kilat ia membuka pesan masuk ketika ponselnya berbunyi, namun secepat itu pula semangatnya luntur.
‘Ada baiknya kalau saya simpan, jadi info broadcast bisa sampai ke semuanya.'
Ruslan tidak menyerah. Ia bahkan berusaha menggunakan jabatannya untuk mengetahui pemilik nomor misterius itu.
‘Sebaiknya jangan disimpan.’
Astaghfirullah. Ruslan ber-istighfar dalam hati. Kesabarannya sedang diuji dengan teman sekelas yang sangat keras kepala.
‘Baiklah, kalau gitu. Waalaikumussalam.’
Dengan sabar Ruslan mengelus dadanya yang berdetak cepat. Sebenarnya ia sedikit kesal, namun ia tidak berhak memaksa seseorang memberitahukan namanya meskipun ia memiliki jabatan di kelas. Rifki yang melihat temannya sibuk berkutat dengan ponsel hanya menatap aneh.
“Kenapa bro?”
Ruslan menoleh singkat. “Gak apa-apa. Ada yang ngajak ribut.”
“Hah? Siapa?” tanya Rifki kaget. Ia meletakkan laptopnya dan memfokuskan diri pada Ruslan.
Ruslan melirik tanpa ekspresi. “Temen sekelas, ngajak uji kesabaran.”
“Yah, kirain ada yang ngajak baku hantam. Aku siap berdiri di depan.”
Ruslan menggelengkan kepala. “Berantem itu gak boleh, apalagi sesama muslim. Itulah gunanya pelajaran sabar. Semua masalah harus dimusyawarahkan dengan baik-baik.”
Rifki tersenyum sungkan. “Hehe, siap ustadz!”
__ADS_1
Ruslan tersenyum. Ia kembali larut dalam dugaannya mengenai pemilik nomor tidak dikenal barusan. Siapa? Mungkin ia akan menyiapkan strategi untuk mencari tahu siapa pemilik nomor itu.
Bersambung...